12 June 2007

Untung Ada Trie Utami


Saya menikmati suara Trie Utami saat masih kuliah di Jember. Penyanyi ini tampil atraktif bersama Krakatau Band, grup pop-fussion yang sangat terkenal pada 1990-an.

Saya ingat benar 'La Samba Primadona':

... dalam suatu pesta, di malam ceria...

Trie Utami juga menyanyi bagus di lagu 'Keraguan':

... Oh, indahnya suasana,
bila ku tahu siapa namanya,
tertunduk malu, dia tersenyum simpul....


Trie Utami, yang biasa disapa Iie, juga menyanyi solo atau duet bersama penyanyi-penyanyi top era 1990-an macam Utha Likumahuwa, Atiek C.B., Tujuh Bintang. Biasanya, Trie Utami membawakan lagu-lagu ceria, jenaka... berkesan main-main. Tapi adik kandung Purwacaraka, pemusik dan pendiri sekolah musik ini, membawakan dengan pas.

Sejak beberapa tahun terakhir, Trie Utami lebih dikenal masyarakat sebagai juri atawa komentator kontes menyanyi di televisi. Akademi Fantasi Indosiar [AFI] melambungkan nama Trie Utami.
"Trie Utami itu juri yang paling judes. Kata-katanya tajam, bikin kuping panas. Gimana ya, kok rasanya nggak wueenak," keluh sejumlah penggemar kontes nyanyi di TV.

Saya baca beberapa ulasan di media pun banyak yang menyoroti kiprah Trie Utami sebagai juri. Majalah sekaliber TEMPO, koran sekaliber KOMPAS, pun ikut nimbrung. Media berpengaruh ini membahas cara Trie Utami memperlakukan para penyanyi di atas panggung.

Trie Utami pun terpancing dan sempat menyinggung kritikan Salomo Simanungkalit [KOMPAS] saat menjadi komentator AFI. Salomo memang dikenal dengan disiplin musik klasiknya, sementara Trie Utami berdiri di ranah pop. Ada hubungan meski tidak erat.

Hehehe....

Saya ketawa-ketawa saja saat menyaksikan siaran AFI yan saat itu sangat digemari. Artinya, Trie Utami peka kritik. Ia baca kritikan yang masuk dan berusaha mengolah kritik itu sesuai dengan wawasan dan visi musiknya.

Saya, sebagai bekas pengurus dan aktivis paduan suara mahasiswa [PSM, pernah juga jadi panitia lomba menyanyi di Jawa Timur, justru sangat senang dengan kehadiran Trie Utami di kontes nyanyi pakai SMS di televisi. Alhamdulillah, ada Trie Utami!

Jujur saja, keberadaan Trie Utami, apa pun kata orang, telah memberi warna lain di kontes-kontes nyanyi TV. Apa jadinya bila juri [komentator] diisi oleh pelawak comotan yang buta seni suara/musik? Mau omong apa selain memancing tawa orang? Memang, kontes di TV berdasar suara SMS, tapi hakikat kontes sebagai lomba olah vokal jangan sekali-kali digusur.

Saya menilai tak banyak komentator di TV yang paham seni suara macam Trie Utami. Trie bisa menganalisis penampilan penyanyi dengan tuntas. Memang, komentar Trie Utami dengan sendirinya menjadi panjang dan sangat teknis. Tapi itu wajar saja karena saya menilai Trie Utami berusaha menjadi tutor alias pembimbing.

Selama ini perut saya mulas mendengar komentar juri yang tidak berisi.

"Wuiih.. penampilan kamu bagus banget. Keren banget. Cantik banget." Apanya yang bagus? Deskripsinya tidak jelas.

"Suara kamu agak sumbang". Sumbangnya di mana? Kasih tahu dong! Kasih tahu bagaimana cara bernyanyi yang baik dan benar!

"Malam ini aku lihat kamu seperti dewi. Cantik banget". Lha, ini lomba nyanyi apa parade kecantikan? Fashion show?

Nah, saya melihat Trie Utami mau bicara secara deskriptif, berani apa adanya... meskipun risikonya ia dikecam kiri kanan. Dituduh sebagai 'juri jahat' dan sebagainya dan seterusnya.

Berkat Trie Utami, orang Indonesia [penonton televisi] terbiasa dengan istilah pitch control. Di mana-mana orang bercanda dengan frase pitch control. Kayaknya main-main, tapi unsur yang satu ini, pitch control, memang sangat penting dalam menyanyi.

Istilah sederhananya, menyanyilah dengan suara yang stabil dari awal, pertengahan, bridge, hingga coda [akhir]. Kalau suaramu turun naik, meski hanya setengah nada, berarti anda tidak berhasil mengontrol pitch. Kalau nyanyi pakai nada dasar C, ya, pertahankan di C terus. Turun sedikit jadi B, berarti gagal di pitch control.

Lomba menyanyi di mana pun, entah paduan suara, vocal group, kontes pop, AFI, Indonesia Idol, KDI... prinsipnya sama saja. Ada beberapa item yang berlaku secara universal. Saya bagikan sedikit pengalaman sebagai juri lomba menyanyi dan paduan suara kelas kampung.

PERTAMA tentu saja materi suara.

Warna suara [timbre] penyanyi macam apa. Tenor, bariton, bas, sopran, mesosopran, alto. Ambitus atau jangkauan nada seperti apa. Lebarkah, sempitkah? Ini ada kaitan dengan pemilihan lagu.

Jangan coba-coba pakai lagu Whitney Houston karena ambitusnya sangat lebar... kecuali materi suaramu benar-benar menunjang. Materi suara pun berkaitan dengan nada dasar. Terlalu tinggi atau terlalu rendah sama jeleknya. Tidak optimal.

KEDUA intonasi alias ketepatan membidik nada.
Menyanyi dengan intonasi yang meleset sama dengan merusak lagu. Harmonisasi dengan musik pengiring pun jelas terganggu.

KETIGA teknik vokal atau cara memproduksi suara.
Bagian ini kerap dilupakan penyanyi Indonesia. Pernafasan. Frasering. Cara buka mulut. Cara membunyikan nada tinggi. Suara kepala [falsetto]. Suara dada. Suara perut.

Penyelenggara AFI, Indonesian Idol, KDI... lazimnya mengasramakan peserta untuk menggembleng habis-habisan teknik vokal peserta. Guru vokal senior didatangkan. Di Indonesia Idol, Ibu Catherine Leimena bertugas khusus untuk pembinaan teknik vokal para peserta.

KEEMPAT menyangkut ekspresi atau pembawaan lagu.

Bagaimana penyanyi menghayati suasana lagu: jenaka, ceria, sedih, patah hati, putus cinta, ngeledek.... Ini tetap berkait dengan teknik vokal. Ekspresi yang baik keluar dari dalam hati.

Banyak peserta kontes AFI, Indonesia Idol.. gagal di sini karena tidak mood. Juri atau penonton yang peka pasti bisa merasakan mana peserta yang ekspresinya bagus, mana yang nyanyi karena terpaksa... dan sebagainya. Trie Utami sangat peka di sini.

KELIMA soal penampilan di panggung. Penguasaan panggung. Koreografi.

Busana, tata rambut, dan tampilan luar. Dalam lomba-lomba seni suara, urusan penampilan luar bobotnya sedikit. Anehnya, banyak komentator alias juri di TV yang fokus di sini.

Karena kurang paham teknik olah vokal? Entahlah.

Celakanya, pernah ada penyanyi terkenal [ada yang bilang 'diva'] melontarkan komentar yang tidak perlu. "Kamu harus nurunin berat badan lima kilo!" kata si 'diva'.

Alamak! Apa hubungannya, Mbak? Kenapa fisik orang dikomentari? Saya kecewa banget dengan si 'diva' ini. Saya pun kehilangan respek pada si 'diva'.

Belajarlah dari American Idol! La Kisha, Melinda... sebagian besar peserta ternyata gemuk-gemuk. Dan saya tak pernah dengar komentator membahas fisik peserta.

Tiga juri American Idol memang punya kemampuan hebat, jauh di atas rata-rata komentator kita. Cilaka maneh!

KEENAM tentu saja keserasian dengan musik pengiring.

Saya kira, enam poin ini sudah harus dikuasai oleh juri kontes menyanyi atau komentator reality show di TV.

Saya bersyukur, sekali lagi, Trie Utami menguasai semua item ini dengan sangat baik. Bahkan, sebagai entertainer ulung, Mbak Iie punya tambahan wawasan lain sebagai bekal bagi peserta kontes yang ingin serius menekuni industri musik.

Belum lama ini Trie Utami melontarkan komentar yang bikin saya ketawa... karena cocok dengan unek-unek saya. Apa itu?

Secara blak-blakan Trie Utami mengecam cara menyanyi seorang peserta yang ucapan vokal dan konsonannya tidak jelas. Mirip orang bule yang baru belajar bahasa Indonesia.

"Anda ini orang Indonesia atau bule? Coba ucapkan lirik awal lagu Anda...," ujar Trie Utami. Si peserta pun mengucapkan ala orang Indonesia.

"Nah, begitu lho kalau nyanyi. Jangan sok bule ya!" pesan Trie Utami. Saya tertawa lagi.

"Berani benar Trie Utami ini. Banyak penyanyi terkenal kita yang kena lho dengan komentar Trie Utami lho," sela teman saya, Bambang.

Dia lalu menyebut nama-nama beberapa penyanyi kita [bintang top] yang pronunsiasi bahasa Indonesianya sangat buruk. Contohnya: Ariel Peterpan dan Andi /rif.

"Kalau dua orang ini ikut lomba menyanyi dan jurinya Trie Utami, wah, pasti gugur sejak babak awal. Wong cara menyanyinya jelek begitu,' kata si Bambang.

Yah... kalau sudah bicara industri musik, ya, logikanya sudah beda dengan logika guru seni suara. Urusan laku tidaknya kaset/CD toh tergantung pasar. Anda nyanyi secara ngawur, tak pakai pitch control, frasering gak jelas... kacau, kalau pasarnya suka, mau apa?

Itulah yang terjadi di industri musik Indonesia saat ini.

Tapi, bagaimanapun juga, komentator alias juri berwawasan musik tinggi macam Trie Utami tetap kita butuhkan. Paling tidak masyarakat Indonesia mendapat tambahan apresiasi bagaimana menilai penyanyi dan lagunya.

Untung ada Trie Utami!

3 comments:

  1. dapat salam dari PITCH CONTROL..

    ReplyDelete
  2. vocalgroupindomaret.multiply.com2:27 PM, July 23, 2008

    info :
    Ikuti festival vocal group Indomaret 2008, lihat di http://www.vocalgroupindomaret.multiply.com
    kebetulan jurinya juga mbak Trie Utami

    ReplyDelete
  3. emang jarang ada pengamat musik plus penyanyi yg punya wawasan akademis kayak mbak iie. good luck deh.

    ReplyDelete