30 July 2007

Nasaruddin dan Dahlan Iskan


Oleh M. NASARUDDIN ISMAIL


Sejak empat bulan silam Dahlan Iskan istirahat di Tianjin First Center atau Hospital Tianjin Medical University, Tiongkok. Saya katakan istirahat karena Sabtu dan Minggu dia bisa terbang ke mana-mana, termasuk pulang ke Surabaya. Fisiknya pun seperti orang yang tidak sakit.


Berat badan wartawan senior ini justru bertambah enam kilogram. Sejak Sabtu lalu, Dahlan Iskan punya kesibukan baru di rumah sakit yang ditempatinya sejak April 2007 itu. Yakni, memperdalam bahasa Mandarin untuk tahap kedua. Sebab, sebelumnya mantan wartawan majalah Tempo yang sekarang mengelola 82 koran di berbagai daerah di Indonesia itu juga pernah belajar bahasa Mandarin langsung di negeri Tiongkok.

Kali ini, dia memanggil tiga guru bahasa Mandarin. Tiga gadis lulusan sastra itulah yang pagi dan sore mengajar secara bergantian di ruang perawatannya. Pagi hari, mulai pukul 09.00 sudah mulai belajar selama dua jam. Sorenya, pukul 18.00 hingga pukul 20.00 waktu setempat belajar lagi.

Ayah dua anak kelahiran Madiun 17 Agustus 1950 itu ingin agar sepulang dari Tiongkok, bahasa Mandarinnya sudah bertul-betul mahir. Tidak saja lisan, tapi tulisan. Sebab itu, sekarang dia rajin belajar menulis. "Bahasa Mandarin saya sekarang kan masih jelek sekali sehingga perlu diperdalam lagi," tuturnya.

Jumat pekan lalu, saya juga ikut sibuk menyiapkan papan tulis, penghapus, spidol, dan sebagaianya. Sekaligus memasang papan tulis pada tembok di belakang meja kerjanya. Untuk memudahkan proses belajar dan mengajarnya, ruang belajar dilengkapi dengan digital projector serta kamus elektrik tiga bahasa--Mandarin, Inggris, dan Indonesia.

Gurunya pun selalu hadir tepat waktu di Kamar 1102, rumah sakit yang tengah direnovasi untuk rujukan kontingen Olimpiade Beijing, Agustus 2007, itu. "Orang di sini sangat disiplin," komentar pria asal Madiun yang dikenal sebagai pekerja keras itu. Akibat kerja keras itu pula, dia harus istirahat di rumah sakit agar tidak terganggu dengan pekerjaan rutinnya mengurus koran-koran di lingkungan Grup Jawa Pos.

Menurut Dahlan, belajar bahasa Mandarin memang sangat sulit dibandingkan bahasa-bahasa lain seperti Inggris dan Prancis, atau Arab. Banyak kata-kata yang tulisannya sama, tapi ucapan dan artinya berbeda. 'Si' misalnya punya 160 arti. Bisa berarti mati, waktu, dan seterusnya.
Begitu juga kata 'yang' terdapat 40 arti dengan tulisan yang sama. Artinya, kambing, gatal, dan sebagainya.
Untuk mengucapkannya, ada yang pakai ujung lidah, ada juga yang di kerongkongan. Itu yang paling dominan.
Lucunya, saat gurunya itu menyuruh mengucapkan kata-kata 'cha' yang diucapkan dengan suara kerongkongan, Dahlan sampai batuk-batuk. Lantas, dia permisi kepada gurunya untuk minum dulu karena serak. "Kalau sudah menyebut kata seperti ini sampai batuk," komentarnya sembari melirik saya yang berada di belakangnya.

Saya ikut tersenyum melihat Dahlan yang minum saat disuruh menirukan ucapan sang guru. Mulutnya pun harus dimencongkan. Saat itu pula dia minta untuk difoto. "Waduh, sulitnya minta ampun," kata Dahlan lalu menyebutkan kata-kata sulit itu berulangkali.

Pria yang memimpin Jawa Pos sejak 1 April 1982 itu berkomentar, "Mungkin dulu Rasulullah itu menyuruh umatnya menuntut ilmu sampai ke negeri Tiongkok sekalipun, antara lain karena bahasanya yang sulit itu. Sedikit aja lidah meleset dalam mengucapkan kata-kata, artinya pun sudah berbeda. Bayangkan, tulisannya sama, artinya bisa 160 macam."

Ada lagi debat kecil antara Dahlan Iskan dan gurunya. Ketika sang guru menyuruh menyebutkan suatu kata, Dahlan mengatakan bahwa ucapannya itu tidak sesuai dengan suara di kamus. Gurunya bilang kamus tidak bisa bersuara, tapi hanya bisa dibaca. Lantas, Dahlan membunyikan kamus elektroniknya yang membuat gurunya tertawa.

Untuk ukuran Indonesia, sebenarnya Dahlan Iskan ini fasih berbahasa Mandarin. Tapi, setelah berbulan-bulan berada di Tiongkok, dia kian merasakan bahasa yang dikuasainya itu ternyata masih kurang. Karena itulah, agar tidak membuang waktu secara cuma-cuma selama di rumah sakit, dia memutuskan untuk memanggil guru bahasa Mandarin.
Rumah sakit di Tiongkok memang tidak ketat seperti di Indonesia. Selama fisik masih kuat, dokter di sana mengizinkan pasiennya jalan-jalan atau berlibur pada akhir pekan. Sabtu-Minggu merupakan hari libur resmi di Tiongkok.

Bahkan, pasien boleh belanja ke pasar sambil membawa botol infus. Sebab, rumah sakit tidak menyediakan makanan seperti di sini. Ingin berlangganan katering juga bisa. Sebab itu, saya selalu menemukan pasien yang berseragam rumah sakit yang sedang berbelanja sambil memegang botol infus. Ada juga yang didorong dengan kursi roda.

Kemudahan itu pula yang dimanfaatkan Dahlan Iskan (di Tiongkok sering disapa dengan Isikan) untuk belajar bahasa. Dia berprinsip bahwa belajar itu tidak ada akhirnya. Azrul Ananda, putranya, juga akan disekolahkan ke Beijing untuk belajar bahasa Mandarin. "Kalau saya nganggur di sini kan tidak ada gunanya, kecuali hanya untuk berobat," tutur tokoh yang juga pernah kuliah di Fakultas Hukum itu.

Dahlan mengaku mulai tertarik belajar bahasa Mandarin gara-gara karyawannya kursus bahasa Mandarin. Dia pun ikut-ikutan. Tapi seminggu kemudian karyawannya mulai protol karena tingkat kesulitannya sangat tinggi. Dahlan pun hampir putus asa, tapi malu terhadap karyawannya bila ikut malas. Selain itu, bisnisnya pun sudah mulai menerobos ke negeri tirai bambu tersebut.

Misalnya, untuk membangun pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di Samarinda dia bermitra dengan Tiongkok. Begitu juga saat mendirikan pabrik karet milik perusahaan daerah Jatim di Surabaya maupun pabrik nanas di Kalimantan Barat. "Bisnis kita kan mulai bermitra dengan Tiongkok, sehingga mau tidak mau harus menguasai bahasa mereka," tuturnya.

Pada saat rapat di Tiongkok, Dahlan pun merasa kesulitan karena tidak mengerti bahasa mereka. Maklumlah, orang Tiongkok sangat fanatik dengan bahasanya sendiri. Mereka jarang yang mengerti bahasa Inggris. "Saya berpikir bahasa Mandarin harus dikuasai karena bisnis sudah mulai merambah ke sana," ceritanya usai belajar bahasa tersebut.

Setelah mendapatkan pengetahuan dasar tentang bahasa tersebut, Dahlan pun langsung belajar di Tiongkok, di sebuah provinsi mitra bisnisnya. "Sambil sekolah, saya juga kepingin tahu lebih mendalam perusahaan mitra bisnis itu di sana," ujarnya.

Berkat bahasa Mandarin yang dikuasainya, dia mudah berkomunikasi selama berada di rumah sakit. Sebab, banyak pasien asing yang dirawat di sana yang kesulitan bahasa.
Pasien asal Arab Saudi, misalnya, suatu sore berteriak-teriak. Suster bingung dan menyuntik dengan obat penenang. Setelah ditanya dengan bahasa Arab, ternyata parsoalannya spele. Dia ingin menelepon keluarganya di Arab Saudi, tapi tidak bisa mengatakan kepada perawatnya.

"Setelah saya pinjami telepon dan bicara dengan keluarganya, akhirnya dia diam. Tapi sudah kadung disuntik obat penenang," cerita Dahlan lalu tertawa lebar tentang pasien di sebelah ruangannya yang tidak paham bahasa Mandarin.

Maka, Dahlan sering menjadi penyambung lidah pesien yang hanya bisa berbahasa Arab. Sebab, Dahlan Iskan yang juga keluarga Pondok Pesantren Takeran itu ternyata fasih juga berbahasa Arab.

"Karena di sini banyak dari Timur Tengah, ya, terpaksa harus ingat-ingat lagi pelajaran bahasa Arab dulu. Tapi tidak sesulit bahasa Mandarin. Hanya saja, ada kesamaan ucapan dalam bahasa Arab dengan Mandarin dan tidak ada dalam bahasa Indonesia," jelasnya.

29 July 2007

Apresiasi dari Maria Eva


Kaget juga saya tiba-tiba ditelepon Maria Eva. Ada apa dengan penyanyi dangdut yang sempat bikin heboh gara-gara video mesranya dengan Yahya Zaini, politikus Golkar, tersebar ke mana-mana itu?

'Wah, Mas Hurek, saya iseng-iseng lihat internet, ternyata banyak artikel yang membahas Maria Eva. Kalaupun baca sampai satu minggu akan habis-habis,' ujar ME, begitu Maria Eva menyebut dirinya.

Ia juga berterima kasih kepada saya karena blog ini menulis cukup banyak artikel tentang ME. Memang, jauh sebelum kasus video ME-YZ, saya sudah menulis beberapa artikel tentang album 'Pelangi Senja' garapan Pak Malik Bz., penulis lagu dan penata musik asal Sidoarjo. Kebetulan saya cukup akrab sama Pak Malik, sehingga cukup tahulah kisah di balik proses pembuatan album ME.

'Wah, ternyata sampeyan menulis cukup banyak tentang saya. Saya terima kasih banyak ya, Mas Hurek,' papar perempuan asal Sidoarjo itu.

Wah, ternyata ME ketinggalan. Selama ini dia hampir tak pernah berselancar di internet. Ketika pekan lalu dia masuk Google, ketika namanya, keluarlah ribuan lema seputar Maria Eva. Dari situlah ME menemukan blog saya. Lalu, dia baca artikel tentang dirinya, terlebih ribut-ribut video adegan ranjang ME-YZ.

Lalu, bagaimana dengan komentar-komentar pembaca [bloger] yang rata-rata memaki-maki dirinya? Apa ME tidak marah? Apa perlu dihapus?

'Saya sudah baca komentar-komentar itu. Biarkan saja, toh mereka belum tahu ME yang sebenarnya. Apa pun komentar masyarakat tentang saya, silakan saja,' katanya.

Yah, saya bilang sama ME bahwa kasus video sensasional ME-YZ memang menjadi santapan empuk penulis di internet. Blog saya pun tiba-tiba melejit gara-gara saat itu menulis sosok Maria Eva. Dan biasanya akan muncul komentar-komentar spontan yang, apa boleh buat, sering kali menohok.

Celakanya, para komentator itu lebih banyak berlindung di balik anonimitas. Tidak mau menulis nama penuh, apalagi alamat dan nomor telepon yang bisa diverifikasi. Komentar-komentator anonim di blog, meski bagus dan berbobot, tetap saja tidak ada nilainya. Ujung-ujungnya mutu blog pun turun karena tidak ada pertukaran ide yang mencerahkan.

Lain dengan blog-blog di negara Barat yang berani berkomentar secara bertanggung jawab. 'Itulah Indonesia, ME. Jadi, sampeyan maklumi saja kalau banyak yang menyerang sampeyan, tapi tidak berani tulis nama dan alamat terang,' kata saya.

'Nggak apa-apa,' kata ME. 'Yang penting, pada suatu saat orang akan tahu bahwa Maria Eva tidaklah sejelek yang diduga orang.'

Lalu, ME yang barusan bercerai dari suami di Surabaya ini mengatakan bahwa dia sedang sibuk di Jakarta. Sibuk apa tidak dijelaskan. Namun, saya lihat di infotainmen ada berita ME yang segera merilis film perdananya. 'Saya kan sudah nyanyi. Sekaang saya mau jajal kemampuan di bidang film,' tekad ME.

Syukurlah, blog orang kampung ini ternyata ada manfaatnya dan mendapat apresiasi dari seorang Maria Eva.

26 July 2007

Janet Steele di Suara Surabaya

Diskusi selasaan di Radio Suara Surabaya, 24 Juli 2005, agak beda dari biasanya. Henry Subiakto dari Lembaga Konsumen Media membawa serta Janet Steele, pengamat jurnalisme dan dosen George Washington University, Amerika Serikat.

Diskusi ini selalu menarik karena kinerja wartawan di Surabaya, Indonesia umumnya, dibahas habis oleh pembicara dan pendengar. Kritik umumnya sangat keras sehingga banyak teman wartawan 'takut' mendengar.

'Kuping panas terus kalau disikat habis-habisan oleh pendengar SS. Kayaknya apa yang kita lakukan selama ini sia-sia,"  teman saya mengeluh.

'Tenang sajalah. Kritik itu kan kayak pil pahit. Pahit tapi bikin badan kita sehat lagi,' ujar saya membesarkan hati teman wartawan. Bukankah masih ada wartawan Indonesia yang punya hati nurani? Masa, kita semua dianggap tukang peras, pemburu amplop, penjahat semua? Generalisasi itu tak sehat, bukan?

Restu Indah, jangkar SS, mengajak pembicara untuk membahas kualitas wartawan Indonesia. Bandingannya wartawan Amerika Serikat. Wah, tentu jauh sekali. Menurut Henry, kita baru saja menikmati pers bebas, sementara USA sudah dalam hitungan abad. Kita masih perlu belajar banyaklah.

Dhimam Abror, ketua redaksi Surya, mengungkapkan, budaya telepon ala Orde Baru sudah tak ada lagi. Hanya saja, yang bikin pusing itu 'telepon' dari orang bisnis atawa pemasang iklan. Media-media khawatir kehilangan klien, pemasang iklan, sehingga pemberitaan tentang kasus yang berhubungan dengan pemasang iklan pun tak bisa leluasa.

"Fire wall itu sulit. Kita perlu memperhatikan sisi bisnis," ujar Abror.

"Apalagi, media-media yang memang sejak dulu tidak punya fire wall. Wah, tambah bebas,"  Henry, yang juga dosen Universitas Airlangga, Surabaya, menambahkan.

Diskusi mulai hangat dengan komentar pendengar. 'Wartawan kita dinilai kurang dalam dan lengkap dalam memberitakan sesuatu. Terlalu mudah ambil kesimpulan. Kurang investigasi.'

Keluhan-keluhan ini klasik, namun memang menjadi penyakit kronis di Indonesia. Kapan ya bisa beres? Mungkin 100 atau 200 tahun lagi.

Ada juga yang bilang wartawan kita terlalu muda. Tamat universitas, S-1, langsung jadi reporter. Wawasan dan bacaan masih sedikit. Kurang matang. Ini yang bikin media kita [umumnya] kurang bermutu. Begitu kritik pendengar lain.

Abror bilang wartawan-wartawan muda kita itu justru pintar-pintar. Tapi dia dibebani tugas membuat banyak berita setiap hari. "Kalau bikin empat berita per hari, ya, perlu fisik yang kuat. Makanya, banyak reporter usianya muda,' kata Abror.

Janet Steele pun heran. Menurut dia, di USA rekrutmen wartawan, atau profesi apa pun, tidak boleh dibatasi usia. Siapa saja boleh jadi wartawan kalau memang dia punya kemampuan. 'Membatasi usia itu sama dengan diskriminasi,' katanya.

'Di sini wartawannya muda-muda karena bisa dibayar murah,' ujar Henry Subiakto. Hehehe...

Singkatnya, Janet mengkritik pemberitaan kasus lumpur lapindo yang hanya fokus pada berita-berita rutin. Hari ini ada apa, tanggul jebol, korban demo, pembayaran ganti rugi... Begitu saja dari hari ke hari. Sementara tulisan mendalam tentang ada apa di balik kasus itu jarang muncul.

Ini tak hanya kasus lapindo, tapi juga kasus-kasus besar. 'Saya akui kritik Janet Steele ada benarnya,' ujar Abror, yang juga ketua Persatuan Wartawan Indonesia  Jawa Timur.

Di bagian lain, Janet mengakui bahwa wartawan-wartawan Indonesi sering kali kesulitan mewawancarai pejabat publik. Minta data pada pejabat tidak gampang di sini. Ini yang beda dengan di USA.

'Padahal, salah satu tugas pejabat, ya, menjawab pertanyaan-pertanyaan wartawan. Dia dibayar dengan pajak dari rakyat, bekerja untuk rakyat,' kata Janet.

Karena itu, Janet meminta wartawan Indonesia untuk tidak henti-hentinya mengingatkan pejabat Indonesia [di pusat maupun daerah] untuk sadar akan salah satu kewajibannya: menjawab pertanyaan wartawan. Itu penting dalam negara demokrasi. Bagaimana publik mengetahui kinerja pejabat kalau wartawan tak diberi akses?

Di sini wartawan malah sering diusir oleh pejabat, kata Henry Subiakto. Contohnya di Malang, 23 Juli 2007, ketika para wartawan hendak melihat lokasi jatuhnya pesawat latih, jenis Bronco, milik TNI Angkatan Udara. Di sini pejabat pun sering main kucing-kucingan dengan wartawan. Padahal, wartawan hanya meminta sedikit keterangan dari si pejabat yang masih relevan, tentu saja.

Mudah-mudahan pejabat-pejabat di Surabaya, dan daerah lain di Jawa Timur, mendengar program selasaan ini. Bahwa mereka wajib menjawab pertanyaan wartawan. Dan, saya tambahkan, pejabat dilarang memberikan amplop [uang, barang] kepada wartawan.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa pejabat kita suka menghindari wartawan karena takut dimintai uang oleh wartawan.

25 July 2007

Jelajah Hitam Putih di Sidoarjo

Berkumpul sama teman-teman pelukis itu asyik. Kita bisa omong apa saja: kesenian, budaya, politik, lumpur lapindo, jalan macet, dewan kesenian, perilaku pejabat, cewek, dan sebagainya. Bahannya tak habis-habis.

Ini yang bikin saya betah di Sidoarjo. Ini yang bikin saya memilih menjadi penduduk Kabupaten Sidoarjo, pegang KTP Kecamatan Gedangan. Pokoke Sidoarjo iku enak tenan, Cak, terlepas dari serangan lumpur di Porong!

Nah, saya baru saja kumpul-kumpul sama pelukis Sidoarjo dan Surabaya di Museum Mpu Tantular, Buduran, Sidoarjo. Para tukang gambar ini lagi gelar pameran bersama 'Jelajah Hitam Putih'. Di Sidoarjo, pameran hitam-putih bareng-bareng hingga 58 pelukis memang langka.

"Kita kan lama gak kumpul-kumpul, habis gak ada gedung pameran. Alhamdulillah, kita dapat pinjaman dari Pak Himawan," kata Farid Firdaus, koordinator, yang juga pelukis asal Sidokare, Sidoarjo, kepada saya.

Farid didampingi Harryadjie, Dany Lukman, Saiful Munir, Herman Benk... serta beberapa pelukis yang belum saya kenal. Mereka diskusi ringan sambil menunggu kedatangan pemirsa. Ada satu dua anak SMA atau mahasiswa datang, kemudian pergi lagi.

Yang jelas, pameran lukisan di Jawa Timur tidak pernah 'diserbu' penonton kayak pentas musik pop. Lain ceritanya kalau guru kesenian mewajibkan anak didiknya untuk lihat pameran dan bikin laporan.

Di pameran ini, masing-masing pelukis menyertakan satu sampai dua karya hitam-putih. Ada yang benar-benar baru, banyak yang hanya bisa kasih karya lama. Biasanya, tukang gambar yang kurang kreatif karena sibuk kerja di luar urusan melukis atau terlalu asyik mancing, ngelencer, dan seterusnya. Tak apalah.

"Saya kan hanya bisa menampung. Saya sih inginnya karya-karya baru, tapi kalau teman-teman gak siap, ya, bagaimana lagi? Yang penting, kita bisa ketemu dulu di pameran bersama," ujar Farid, bekas sekretaris jenderal Dewan Kesenian Sidoarjo.

Macam-macamlah corak karya teman-teman ini. Liem Keng seperti biasa tampilkan sketsa sapi. Sang 'maestro' ini memperlihatkan kematangannya dalam membuat garis-garis dengan sekali tarikan. Karya Pak Liem sangat bernyawa... dan banyak peminatnya. Saat pembukaan sudah ada yang ingin koleksi.

Pak Benk tetap dengan goresan bolpoin, abstrak, ruwet. 16 persegi panjang digores dengan berbagai bentuk tak beraturan. Pak Thalib menggambar suasana Jogja dengan Sultan, Pak Marijan, tradisi Jawa. Kemudian ada yang bikin sketsa kota tua Surabaya, grafis, hingga lumpur lapindo. Nasrullah, yang sejak tahun lalu hijrah ke Swiss, bikin 'ada gunungan di Jenewa'. Mungkin dia ingat kampungnya di Tanggulangin.

Kalau dibahas satu per satu, tentu akan sangat panjang. Yang jelas, karya-karya ini [100 lebih] layak disebut bhinneka tunggal ika: berbeda-beda tapi semangatnya sama: hitam putih. Teman-teman sengaja keluar dari rutinitas selama ini. Sebab, setahu saya hanya Pak Liem Keng yang sejak dulu konsisten dengan dunia hitam putih. Adapun teman-teman lain bikin hitam putih karena kebetulan diajak pameran oleh Pak Farid.

Hehehe....

"Sebenarnya pameran hitam putih tidak ada kesitimewaannya karena warna-warni cemerlang yang lain memang merupakan kekayaan anugerah Tuhan yang luar biasa," tulis Pak Rudi Isbandi di katalog sederhana.

"Jadi, kalau disengaja pameran kali ini hitam putih saja, itu adalah hak panitia sepenuhnya....," tambah Pak Rudi.

Farid Firdaus, ketua panitia, mengaku puas karena 'Jelajah Hitam Putih' ini sukses. Peserta banyak, bahkan dia sampai menolak peserta susulan. Pengunjung banyak. Apresiasi masyarakat bagus. "Namun, perhatian pemerintah kita [maksudnya pejabat tinggi di Sidoarjo] belum bagus. Sudah dikasih undangan, tapi tidak datang. Dewan kesenian pun apatis," kata Farid.

Teman-teman perupa memang sejak dulu merindukan gedung kesenian untuk pameran seni rupa dan atraksi seni budaya umumnya. Pak Win Hendrarso [bupati] dan Pak Saiful Ilah [wakil bupati] sudah sering berjanji, tapi realisasinya belum ada. Maka, teman-teman perupa terpaksa bergerilya agar bisa pameran. Kadang di pendopo pariwisata, pendopo kabupaten, atrium GOR, kafe... atau lari ke Surabaya.

Sejak 29 Mei 2006 Sidoarjo diserang semburan lumpur kronis di kawasan Porong dan sekitarnya. Pejabat-pejabat pun pening kepala mengurus dampak lumpur dan tetek-bengek lainnya. "Lha, bagaimana mau mikir gedung kesenian atau pameran lukisan, Cak?" kata saya.

"Kalau begitu, ya, wis. Kesenian harus jalan terus karena itu dunia kami. Pameran bisa digelar di mana saja sepanjang ada tekad, niat, dan keguyuban di antara para pelaku seni rupa bai yang senior sampai pemula," tegas Farid Firdaus.

PESERTA PAMERAN HITAM PUTIH
Museum Mpu Tantuar, Buduran, Juli 2007

RUDI ISBANDI
Karang Wisma I/10 Surabaya,
031 5032931

LIEM KENG
Undaan Kulon 125 Surabaya,
031 5348583

HARRYADJIE B.S.
Sidokare Indah AI-1 Sidoarjo,
081 75210920

M. THALIB PRASOJO
Taman Erlangga V/16 Sidoarjo,
031 8955363

SOEMADJI
Pasar Seni Pondok Mutiara,
031 7882540

HARDONO
Pejaya Anugrah F-22, Taman, Sidoarjo.

HARRIADIE
Sedati Asri Q-21 Sidoarjo,
081 23503344

TARMUDJI SOFYAN
Gading Fajar I/B6-10 Buduran, Sidoarjo.

Q. SAKTI LAKSONO
Wonorejo Selatan I/Kav. 160-161 Surabaya.

HARI - YONG
Kapasan Lor II/16 Surabaya,
031 3769721, 081 65439105

GUNAWAN WIDJAJA
Wisma Permai Tengah IX/KK-3 Surabaya
031 5932834

SUGENG BAYU
Pasar Seni Pondok Mutiara CG-24 Sidoarjo
081 332672109

SURIA DARMA
Pagerwojo RT 22/RW 5 Sidoarjo
031 8968775

HARMANU
Gajah Magersari II/6 Sidoarjo
031 8955509

YANTO PLANET
Raya Sawungaling 80, Jemundo,
Taman, Sidoarjo

AMDO BRADA
Pasar Seni Pondok Mutiara, Sidoarjo

NC. LILA
Pasar Seni Pondok Mutiara, Sidoarjo

ELLYS SUSANTI
Pasar Seni Pondok Mutiara, Sidoarjo

NOVITA SECHAN
Brigjen Katamso I/149 Waru, Sidoarjo

DHAR GANDEN
Raden Patah RT 3/RW 1
Ketapangkeres 46, Sidoarjo

INDRI SEDHANA
Gading Fajar I B-6/10 Buduran, Sidoarjo
085 648462525

VERONICA ROSANA VERY JAYANTI
Pondok Wage Indah II EE-12 Sidoarjo

ARI WARDHANA
Gading Fajar I B-6/10 Buduran, Sidoarjo
085 648462525

CAHYONO HADI
Sidokare Indah U/12 Sidoarjo
031 8943617, 081 33076818

DANI LUKMAN
Tawangalun, Buncitan, Sedati, Sidoarjo
085 645250097

N.P. IRAWAN KAOT
GBPEI 29 Surabaya
Jl. Kaliwungu Selatan 2 Jombang

BAMBANG TRI ES
Pondok Buana Kav. Q-35 Sidoarjo
031 7155 1657

YANTO
Janti, Waru, Sidoarjo
031 7203 7953

KANG JO
Jl. Brigjen Katamso 5B, RT 19, Janti
Waru, Sidoarjo.

SENTOT HIDAYAT
M.H. Thamrin I/7 Sidoarjo
031 8961434

DADUNG EKO P.
Jl. Hasanuddin III/248 Sidoarjo
031 8951248

ACHMAD SAIFUL MUNIR
Buncitan, Sedati, Sidoarjo

MAKRUB
Rungkut Lor 7 Masjid 40 Surabaya
031 72031455

TAUFIK
Kletek RT 13/RW 5 Nomor 210
Taman, Sidoarjo. 031 7880256

EKO SUPRIYADI
Siwalan Panji RT 01 Buduran, Sidoarjo
085 850110022

ANDRIE COROT
Kedungtarukan Baru III/22-B Surabaya
081 357078725

DEDI WAHYUDI
Pondok Tanggulangin Asri NN-18 Sidoarjo
081 615771994

IRAWAN CANDRA
Bhayangkari RT 6/RW 2 Porong, Sidoarjo

NANANG
Seduri, Mojosari, Mojokerto
081 232 98391

HELMY BASTIAN
Jl. Masjid 44 Mojosari, Mojokerto
081 331130100

NASRULLAH [N. ROEL]
Jl. Blambangan RT 9, Ketapang, Sidoarjo

ANGGARA ADI N.
Sedati Asri Q-21 Sidoarjo

MCR AKBAR
Taman Pinang Indah H3/09 Sidoarjo
031 8951037, 081 3300 77575

NURHADI
Jl. Jaksa Agung Suprapto I/25 Sidoarjo
031 8928293, 081 55345802

UUK
Jl. Jenderal S. Parman G6/23 B Sidoarjo
081 555702604

SITTA
Jl. Jenderal S. Parman G6/23 B Sidoarjo
085 6480 55114

IRWANTO
Pasar Seni Pondok Mutiara Sidoarjo

BAMBANG WIDYANTOKO
Pasar Seni Pondok Mutiara Sidoarjo
081 803 186358

BUDI ASTUTI
Pasar Seni Pondok Mutiara Sidoarjo
081 550 95251

SAIFUL HADJAR
Pasar Seni Pondok Mutiara Sidoarjo
081 550 95251

HARIADI
Prima Kebraon II/19 Sidoarjo

IMAM CHAMBALI
Simomulyo Baru IA-38 Surabaya
081 55333 8092

HERMAN 'BENK' HANDOKO KAMTO
Waru, Sidoarjo

SUPRAPTI
MCA E4 Candi, Sidoarjo
031 805 7203

FARID FIRDAUS
Sidokare Indah HH-29 Sidoarjo
081 231 73496

21 July 2007

Christine Rod, Mengapa Kau Menangis?



Christine Rod bersama suaminya, Nasrullah, saat berlibur di Sidoarjo.

Tadi saya bersama tiga pelukis Sidoarjo [Bambang Haryaji, Dani Lukman, Saiful Munir] membesuk Christine Rod di rumah sakit. Christine baru saja tiba dari Jenewa, Swiss, ya di asli Swiss, untuk berlibur ke tanah air.

Tradisi yang sejak dulu dilakukannya karena cinta Indonesia, dan kemudian kawin dengan Nasrullah, pelukis asal Tanggulangin, Sidoarjo.

Di Paviliun Bogenvil RSUD Sidoarjo, saya lihat Christine terbaring lemas. Tangan kirinya ada selang infus. Dia dijaga Nasrullah, suami, dan Fitri, kerabat Nasrullah. 'Apa kabar? Senang bertemu anda. Kenapa kok sampai opname di sini,' ujar saya dan teman-teman.

Lalu, kami menyalami Christine Rod, guru matematika di Jenewa sana. Ah, guru biasa di negara Swiss bisa pesiar keliling dunia, kapan saja, karena gajinya cukup. Bandingkan dengan guru di sini, termasuk ayah saya yang pensiunan guru di pelosok Flores Timur. Di Jakarta, saya lihat di televisi, ada guru merangkap jadi pemuung sampai. Alamak!

Sakit apa? Kok tiba-tiba masuk rumah sakit? Pertanyaan ini tak berjawab. Christine justru menangis. Lama sekali. Lalu, dia mencoba menghapus air matanya. 'Saya sedih melihat Indonesia sekarang,' ujar Christine setelah menenangkan diri. Dia sudah bisa berbahasa Indonesia, makin lancar, apalagi setelah kawin dengan Nasrullah.

Tiba di Sidoarjo, Christine disambut aroma tajam lumpur lapindo. Kampung-kampung yan dulunya hijau, sawah-sawah... kini habis. Asal tahu saja, rumah Nasrullah, suami Christine, berada di Desa Ketapang, yang sebagiannya sudah hilang ditelan lumpur lapindo.

'Indonesia tidak seperti dulu, tahun 1980-an,' ujar Christine. Kali ini tangisannya lebih keras. Saya dan teman-teman mau bilang apa? Porong dan sekitarnya memang hancur akibat lumpur. Lalu, kecelakaan di jalan raya yang terus berulang, menelan korban jiwa.

Christine ternyata memantau dan merenungkan semua fenomena ini di pikiran dan harinya. Namanya juga seniman yang peka perasaan sih. Ternyata, bencana demi bencana, kerusakan lingkungan, kematian di jalan raya, polusi udara, kebisingan, semrawut, kemiskinan... di Indonesia yang bikin Christine sakit. Kata orang tua, sakitnya bukan sakit penyakit, tapi sakit perasaan, yang akhirnya merembet ke fisik.

Maka, suasana di paviliun RSUD [ada televisi, pengatur udara, bersih macam hotel] pun berubah jadi forum diskusi budaya, sosial, keadilan sosial, dan sebagainya. 'Saya sediiiih. Kenapa Indonesia jadi seperti sekarang?' kata Christine, dan menangis lagi.

Oh Tuhan, kami mau bilang apa? Pemerintah Indonesia, DPR, pejabat kita... toh tenang-tenang saja. Menganggap kegundahan Christine sebagai hal biasa. Bahwa 3000-an pengungsi korban lumpur masih bertahan di Pasar Porong pun biasa.

Ganti rugi tersendat-sendat biasa. Jalan rusak biasa. Interpelasi lumpur di DPR biasa. Rakyat miskin, tak bisa bayar sekolah atau kuliah biasa. Sulit cari kerja biasa. Pejabat doyan korupsi biasa. Rakyat dibohongi terus biasa!

Lalu, Christine Rod asal Swiss, mengapa kau menangisi Indonesia? Bukankah orang Indonesia sudah kebal dengan kemiskinan, penderitaan, korupsi...? Masih bergunakan air matamu, Christine, di Indonesia yang pemimpinnya tak lagi peka? Saya bicara sendiri dalam hati karena sulit mengucapkan langsung di depan Christine. Sementara teman-teman mencoba mengalihkan pembicaraan agar Christine, sahabat kami, tidak tambah sakit.

Setelah opname selama empat hari di paviliun terbaik di RSUD Sidoarjo, Christine mengatakan dia teringat ratusan pasien lain di kamar kelas ekonomi. Mutu perawatan di situ buruk. Kalaupun dilayani, orang-orang miskin itu tentu sulit membeli obat yang mahal itu. Mereka pun dirawat di ruang terbuka di bawah standar layanan kesehatan internasional.

'Siapa yang bisa bantu mereka? Saya bisa di sini karena bisa bayar. Bagaimana dengan mereka yang tidak mampu?' kata Christine, lalu menangis lagi.

'Hurek," ujar Christine memanggil nama saya. 'Kenapa di Indonesia seperti ini? Kamu kan wartawan, coba jelaskan. Saya tidak bisa mengerti. Indonesia ini kan negara kaya,' todongnya.

Lidah saya kelu. Mau omong apa? Masalahnya terlalu besar untuk dijelaskan dengan beberapa kalimat. 'Ini persoalan sistem. Sistem yang buruk membuat Indonesia seperti ini,' sela Nasrullah, pelukis, suami Christine. Saya pun selamat karena terbebas dari kewajiban menjawab pertanyaan Christine Rod.

'Kalau di Swiss bagaimana? Apakah semua rakyat yang sakit mendapat pelayanan kesehatan yang sama? Tidak dibeda-bedakan?' giliran saya bertanya.

'Oh ya. Semua orang di Swiss dilayani dengan sebaik-baiknya. Tidak peduli miskin, kaya, pendatang... harus dapat pelayanan kesehatan yang berkualitas. Sistem jaminan sosial sangat bagus, sehingga orang tidak perlu bingung kalau sakit, bahkan operasi,' jawab Christine, antusias.

Aha, saya pun ingat Pancasila. Ada sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Indah nian didengar di telinga, tapi tidak pernah dilaksanakan oleh pengurus negara Indonesia. Di sini pejabat kaya-raya karena korupsi dan suap, sementara rakyatnya miskin merana dan turun derajatnya alias mengalami dehumanisasi.

Christine, moga-moga air matamu untuk Indonesia tidak sia-sia.

Salam damai!

Edy Tatang Koleksi Semua Album Ervinna


Saya baru saja menerima surat dari Bapak Edy Tatang Suhayana, Jalan Jati Gan Pusaka 1020 RT 07/06, Rengasdengklok, Jawa Barat. Dia penggemar berat penyanyi Ervinna. Bukan sekadar gemar, Pak Edy ini menoleksi hampir semua koleksi album Ervinna sejak awal 1970-an... sampai sekarang.

'Sambil menulis surat ini saya memutar lagu2 Ervinna dari piringan hitam Ervinna Golden Hits of 20th Century. Dan tiap awal tahun saya selalu membesihkan dan memutar kaset2 Ervinna itu supaya gak macet,' ujar Pak Edy Tatang dengan tulisan tangannya yang ruwet tapi masih bisa dibaca.

Pak Edy Tatang juga menceritakan daftar koleksi album Ervinna-nya. Saya geleng-geleng kepala, sulit membayangkan, ada penggemar fanatik macam beliau. Boleh dikata, hanya segelintir plat/kaset/CD Ervinna, penyanyi senior yang sekarang tinggal di Jalan Kertajaya Surabaya, yang dia tak punya.

'Kok bisa ya ada penggemar seloyal Pak Edy?' batin saya. Harus diingat, album lama belum berupa CD/VCD/DVD sehingga penyimpanannya, apalagi sampai ratusan keping, bukan hal mudah. Butuh ruangan yang sangat luas, telaten, perawatan, dan seterusnya.

Pak Edy mengungkapkan, total koleksi album Ervinna di rumahnya, Rengasdengklok, ada sekira 180 kaset. 'Tapi sekarang tinggal kira2 150 kaset masih sering saya putar kok. Ada juga yg dipinjam teman tak dikembalikan lagi, ada yang rusak dan ada juga yang hilang,' tulis Pak Edy Tatang.

Rinciannya:

Ervinna Top Hits volume 1 - 12
Ervinna Golden Hits volume 1 - 8
Ervinna Favourits Hits volume 1 - 2
Ervinna Mandarin 19 kaset produksi Singapura
Ervinna Mandarin 12 kaset produksi Jakarta


'Kemudian, Ervinna disco, Jawa, keroncong, Tapanuli (2 volume), dangdut, dan lain-lain,' kata Pak Edy Tatang. Selain beli di kota kelahirannya, ia mengaku memburu album/plat Ervinna di Jalan Surabaya, Cikini, Jakarta. Ini bursa barang antik, termasuk rekaman tempo dulu, yang sangat terkenal di Jakarta.

'Tapi sudah hampir lima tahun saya tidak ke sana [Cikini]. Kalau kamu memang perlu catatan daftar lagu2 Ervinna dari tiap kaset, maka saya bersedia mencatatkannya. Masalahnya, saya tak bisa main internet. Saya orangnya gatek, Bo,' ujar Pak Edy yang hobi surat-suratan dengan sahabat pena.

Setelah masa keartisannya surut, Ervinna aktif di berbagai kegiatan rohani, bikin album gospel, hingga memimpin Bunda Kudus di Keuskupan Surabaya. Semua sudah saya tulis di blog ini. Ternyata, Pak Edy ini membaca print out blog saya yang diberikan seorang teman penanya.

'Spt kamu tulis di internet kalau Ervinna lagi menyiapkan kaset rohani bhs Mandarin. Kalau jadi pasti saya cari dan membelinya, Mudah2an ada VCD-nya supaya saya bisa lihat Ervinna sepuasnya. Bukan cuma sekadar suaranya saja yg merdu,' tulis Pak Edy.

Lagi-lagi, saya tak habis pikir dengan kecintaan Pak Edy pada artis idolanya, Ervinna alias Maria Monika Ervin, di Surabaya. Adakah artis-artis masa kini yang punya penggemar sefanatik Pak Edy Tatang?

19 July 2007

Mengenang A. Kadir - OM Sinar Kemala



CATATAN: Naskah ini dipersembahkan kepada Bapak A. Kadir  (almarhum) dan Bapak A. Malik Bz. (almarhum), pemusik 1960-an, atas kepeloporannya dalam mengembangkan musik melayu di Indonesia.

Oleh LAMBERTUS HUREK

Wah, di dekat stasiun kereta api Sepanjang, Sidoarjo, saya menemukan kaset lama yang bersejarah. Judulnya: Mengenang A. Kadir. Ada tulisan lain di sampul: OM Sinar Kemala pimpinan A. Kadir. Lalu, 'Keagungan Tuhan', lagu terkenal OM Sinar Kemala yang ditulis oleh A. Malik Bz. [Abdul Malik Buzaid].

Syukur alhamdulillah!

Saya sering mendengar kisah seputar OM Sinar Kemala dari Bapak A. Malik Bz., salah satu personel orkes itu yang kini tinggal di Desa Kureksari, Kecamatan Waru, Sidoarjo. Kebetulan saya sering mampir ke rumah Pak Malik untuk tanya-tanya seputar kisah di balik lagu 'Keagungan Tuhan' yang legendaris itu.

Pak Malik sangat respek pada almarhum A. Kadir, salah satu dedengkot musik melayu di tanah air. Jasa beliau sangat besar dalam memperkenalkan lagu-lagu berirama melayu [kemudian bermetamorfosa menjadi dangdut] di seluruh Indonesia. Saya yakin, orang tua kita pernah menikmati lagu-lagu melayu ala OM Sinar Kemala dan orkes-orkes sejenis.

Nah, kaset 'Mengenang A. Kadir' ini diterbitkan Lokananta, perusahaan rekaman milik negara di Solo. Ada 18 lagu di sini. Saya duga, lagu-lagu ini ditransfer dari piringan hitam dengan aransemen musik orisinal, khas 1960-an. Sepenuhnya akustik.

SiSI A:

Keagungan Tuhan [karya A. Malik Bz.] penyanyi Ida Laila,
Pengantin Baru [A. Kadir] penyanyi A. Kadir,
Pujaan Hati [Fouzi] Ida Laila,
Pandangan Sekejap [A. Kadir] Ida Laila/A. Kadir,
Ingkar Janji [Fouzi] A. Kadir,
Tertawan [A. Malik Bz.] Nurkumala,
Di Lembah Duka [A. Kadir] Surayah,
Jangan Diragukan [Fouzi] A. Kadir,
Insan dan Seni [A. Malik Bz.] Fadiah.

SISI B:

Kembalilah Kekasihku [A. Kadir] A. Kadir,
Bercerai Kasih [A. Malik Bz.] Ida Laila,
Hanya Padamu [A. Kadir] A. Kadir,
Tiada Harapan [A. Rafiq],
Menanti Kekasih [A. Kadir] A. Kadir,
Berjumpa Kembali [A. Kadir] A. Kadir/Ida Laila,
Kisah Nan Lalu [A. Malik Bz.] A. Kadir,
Suara Jiwaku [Achmad] A. Kadir,
Terimalah [A. Malik Bz.] A. Kadir.


Saya beberapa kali memutar kaset lama ini untuk menangkap roh OM Sinar Kemala sekaligus struktur musik melayu 1960-an. Hmm.. ternyata A. Kadir bersama anggota orkes mempersiapkan album ini dengan sungguh-sungguh. Mulai dari pola melodi, ritme, aransemen, hingga seksi gesek [string section] yang mempermanis lagu.

Ida Laila pada 1960-an jelas masih remaja. Suaranya terdengar cempreng [ceper], agak sulit dengan nada rendah. Kenapa nada dasarnya tidak dinaikkan saja? Barangkala Pak A. Kadir sudah mempertimbangkan berbagai aspek sehingga memilih Ida Laila membawakan 'Keagungan Tuhan'.

Yang jelas, sejarah sudah tercipta. Ida Laila dan OM Sinar Kemala sudah berhasil mengabadikan lagu 'Keagungan Tuhan' yang sangat religius itu. "Lagu itu memang cepat sekali populer ke seluruh Indonesia, bahkan Malaysia, Singapura, dan Brunei. Sampai hari ini pun orang masih menyanyikannya," kata A. Malik Bz., penulis lagu Keagungan Tuhan, yang dikenal sebagai oran dekat A. Kadir.

Kalau disimak baik-baik, musik dan syair OM Sinar Kemala sangat berbeda dengan lagu-lagu dangdut sekarang [tahun 2000-an ke atas]. A. Kadir dan kawan-kawan menampilkan nyanyian yang santun, berpetuah, refleksi, religius. Irama gambus pun kental terasa. Maklum, A. Kadir dan beberapa pemusik memang keturunan Arab yang paham benar tangga nada Timur Tengah.

Lagu melayu mirip kasidah ini terasa di Pengantin Baru, Pujaan Hati, Keagungan Tuhan.... Yah, hampir semuanyalah. Meski begitu, tema lagu sebagian besar tetap berputar-putar di soal asmara muda-mudi.

Menurut Malik Bz., pada 1960-an hingga 1970-an lirik lagu melayu memang sangat memperhatikan rima alias kesamaan vokal di setiap bait. "Nggak kayak sekarang, syair lagu dibuat sebebas-bebasnya asal jadi," kata Malik Bz. kepada saya.

A. Kadir lahir dan besar di Surabaya. Orangnya santun, berwibawa, dan hebat secara musikal. Suaranya tidak bagus-bagus amat, tapi enak didengar. Nyanyinya tidak ngoyo, bahkan cenderung pakai setengah suara. Mungkin karena disesuaikan dengan irama melayu masa itu yang belum dimasuki unsur rock & beat macam dangdut masa kini.

Karena suka musik, A. Kadir mengajak teman-temannya pada 1950-an untuk mendirikan Orkes Melayu [OM] Sinar Kemala di Surabaya. Saat itu orkes melayu belum banyak di Indonesia. OM lain yang terkenal dan berpengaruh, kata Malik Bz., adalah OM Bukit Siguntang pimpinan A. Chalik di Jakarta.

[Untuk orkes melayu nama pemimpin sangatlah penting. Dia bisa pemusik, penata musik, atau sekadar juragan yang menentukan merah-hitamnya orkes. Nama pemimpin selalu dicantumkan bersama orkesnya. Maka, kita kenal OM Sinar Kemala pimpinan A. Kadir. Kemudian OM Bukit Siguntang pimpinan A. Chalik. Sampai sekarang pun orkes melayu atau dangdut di Jawa Timur mempertahankan tradisi ini.]

Menurut A. Malik Bz., selama 10 tahun lebih OM Sinar Kemala tidak berkembang meskipun sudah mulai dikenal masyarakat di Surabaya dan sekitarnya. Toh, mereka tetap berkarya, main di RRI Surabaya, atau mengisi tanggapan di berbaga hajatan. Para pemusik yang rata-rata muda, bujang, sangat menikmati hobi sebagai pemusik melayu yang disukai masyarakat pada masa itu.

Barulah pada 1961, OM Sinar Kemala melejit. Album demi album mereka rekam di PT Lokananta, salah satu perusahaan rekaman perintis di Indonesia. OM Sinar Kemala mencapai kejayaan pada 1964 dengan merilis hit 'Keagungan Tuhan' karya A. Malik Bz. Adalah Ida Laila, vokalis remaja asal Surabaya, yang membawakan saat rekaman di Lokananta.

RRI Surabaya, sebagai wadah bermusik OM Sinar Kemala, kemudian menyebarkan lagu-lagu OM Sinar Kemala ke jaringan RRI di seluruh tanah air. Maka, di mana-mana orang menyanyikan lagu itu.

"Insaflah wahai manusia
Jika dirimu bernoda
Dunia hanya naungan,
'Tuk makhluk ciptaan Tuhan..."




A. Malik Bz. memperlihatkan salah satu piringan hitam OM Sinar Kemala. Gambar di sampul itu A. Kadir, pemimpin OM Sinar Kemala.

Lalu, rekaman demi rekaman diproduksi di Lokananta. Kepada saya A. Malik Bz. mengatakan bahwa OM Sinar Kemala berhasil mencetak 80 album lagu-lagu melayu baik yang sukses maupun tak. Separo, 40 album, diproduksi Lokananta [Solo] dan 40 lainnya oleh Remaco [Jakarta].

Waktu terus berjalan, dunia hiburan Indonesia pada 1970-an awal dibanjiri film-film India. Salah satunya berjudul AWARA. Film India, kita tahu, tak hanya berisi cerita, tapi lebih-lebih musik dan goyangannya yang khas. Orang Surabaya, Jakarta, Bandung, Medan, dan kota-kota besar pun demam artis India.

Mau tak mau, irama India pun terserap ke musik melayu 'klasik' tanah air. Nah, lagu melayu bercampur India ini kemudian menjadi cikal bakal dangdut. Bagaimana dengan OM Sinar Kemala pimpinan A. Kadir? "Kami ikut terpukul gara-gara terjadi perselisihan antara Remaco dan Golden Hand," cerita Pak Malik.

Biasa, produser rekaman [pedagang] bertikai soal nafkah. Rebutan artis top yang bisa mendatangkan uang banyak. Apa boleh buat, OM Sinar Kemala yang legendaris pun pecah. Para personel yang hebat-hebat, matang, keluar dan bikin orkes-orkes baru.

Orkes pecahan Sinar Kemala antara lain OM Sinar Mutiara [pimpinan Fouzi], OM Awara [pimpinan S. Achmadi], OM Permata [pimpinan Mono Sanjaya]. "Penyanyi A. Rafiq pindah ke Jakarta dan mendirikan A. Rafiq Group," tutur Pak Malik Bz.

Malik Bz., penulis lagu paling produktif saat itu, juga pemain akordeon dan piano OM Sinar Kemala, pun mengaku diajak pindah atau bergabung dengan orkes lain. Atau, bikin orkes sendiri yang dijamin laku. "Tapi saya tidak mau. Saya tetap bertahan bersama OM Sinar Kemala," tegas Pak Malik.

Orkes-orkes pecahan Sinar Kemala ini, kita tahu, dalam waktu singkat menarik perhatian masyarakat Indonesia. OM Awara dengan Ida Laila-nya mencetak puluhan album dan kondang di kampung-kampung. Siapa sih yang tak kenal Ida Laila, yang diorbitkan A. Kadir dan OM Sinar Kemala?

A. Rafiq bikin heboh dengan gaya melayu Indianya, plus celana khasnya: celana a. rafiq. Itu lho celana panjang yang kakinya besar nian. Goyangan A. Rafiq pun menjadi trade mark-nya sampai sekarang.

Pada saat itu A. Kadir, A. Malik Bz. dan beberapa personel OM Sinar Kemala mencoba bertahan dengan idealisme bermusik melayunya. Tapi waktu jugalah yang akhirnya menghentikan riwayat OM Sinar Kemala.

"Dunia rekaman kita nggak karuan karena dikuasai oleh orang-orang yang mata duitan. Bikin lagu bukan untuk seni, tapi semata-mata uang. Contek lagu India dan lagu-lagu luar menjadi hal biasa. Seniman karbitan merajalela. Saya selalu dipaksa ikut arus industri, tapi nggak mau," ujar Pak Malik Bz.

Pada tahun 1985 Bapak A. Kadir, pendiri OM Sinar Kemala, salah satu pelopor musik melayu di Indonesia, meninggal di rumahnya Jalan Ampel Cempaka 30 Surabaya. OM Sinar Kemala pun wassalam....

DAFTAR PERSONEL OM SINAR KEMALA

Ghozali [pembawa acara]
Ida Laila [penyanyi]
Nur Kumala [penyanyi]
Munif Bahaswan [penyanyi]
Khadam [trombone]
Piek Nyoo [penari]
Fouzi [penggembira]
Ellya Khadam [penyanyi]

A. Kadir [pemimpin, suling, tabla]
Yohana Satar [penyanyi]
Wakhid [gitar]
Saleh [trumpet, klarinet]
Salim [pelawak]
Abubakar
Muhammad Degel [kendang]

A. Malik Bz. [akordeon, piano]
A. Karim [tamborin]
Umar [penyanyi]
Said Efendi [penyanyi]
Fuad [marakas]
Husein [akordeon]

Pemain biola : 12 orang.

Pembuat orkestrasi [music arranger]:

Suyanto
Andi Saifin
Kanan [Kepala RRI Surabaya]
Marzuki [RRI]
Urip Santoso
Sofyan



Ira Puspita Penyanyi Surabaya 1970-an



Pada 24 September 1977 digelar Malam Final Festival Lagu & Penyanyi Populer V di Balai Sidang, Jakarta. Ira Puspita, penyanyi asal Surabaya, ikut festival bergengsi itu. Majalah TEMPO edisi 14 Oktober 1977 menulis catatan menarik tentang lomba ini. Petikannya:

"...Pada kesempatan lagu pilihan, penonton terpikat oleh penampilan Ira Puspita. Wakil Surabaya yang berusia 30 tahun ini biasanya merekam lagu-lagu Jawa bersama band Varia Nada. Ia sudah punya anak berusia 2 tahun.

Kendatipun malam itu ia sudah mengandung 3 bulan, toh ia bergoyang dengan enak. Bahkan tak terduga mengeluarkan harmonika, langsung meniupnya. Banyak orang terkesima oleh harmonika ini. Ia jadi unik, sehingga banyak yang menjagokannya akan berhasil meraih hadiah.

Ia dapat menguasai diri, ada penahanan, ada kesadaran bentuk penampilan, tidak seperti Lana yang meledak-ledak tapi menakutkan itu. Tetapi suara Ira, terutama untuk lagu wajib, belum memiliki kematangan seorang juara. Kalau kemudian Ira sempat juga merenggutkan tempat ketiga, di samping mungkin ada pertimbangan juri yang benar-benar jitu, kita sangsi kalau ini semacam kebijaksanaan.

Maklum juara I dan II telah jatuh di Jakarta. Masak Jakarta melulu kan!


Singkat cerita, Hetty Koes Endang [20 tahun] juara I dengan biji 359. Juara kedua duet Melky Goeslaw dan Diana Nasution nilai 351. Sedangkan Ira Puspita [nilai 333,5] juara III.

Penggambaran TEMPO sangat hidup sehingga saya bisa bayangkan suasana festival malam itu. Saya juga ketawa sendiri membayangkan Ira Puspita yang hamil tiga bulan, tiba-tiba mengeluarkan harmonika, dan bikin penonton bersorak senang. Aha, boleh juga Ira Puspita ini!

Nama Ira Puspita tak asing di telinga saya yang sejak sekolah dasar gemar mendengar siaran pagi Radio Australia Seksi Indonesia. Seorang penyiar, saya lupa namanya, selalu mengakhiri acara salam-salaman [macam pilihan pendengar] dengan suara Ira Puspita.

"Good bye to you, my sinyo manis...

Lagu ini berirama keroncong, liriknya pakai bahasa gado-gado: Indonesia, Inggris, Belanda, Jawa. Dan Ira membawakannya dengan penuh penghayatan. Seakan-akan lagi mengucapkan selamat tinggal kepada kekasihnya, sinyo manis....

Bertahun-tahun Radio Australia menjadikan nyanyian Ira Puspita ini sebagai 'ikon' siarannya. Tapi, terus terang, dulu saya tidak tahu siapa gerangan Ira Puspita itu. Suaranya bagus, sering keluar di Radio Australia, kok tak pernah kelihatan di televisi? Albumnya mana? Kasetya kayak apa sih? Lagu-lagu lain, selain Good Bye to You, apa?

Pertanyaan yang tak berjawab. Teman-teman di Flores, beberapa wartawan, siapa saja yang 'paham' musik, saya tanya, tapi hasilnya nihil. "Ira Puspita? Oh, yang sering keluar di Radio Australia itu ya? Kayaknya nggak bikin album lagi. Mungkin sibuk dengan keluarga," ujar seorang penyiar radio swasta di Malang pada 1990-an kepada saya.

Waktu bergulir. Saya tak lagi mendengar siaran Radio Australia di gelombang pendek [SW] karena di Jawa kita hanya kenal radio FM atau [dulu] AM. Isinya lagu-lagu pop mutakhir atawa Top 40 atawa laporan kemacetan lalulintas dan berita-berita sekilas. Juga sandiwara radio macam Tutur Tinular atau Saur Sepuh. Saya pun mulai asing dengan suara Ira Puspita.

Di Surabaya, sekitar tahun 2000, saya meliput acara kebaktian kebangunan rohani [KKR] di plaza. KKR lazimnya menampilkan penyanyi rohani, penyanyi pop... membawakan puji-pujian kristiani alias gospel songs. Tiba-tiba pembawa acara mengumumkan:

"Saudara-saudara yang terkasih, sebentar lagi kita akan mendengarkan pujian dari Ibu Ira Puspita. Beliau mantan penyanyi yang pernah menjuarai festival lagu pop tingkat nasional."

Aha, jelas saya langsung ingat 'Good Bye to You' di Radio Australia yang dulu menemani awal hari-hari saya. Tapi benarkah Ira Puspita yang itu? Kan banyak orang Jawa yang namanya Ira Puspita. Hmm.. ternyata benar. Suaranya sama benar dengan Ira Puspita di radio. Saya bahagia karena diberi kesempatan bertemu muka dengan Ira Puspita.

Selepas kebaktian, saya dekati Ira Puspita. Setelah memperkenalkan diri, nama media, saya langsung tembak: "Maaf, Ibu Ira Puspita itu yang sering keluar di Radio Australia itukah?"

Ira Puspita tersenyum. "Jadi, kamu senang dengar Radio Australia? Iya, benar sekali. Itu suara saya. Memang lagunya jenaka, lucu, tapi dibawakan secara serius. Saya rekaman di Singapura," ujar Ibu Ira Puspita dengan ramah.

Di usia yang tak lagi muda, badan Ira Puspita tetap ramping, ia pun terlihat awet muda. Teknik vokalnya pun masih baik meskipun teknik pernapasannya agak menurun. Maklum, Ira Puspita yang sekarang bukan Ira Puspita yang penyanyi penuh gaya macam di festival pop tahun 1977.

Berbeda dengan Hetty Koes Endang, Melky Goeslaw [kini almarhum], dan Diana Nasution, rekan-rekannya sesama pemenang festival yang tetap berkarier di industri musik pop, Ira Puspita memilih menjadi perempuan biasa. Mengurus anak, jadi istri yang baik, sambil sekali-sekali menyanyi.

Tarik suara pun menjadi nomor dua. Karena itu, nama Ira Puspita pun tenggelam. Untung, ada penyiar Radio Australia yang mengawetkan suara Ira Puspita di siarannya. "Saya bukan penyanyi kok. Itu kan dulu ketika saya masih muda dulu. Sekarang kegiatan saya, ya, seperti ibu-ibu di Surabaya," tutur Ira Puspita.

Saya kemudian betemu dengan Ira Puspita dalam beberapa konser musik klasik di Surabaya. Boleh dikata, Ibu Ira Puspita ini penggemar berat konser klasik baik yang dimainkan musisi lokal maupun musisi luar negeri. Saya pun bersalaman sambil menyenandungkan lagu 'Good Bye to You'. Ira Puspita pun tersenyum.

Suatu ketika, saat sama-sama lihat konser klasik, Ira Puspita datang bersama anak muda yang ganteng. Saya pun menyapa Ira Puspita. "Ini anak saya, Glenn," ujar Ira Puspita.

Glenn ini baru saja pulang dari Amerika Serikat setelah menuntaskan studi musik klasiknya. Glenn inikah jabang bayi berusia tiga bulan di dalam kandungan Ira Puspita saat menjadi finalis festival pop pada 1977 seperti digambarkan majalah TEMPO?

Saya tidak sempat tanya karena kutipan di TEMPO baru saya baca jauh setelah saya bertemu Ira Puspita. Kalau tidak baca TEMPO zaman dulu, 1977, saya tentu tidak tahu kalau Ira Puspita pernah jadi juara tiga festival penyanyi pop yang piawai bermain harmonika.

Kini, Glenn dikenal sebagai salah satu pianis klasik jempolan di Surabaya. Dan itu membuat Ira Puspita, mamanya, bangga dan bahagia.

18 July 2007

Gereja Palasari, Kampung Katolik di Bali




Gereja Palasari menjadi simbol inkulturasi agama Katolik dan budaya Bali di kawasan Jembrana, Bali bagian barat. Komunitas ini dirintis oleh Pater Simon Buis SVD sejak 1940.


Belum lama ini saya ketemu Prima, gadis manis bekas aktivis gereja di Surabaya. Aha, dia sudah punya calon suami. "Mas, kenalin calon saya. Ganteng nggak?" ujarnya sambil tertawa kecil.

Hehehe... pancet ae Ning Prima iki.

"Aku punya keinginan, kalau bisa saya menerima sakramen pernikahan di Palasari. Gereja dan lingkungannya luar biasa," ujar Prima.

Kali ini nadanya serius.

Celetukan kawan lama ini bikin saya ingat gereja Katolik di Dusun Palasari, Kabupaten Jembrana, Bali. Saya kebetulan beberapa waktu lalu mampir ke sana saat berwisata lewat darat dari Surabaya ke Bali. Dan sejak lama saya dengar cerita Gereja Palasari lewat mulut Dewa Made Ramawidia Swara, bekas aktivis Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia [PMKRI] Surabaya.

Kakek si Dewa ini kebetulan salah satu pejuang, pendiri gereja di Palasari, sekaligus peletak dasar komunitas Katolik di pedalaman Bali tersebut. "Perjuangannya sangat panjang, berliku-liku, penuh pengorbanan. Puji Tuhan, komunitas Katolik akhirnya terbentuk secara alamiah di Palasari. Saya termasuk keturunan Palasari."

Gereja Katolik Hati Kudus Palasari mencerminkan inkulturasi agama Katolik di pulau dewata itu. Bangunan dibikin mirip bangunan-bangunan adat di Bali. Begitu banyak detail, aksesoris, dan tetek-bengek lain yang serba Bali. Hanya saja, di tengah bangunan dan di dua sisi gapura ada salib kristus, simbol kekristenan.

Dewa Made menyebutnya sebagai arsitek gotik bernuansa Bali yang khas. Pohon mangga tua masih bisa dinikmati kerimbunannya. Inilah yang membuat Gereja Palasari menjadi sangat unik di Bali [provinsi dengan mayoritas mutlak orang Hindu], dan bikin cukup banyak orang di luar Bali penasaran ke sana. Atau, ingin menikah di gereja itu.

Lalu, bagaimana kisah singkat Gereja Palasari, termasuk pembentukan 'Gereja' dalam G [besar] alias jemaat alias ecclesia? Saya bersyukur, sahabat dekat Dewa Made Ramawidia Swara hafal di luar kepala.

"Bagaimana bisa lupa? Gereja Palasari itu simbol semangat pembebasan yang ditanamkan oleh Pater Simon Buis SVD. Menjadi pembebas bukan pekerjaan mudah karena pelaku harus merasa bebas dulu," ujar Dewa Made.

[Aha, Dewa ini memang suka diskusi yang berat-berat tentang ajaran sosial gereja, civil society, bahaya kapitalisme... sehingga kalimat-kalimatnya khas aktivis. Dia juga aktif dalam berbagai unjuk rasa menentang rezim Orde Baru pada 1997-1998 di Surabaya.]




Menurut Dewa Made, Pater Simon Buis masuk ke Bali sebagai misionaris atau pastor Katolik pada 1936. Sembilan tahun sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945. Simon giat menggali informasi tentang komposisi masyarakat Bali, adat, budaya, bahasa, dan semua yang berkaitan dengan Bali.

Biasalah, di mana-mana misionaris Societas Verbi Divini [SVD] selalu melakukan itu. Tujuannya, ya, untuk memudahkan reksa pastoral atawa penggembalaan umat. "Dalam waktu singkat Pater Simon Buis menguasai bahasa dan budaya Bali," tutur Dewa Made. Pater Simon tinggal dan bersosialisasi dengan masyarakat umum yang beragama Hindu.

Ketika itu wilayah Tuka, dekat Denpasar, semakin padat sehingga pada 1939 pemerintah berencana mengembangkan wilayah di Bali bagian Barat. [Sekarang Kabupaten Jembrana, dekat dermaga penyeberangan di Gilimanuk.] Pater Buis menangkap rencana ini sebagai peluang untuk mendirikan sebuah komunitas Katolik di Pulau Bali yang hidup rukun dan damai dengan saudara-saudaranya yang Hindu.

Pater Simon Buis SVD kemudian berdiplomasi dengan dewan raja-raja. Dia minta izin pembukaan lahan sekitar 200 hektare di Palasari. [Sebelumnya, sudah berkembang jemaat Kristen Protestan di Blimbingsari.] Perjuangan Simon Buis tak sia-sia. Mengutip istilah Dewa Made dan umat Katolik di sana, ini semua karena anugerah dan berkat melimpah dari Tuhan.

Setelah diperoleh kepastian, pada 15 September 1940, Pater Simon Buis SVD melakukan long march bersama 24 warga Tuka, Denpasar. Mereka jalan kaki sejauh 170 kilometer lebih menuju hutan pala. Pater Simon Buis bersama 24 warga itu kini dikenang sebagai peletek iman alias pendiri komunitas Katolik di Palasari.

Jalan kaki yang begitu jauh melelahkan ibarat 'jalan salib' Kristus. Via dolorosa. Dari 24 orang, yang tersisa hanya 18 orang. Nah, 18 orang itulah yang kemudian bikin gereja di sana: Gereja Katolik Palasari [lama]. Benih-benih Katolik mulai disemai oleh 18 pelopor tersebut.

"Salah satunya kakek saya," beber Dewa Made Ramawidia Swara.

Saat Jepang masuk, 1942, orang-orang Belanda ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara. Termasuk para pastor Katolik, termasuk Pater Simon Buis SVD yang ditahan di Sulawesi. Ajaibnya, meski gembalanya dipenjara dan diasingkan, jemaat Palasari terus berkembang dan berbuah.

Jepang pun kalah. Pater Simon Buis kembali ke Palasari pada 1947. Dia terkejut karena sudah ada 96 keluarga Katolik di situ. Gereja lama pun menjadi terlalu sumpek. Maka, dia mengajukan izin menambah lahan seluas 200 hektare kepada dewan raja-raja. Disetujui! Lahan inilah kemudian didirikan Gereja Katolik Palasari sekarang.

"Palasari lama melalui Sungai Gede. Saat ini di Palasari Lama hanya tinggal beberapa keluarga Katolik saja. Di situ didirikan sebuah salib sebagai simbol perjuangan membangun gereja lokal awal," tulis Dewa Made dalam sebuah catatan kenangannya akan kampung halamannya di Palasari, Bali.

Pada 25 Agustus 1960 Pater Simon Buis SVD meninggal dunia di Belanda. Resquescat in pace! Untuk mengabadikan namanya, jalan raya di Desa Ekasari pun diberi nama Jalan P. Simon Buis. Juga ada patung P. Simon Buis SVD.

"Beliau mewariskan kepada kami di Palasari sebuah semangat pembebasan, semangat pantang menyerah. Kami, generasi muda Katolik, selalu ingat bagaimana nenek moyang kami jalan kaki dari Denpasar sampai ke Palasari untuk membentuk sebuah komunitas. Iman Katolik itu mahal lho," ujar Dewa Made yang juga kolumnis di sejumlah media cetak di Surabaya.

Data pada tahun 2002 menyebutkan bahwa umat di Paroki Palasari ada 319 keluarga atau 1.382 jiwa. Tentu saja, saat ini sudah ada penambahan maupun perpindahan ke tempat lain untuk studi, kerja, dan sebagainya. Harian Jawa Pos edisi 26 Desember 2006 menulis ada 331 keluarga.

Umat Katolik di Palasari menghayati imannya sebagai orang Bali. Tak hanya bentuk gerejanya, pada Natal kemarin misalnya, umat memakai busana adat Bali saat perayaan ekaristi [misa] Natal. Perempuan pakai kain dan kebaya, laki-laki pakai kampuh, lengkap dengan udeng atau destar.

Umat juga pasang penjor di sisi kiri pintu gerbang rumah masing-masing plus umbul-umbul. Benar-benar bernuansa Bali.

"Itu sudah menjadi tradisi kami di Palasari. Kami ini, meskipun Katolik, berusaha tetap melestarikan budaya leluhur Bali. Makanya, nuansa Natal di sini mirip umat Hindu merayakan Galungan," kata I Gusti Putu Triyasa, tokoh umat Katolik di Palasari.

Sehari menjelang Natal, kata Putu yang juga bekas kepala desa Ekasari, umat melakukan penampahan galungan. Yakni, memotong hewan serta membuat makanan dari olahan daging tersebut. Lalu, ziarah ke makam keluarga. Seperti orang Bali umumnya, umat Katolik juga mengunakan 'canangsari' lengkap dengan dupa.

Sebaliknya, umat Katolik asal Palasari yang berada di Jawa selalu berusaha terlibat dalam perayaan-perayaan agama Hindu. Teman saya, Dewa Made Ramawidia Swara, aktivis gereja, misalnya, selalu bersemangat saat menusung ogoh-ogoh bersama para pemuda Hindu lainnya di Jawa Timur.

"Bagi kami di Bali hal-hal seperti ini memang biasa. Penghayatan terhadap budaya leluhur sangat tinggi dan itu selalu kami syukuri," tegas Dewa Made.

Ah, Palasari! Inkulturasi yang sempurna! Pantas saja kalau Prima ingin melangsungkan pernikahan di sana.



FOTO-FOTO: Yoga Raharja dan Leonardus Dewa Made RS

17 July 2007

Titiek Puspa - Si Legenda



Kendati sudah berusia 70 tahun, penyanyi Titiek Puspa masih berkiprah di dunia hiburan tanah air. Akhir pekan lalu, Titiek mendapat Life Time Achievement Award di Surabaya.


Sabtu, 14 Juli 2007.

Sebanyak 18 finalis Bintang Radio Tingkat Nasional (BRTN) unjuk kebolehan di Taman Surabaya, Surabaya. Di antara sekitar 200 penonton, tampak hadir Titiek Puspa. Penyanyi senior serba bisa ini duduk berdekatan dengan sejumlah undangan VIP seperti Menteri Komunikasi dan Informasi Muhammad Nuh serta Wali Kota Surabaya Bambang Dwi Hartono.

Titiek, si nenek cantik, tampak sangat menikmati penampilan para finalis BRTN 2007 yang diiringi Orkes Studi Surabaya pimpinan Desiderius Sugianto dan Amir Katamsi itu. "Terus terang, saya sampai keluar air mata menyaksikan penampilan para finalis di panggung. Suaranya bagus-bagus. Saya teringat masa muda saya dulu," kata Titiek Puspa.

Masa muda? Yah, perempuan bernama asli Sudarwati ini memang mengawali kariernya lewat ajang bintang radio di RRI Semarang. ''Saya ingat, waktu tahun 1954, saya ikut bintang radio di Semarang. Saat dapat kesempatan mau ke Jakarta, saya tidak bisa tidur karena mikir bintang radio terus," kata nenek bercucu 14 ini.

Ironisnya, meski selalu dijagokan, Titiek mengaku tak pernah menembus tangga juara. "Aku tidak pernah menang, tapi tidak pernah putus asa. Aku biasanya di semifinal paling hebat, tapi sampai di final kempes," cerita Titiek disambut tawa hadirin.

Karena itulah, dia berpesan kepada para peserta agar tidak pernah putus asa meskipun kalah. Yang penting, kerja keras, berusaha, jujur, ikhlas. Dia punya prinsip, kalau sudah telanjur menekuni dunia tarik suara (atau dunia apa saja), harus dijalani dengan sungguh-sungguh. "Pengalaman saya ini bisa kalian terapkan, cucu-cucuku," papar penyanyi senior yang lebih suka disapa 'eyang' oleh anak-anak muda.

Kenapa Titiek Puspa didaulat ke atas panggung BRTN 2007?
Ini karena Titiek Puspa terpilih sebagai artis penyanyi yang berhak mendapat Anugerah Capaian Sepanjang Hayat (Life Time Achievement Award) dari Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia (LPP-RRI). Direktur Utama LPP-RRI Parni Hadi yang menyerahkan penghargaan itu kepada Titiek Puspa.

"Yang jelas, ini merupakan penghargaan pertama untuk penyanyi yang punya prestasi luar biasa. Sebelumnya, 58 kepala stasiun RRI dari seluruh Indonesia dan berbagai pihak terkait mendiskusikan siapa yang paling berhak mendapatkannya. Dan pilihan kami jatuh pada Ibu Titiek Puspa," kata Parni Hadi.

Titiek mengaku sangat senang dan terharu karena masih ada orang yang mengingat dirinya. "Saya jadi ingat masa lalu saya ketika ikut bintang radio kayak malam ini. Mau tahu pakaian saya dulu? Dari kain untuk saringan tahu itu lho," ujar Titiek.

"Oh, kain blacu," tukas Parni Hadi.

"Iya, kain blacu. Aku ingat tahun 1954 aku ikut bintang radio. Makanya, saya sangat mensyukuri anugerah Tuhan sehingga saya bisa seperti sekarang," kata Titiek.

Parni Hadi, dirut RRI, dengan gaya ludrukan mewawancarai Titiek. Parni bertanya tentang resep awet muda si nenek ayu ini. "Wah, saya ini orang yang mengalir saja. Hidup yang jujur, lurus, sehatkan jiwa dan raga," beber perempuan yang lahir di Tanjung, Tabalong, Kalimantan Selatan, 1 November 2007, ini.

Setelah berbincang santai, Titiek Puspa melontarkan pendapat tentang pentingnya memelihara seni budaya bangsa. Sebab, setiap orang di mancanegara justru ingin menikmati kesenian khas Indonesia dan bukan hiburan populer.

"Di luar negeri yang dicari itu yang hijau ini. Yang etnik itu yang dikagumi di luar negeri," ujar Titiek sambil menunjuk grup kesenian tradisional Madura yang kebetulan memakai busana hijau.

"Nah, saya mau tanya," sela Parni Hadi. "Apakah pemerintah sudah memerhatikan seni tradisi?"

"Kurang banget," kata Titiek Puspa.

"Apa tadi?"

"Kurang banget?"

"Kurang keras!"

"Kurang banget!"

Penonton bertepuk tangan dan tertawa lebar. "Saya mau ingatkan kepada anak-anakku, finalis bintang radio. Bagus kalau kalian punya kemampuan bernyanyi, tapi please, jangan lupakan seni budaya yang diwariskan oleh nenek moyang kita," tegasnya.

Selepas omong-omong ringan, Parni Hadi menodong Titiek Puspa untuk menyanyi. Mengenakan gaun putih keperakan dengan hiasan payet-payet mewah, Titiek mengajak 18 finalis BRTN 2007 untuk menyanyikan lagu ciptaannya, Kupu-Kupu Malam.

"Saya ciptakan lagu ini karena simpati pada wanita yang hidupnya kurang menyenangkan," kata Titiek.

"Ada yang benci dirinya
Ada yang butuh dirinya
Ada yang berlutut mencintainya
Ada pula yang kejam menyiksa dirinya...."

15 July 2007

BRTN 2007 Jenis Seriosa


Saya pernah menulis bahwa lagu seriosa telah lenyap dari Indonesia. Alhamdulillah, pendapat saya ternyata salah. Sabtu malam, 14 Juli 2007, grand final Bintang Radio 2007 tingkat nasional di Taman Surya, Surabaya, lagu klasik ala Indonesia ini dilombakan juga.

Hehehe... seriosa tak jadi mati.

"Memang sepuluh tahun terakhir ini tidak ada lomba nyanyi seriosa. Makanya, saya sangat berterima kasih kepada RRI [Radio Republik Indonesia] yang menggelar kembali bintang radio," ujar Christopher Abimanyu, ketua dewan juri Bintang Radio 2007 jenis seriosa.

Malam itu ada enam finalis. Tiga perempuan, tiga laki-laki. Diiringi Orkes Studio Surabaya, dengan dirigen Desiderius Sugianto, masing-masing penyanyi membawakan satu lagu seriosa yang sudah tak asing lagi. Menurut saya, tingkat kesulitan lima lagu tidak terlalu tinggi, kecuali 'Cintaku Jauh di Pulau' [dari puisi Chairil Anwar] yang kelas berat.

Setelah mendengarkan lagu hiburan, penonton disuguhi suara tiga finalis perempuan jenis seriosa. Suasana yang tadinya riuh, ngebeat, menjadi hening. Khas klasik.

Tapi, maaf saja, penyaksi malam final Bintang Radio kali ini belum tahu disiplin musik klasik. Mereka bicara sendiri-sendiri, suit-suit, belum berusaha menyimak pesan nyanyian klasik khas Indonesia.

Bukan salah penonton, saya kira. Siapa suruh panitia mencampur jenis seriosa dan hiburan di satu panggung? Di tengah keramaian yang tidak perlu itu, saya coba menikmati suara-suara seriosa yang sudah lama 'hilang' dari Indonesia.

SYANE LAWALATA [Ambon] membawakan Cempaka Kuning karya Sjafiie Embut. Ini tergolong lagu mudah yang biasa dibawakan anak-anak paduan suara. Sejak nada pertama Syane terlihat kurang percaya diri. Maklum, nona Ambon jarang tampil di panggung bawakan seriosa.

Bidikan nada kurang pas. Power kurang. Belum lagu harmonisasi dengan musik pengiring yang juga bermasalah. Tapi secara umum tetap baiklah.

KRISWANTI [Jakarta] dengan lagu Lumpur Bermutiara [Surni Warkiman]. Power jauh lebih bagus, artikulasi oke. Kemudian Hajah ARIANI [Jogja] membawakan Untuk Anakku [Syaiful Bachri].

Gak nyangka sang hajah, pakai jilbab, busana muslim, justru menyanyi paling bagus. Suara soprannya mantap. Pembawaan oke. Lagu ini bercerita tentang kebahagiaan sang ibu terhadap anaknya, doa sang bunda agar anaknya kelak bahagia dan menjadi manusia berguna.

Benar dugaan saya. Hajah Ariani terpilih sebagai juara pertama. "Alhamdulillah. Saya menyanyi saja tanpa beban. Saya hanya mencoba mengungkapkan pesan yang diperlihatkan dalam syair lagu," kata Ariani kepada saya.

Ariani guru sebuah sekolah menengah kejuruan di Jogja. Dia juga mengajar seni suara. Tampilnya Hajah Ariani sebagai kampiun seriosa sekaligus mematahkan anggapan seakan-akan seriosa itu 'lagunya orang nasrani'.

Nota bene: Aning Katamsi, bekas kampiun seriosa, yang malam itu jadi anggota juri, pun berbusana muslim, pakai jilbab!

MOSES TOMAZOA [Ambon] tampil sebagai finalis pertama laki-laki. Ini kejutan karena sejak dulu belum pernah ada penyanyi Ambon yang ikut bintang radio jenis seriosa. Suaranya bas. Dus, beda dengan finalis yang sejak dulu rata-rata tenor.

Seperti temannya, Syane, karena tampil pertama, Moses terlihat kurang tenang. Ambitus nada yang lebar di lagu 'Kepada Kawan' [Saiful Bachri] menuntut konsentrasi tinggi. Moses keluar sebagai juara ketiga. Lumayanlah!

Suara AGUNG WIDYOo [Bogor], finalis kedua, juga besar, bas. Membawakan lagu 'Derita' [Zainuddin], Agung tampil tenang, apa adanya. Agung mendapat sambutan meriah dari hadirin. Dia juara dua.

RAMHOT BASANI SIHOMBING [Medan], finalis ketiga, meneruskan tradisi kejayaan seni suara dari orang Sumatera Utara, khususnya Batak. Suaranya tenor. Saya teringat beberapa kampiun bintang radio 1990-an macam Johnson Panjaitan dan Mangapul Hutapea.

Ramhot pun kebagian lagu yang sulit, yakni 'Cintaku Jauh di Pulau'. Tapi berkat pengalamannya di dunia seni vokal klasik, Ramhot membawakannya dengan lumayan.

"Dia terlalu banyak melakukan covering sehingga pesan lagu menjadi tidak jelas. Padahal, seriosa itu kan harus menonjolkan pesan," kritik Abimanyu, bekas juara seriosa, yang juga ketua dewan juri. Meski begitu, Ramhot terpilih sebagai pemenang pertama. Horas!

"Terus terang, saya kebagian lagu yang sulit. Nadanya mulai dari paling rendah sampai paling tinggi. Variasinya banyak. Tapi, syukurlah, saya akhirnya menang," ujar Ramhot kepada saya. Laki-laki Batak ini sibuk mencari kameranya sehingga tidak bisa bicara banyak dengan saya.

Aning Katamsi, bekas juara seriosa, mengingatkan kembali pentingnya bernyanyi sesuai dengan partitur. Tidak boleh improvisasi sembarangan di lagu seriosa atau klasik. Tanda-tanda dinamika, ekspresi.. harus diperhatikan.

Saya pribadi menilai kualitas enam finalis kali ini di bawah Bintang Radio era 1990-an ke bawah. Bandingkan saja dengan Abimanyu, Aning Katamsi, Johnson, Mangapul.... Tapi tak apa-apa. Ketiadaan lomba seriosa di tanah air selama bertahun-tahun, pelan tapi pasti, telah menjauhkan anak-anak muda kita dari seni suara klasik ala Indonesia.

Seperti Abimanyu, legenda pop kita, Titiek Puspa mengaku sangat terharu mendengar lagu-lagu seriosa dilombakan [lagi] di bintang radio. "Saya merinding mendengar lagu-lagu seriosa. Lagu-lagu itulah yang justru membuat manusia menjadi lebih manusiawi. Ora hancur-hancuran," tegas Titiek Puspa.

Malam itu, Titiek Puspa [lahir 1 November 1937] menerima Anugerah Capaian Sepanjang Hayat [Life Time Achievement Award] dari Direktur Utama RRI Parni Hadi atas dedikasinya di bidang seni suara. Pada 1954 Titiek Puspa tercatat sebagai peserta lomba bintang radio di Semarang.

"Tapi saya nggak bisa masuk final. Semifinal paling hebat, eh finalnya kempes. Hehehe....," ujar Titiek yang sudah punya 14 cucu itu.

BACA JUGA
Lagu seriosa itu apa?

Melodi dan Brian Juara BRTN 2007


Melodi, juara satu BRTN 2007 jenis pop asal Jakarta.

Sabtu, 14 Juli 2007

Selusin finalis jenis hiburan tampil dalam grand final Bintang Radio Tingkat Nasional 2007 di Taman Surya, Surabaya. Mereka diiringi big band berkekuatan 27 orang dengan dirigen Amir Katamsi [Jakarta].

Inilah pemenang BRTN 2007:

PEREMPUAN

1. Melodi, Jakarta.
2. Ervina Nuriaty Simarmatha, Bogor.
3. Putri Arnita Avanti, Bandarlampung.

4. Desy Natalia Rumsarwir, Sorong.
5. Cut Ika Liana, Banda Aceh.
6. Tri Novia Septiani, Malang.

LAKI-LAKI

1. Brian Prasetyoadi, Jogjakarta.
2. Ida Bagus Surya Kastawa, Denpasar.
3. Falantino Eryk Latupapua, Ambon.

4. Ayub Kamengan, Kupang.
5. Zigo Bestova, Padang.
6. Rachmat Hidayat, Makassar.



Di malam final, Melodi membawakan 'Gantung' karya Melly Goeslaw. Cocok dengan karakter Melodi yang lincah, dinamis, ceria. Penguasaan panggung dan vokal boleh dikata sangat baik.

"Sejak babak final pertama, Melodi memang sudah unggul. Jadi, wajarlah kalau dia menang," ujar Kistoro, wartawan RRI Surabaya, yang juga panitia BRTN 2007, kepada saya.

Tapi saya sendiri menjagokan Ervina [Bogor]. Saya nilai materi vokal Ervina matang, punya ruang resonansi yang dalam, sehingga nada-nada lagu berasa mantap. Meyakinkan! Ervina pun tak kesulitan menyanyikan 'Aku Baik-Baik Saja' dari Ratu.

Mau bilang apa? Putusan dewan juri tidak bisa diganggu gugat. Perolehan nilai Melodi dan Ervina berbeda sangat tipis. Melodi 1.016, Ervina 1.014. "Terus terang, dewan juri berdebat keras karena kualitas peserta bagus-bagus. Jadi, nilai mereka sangat ketat," kata Iga Mawarni, anggota dewan juri.

Di sektor laki-laki, Brian Prasetyoadi memang berhak menjadi juara pertama. Penyanyi asal Jogja yang membawakan 'Dealova' ini memang oke. Dia punya saingat berat, Ida Bagus Surya, dari Bali. Hanya saja, seperti diingatkan Titiek Puspa, Brian harus 'menemukan diri sendiri' agar tidak menjadi bayang-bayang penyanyi yang lagunya dibawakan.

"Repotnya peserta lomba nyanyi pop di Indonesia memang sulit melepaskan diri dari penyanyi asli. Nah, kalian harus punya ciri khas," pesan Iga Mawarni.


Sayang sekali, malam itu saya tidak bisa wawancara dengan Melodi, gadis Jakarta yang saya perkirakan punya prospek cemerlang di dunia hiburan kita. Saya hanya bisa foto dia di bawah panggung. Lalu, Melodi foto bareng teman-temannya, kerabat, dewan juri.

Salaman ke sana ke miri, cium pipi kawan-kawannya, dapat ucapan selamat, dan seterusnya. Tak ada waktu untuk bicara dengan bloger kampung. Hehehe....

"Kalau nggak salah Melodi itu kuliah di London School di Jakarta. Sekarang baru semester dua," ujar seorang perempuan paro baya yang mengaku masih kerabat dekat Melodi. Tapi, ya, susah... tidak bisa saya verifikasi langsung ke Melodi.

Tak hanya Melodi, para pemenang BRTN 2007 ini pun sibuk sendiri-sendiri usai penyerahan hadiah. Saya hanya bisa bicara banyak dengan peserta yang kalah alias juara harapan. Lha, buat apa ditulis?

Bens Leo, anggota dewan juri, seperti biasa, melayani wawancara saya dengan senang hati. Kepada wartawan senior dan pengamat musik industri ini saya tanya prospek para pemenang BRTN, khususnya Melodi. "Oh, bagus. Melodi dan beberapa finalis punya potensi dan kualitas," kata Bens Leo.

Bens meminta Melodi dan Brian segera mempersiapkan diri mengikuti Festival Lagu Klasik Nusantara di Kuala Lumpur, Malaysia, September 2007. Festival ini melibatkan empat negara, yakni Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam. Bens Leo optimistis Melodi bakal berjaya di negara jiran tersebut.

"Kalau mau jujur, sekarang ini industri musik di Malaysia sedang ketar-ketir dengan penyanyi atau band Indonesia," ujar Bens Leo.

Malam itu, saya pulang dengan lega. Kenapa? Baru kali ini ada wakil Nusa Tenggara Timur, kampung halaman saya, yang lolos ke grand final meski 'hanya' juara empat alias harapan satu.

"Beta bersyukur kepada Tuhan yang sudah kasih kesempatan kepada beta untuk ikut BRTN dan lolos sampai ke Surabaya. Sonde apa-apa kalau sekarang beta hanya nomor empat," ujar Ayub Kamengan, yang mengaku biasa menyanyi di gerejanya di Kupang.

14 July 2007

Luluk Purwanto Srikandi Jazz


Pertemuan dengan Luluk Purwanto [lahir di Jogja, 25 Juni 1959] ketika saya baru beberapa hari menjadi wartawan sebuah harian di Surabaya. Mbak Luluk bersama suaminya, Rene van Helsdingen, gelar konser jazz di kampus Universitas Kristen Petra Surabaya.

'Anda silakan wawancara dengan Luluk Purwanto. Tahu nggak Luluk Purwanto? Dia dedengkot jazz Indonesia, pemain biola hebat. Biar anda tambah wawasan.'

Begitu perintah redaktur, agak membentak. Biasa, reporter pemula lazimnya diperintah agak keras... untuk tes mental. Saya senang karena selama ini saya hanya tahu nama Luluk Purwanto dari media massa.

Aha.. saya pun ketemu Mbak Luluk Purwanto. Orangnya kecil, mungil, baik hati. Suaminya orang Belanda, tinggal di sana, keliling dunia, pejazz hebat... tapi rendah hati. Enak diajak bicara. Luluk malah suka bicara dalam bahasa Jawa, gak kemelodo, kata orang Surabaya.

'Yo opo rek... banyak nggak ya yang suka jazz di Surabaya?' begitu basa-basi Luluk Purwanto. Teman saya, wartawan senior dari koran lain, bilang cukup banyak, tapi kurang merakyat. Beda dengan pop, apalagi dangdut.

"Hehehe... dari dulu ya begitu," kata Luluk Purwanto.

Maka, wawancara pun berlangsung santai, kayak omong-omong dengan kakak kita sendiri. Luluk tidak menganggap remeh kami, wartawan, yang rata-rata masih mentah soal musik, apalagi jazz. Dia bilang kita jangan sampai membuat masyarakat [pembaca] punya image bahwa jazz itu sulit, rumit, hanya untuk kalangan elite.

"Jazz itu jua bisa sangat menghibur lho," kata pemain biola jempolan ini. Kalau sering dinikmati, sering ditampilkan... Luluk Purwanto yakin musik jazz bisa diterima masyarakat Indonesia. Sebab, pada dasarnya jazz itu musik universal, menembus berbagai sekat dan batas negara, etnis, agama, apa pun.

Saat itu, Luluk Purwanto bersama suaminya, plus pemain bas betot [perempuan], saya lupa namanya, mungkin Belinda [?], membawa panggung berjalan. Sebuah mobil dimodifikasi sedemikian rupa menjadi panggung pertunjukan jazz. Rene main piano, Luluk biola, lalu bass akustik. Konser di halaman UK Petra Surabaya itu gratis.

Aha... malam itu saya menyaksikan langsung atraksi Luluk Purwanto bersama The Helsdingen Trio. Berkat kartu pers, saya bisa berdiri paling depan, di bawah panggung. Bisa motret, bisa lihat ekspresi pemusik. [Konser Luluk ini tidak pakai kursi. Semua berdiri dan menikmati musik jazz secara bebas.]

Dari belasan nomor instrumental, terus terang, waktu itu kuping saya masih asing. Saya yakin ratusan teman-teman mahasiswa Petra pun kurang familier dengan komposisi jazz standar. Toh, semua senang, enjoy banget. Kenapa?

Luluk Purwanto membuktikan janjinya saat jumpa wartawan. Mereka ingin buktikan bahwa jazz itu atraktif, sangat menghibur. Atraksinya di mana? Penampilan trio itu sangat istimewa. Selain musiknya yang swing, bahasa tubuh mereka pun renyah.

Luluk pakai ikat kepala, mengesek biola [violin] dengan gaya. Matanya merem melek, menikmati betul nada-nada biru [blue note]. Rene yang rapi busananya sekali-sekali bikin gerakan lucu. Belinda [?] yang gemuk pun kerap mendemontrasikan bas betotnya.

Maka, penonton senang. Ngerti tidak komposisi, itu bukan hal pokok. "Sing penting terhibur, Cak," kata orang Surabaya. Tepuk tangan panjang selalu terdengar setiap akhir lagu.

Menjelang akhir konser, Luluk Purwanto memainkan nomor pop yang tak asing lagi: Layu Sebelum Berkembang. "Hatiku hancur mengenang dikau..." Tepuk tangan panjang. Luluk Purwanto bernyanyi sambil main biola diiringi bas dan piano. Lagu pop biasa itu di-jazz-kan tanpa kehilangan aslinya.

Belum cukup, Luluk dan kawan-kawan membawakan nomor pamungkas, instrumental. 'Selayang Pandang', lagu melayu yang melodinya manis dan khas. "Layang-layang selayang pandang, hati di dalam rasa begoncang...."

Belum pernah saya menyaksikan gelar jazz di Surabaya semeriah konser Luluk Purwanto. Nomor 'Selayang Pandang' saya ingat terus, dan saya tirukan sampai sekarang.

13 Desember 2003.

Luluk Purwanto bersama suami dan pemusik lain kembali tampil di Surabaya. Kali ini di halaman kampus Universitas Airlangga. Pakai mobil terbuka macam di UK Petra dulu.

Bedanya, Luluk Purwanto memadukan jazz dengan wayang kulit. Eksperimentasi ini unik, tak lazim. Lagi-lagi saya berada di tengah ratusan penonton, tapi tidak sempat wawancara langsung dengan Luluk. Sebab, kini saya bukan peliput musik dan budaya.

Penonton senang, tapi menurut saya tidak semenarik waktu di halaman UK Petra dulu. Kolaborasi jazz-wayang kulit ala Luluk Purwanto ini mengajak penonton ke suasana reflektif. Suasana kurang cair. Tapi koran-koran di Surabaya menilai konser di Unair ini sukses.

Saat konser baru separo perjalanan, saya dapat pesan pendek [SMS] dari teman-teman aktivis gereja. "Mgr. Hadiwikarta [Uskup Surabaya] meninggal dunia. RIP. Harap segera ke RKZ untuk membuat reportase khusus di koran anda."

Apa boleh buat. Saya pun pulang untuk menulis laporan tentang wafatnya Mgr. Johanes Hadiwikarta. Karena itu, saya tidak bisa menilai konser Luluk Purwanto di kampus Unair secara utuh dan tuntas. Namun, saya berterima kasih kepada Luluk Purwanto, suaminya, dan seniman pendukung yang telah memperkaya apresiasi musik jazz di Kota Surabaya.

Saya selalu ingat kata-kata Luluk Purwanto:

"Untuk jazz, saya tidak pernah persoalkan honor. Jazz bukan tempat untuk mencari uang. Jazz tempat untuk menyalurkan kemampuan bermusik."

Santoso Bikin Patung Cak Durasim


Santoso, perupa yang tinggal di kawasan Gedangan, Sidoarjo, saat ini lagi sibuk bikin patung Cak Durasim. Ia kerja sendirian di bagian belakang Taman Budaya Jawa Timur.

'Boleh dikata, saya ini single fighter. Dari dulu, ya, begitu. Tapi saya semangat karena tokoh yang saya patungkan ini bukan orang sembarangan,' kata Cak San, sapaan akrab Santoso, kepada saya.

Cak Durasim itu seniman tradisional asal Surabaya yang tewas disiksa penjajah Jepang pada 7 Agustus 1944. Nippon marah gara-gara sindirannya yang sangat tajam melalui parikan, pantun khas Jawa Timur:

Bekupon omahe doro
Melu Nippon tambah soro
.

Parikan ini telah menjadi klasik di Jawa Timur. Siapa yang tak kenal Cak Durasim? Kini, ada festival seni Cak Durasim. Penghargaan seni Cak Durasim untuk seniman tradisi. Tapi patungnya belum ada.

'Lha, sekarang aku kebagian tugas untuk bikin patung almarhum Cak Durasim. Sebuah kehormatan untuk saya,' papar Cak San, lahir di Jogja 12 Oktober 1950. Yang 'menugasi' Cak San tak lain Pribadi Agus Santoso, kepala Taman Budaya, yang juga sahabat Cak San semasa kuliah di Akademi Seni Rupa Indonesia, Jogja.

Lalu, dari mana Cak San menemukan gambar Cak Durasim?

'Ada gambarnya di buku lama, tapi kurang jelas. Saya perkuat gambaran itu melalui olah spiritual. Dari situ saya semakin yakin bahwa begini inilah wajah Cak Durasim, seniman sejati yang menjadi ikon kita di Jawa Timur,' terang Cak San.

Namanya juga orang Jawa, Cak San juga melakukan serangkaian ritual adat sebelum bikin patung ini. Bersama Cak Kartolo, seniman kidungan, Cak San nyekar ke makam Cak Durasim di kawasan Tembok, Surabaya. Kulo nuwun sek, Cak! Soale, ini bukan patung orang sembarangan!

Menurut Cak San, patung Cak Durasim yang akan ditempatkan di Taman Budaya ini dibuat lebih muda daripada aslinya. Cak Durasim digambarkan sebagai tokoh yang tegar hingga akhir hayatnya di tangan penjajah Jepang. Cak San berharap semangat pantang menyerah Cak Durasim ini menginspirasi warga Surabaya, Jawa Timur umumnya, untuk berkarya di bidang apa saja.

'Ojo lali, kita ini punya Cak Durasim yang luar biasa. Beliau sudah kasih contoh bagaimana berkarya secara konsisten di bidang kesenian. Beliau melakukan hal sederhana, bikin parikan, yang punya nilai perjuangan. Ini yang penting. Silakan cari uang melalui kesenian, hiburan, tapi jangan lupa bahwa seniman pun punya misi untuk bangsanya,' kata Cak San yang kerap mengelola pameran seni rupa di Surabaya, Sidoarjo, dan beberapa daerah lain di Jatim itu.

Nah, bahan untuk patung Cak Durasim ini sederhana saja. Semen. Tinggi 100 cm, vestek [penyangga] 160 cm. Juga ada tulisan di marmer seluas 30 x 50 cm : 'bekupon omahe doro, melu nippon tambah soro'.

'Kalau nanti ada rezeki, entah dari mana, saya mau bikin patung Cak Durasim lebih besar pakai perunggu. Ini tahap awal dulu lah,' tegas Cak San.

Menurut rencana, patung Cak Durasim karya Cak San ini diresmikan pada Oktober 2007. Momennya sengaja disesuaikan dengan festival seni [pertunjukan] Cak Durasim yang lazim diselenggarakan pada bulan itu. Patung akan ditempatkan di depan Gedung Cak Durasim, kompleks Taman Budaya Jawa Timur.

'Alhamdulillah, saya diberi kepercayaan untuk terlibat dalam pembuatan patung ini. Saya harapkan karya saya ini menjadi semacam tetenger bagi masyarakat Jawa Timur,' kata Cak San.

Ke depan, Cak San berencana membuat patung almarhum Gombloh, seniman rakyat yang terkenal dengan 'Kebyar-Kebyar', lagu patriotik. Ia menginginkan patung Gombloh itu dibuat sebesar mungkin dan ditempatkan di kawasan strategis Kota Surabaya.

'Saya sih inginnya di depan Balai Pemuda. Entah bagaimana caranya, yang jelas, Gombloh harus punya patung yang representif. Kita di Surabaya harus bangga punya Cak Durasim dan Gombloh. Keduanya seniman paling fenomenal pada zamannya," tegas Cak San.

Pameran Zsolt Jozsef Simon


Zsolt Jozsef Simon [biasa disapa Simon] seniman asal Hungaria yang rendah hati. Ia lagi studi banding di Universitas Airlangga Surabaya sebagai mahasiswa tamu.

Tinggalnya di kawasan Lidah Kulon, dekat kampus Universitas Negeri Surabaya, sehingga ia harus bersepeda sekitar 30 menit ke kampusnya tiap hari. Belum lama ini Simon bikin pameran tunggal di Taman Budaya Jawa Timur.

Saya ke sana... sendiri. Hampir satu jam saya nikmati karya-karya Simon. Sederhana, pakai bahan-bahan di sekitar kita [kayu, kertas, bolpoin, tikar pandan, perabotan bekas...]. Yang menonjol karya dari bahan gips.

Gips dibentuk macam batang pohon tua yang telah dimakan rayap. Urat-urat 'pohon' sangat kentara. Yah... Simon bikin karya seni rupa sedemikian rupa agar penikmat punya ruang tafsir. Tidak ada karya realis macam gambar pemandangan, sawah, laut, tambak, burung.... atau nona manis. Kita dibiarkan menjelajah sendiri.

'Saya pun tidak mau kasih mssage. Saya hanya memberikan example melalui karya-karya saya,' ujar pria kelahiran Celldomolk, Hungaria, 22 November 1973 ini. Simon ramah, selalu tersenyum, saat bicara dengan siapa saja. Ini membuat pengunjung pamerannya betah meski kurang paham apa makna di balik karya-karyanya.

Di riwayat hidupnya, Simon mengaku mulai memamerkan karyanya pada 1996 di Budapest. Kemudian hampir tiap tahun ia pameran di beberapa negara, termasuk ikut pameran keramik tingkat dunia di Korea Selatan. Pada 2006 Simon ke Indonesia, ya, tambah ilmu di Unair.

'Yah, semua karya yang dipamerkan sekarang saya buat di Surabaya. Semuanya karya baru,' ujar Simon dalam bahasa Indonesia yang belum fasih.

Dia bilang kesenian tidak bisa dipisahkan dari hidupnya. Sambil belajar [tugas pokoknya di Surabaya], Simon bikin karya seni rupa. Banyak hal yang bisa ia sampaikan melalui seni rupa. 'Saya terima kasih karena anda mau datang ke sini, lihat pameran saya,' papar Simon.

Saya juga melontarkan pertanyaan klise. 'Karya-karya macam ini kan sulit dijual. Lantas, apakah anda bisa hidup dari kesenian? Apakah di Hungaria seniman bisa hidup layak dari karyanya?'

Simon tertawa kecil. Yah, pertanyaan saya memang konyol dan klise. Acap kali ditanyakan kepada seniman serius.

'Sama saja. Kondisi seniman di Hungaria ya sama saja dengan di sini. Sulit kalau hanya mengandalkan seni untuk hidup. Tapi saya masih punya penghasilan dari bidang lain sehingga saya tetap bisa membuat karya-karya.'

Yang membedakan, barangkali, masyarakat Hungaria sangat menhargai seniman berikut karya-karyanya. Seniman, meski miskin harta, penampilan seadanya, dianggap sebagai aset budaya bangsanya. Maka, pemerintah menyediakan anggaran untuk mereka.

Di akhir obrolan, Simon memberikan catatan selembar tentang visinya sebagai seniman. Pakai tulisan tangan dalam bahasa Indonesia khas orang kampus [agak ruwet hehehe..]. Demikian petikannya:

Kehidupan saya adalah sebuah pergerakan. Jika seseorang melihat saya menciptakan patung, dia berkata bahwa hal tersebut terlihat seperti melakukan pijatan atau berdansa dengan tanah liat.

Ketika saya mengajarkan pergerakan, saya melakukan pergerakan. Saya merasa seperti menciptakan patung dengan ruang yang mengitari saya. Untuk menekan, melepas, dan membentuk.

Lukisan-lukisan, gambar-gambar, dan patung-patung saya di sini adalah pembelajaran pergerakan tanpa bentuk yang nyata. Saya tidak berkeinginan untuk mendapatkan bentuk, tetapi proses dari pembentukan bukan buah atau pun bunga yang selalu berbuah dan berkembang. Perkembangan dan perubahan itu sendiri yang akan membentuk bahan-bahan.

13 July 2007

Silitonga Pembina Narapidana Kristiani


Jauh-jauh dari Tanah Batak, Sumatera Utara, Erfan Silitonga diberi tugas mendampingi para narapidana kristiani di Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Surabaya di Porong. Tugas berat, tapi mulia.

Karena selalu mendampingi narapidana untuk 'pembinaan mental', Erfan Silitonga sering dikira pendeta, evangelis, atau semacam tokoh umat. Padahal, ia mengaku hanyalah petugas penjara biasa. Sama dengan sipir-sipir lain.

Di penjara, ia pun tetap memperhatikan narapidana lain, apa pun latar belakang agama, suku, etnis, politik, dan seterusnya. Hanya saja, "Sejak empat tahun terakhir saya dipercaya menangani napi-napi yang beragama Kristen. Di sini kita tidak membedakan gereja, karena sifatnya oikumene," ujar sipir yang sudah 14 tahun berkarier di penjara itu kepada saya, pekan lalu.

Data terakhir yang dipegang Silitonga, napi kristiani di LP Porong sekitar 25 orang. (Total napi sekitar 450-500 orang.) Mereka berasal dari latar belakang yang berbeda, mulai pendidikan, taraf ekonomi, wawasan, hingga kadar keimanan. Namanya juga pelaku
tindak pidana, banyak napi (agama apa saja) yang jarang menekuni ritual keagamaan. Ikut kebaktian, baca kitab suci, doa pribadi, banyak yang alpa.

Nah, orang-orang semacam ini harus 'dibina' secara intensif agar 'kembali ke jalan yang benar' alias bertobat. Menurut Silitonga, tugasnya adalah mengikatkan saudara-saudara yang 'alpa' untuk merenungkan perbuatan-perbuatan di masa lalu, mempersiapkan diri, untuk kembali ke masyarakat.

Di penjara, kata Silitonga, pembinaan rohani (semua agama dapat tempat) merupakan salah satu model pemasyarakatan bagi para napi di Indonesia. Selama bertugas di LP Porong, Silitonga menemukan banyak perubahan yang dialami para napi. Mereka
menekuni kegiatan-kegiatan rohani dengan serius, rajin, jauh lebih rajin ketimbang masyarakat biasa di luar penjara.

Maklum, kegiatan di dalam penjara sangat terbatas, sehingga tak sedikit napi yang memfokuskan diri ke aktivitas rohani. Mereka yang dulu jarang ke gereja, tak pernah baca kitab suci, tiba-tiba menjadi orang-orang 'saleh'.

Setiap kebaktian di gereja (LP Porong punya gereja cukup besar di dalam kompleks penjara), napi sangat antusias. Mereka juga berlatih paduan suara, vocal group, main musik, untuk memuji kemuliaan Tuhan.

Atraksi mereka bisa dinikmati jemaat dari luar yang bertandang ke sana secara rutin. Gedeanto, pengacara terkenal di Surabaya, pernah menjadi 'tokoh' gereja LP Porong.

"Kita senang melihat mereka begitu antuasis menjalankan ibadah. Yang Islam juga sangat rajin di masjid, ngaji, dan sebagainya," ujar Silitonga yang murah senyum ini. Begitu khusyuknya para napi beribadah, jemaat yang datang dari luar sering kali
'iri'. "Siapa yang tidak terharu melihat teman-teman di dalam ini bertobat, kembali kepada Tuhan," kata Sisca, aktivis gereja dari Surabaya.

Apakah ada pendeta atau rohaniwan khusus yang berstatus PNS di penjara? Menurut Silitonga, sampai sekarang belum ada. Namun, sejak di Kalisosok (LP
Porong merupakan hasil relokasi LP Kalisosok, Surabaya), yang namanya pengelola penjara selalu membuka diri pada gereja-gereja atau persekutuan-persekutuan kristiani untuk melakukan 'pelayanan' di penjara.

"Kami bekerja sama dengan gereja-gereja di Surabaya, Sidoarjo, maupun Pasuruan, yang kebetulan dekat dengan LP Porong. Mereka punya jadwal rutin ke sini," kata ayah tiga anak itu.

Sedikitnya ada 10 gereja yang punya jadwal rutin, di samping kunjungan sporadis dari gereja, yayasan, atau organisasi lain.

Sebagai pembina mental, harapan Silitonga sederhana saja. Mudah-mudahan setelah keluar dari LP, para 'anak buahnya' bisa kembali ke masyarakat, menjadi orang yang benar, tidak neko-neko.

Silitonga merasa begitu prihatin manakala ada mantan napi yang harus 'masuk' lagi gara-gara melakukan tindak pidana baru.

Bimbo, Legenda dari Bandung

Oleh FRANS SARTONO

Tahun 2007 ini Bimbo genap 40 tahun bernyanyi. Lagu-lagu seniman bersaudara asal Bandung ini menemani berlapis generasi di Tanah Air. Lagu Bimbo tumbuh seiring perjalanan hidup personelnya: Samsudin (65), Acil Darmawan (64), Jaka Purnama (60), dan Iin Parlina (52).

Mereka bersenandung tentang cinta. Bercanda dalam lagu, mulai soal kumis, tangan, mata, sampai calon mertua atau membuat satire sosial. Tetapi, Bimbo juga bicara tentang Tuhan lewat lagu Tuhan.


Dalam perjalanan kreatif, Bimbo didukung sejumlah seniman, seperti Iwan Abdulrachman yang banyak menulis lagu, seperti Melati dari Jayagiri sampai Flamboyan. Juga penyair Taufiq Ismail yang puisinya dilagukan Bimbo, seperti Dengan Puisi, Rindu Rasul, sampai Sajadah Panjang. Mereka memberi warna tersendiri pada khazanah musik pop negeri ini lewat lagu berlirik puitis, bernuansa religius.

Bimbo tengah menyiapkan konser 40 tahun, yang kalau tidak ada aral melintang direncanakan berlangsung di Jakarta, 22 Agustus 2007. Mereka juga akan merilis album pop serta menerbitkan buku 40 tahun Bimbo. Saya menemui Sam, juga menghubungi Acil,
Jaka, dan Iin secara terpisah.

Apa arti Bimbo dalam hidup Anda?

Bimbo itu hanya setetes air. Bukan sesuatu yang luar biasa, tetapi hanya setetes. Tetapi, semoga orang mendengar bahwa kita memang bukan apa-apa di bawah Tuhan. Meski hanya setetes, mudah-mudahan Bimbo bisa mencerahkan. Kami ingin memberi warna.

Misalnya?

Lagu Tuhan atau Rindu Rasul itu lagu yang membuka persahabatan, persaudaraan. Bahwa kita hidup tidak tersekat-sekat. Kami berharap Bimbo terus menetes dan menghilangkan sekat-sekat itu.

Bagaimana Anda menggambarkan perjalanan 40 tahun Bimbo?

Kami seperti air yang mengalir. Di depan ada batu, kami belok ke kiri atau kanan. Kami tidak pernah punya cita-cita yang menggelegar ingin jadi ini itu. Kami tak merasa sebagai apa-apa. Tetapi, kami percaya ada yang mendorong: Gusti Allah.

Konkretnya?

Misalnya, waktu kami ketemu Bang Taufiq (Ismail) itu mengalir begitu saja. Dia itu the right man at the right position. Kami diperkenalkan oleh Pak Ramadhan
(KH). Begitu ketemu, langsung kami minta. Dia tanya buat kapan. Kami bilang buat besok. Dia kaget, tapi dibikinkan dan bagus.

(Bimbo saat itu sedang menyiapkan album Qasidah tahun 1975 yang antara lain memuat lagu Rindu Rasul)

Masih membuat lagu?

Lima tahun terakhir ini kami terus kumpulin lagu. Semua lagu Bimbo kami rekam ulang. Saya tak mau kasus Remaco terulang lagi. Dulu, barang (lagu) milik kami, tapi hak edar milik mereka. Sekarang dengan merekam sendiri, barang dan hak edar jadi milik kami.

Berapa terekam?

Baru 120 lagu, tapi duit sudah habis he-he.... Iin sampai protes. ’Rekaman terus, rekaman terus, kapan jadinya’. Tapi kami harus merekam karena yang mahal itu voice, suara. Ini yang bikin Allah. Kalau kami sudah dikubur, kami tak bisa nyanyi lagi. Dengan rekaman ini, kami walau sudah dikubur, nanti suatu saat bisa nyanyi dengan anak cucu. Seperti Natalie Cole nyanyi bersama ayahnya Nat "King" Cole.

Bagaimana awal dari perjalanan Bimbo?

Ada fakta yang sifatnya tak sengaja. Saya yang kebetulan anak sulung suka menyanyi dan adik-adik saya ikut nyanyi. Saya dan Acil dulu (pertengahan 1950-an) adalah pengagum Sam Saimun. Menjelang akhir 1950-an Elvis masuk. Kami masih remaja dan terkontaminasi. Jadi dari gaya seriosa kayak Pavarotti itu kami kena rock kayak Elvis.

Aneka Nada ke Bimbo

Pada akhir 1950-an, ketika masih SMA, Sam membentuk band The Alulas. Band ini berubah nama menjadi Aneka Nada di mana Sam dan Acil menjadi vokalis. Sam juga mengasuh Aneka Nada Yunior yang antara lain didukung Jaka dan Iwan Abdulrachman, teman sebangku Jaka di SMP.

Tahun 1962 Guntur Soekarnoputra bergabung. Mereka kebetulan sama-sama kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB). Tahun 1965 Aneka Nada bubar. Sam melatih adik-adiknya, yaitu Yani, Tina dan Iin, untuk bernyanyi dalam trio Yanti Bersaudara. Trio ini populer pada paruh kedua era 1960-an dengan lagu seperti Abunawas.

Ketika Yanti Bersaudara berjaya, Aneka Nada bubar. Sam dan Acil vakum. Iin, Yani, dan Tina menggagas untuk memberi hadiah gitar kepada ketiga kakaknya. Mereka memesan tiga gitar pada pembuat gitar terkenal di Bandung, yaitu Oen Peng Hok, di bilangan Jalan Kopo.

"Kami menyisihkan honor untuk beli tiga gitar. Itu pun dengan cara nyicil karena untuk ukuran saat itu termasuk mahal. Kami memberikan gitar itu dengan perasaan terharu," kenang Iin Parlina.

Jaka Purnama yang saat itu berumur 20 tahun mengenang gitar Peng Hok itu sebagai pemacu semangat. Sejak itu tiga bersaudara anak-anak pasangan Dajat Hardjakusumah
dan Oeken Kenran itu berlatih.

"Gitar itu sangat berharga karena kami dulu cuma pinjem-pinjem saja. Gitar itu menjadi penyemangat. Kami mulai berlatih mainin lagu-lagu Latin," kenang Jaka.

Mengapa lagu Latin?

"Lagu-lagu Latin itu dekat-dekat dengan tembang Sunda. Lagu Latin banyak pakai perkusi. Tembang Sunda kebetulan pakai gendang. Kedekatannya juga pada nada minor yang dominan. (Jaka lalu melantunkan lirik lagu Historia de un Amor: ’Ya no estás más a mi lado, corazón.). Nah, lagu itu dan Besame Mucho kan mirip Bubuy Bulan ha-ha...."

Itu cikal bakal Bimbo. Pada Maret 1967 tiga bersaudara itu tampil di TVRI. Mereka belum punya nama. Saat itulah lahir nama Trio Los Bimbos yang kemudian berubah menjadi Trio Bimbo.

Melati dari Singapura

Trio Bimbo pernah dikontrak selama tiga bulan untuk bernyanyi di Ming Court Hotel di bilangan Orchard, Singapura. Sebelum pulang ke Indonesia, Bimbo merekam album di perusahaan rekaman Polydor, Singapura, 1970.

Rekaman di Kinetex Studio itu melibatkan seniman jazz Maryono pada flute dan saksofon, serta Mulyono pada piano. Kebetulan keduanya juga dikontrak main di Singapura. Album memuat 12 lagu antara lain Melati dari Jayagiri, Flamboyan gubahan Iwan Abdulrachman.

"Bimbo waktu itu sebenarnya mau bubar. Acil dan Jaka harus pulang menyelesaikan kuliah. Saya sendiri sudah lulus (Jurusan Seni Rupa ITB). Terus kami bikin album
buat kenang-kenangan. Eh, gak tahunya meledak," tutur Sam.

"Waktu mulai take vocal (perekaman suara), operator kaget karena kami bernyanyi sangat keras. Kami sampai harus berdiri satu meter dari mikrofon. Itu karena kami terbiasa bernyanyi di hotel tanpa mikrofon," kenang Jaka.

Itu merupakan album pertama Trio Bimbo. Piringan hitam hanya dicetak terbatas. Itu merupakan pintu masuk Trio Bimbo ke belantika musik Indonesia.

"Batu zamrud berlian dan kerikil
Emas hingga besi beton bisnisnya
Cukong-cukong dan tauke
Direktur dan makelar
Tekuk lutut karena Tante Sun"


Lagu-lagu Bimbo kadang lahir karena terpepet waktu, misalnya Kumis dan Tante Sun tahun 1977.

"Dari Bandung kami kadang cuma bawa lima lagu. Yang lain, enam atau tujuh lagu kami bikin di studio. Kami menyebutnya sebagai lagu penggembira. Itu antara lain lagu Tante Sun."

"Jaka sudah bikin melodi, tetapi belum ada liriknya. Saya tulis di studio. Waktu itu di Jakarta sedang heboh arisan call. Terus saya ingat ibu-ibu pejabat yang berbisnis."

Tante Sun sempat menjadi pembicaraan di masyarakat.

"Tapi lucunya, saya dengar-dengar Pak Domo suka bersiul lagu Tante Sun. Mungkin karena dia suka golf."

Pak Domo yang disebut Sam adalah Laksamana Sudomo yang saat lagu itu populer menjabat sebagai Kas Kopkamtib. Dalam lagu, digambarkan Tante Sun yang "... pergi
bermain golf hingga datangnya siang. T’rus ke salon untuk mandi susu."


Lain lagi dengan proses membuat lagu berlirik religius, termasuk lagu kasidah. "Proses pembuatan lagu normal. Tetapi, lirik tak bisa main-main. Kasidah itu sulit, kalau salah bisa fatal."

***

Acil Menatap Indonesia

"Kutatap wajahmu,
lagu kunyanyikan.
Bagai daun jatuh
bertebaran."


Itu lagu cinta Bimbo Kutatap Wajahmu yang dilantunkan Acil. Kakek dari tiga cucu itu masih nyanyi dengan suara baritonnya yang mantap itu. Ia juga "vokal" menatap Indonesia lewat Bandung Spirit, sebuah lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang kemasyarakatan dan budaya.

Mengapa Bandung Spirit?

Perubahan yang ada di negeri ini membuat saya gelisah. Tahun 2000, kami berdialog dengan 60 akademisi di Bandung. Kami membicarakan Indonesia ke depan nanti akan seperti apa. Kami melihat potensi konflik. Apakah persoalan-persoalan itu bisa dijawab. Kesimpulannya, kami lalu membikin lembaga swadaya masyarakat. Kami menggunakan koridor independen, bukan lembaga cari duit.

Apa yang membuat gelisah?

Makin ke sini, kami melihat reformasi itu bukannya kebablasan, tapi dibablaskan. Saya tidak melihat pemimpin bangsa ini yang melihat bahwa bangsa ini sedang dalam krisis. Kita kehilangan kejujuran. Bangsa ini tak lagi punya daya lawan. Kami ingin rakyat mendapatkan kembali daya lawan terhadap masalah-masalah besar itu.

Separah apa?

Bangsa ini seperti telah kehilangan kecerdasan. Maksudnya kita kehilangan intelektualitas, rasionalitas, moral, spiritual, nasionalisme. Segalanya.

Nasionalisme?

Ya. Kami suka bercanda, Bung Karno dan Bung Hatta dulu berjuang pakai proposal nggak? Perangai dan budi pekerti kita telah berubah. Kami harus berbuat sesuatu meski itu sangat kecil.

Sumber: Kompas Minggu, 13 Mei 2007