28 June 2007

Sisi Lain Mgr. Sutikno


Perjalanan Vincentius Sutikno Wisaksono, arek Surabaya kelahiran Perak Timur, menjadi pastor, kemudian Uskup Surabaya, panjang dan berliku-liku. Dia sempat mengalami kecelakaan dan harus dioperasi. Tapi Tuhan punya rencana lain atas Sutikno.

Pengalaman berwarna dialami Sutikno selama bertugas di Seminari Garum, Blitar, sejak 1 Maret 1984. Di seminari Sutikno menjadi romo pembina sekaligus mengajar bahasa latin, sejarah gereja,dan kitab suci. Kedatangannya disambut gembira para seminaris alias siswa sekolah calon imam milik Keuskupan Surabaya itu.

Pengurus VIVA VOX, majalah seminari, Paulus Suparmono [kini romo] menyambut Sutikno dengan canda. "Selamat datang Romo Sutikno. Su itu artinya baik, tikno berarti ketikkan. Jadi, kita punya tukang ketik untuk VIVA VOX hehehe...." Semua tertawa, termasuk Romo Sutikno.

Selain bertugas di seminari, Romo Sutikno menjadi pastor pembantu di Slorok dan Suwaru Buluroto, stasi [gereja] kecil di pedalaman Blitar. Wilayah sederhana, miskin. Di situ Sutikno bertemu orang-orang desa nan sederhana. Di situlah ia belajar hidup sederhana, pasrah kepada Tuhan, tidak neko-neko.

Hidup di asrama sebagai pembina seminari cukup berkesan. Selalu ada kegiatan-kegiatan yang lucu. Saat itu dia juga membina dua frater: Fr. Senti Fernandez dan Fr. Yosef Eko Budi Susilo. Keduanya calon imam diosesan alias praja saat itu.

[Kedua frater itu kini menjadi Romo Senti dan Romo Eko, dua pastor yang berpengaruh di Keuskupan Surabaya. Romo Eko bahkan menjadi ketua panitia penahbisan Mgr. Sutikno.]

Mereka selalu akrab dalam gaya suroboyoan. Frater Eko, orang Solo, yang terbiasa dengan unggah-ungguh ala wong Solo, diminta bersikap ala arek suroboyo: egaliter, demokratis, terbuka.

Pada 13 Agustus 1986, usai mencukur rambut di Blitar, Romo Sutikno bersama Frater Senti menuju Slorok pakai sepeda motor. Sutikno mengemudikan motor dengan kecepatan tinggi. Di depan ada truk yang sudah memberikan sein belok kiri. Maka, Sutikno tancap gas untuk mendahului.

Masya Allah!

Truk malah belok kanan. Sutikno dan Senti pun jatuh, berdarah-darah. Sutikno koma. Atas bantuan warga, dua korban kecelakaan ini dilarikan ke Rumah Sakit Umum Blitar. Setelah sadar, dilarikan lagi ke RS Budi Rahayu Jalan Ahmad Yani 18 Blitar.

Dokter mendiagnosa: urat saraf di sekitar rahang Sutikno putus. Rahang kanan patah. Di rumah sakit ini Sutikno bertemu Suster Agnes, Ss.P.S., yang kelak menjadi rekan kerja Romo Sutikno di Seminari Tinggi Giovanni XXIII Malang. Selama dirawat, Sutikno ternyata tetap gembira. Tetap bercanda dengan perawat dan para pembesuknya.

Karena harus operasi, Sutikno dirujuk ke RS Vincentius a Paulo [dikenal dengan RKZ = Roomsch Katholieke Ziekenhuis] di Jalan Diponegoro Surabaya. Selama tiga bulan Sutikno harus menjalani rawat intensif di situ.

Suatu ketika, Setio Budiono, teman karib Sutikno, mengunjungi Sutikno di RKZ. Melihat si Boen [sapaan akrab Setio Budiono], Sutikno langsung menyambut dengan suara keras:

"Boen, apa kabar? Kok dari dulu sampai sekarang badanmu tetap kurus. Kamu kalau makan langsung jadi TA.. ya? Hehehehe...."

Suara Sutikno yang keras membuat para tamu dan pasien terkejut. Lalu, tertawa terbahak-bahak. Boen sendiri hanya senyam-senyum karena tahu persis kelakuan sahabat dekatnya sejak anak-anak itu. "Dari dulu Sutikno itu ya gitu. Suka bercanda terus."

Pada 27 Oktober 1986, Romo Adam van Mensvoort, C.M., rektor Seminari Garum, Blitar, hendak membesuk Romo Sutikno di RKZ Surabaya. Apa yang terjadi? Dalam perjalanan, pastor itu mendapat kecelakaan maut di kawasan Wlingi, Blitar. Requescat in pace, Romo Mensvoort meninggal dunia!

Sutikno tentu saja sangat bersedih. Selama ini dia menganggap Romo Mensvoort sebagai ayahnya sendiri. Sutikno sampai kini masih mengenang pastor idolanya itu. Menurut Sutikno, Romo Mensvoort adalah begawan seminari yang sulit dicari gantinya.

"Kebapakan, penetahuan luas, bijaksana, bagus hidup rohaninya, selalu menemukan pelanggaran para seminaris dan segera mengingatkan dengan cara baik-baik," tutur Romo Sutikno tentang mendiang Romo Mensvort.

Hikmahnya: "Jangan mudah kasihan pada diri sendiri!" kata Sutikno, yang sejak 3 April 2007 ditunjuk Paus Benediktus XVI sebagai Uskup Surabaya.

[Misionaris itu lahir di Berkel, Belanda, 6 Januari 1927, wafat di Wlingi 27 Oktober 1986, dimakamkan di Kembang Kuning, Surabaya.]

Menurut Karyadi, penulis buku biografi Mgr. Sutikno, sepulang dari RKZ, setelah dirawat selama satu tahun, Sutikno langsung meminta ibundanya, Mami Mady, di Perak Timur, agar dimasakkan tempe kesukaannya. Rupanya, Sutikno jenuh dengan masakan ala rumah sakit.

Wah, enak tenan!

1 comment:

  1. Memang Romo eh Uskup yang ini baik banget begitu dekat dan begitu akrab di hati umat , kapan bisa bersama CHOICE distrik malang lagi Romo eh Uskup?

    gama

    ReplyDelete