20 June 2007

Tukul Arwana pun Habis

Selasa 19 Juni 2007 malam.

Saya sengaja menyetel Trans 7. Acara Empat Mata. Ternyata, teman-teman cuek saja. Hanya satu dari sekitar 20 orang yang mau menonton pelawak Tukul Arwana mewawancarai Adi Bing Slamet dan beberapa artis lain.

Tak ada lagi suara ngakak macam beberapa bulan lalu. Sepi. Malah ada beberapa teman yang minta agar channel televisi diubah saja. "Ngapain lihat Tukul? Wong wis gak payu. Cari acara lain yang lebih bagus," komentar seorang teman.

Saya, yang sejak dulu tidak suka Empat Mata, malam itu sengaja berpaku di depan Trans 7. Ingin tahu bagaimana pembawaan Tukul setelah acaranya disebut-sebut sedang di ambang senja. Aha... Tukul memang tak ada apa-apanya lagi. Guyonannya garing. Kering.

Ibarat cucian, kalau diperas terus-menerus, ya, kering airnya. Pengelola Trans 7 pun saya nilai mengeksploitasi habis si Tukul hingga kering air humornya. Saking kuatnya eksploitasi itu, beberapa kali bintang tamunya berulang. Muka-muka lama. Pertanyaan sama. Bintangmu apa? Gaya Tukul ya sama saja.

Penonton masih bisa tertawa, tapi ya itu tadi... tidak 'sebasah' dulu. Saya lihat Pepi, teman si Tukul, sudah berusaha habis-habisan melucu, merusak rambut dan penampilannya. Pelayan cantik di kedai Empat Mata pun sudah berusaha... Tapi habislah sudah.

Pekan lalu, Tukul Arwana ditanggap di sebuah kampus di Surabaya. Beberapa teman yang sempat meliput acara itu bilang bahwa Tukul memang masih bisa melucu, tapi daya kejutnya tak ada lagi. Sebab, hampir semua ilmunya sudah diumbar di televisi.

"Tukul tanya mahasiswa dia cakep apa jelek. Lalu kasih hadiah kepada tiga orang masing-masing Rp 100 ribu. Yah.. gitu-gitu aja," ujar wartawan muda kepada saya.

"Kamu masih bisa menikmati Tukul Arwana?"

"Lumayan lah. Kebetulan aku kan gak pernah lihat Tukul dari dekat. Jadi, bisa usir stres setelah kerja keras. Hehehe...."

Saya terlalu sering bertemu pemain ludruk, ketoprak, atau seniman tradisi di Jawa Timur. Mereka punya prinsip tidak boleh tampil terlalu sering dan terlalu dekat dengan lokasi pertunjukan sebelumnya. Kenapa?

"Supaya penonton tidak bosan. Kalau lawakannya sama, penonton sudah bisa menebak, apalagi sudah tahu sebelumnya, ya, buyar. Lawakan sampeyan gagal membuat orang ketawa. Itu prinsip di grup saya," ujar Marliyah, pemain ludruk Karya Budaya, Mojokerto, kepada saya.

"Lha, kalau Tukul Arwan tampil tiap hari di televisi, dengan gaya yang sama, pola melawak sama, bahasa tubuh pancet, jargonnya sama... pertanyaan sama, kejutannya apa?" kata Freddy, teman saya, mantan aktivis mahasiswa.

Sejak Tukul didemo anak-anak SD Muhammadiyah 4 Pucang, Surabaya, [atas 'petunjuk' guru-gurunya, tentu saja] pada 2 Mei 2007, saya sudah sangat yakin bahwa Empat Mata akan segera tamat. Sebab, selling point Empat Mata justru terletak di 'cipika-cipiki' Tukul terhadap artis-artis cantik.

"Lha, kok wong ndeso iso ambung cah-cah ayu? Kok enak tenan si Tukul?" begitu kira-kira celoteh hampir semua penonton yang mayoritas orang biasa.

Orang biasa atawa orang kampung atawa wong ndeso... jelas hanya bisa bermimpi mencium artis-artis cantik. Nah, si Tukul mampu memenuhi hasrat tersembunyi wong-wong ndeso tenan itu. Lha, kalau acara ambung-ambungan gak ada lagi, terus apa bedanya Empat Mata dengan talk show atau wawancara biasa? Hehehe....

Kasus Tukul Arwana ini mengingatkan saya pada Inul Daratista, pedangdut asal Kejapanan, Pasuruan. Pada 2003-2004 Inul benar-benar bikin heboh di Indonesia. Goyang ngebornya sungguh dahsyat. SCTV bahkan bikin acara khusus, Sang Bintang, untuk mewadahi goyangan Inul Daratista.

Penonton televisi Indonesia mabuk Inul, tergila-gila dengan pola goyang dangdut yang belum ada duanya di tanah air itu. Semua media berlomba-lomba membuat liputan tentang Inul, istri Adam Suseno.

Saya pernah meliput Inul 'Sang Bintang' di parkir timur Gelora Delta Sidoarjo. Ribuan penonton memenuhi areal parkir demi menyaksikan secara langsung aksi Inul Daratista. Waktu itu kami begitu sulit menemui Inul yang bintangnya bersinar terang luar biasa. Ia ibarat bintang yang sulit dijangkau siapa pun, termasuk wartawan. Inul dikawal berlapis-lapis sehingga sulit ditembus.

Siapa pun tahu, bintang Inul akhirnya meredup. Sekarang dia jarang muncul di televisi. "Mblenger, Cak. Orang itu kalau tiap hari dikasih rawon, ya, bosan juga. Makan pecel terus, ya, bosan juga. Manusia itu pasti ada bosannya," kata teman saya, Haryadi.

Apa pun kata orang, Tukul Arwana atau Inul Daratista pernah tercatat dalam sejarah televisi Indonesia sebagai bintang yang sangat berjaya pada masanya. Bintang televisi itu sejatinya sama dengan bintang beneran di jagat raya. Ia mulai terbit, merekah, mencapai klimaks, kemudian pelan tapi pasti akan tenggelam di ufuk langit.

Lalu, terbit lagi bintang baru dengan corak dan warna baru. Begitu seterusnya. Meminjam ungkapan Gesang, dedengkot musik keroncong, dunia itu punya roda yang terus berputar. Kadang di atas, kadang di bawah... semua sudah ada yang atur.

Kembali ke... laptop!!!!

Wong ndeso, wong katro... kristalisasi keringat, Cak!

Puas.... puaaasssss..... puaaasssssssssss!!!!!

26 comments:

  1. hehe.. biasalah, mas. menurut helmy yahya, siklus artis indonesia itu tidak pernah panjang. dua tahun termasuk panjang.

    yg penting, kreatif, kreatif, kreatif.... blog anda cukup informatif. salam

    ReplyDelete
  2. Ini tergantung strategi manajemen nya Mas... (dan juga artis nya)

    Seniman tradisional (di contoh Mas Lambertus) pun melakukan strategi yg baik: "less is more", tapi bila sang pemain mendapat kesempatan seperti Mas Tukul, mungkin dia juga akan 'geber habis' karena exposure dan kesempatannya mungkin tidak akan datang lagi.

    Salam kenal ya...

    ReplyDelete
  3. gak opo2 cak. sing penting kan wis sugih, duite wuakeeeh. puaasssss!!!

    ReplyDelete
  4. Terima kasih atas komentar teman-teman. Khusus untuk Maylaffayz, saya merasa tersanjung dengan kunjungan ada. Sayang, aku belum pernah melihat langsung permainan anda.

    Sukses terus ya!!!

    ReplyDelete
  5. iyalah... saya juga pernah menulis hal ini, namanya juga lifestyle, setiap saat berubah.. apalagi dunia televisi

    ReplyDelete
  6. namanya musim pasti berganti. Toh, demikian tukul pernah mewartakan kepada kita semua, bahwa orang" dari kalangan bawah bisa sukses. walaupun orang sukses selalu dicaci orang karena orang tersebut iri tak pernah sukses.
    tapi yang namanya hidup tak ada yang abadi tho cak?

    ReplyDelete
  7. gak papa, namanya aja hiburan. thanks tukul!

    ReplyDelete
  8. - Sejak semual aku emang udah nyangka bakal terus turun , karena terlalu sering tanpil

    - leluconnya itu2 aja...

    - Cak mau minjem artikelmu buat dipajang di MPku yo? Disana ada majalah sobek punya Tukul. Suwun

    ReplyDelete
  9. Arul, Cak Slamet, dan teman-teman anonim. Terima kasih sudah kasih komentar.

    Khusus Cak Slamet, silakan saja. Aku ikut senang malah. Salam!

    ReplyDelete
  10. hehehe... puas! yg penting cari ide lagi. dunia entertain kan ada siklus. hidup tukul!!!!!

    ReplyDelete
  11. http://babikecap.multiply.com/journal/item/81>>Iku tanggepane konco2 Cak!! Suwun sudah memberikan pencerahan hehehhe

    ReplyDelete
  12. ya matur suwunlah buat Tukul yang dulu sudah membuat orang banyak yng tertawa, walaupun sekarang banyak orang yang sudah garing ma Tukul...

    salam keNal...

    ReplyDelete
  13. suwun utk erza atas komentar sampeyan.

    wah, cak slamet, tanggapane konco2 menarik n inspiratif. gak kira kalo corat-coretanku diwoco lan dibahas rame2 nang jagat maya.

    salam jazz, cak!

    ReplyDelete
  14. wah, mas hurek, gara2 nulis tukul blog sampeyan jadi populer nih. hehehe...

    ReplyDelete
  15. Saya pikir tergantung sudut pandangnya...
    Kalau dibilang habis mungkin belum mengingat slot iklan masih banyak (ini yang utama bagi pengelola alias Team Trans 7) & penontonnya juga masih banyak...

    Soal sudah garing - setuju sekale...

    Sepertinya ini tumbu oleh tutup, team Trans 7 geber abis untuk dapaet iklan & Tukul geber abis untuk nambah pundi-pundi alias dompet :-)

    Dalam dunia manajement - ada istilah "less meaning more" - to not over promises something... lebih kearah tahu kapan harus bercerita apa... sama seperti ungkapan maylaffayza dengan less is more...untuk artis.

    Saya pikir Tukul dkk berpikir untuk "sprint" bukan "marathon" karena mereka mungkin yakin muncul 2x seminggu orang juga akan bosan - kenapa gak sekalian tiap hari aja?

    Salam untuk bro Lambertus...

    ReplyDelete
  16. tukul... tukul... puas puas puas!!!

    ReplyDelete
  17. Memang kalau dipikir tukul sudah tidak selucu dulu alias lucunya sudah berkurang.Tapi seharusnya kita sadar bahwa tukul kapan pun juga harus menjadi icon dan motivasi kita dalam hidup.Dari orang yang tidak punya bahkan pernah hidup sangat susah hingga menjadi orang top indonesia, sebenarnya itulah yang harus kita contoh dari seorang tukul arwana yang sebenarnya yang harus kita nikmati dan kita contoh adalah tekad dan cara berpikirnya yang mau bekerja keras sejingga bisa menjadi sukses.
    Tapi kalau kita melihat dari kelucuannya saja maka kita lama2 akan bosan,cause pada dasarnya manusia mempunyai sifat bosan terhadap sesuatu yang dikonsumsinya terus menerus
    Diatas langit masih ada langit,dalamnya laut masih ada yang lebih dalam lagi ,and selucu-lucunya pelawak masih ada yang lebih lucu lagi

    Itu lah sekian dari saya .Mari kita lihat Mas Tukul dari tekad dan perjuangannya dalam mengarungi hidup sehingga dapat berhasil.Dengan demikina tidak ada kata habis atau pudar dari nya karena ialah merupakan motivasi untuk kita
    -GBU-

    ReplyDelete
  18. hehehe... skrang tukul suka ngulang2 lawakan: dilihat, diraba, diterawang. cari bahan lain lah.

    soni, malang

    ReplyDelete
  19. Alhamdulillah... empat mata akhirnya dibredel. Udah lama banget Tukul cs kebablasan, joke2nya kasar, kampungan. Kok gak dari dulu2 ya? moga2 lawakan di indonesia makin cerdas.

    ReplyDelete
  20. good bye tukul , superhero berkumis jarang... hahahahaaaaaaa...

    ReplyDelete
  21. ya mau abis pun, setidaknya kita udah dihibur oleh bang Tukul yang selalu rendah hati walau ndeso itu :D

    ReplyDelete
  22. di acara tv juga berlaku seleksi alam, kalau ada yang lebih bagus. maka yang lain harap minggir. tapi tukul arwana menurut saya sangat hebat. karena hingga 2014 acaranya masih ada, meskipun saya sendiri ngak terlalu suka nonton.

    ReplyDelete
  23. blog taun 2007 bayangin sekarang udah 2017 tukul masih ada kebayang garing nya kaya apa ,udah muak liatnya apalagi sekarang gabung initalkshow malah bunuh diri ini program initalkshow

    ReplyDelete
    Replies
    1. Luar biasa... Tukul bisa mengawal acara itu begitu lama. Gak terasa sejak bikin tulisan pada 2007 itu saya tidak pernah nonton semua yg berbau Tukul. Mau 10 tahun nih.

      Ini berarti Tukul memang punya jutaan penggemar setia. Kecuali saya.

      Delete