09 June 2007

Simfoni Ringan ala Symphony Production

Sembilan anak muda Surabaya, sebagian masih kuliah, suatu malam menghibur para pengusaha di Hotel Shangri-La Surabaya. Saya ikut menikmati sajian musik yang menarik tersebut.


SYMPHONY PRODUCTION ini merupakan orkes mini yang mengkombinasikan musik klasik, pop, jazz, hingga etnik. Penampilannya lebih santai dibandingkan orkes simfoni semacam Surabaya Symphony Orchestra (SSO).

Namanya memang Symphony Production, tapi secara substansi tak ada kaitan dengan bentuk 'simfoni' dalam disiplin musik klasik.

"Kami memang bekerja sama erat dengan SSO. Bahkan, latihannya juga di SSO Jl Gentengkali. Pemain-pemainnya juga bergabung dengan SSO," ujar Christian Xenophanes, pemimpin Symphony Production, kepada saya.

Selain Christian (cello), Symphony Production didukung oleh Alvin (biolin), Shienny (biolin), Tertis (flute), Samuel (bas akustik), Sarjoko (biola), Daniel (biola), Sonya (vokal), dan Jeanne (piano). Malam itu mereka hanya membawakan satu nomor klasik, karya WA Mozart, yakni Eine Kleine Nachtmusik. Sembari musik mengalun, para hadirin bebas bergerak mengambil makanan, makan-makan, minum kopi, atau bercengkrama di meja masing-masing.

Nuansa ini saja sudah bisa memperlihatkan segmen mana yang dilayani oleh Symphony Production. Berbeda dengan orkes simfoni atau grup musik klasik, yang menuntut konsentrasi penuh, telepon seluler dimatikan, Christian dan kawan-kawan tak banyak menuntut.

"Soalnya, acara-acara yang kami layani berbeda dengan konser SSO," tambah Shienny Kurniawati, yang juga konduktor Remaja SSO, seraya tersenyum.

Jangan heran, malam itu mereka menampilkan lagu-lagu yang sudah tak asing lagi di telinga hadirin. New York-New York, Quizas, Eternal Flame, I Finally Found Someone, The Gift, Copacabana, All I Asked of You, Together Forever, My Way. Pola aransemennya pun tidak ruwet-ruwet, mirip big band yang kerap mengiringi penyanyi lawas macam Frank Sinatra atau Nat King Cole.

"Yang penting, penonton bisa terhibur," ucap Shienny, mahasiswi desain komunikasi visual Universitas Kristen Petra Surabaya.

Bermain di orkes pop ala Symphony Production, bagi Shienny dan kawan-kawan, sama seriusnya dengan bermain dalam konser resmi SSO (pimpinan Solomon Tong) yang selalu digelar di Hotel JW Marriott Surabaya. Repertoar pop, meski tidak serumit klasik, tetap menuntut perhatian ekstra dari para pemain. Karena itu, setiap kali hendak manggung di sebuah acara mereka perlu berlatih serius di markas SSO minimal satu hari penuh.

"Kita tidak ingin kedodoran di acara wedding, birthday, atau launching. Tiga acara itu yang selalu kami isi dalam dua tahun terakhir," ujar Christian.

Sejak awal Symphony Production ini dirancang untuk menjadi jembatan antara penggemar musik klasik, khususnya orkes simfoni, dengan orkestra pop. Itu sebabnya, Shienny menambahkan, mereka senantiasi menyisipkan beberapa nomor klasik saat ditanggap di acara apa pun.

Nomor klasik pun sengaja dipilih yang sudah akrab di telinga masyarakat umum. Karya-karya Mozart, yang banyak dipakai untuk ring tone ponsel, seperti Simfoni 40 atau Eine Kleine Nachtmnusik kerap disajikan Symphony Production. Mereka berharap, perlahan-lahan audiens yang asing dengan musik klasik akhirnya tertarik pada orkes simfoni.

Syukur-syukur, mau menyaksikan pergelaran SSO yang digelar tiga kali dalam setahun.

"Syukurlah, respons penonton setiap kali kami tampil sangat bagus," ujar Christian Xenophanes.

Indikatornya sederhana saja. Kalau di awal berdirinya, Symphony Production hanya dapat 'tanggapan' satu atau dua kali sebulan, kini hampir setiap minggu ada job. "Bahkan, untuk minggu ini saja kita main tiga kali. Capek, tapi asyik," ujar Christian.

1 comment:

  1. Wow! Shienny is a star! I was jealous at you in junior high school but we were friends. You were very friendly. Thanks ya ngajak aku ke dunia selebriti-mu. Semoga sukses di dunia biola-mu. I love you! :)

    ReplyDelete