13 July 2007

Bule Australia Bahas Aborigin

Selama 35 hari Damien Kamholtz dan istrinya, Rachel Price, tinggal di Sidoarjo. Dua seniman muda ini melakukan kerja budaya dan tinggal bersama masyarakat sederhana di kampung nelayan.


Damien Kamholtz dan Rachel Price praktis tak pernah melewatkan satu harinya di Sidoarjo untuk bersantai atau leyeh-leyeh. Yang ada cuma kerja, kerja, kerja.

Tiba di Sidoarjo, Damien Kamholtz dan Rachel Price langsung menyaksikan pameran lukisan para seniman Sidoarjo dan sekitarnya. Keduanya berbincang santai, belajar mengenal karakter seniman Sidoarjo dan karyanya.

Setelah itu, pasangan suami-istri yang tinggal di kampung Aborigin, kawasan Toowoomba, Australia, ini mnggelar bengkel workshop seperti workshop seni rupa, lingkungan hidup, seni prtunjukan, pendidikan informal, hingga kursus bahasa Inggris.

"Damien dan Rachel juga banyak dijadikan native speaker di kalangan teman-teman muda di Sidoarjo," jelas Suhari, yang selama sebulan ini mendampingi Damien dan Rachel di Sidoarjo.

Dua orang muda ini bukan orang sembarangan. Dari daftar riwayat hidup (curriculum vitae) yang saya terima, aktivitas seni, budaya, kuratorial, mereka sangat banyak. Damien, misalnya, menggelar sedikitnya 36 kali pameran sejak 1998 hingga Desember 2003. Artinya, setiap tahun Damien menggelar enam kali pameran di beberapa negara bagian. Ini belum termasuk pameran kecil-kecilan yang tidak layak dimasukkan dalam
riwayat hidup.

Sedikit berbeda dengan Damien, yang sangat produktif, Rachel Price (lahir 28 Februari 1975), lebih banyak bergerak dalam manajemen seni budaya. Damien bikin banyak karya seni, Rachel yang mengelola sekaligus menjadi public relations untuk
sang suami. Apalagi, wanita cantik ini sudah berpengalaman dalam dunia public relations di Australia.

Mungkin karena sudah menyatu dengan komunitas aorigin, Damien dan Rachel selama sebulan lebih ini kurang berselera menikmati keramaian kota macam Surabaya, Jakarta, atau Bandung. Pasutri ini minta dicarikan tempat-tempat terpencil, khas kampung udik Indonesia. Sebab, mereka ingin melihat aya hidup, seni budaya, dan keseharian masyarakat sederhana.

"Kita buat semacam perbandingan dengan Australia, khususnya Aborigin," ujar Damiel Kamholtz. Dua bule ini rupanya sudah jenuh dengan gaya hidup kota besar yang serba modern dan cenderung tak ramah pada lingkungan hidup.

Tak heran, Damien dan Rachel sangat betah saat dibawa ke Kepetingan, desa nelayan di Kecamatan Buduran. Di samping pantai yang masih indah, meski sudah mulai tercemar,
masyarakat di sana masih cukup alami. Lokasi yang sulit dijangkau, terisolasi, justru membawa 'nilai tambah' bagi Kepetingan dan sekitarnya.

Saking betahnya di Kepetingan, Damien dan Rachel menggelar beberapa kali diskusi dan workshop bersama anak-anak dan warga di sana. Damien dan Rachel memperkenalkan seni lukis khas Aborigin kepada murid SDN Sawohan 2, Kepetingan. Dan, anak-anak gembira bisa bertemu dengan dua orang kulit putih yang bukan sekadar pelancong biasa.


Saya pun sempat ikut diskusi bersama dua aktivis lintas budaya asal Australia, Damien Kamholtz dan Rachel Price, ini. Keduanya bicara banyak tentang budaya dan tradisi kaum Aborigin di negaranya.

Gaya hidup aborigin sangat dekat dengan alam.

"Kita, masyarakat modern, perlu belajar banyak dari mereka, khususnya dalam menjaga lingkungan serta pembangunan berkelanjutan," kata Damien kepada saya dan sekitar 80 peserta diskusi lainnya di Sidoarjo.

Meski bule, kulit putih, Damien dan Rachel (istrinya) memang sangat dekat dengan kehidupan kaum Aborigin. Mereka tinggal di kawasan Toowoomba, salah satu kantung
penduduk asli Australia itu. Bahkan, keduanya fasih menyanyikan tembang-tembang khas Aborigin yang mistis dan eksotis.

Menurut Damien, penduduk asli yang dikenal sebagai Aborigin ini tersebar di seluruh benua Australia. Mereka bicara dalam 550 bahasa. Kebhinekaan Aborigin ini, katanya, justru melahirkan tradisi dan budaya yang sangat kaya.

Damien kemudian menunjukkan peta penyebaran Aborigin di Australia. Tak lupa, pria yang melakukan studi budaya di Sidoarjo selama satu bulan lebih ini melukis beberapa lukisan primitif ala Aborigin. "Semua kesenian mereka tidak bisa dilepaskan dari alam," kata lelaki brewok ini, serius.

"Apakah kaum Aborigin bahagia di Australia?"

Pertanyaan ini dilontarkan Muhammad Thalib Prasodjo, pelukis senior Sidoarjo. Damien Kamholtz dan Rachel Price sempat terkejut dengan pertanyaan Eyang Thalib.

"Yah, sebelum tahun 1967 mereka diperlakukan tidak adil," kata Rachel.

Nah, sebelum 1967 itu pemerintah Australia, yang berkulit putih, sangat anti-Aborigin. Polisi bersikap keras, bahkan ada semacam upaya menghilangkan identitas budaya Aborigin. Ini menimbulkan kemarahan yang luar biasa dari kaum Aborigin kepada penduduk lain, khususnya bule.

Sampai sekarang pun, kata Rachel, kemarahan itu masih ada. Namun, pendekatan pemerintah Australia pasca-1967 sudah berbeda sama sekali. Aborigin sudah dianggap
sebagai bagian tak terpisahkan dari masyarakat Australia.

No comments:

Post a Comment