23 June 2007

Wow... Mulan Kwok Minta Dihamili

Jumat, 22 Juni 2009.

Koran-koran di Surabaya memuat berita dan gambar Mulan Kwok. Penyanyi cantik ini mempromosikan film 'Maaf, Saya menghamili Istri Anda'.

Kepala berita di surat kabar sangat menggigit: Mulan Minta Dihamili. Mulan terlihat tertawa saat digandeng Ringgo Agus Rahman.

"Dari awal ceritanya sudah gak masuk akal. Karena itu, jangan diambil hati. Jangan dibuat serius," ujar Ringgo.

"Mulan minta dihamili? Maaf, saya menghamili istri anda?" tanya Pak Sucipto dan beberapa peserta diskusi warung kopi kepada saya, Sabtu dinihari.

"Iki opo maksude, Mas? Kok iso ditulis nang koran kayak ngene. Opo bener iku? Gak kebablasan ta?" protes Pak Amir, tukang becak yang suka beli dan baca koran.

Di pinggiran Kota Surabaya dan Sidoarjo memang ada kebiasaan cangkrukan sambil ngopi, makan pisang goreng, mi... atau pangan kecil lain. Nah, saat cangkrukan ada saja topik yang dibahas. Umumnya diambil dari koran yang harganya saat ini sangat murah, Rp 1.000.

"Iyo Cak, maksudnya Mulan minta dihamili itu apa? Kalo gak salah Mulan itu kan rondo [janda] anak dua. Lha, kalo minta dihamili ya, aku gelem ae," tukas Cak Syamsul disambut tawa peserta cangkrukan ala jawa timuran itu.

"Aku ya gelem rek! Aku paling siap, wong aku kan duda," tambah Cak Wahid. Hehehe...

Semua lelaki kok ingin menghamili Mulan Kwok. Lha, apa bener bisa hamil kalau main rame-rame macam itu?

Setelah bercanda agak lama tentang hamil-menghamili, gara-gara membaca koran pagi, para bapak yang rata-rata sudah punya anak gadis, bahkan cucu, ini bilang mengaku prihatin. Menurut mereka, ungkapan 'Maaf, Saya Menghamili Istri Anda' sebagai kebablasan. Kelewatan. Sudah melanggar tabu serta adat kesopanan di masyarakat kita.

Senakal-nakalnya orang Indonesia, sering melacur di lokalisasi, punya simpanan 'arek nakal'... kata wong jatim, tidak pernah tebersit niat akan menghamili istri orang. Tabu!

Apa pun alasannya, rumah tangga orang lain tak boleh diganggu. Ada nilai-nilai religius, pagar moral... yang masih kita jaga. Belum lagi kalau kita pakai kitab suci sebagai rujukan. Wah, tambah haram lagi!

"Lha, kalau sampai bilang, maaf, saya menghamili istri anda... itu kan sudah ngawur-ngawuran, Cak! Kesannya kok main-main dengan istri orang. Main-main dengan rumah tangga orang. Bagaimana kalo semua orang melakukan 'itu'... lalu bilang maaf, selesai?" ujar Pak Amir yang dikenal sebagai 'kiainya' cangkrukan.

"Di Madura, ya, wis dicarok, Cak. Jangankan menghamili, jalan bareng istri orang, berakrab ria dengan istri orang saja sudah dibunuh," tambah Pak Cipto, bekas TKI di Malaysia.

Angin malam membuat udara di sekitar Bandara Juanda tambah dingin. Tapi percakapan memanas. Guyon hamil-menghamili istri orang stop. Sekarang peserta cangkrukan ini berubah serius. Saya yang menyebarkan koran, sehingga menjadi topik bahasan, pun jadi sasaran kegundahan mereka.

"Bagaimana kok media massa bisa memuat ini? Koran, televisi, film... rame-rame promosikan 'Mulan Minta Dihamili'? Sampeyan-sampeyan di media massa kan punya tanggung jawab. Mau dibawa ke mana adat ketimuran.

"Ingat, Cak, orang Indonesia itu hampir semuanya beragama Islam! Ada nilai-nilai Islam yang harus diperhatikan oleh pembuat film, wartawan, orang televisi, hiburan, artis...," ujar peserta baru, ternyata bekas guru. Dia sangat serius. Sering mengutip Alquran dan Alhadis.

"Mulan Kwok iku kan muslim. Wong di infotemen dia ngajinya wuenaak, Cak!"

"Artis-artisnya, yang bikin film... semua kru ya hampir semua muslim, Cak. Agama apa pun ya menolak pelecehan terhadap istri orang. Mana ada suami yang mau istrinya dihamili. Gila!" komentar seseorang.

Melihat diskusi yang memanas, sudah mengarah ke agama, beberapa peserta mengutip ayat Alquran... saya pun minta diri. Saya kan ikut cangkrukan untuk melepas stres, mencari kesegaran, setelah memelototi berita-berita keras di surat kabar. Lha, kalau diikuti terus diskusinya, iso-iso tambah setres. Hehehe.....

Besoknya, tiba-tiba, beberapa wartawan senior ikut membahas film 'Maaf, Saya Menghamili Istri Anda'. Saya jamin teman-teman wartawan ini belum pernah menyaksikan film itu. Dan mereka bukan tipe penggemar film-film macam begini. Mereka hanya melihat judulnya saja yang provokatif dan ngawur-ngawuran itu.

Saya tidak bisa tidur gara-gara ikut cangkrukan di warung kopi dekat bandara internasional itu. Padahal, biasanya saya bisa tidur di mana saja, kapan saja. Pendapat para abang becak, bekas TKI, bekas guru, buruh pabrik, pegawai kecil... itu membuat otak saya berputar keras.

Saya kemudian membuka buku 'Nonton Film, Nonton Indonesia' karya J.B. Kristanto, Penerbit Kompas, September 2004. Buku ini berisi banyak catatan tentang film Indonesia. Setelah membaca pengantar buku ini, saya akhirnya 'maklum' mengapa film Mulan Kwok yang disutradarai Monty Tiwa itu ngawur dan kebabalasan.

J.B. Kristanto, wartawan senior KOMPAS, menulis di halaman 4 bukunya:

"Kisah film-film Indonesia boleh dikata 95 persen tidak logis, tidak memenuhi hukum sebab-akibat. Hanya mencari efek: efek haru, efek lucu, dan sebagainya. Untuk mencapai efek ini tidak dipedulikan lagi logika."

Ah, film Indonesia....

Sejak dulu kok goblok dan ngawur ya! Padahal, rakyat kecil di kampung-kampung sebetulnya sudah cerdas dan kritis lho!

6 comments:

  1. Perfilman indonesia terutama sinetron memang kebablasan dan cenderung tak bermoral. Kehidupan yang menjadi objek dalam cerita2 tersebut terlalu "Jakarta Sentris" dan sama sekali tidak mempunyai akar budaya. Sineas-sineas muda yang rata-rata lahir dan besar di Jakarta cenderuang sudah didak memiliki lagi ikatan dengan kultur budaya timur ('Indonesia','Jawa' dan suku suku lain'), mereka menelurkan karya-karya yang sesuai dengan kultur Jakarta mereka yang cenderung bebas, tidak bermoral dan bejad. Sebaiknya memang media (cetak dan elektronik) yang bersifat sentral dari jakarta harus ditentang, kita harus hidupkan media lokal yang lebih dekan dengan masayarakatnya. Saya pribadi sebagai orang yang tinggal di pelosok Jawa Tengah sangat muak dengan semua produk budaya Jakarta

    ReplyDelete
  2. iya, mas... terus gimana kalo dah runyam begini? Pelaku industri gimana nih?

    fredy, surabaya

    ReplyDelete
  3. jaman edan mas... maksiat malah dirayakan.

    ReplyDelete
  4. uhm... postingannya tipikal orang indonesia banget ya? selalu membahas masalah tanpa tau solusi...

    ya hak nya orang untuk mempersepsikan sesuatu dari sudut pandangnya sendiri...

    cuma aja, kalo bisa... sedikit komentar banyak action lah...

    jangan cuma mengkambing hitamkan media, jangan koar-koar dunia perfilman indonesia kebablasan.... basi tau...

    more solution please...

    jangan NATO

    ReplyDelete
  5. Ame... matur nuwun. Memang khas orang Indonesia, orang kampung yang sebagian besar tinggal di desa, di pelosok, di tengah-tengah kota besar....

    Obrolan orang kampung memang demikian. Bicara apa adanya dari kesederhanaannya. Saya hanya bisa menangkap apa kata wong-wong bersahaja itu. Perkara itu diterima atau tidak, ya, monggo mawon Cak.

    Apa pun saya menghargai komentar sampeyan. Moga-moga sampeyan kasih solusi lah. Orang kampung kan gak bisa bikin film, sinetron, jadi pemain industri hiburan. Salam.

    ReplyDelete
  6. Tak banyak komentar, saya setuju dengan pemilik blog ini bahwa: film atau sinetron Indonesia sangat buruk, dan menyedihkan. Banyak sineas muda yang belajar dengan biaya sangat mahal di luar negeri, tetapi saat kembali ke Indonesia yang diproduksi justru film-film yang tak berkepradian Indonesia.

    ReplyDelete