19 June 2007

Selamat Jalan Ustaz Abdurrahim Noor


Lokasi pengajian Fajar Shodiq di Porong yang terimbas lumpur lapindo.


Tadi saya 'melancong' ke Porong, lokasi semburan lumpur lapindo. Di Jatirejo, dekat pom bensin, banyak warga yang mampir untuk melihat-lihat lumpur. Rupanya, mereka turis lokal yang belum sempat menikmati dahsyatnya lumpur di Porong.

Saya sudah bosan dengan lumpur. Bahkan, saya sudah tak punya kata-kata lagi untuk mengungkapkan kekesalan atas musibah lumpur. Jalan raya di Porong macet bukan main, panas, bau lumpur... Ribuan orang sengsara gara-gara lumpur.

Saya berpaling ke rumah tua di dekat pom bensin. Di dekat masjid itu kompleks rumah keluarga Ustaz Abdurrahim Noor. Beliau baru saja meninggal dunia tiga pekan lalu.

''Waduh, Mas, kami di sini deg-degan terus. Wong rumah kami dekat lumpur, setiap saat terancam. Susah,'' ujar seorang perempuan setengah baya kepada saya.

Saya cukup mengenal Pak Abdurrahim Noor. Beberapa kali saya datang ke pangajiannya untuk meliput. Saat Lebaran saya pun beberapa kali ikut mendampingi beberapa pemuka agama yang silaturahim Lebaran.

Sebagai informasi, sejak dulu Pak Abdurrahim mengadakan pengajian rutin setiap awal bulan, Ahad pertama, di halaman rumahnya. Ramai sekali! Almarhum senantiasa mendatangkan pembicara-pembicara terkenal dari luar kota, entah itu tokoh nasional, regional, atau tingkat kabupaten.

Pak Din Syamsuddin, ketua umum pengurus pusat Muhammadiyah, berkali-kali ditanggap ke Pengajian Fajar Shodiq, Desa Jatirejo, Kecamatan Porong, Sidoarjo. Pak Amien Rais pun pernah. Begitu juga tokoh-tokoh Muhammadiyah lainnya.

Abdurrahim Noor merupakan sesepuh Muhammadiyah di Jawa Timur. Dia juga bekas ketua DPW Partai Amanat Nasional [PAN] Jawa Timur, partai yang didirikan politisi Muhammadiyah. Karena itu, pengaruh Abdurrahim Noor dalam dunia agama, politik, dan sosial-budaya di Jawa Timur sangat tinggi.

Saya mengenang wajah Pak Abdurrahim yang hangat, ramah, sopan, tenang. Kalimat-kalimat almarhum Abdurrahim Noor senantiasa menyejukkan. Ketika diserang lawan-lawan politiknya di media massa, Pak Ustaz tetap tenang. Di awal reformasi, Abdurrahim Noor memang dikritik habis gara-gara menjadi ketua PAN Jatim.

Posisi ini diangap tidak pas mengingat warga PAN itu tersebar di banyak partai politik. ''Lha, bagaimana dengan orang Muhammadiyah di PPP? Golkar? Partai lain?'' ujar Sholeh Syuhdi, aktivis Pemuda Muhammadiyah. Akhirnya, Abdurrahim Noor lengser, memilih berkhidmat di Muhammadiyah sampai akhir hayatnya.

Sejak lumpur menyembur di Renokenongo, 29 Mei 2006, dan kemudian meluber ke mana-mana, Pengajian Fajar Shodiq di Porong terseok-seok. Pengajian tetap ada, tapi tidak semeriah dulu. Apalagi, kesehatan Pak Abdurrahim Noor pun sedang menurun. Setelah lumpur membesar, mengancam Jatirejo, kata para tetangga, Pak Abdurrahim ikut mengungsi. Lalu, kembali lagi ke rumah di Porong.

''Pengajian dipindahkan ke masjid. Nggak di halaman lagi. Tapi ya itu, kayaknya nggak ada daya tariknya lagi. Wong simbolnya Fajar Shodiq itu kan Bapak [Abdurrahim Noor],'' ujar seorang ibu, yang tinggal di kompleks rumah almarhum Abdurrahim Noor.

''Lantas, bagaimana masa depan Pengajian Fajar Shodiq yang dirintis Bapak [Abdurrahim Noor] selama bertahun-tahun?''

Perempuan berusia 50-an tahun itu tak sempat menjawab pertanyaan saya. Ia sibuk membersihkan rumahnya yang penuh debu gara-gara proyek tanggul lumpur lapindo. Ibu ini hanya meminta agar pemerintah mengurus bencana ini sampai tuntas, ganti rugi segera dibayar, serta ada jaminan keamanan masyarakat.

''Kami di sini tidak bisa tidur. Sebab, sewaktu-waktu lumpur bisa mengalir ke mana-mana di seluruh Porong. Lha, kami mau tinggal di mana?'' ujarnya.

Muhammad Mirdasy adalah anak kandung almarhum Abdurrahim Noor. Kini, dia menjadi politikus Partai Persatuan Pembangunan [PPP] dan duduk sebagai anggota DPRD Jawa Timur. Sebagai putra asli Porong, saya bisa memahami mengapa Mirdas dalam berbagai kesempatan bicara keras soal lumpur lapindo. Ia juga baru saja menerbitkan buku khusus tentang lumpur.

Bagaimana ini Cak Mirdas? Masa depan Kecamatan Porong, Jabon, Tanggulangin... bagaimana? Lha, kalau lumpur di samping Sumur Banjarpanji 1 itu, kata para ahli, baru bisa berhenti setelah 30 tahun... terus piye?

Saya yakin, semasa hidupnya Pak Abdurrahim Noor tak pernah membayangkan akan ada bencana sedahsyat ini di sekitar rumahnya. Selamat jalan Pak Ustaz!

No comments:

Post a Comment