09 June 2007

Teater Anak Panji Kelana

Pasangan suami-istri Subiyantoro dan Sri Mulyani tak hanya akur di rumah. Pasutri seniman asal Bluru, Sidoarjo, ini membuktikan diri sebagai seniman kreatif. Kini, bersama komunitas Panji Kelana, mereka mendirikan teater anak.

Ki Toro (sapaan akrab Subiyantoro) berproses dengan diam-diam. Setelah bangunan teater anak ini mulai menemukan bentuk, Ki Toro melakukan apa yang disebut dengan 'uji pentas' untuk penonton terbatas. Ini juga dilakukan Ki Toro bersama Grup Panji Kelana sebelum mengunjungi Australia tahun 2004 lalu.

"Sekarang teater anak ini sudah tiga kali uji pentas," cerita Ki Toro kepada saya.

Lokasinya di Sanggar Pecantingan, Dinas Pariwisata, dan sebuah lingkungan perumahan. Uji pentas alias try out sandiwara anak ini dinilai cukup direspons warga Sidoarjo.

Ki Toro seniman serbabisa. Ia bisa menggarap komposisi musik tradisional-kontemporer, menata tari, nembang, hingga menjadi dalang wayang kulit. Sang istri, Sri Mulyani, yang dikenalnya semasa kuliah di sebuah sekolah tinggi kesenian, merupakan penari terkenal di Sidoarjo, bahkan Jawa Timur.

Kolaborasi suami-istri, ditambah komunitas Panji Kelana, inilah yang selalu melahirkan kejutan-kejutan di dunia kesenian Sidoarjo.

Ihwal teater anak, Ki Toro menjelaskan, prosesnya bermula dari keprihatinan ruang ekspresi anak-anak yang makin terbatas di Sidoarjo. Anak-anak sekarang pun jarang dolanan, melakoni seni atau permainan khas anak-anak Jawa, misalnya saat terang bulan (padang mbulan). Anak-anak sekarang justru banyak menghabiskan waktu di depan televisi, play station, warnet, dan sebagainya.

Dari sinilah, Ki Toro dan istri ingin berbuat sesuatu meski kecil. Komunitas Panji Kelana kemudian mengajak anak-anak membuat topeng dari kardus bekas. Kebetulan topeng yang digarap sejak akhir tahun lalu itu didominasi oleh binatang-binatang. Mau diapakan topeng itu? Apa hanya sekadar pajangan di gudang Panji Kelana?

Bagaimana kalau topeng itu 'dihidupkan' oleh anak-anak Bluru dan sekitarnya? Maka, jadilah teater anak-anak yang banyak memanfaatkan topeng-topeng hasil kursus singkat di Bluru. Topeng yang sudah jadi antara lain burung kutilang dan pelatuk. Diharapkan, makin lama jumlah topeng makin banyak, karena lakon dan karakter yang harus dimainkan juga makin banyak.

Ki Toro dan Sri Mulyani bakal berperan sebagai sutradara atau dalang teater anak. Karena itu, penampilan anak-anak Bluru ini dikemas sedemikian rupa agar layak disajikan di berbagai even. Ada gerak tari, tari topeng, musik, hingga lawakan. Semuanya dimainkan oleh anak-anak.

"Kalau saya cukup di Panji Kelana saja," ujar Ki Toro yang pernah 'ngamen keliling' di Prancis, Belanda, dan Australia ini.

Belajar dari pengalaman di luar negeri, Ki Toro menegaskan bahwa kesenian tidak harus dimainkan di sebuah gedung kesenian mewah. Asalkan ada ruang terbuka, para pemain bisa menampilkan sandiwara anak-anak bermutu dan sarat unsur pendidikan. Saat ini Ki Toro tengah membidik rumah-rumah di Sidoarjo, khususnya di berbagai perumahan, sebagai ajang pementasan teater anak.

"Balai rumah saja sudah cukup," ujarnya.

Hanya saja, Ki Toro meminta dukungan dari berbagai elemen masyarakat, khususnya Dinas Pendidikan, Dinas Pariwisata, serta instansi-instansi lain yang relevan. Tanpa itu, ia khawatir teater anak ini tidak bisa berkembang secara optimal.

Sebelum Panji Kelana, sebetulnya pernah ada teater anak di Sanggar Pecantingan yang mengisi Canting Purnama setiap malam bulan purnama. Namun, teater ini tidak berkembang dan tak jelas lagi keberadaannya. Sebab, berbeda dengan teater dewasa, pemain-pemain teater anak (teater pelajar umumnya) datang dan pergi karena harus melanjutkan sekolah.

Akankah teater anak Panji Kelana Sidoarjo bisa bertahan? Kita lihat saja.

No comments:

Post a Comment