14 June 2006

TKI Dibayar Murah di Malaysia

Tenaga kerja Indonesia di Malaysia sebenarnya dibayar sangat murah dibandingkan pekerja asli Malaysia. Toh, ribuan TKI terus berdatangan ke negara jiran itu.

Untuk ukuran Malaysia, Mohammad Nasruddin bin Ibrahim termasuk keluarga besar. Saat ini rata-rata warga Malaysia hanya punya dua anak.
Nasruddin punya enam anak kandung dan satu anak angkat.

Meski begitu, pria asal Johor ini bahagia karena mampu memenuhi kebutuhan anak istrinya. Selain menjadi pemandu wisata, Encik Nas membuka usaha kelontong kecil-kecilan di dekat rumahnya.

“Lumayan untuk tambah uang saku anak,” katanya kepada saya di Putrajaya, pusat pemerintahan Malaysia, di luar Kuala Lumpur.

Lalu, berapa penghasilan Nas sebulan?

“Yah, sekitar RM 11 ribu [Rp 27,5 juta lebih] per bulan. Tapi, kalau lagi ramai pelancong, bisa kali dua,” beber Nas.

Artinya, take home pay Encik Nas mencapai Rp 55 juta. Luar biasa untuk ukuran kita, tapi biasa-biasa saja untuk Malaysia.

Berapa pula upah buruh rendahan?

Pemerintah Malaysia mematok upah minimal 2.000 ringgit atau sekitar Rp 5 juta per bulan.

“Tapi, jarang sekali pekerja kami berpenghasilan seperti itu. Biasanya jauh lebih tinggi,” ucap Nas yang ramah dan murah senyum itu.

Menurut Encik Nas, perkembangan ekonomi yang sangat pesat membuat lapangan pekerjaaan, khususnya tenaga kasar, terbuka luas di Malaysia. Pekerjaan banyak, khususnya bidang konstruksi.

Orang Malaysia sendiri kurang suka pekerjaaan kasar karena tersedia banyak lowongan di kantor, jasa, atau perniagaan. Penghasilan pun lebih elok lah. Di sinilah TKI datang mengisi lowongan kerja kasar itu.

“Saya rasa, dua juta lebih orang Indonesia bekerja di sini,” tutur Encik Nas.

Saya kemudian betemu dengan Slamet Widodo, pemuda asal Bantul, Jogjakarta. Dia telah tiga tahun bekerja sebagai kuli bangunan di Sepang, tak jauh dari Kuala Lumpur. Tinggal di rumah susun bersama 100-an orang Indonesia [kebetulan semuanya suku Jawa], Slamet dengan tekun mengais ringgit di situ.

“Majikan saya orang China Malaysia,” ujarnya.

Menurut Slamet, sebagian besar TKI bekerja di proyek konstruksi sebagai buruh harian lepas. Mula-mula ia dibayar 28 ringgit per hari atau sekitar Rp 70 ribu. Upah itu harus dipotong untuk perusahaan jasa tenaga kerja (PJTKI), yang sudah berjasa mengirimnya ke Kuala Lumpur.

“Saya bayar 1.470 ringgit kepada PJTKI setiap bulannya. Gaji langsung dipotong selama enam bulan,” papar Slamet Widodo.

Ini berarti PJTKI mengutip uang Rp 22 juta dari seorang TKI macam Slamet Widodo. Belum uang muka Rp 800 ribu yang harus dibayar saat hendak berangkat ke Malaysia. Panen uang inilah yang menggoda begitu banyak orang Indonesia untuk mendirikan PJTKI fiktif.

Slamet sendiri pasrah karena di Jogja ia sulit mendapat pekerjaaan layak. “Mau kerja apa? Ijazah saya hanya SMP,” ujar pria berusia 25 tahun ini.

Nah, setelah kinerjanya dinilai bagus, beberapa bulan kemudian upah Slamet naik menjadi 35 ringgit [sekitar Rp 87.500] per hari. Ditambah uang lembur, bonus, uang kaget, Slamet mengaku bisa mendapatkan uang 500 ringgit [Rp 1,25 juta] per bulan.

“Kalau dibandingkan sama orang Melayu sih jauh banget lah. Mereka kan paling apes 2.000 ringgit.
Tapi jelas lebih baik ketimbang di Indonesia kita nggak punya penghasilan,” ujar Slamet seraya tertawa kecil.

Enaknya, Slamet dan kawan-kawan yang bekerja di Projek Palma Tropika, Sepang, ini mendapat fasilitas flat gratis. Tidak mewah memang, tapi cukup memadai sebagai tempat tinggal para bujangan.

“Kerja di sini kami dilarang bawa istri. Jadi, semua TKI di tempat saya itu bujangan. Kalau saya memang bujang tulen karena belum pernah menikah,” kata pria kelahiran Pajangan, Bantul, Jogjakarta, itu.

Mereka juga mendapat fasilitas kesehatan dari tauke alias majikan. Saat Lebaran maupun Imlek, Slamet dan kawan-kawan mendapat bonus lumayan. Karena itu, selama tiga tahun dia bisa menabung dan mengirim sebagian penghasilannya ke kampung halaman.

“Sekarang saya mau pulang untuk buka usaha di kampung,” ujarnya, bangga.

Begitulah.

Penghasilan warga negara Malaysia dan Slamet Widodo [TKI] sungguh kontras. Encik Nas dalam sebulan bisa mengantungi uang Rp 55 juta, sementara Mas Slamet cukup Rp 1,25 juta.

Toh, mereka sama-sama puas. Namanya juga kerja di negara orang. Bisa kerja saja sudah syukur, Cak!

No comments:

Post a Comment