01 June 2007

Selamat Jalan Pak Narain


Jumat, 25 Mei 2007, Pak Narain wafat. Abu jenazahnya dilarung di laut lepas. Kita kehilangan tokoh yang sangat murah hati, baik, peduli pada orang miskin... sepanjang hidupnya.

Oleh Lambertus L. Hurek


Terus terang, saya sulit menemukan orang macam Pak NARAIN atau nama lengkapnya NARAINDAS TIKAMDAS SAKHRANI. Di usia 80 lebih, dengan satu kaki diamputasi di Singapura, Narain tetap menggelar bakti sosial.

Tiap Kamis pagi, pukul 08.00, Narain membagi-bagikan sedekah kepada 150-an orang miskin. Bakti sosial ini dilakoninya selama 27 tahun lebih. Masing-masing orang mendapat beras, mi, sabun, biskuit, uang receh. Setiap bulan Pak Narain menyisihkan uang Rp 10 juta lebih untuk bakti sosial kamisan ini.

"Saya akan terus lakukan ini sepanjang hidup saya. itu sudah menjadi bentuk pengabdian saya kepada Tuhan dan sesama,” kata Pak Narain saat saya temui di kediamannya beberapa waktu lalu.

Pak Narain tinggal di Jalan Pahlawan 17-19 Surabaya di sebuah bangunan tua. Ini toko buku yang pernah berjaya sebelum 1970-an. Buku-buku kedokteran, sains... dalam bahasa Inggris ada di situ. Berkat usaha ini, orang tua Pak Narain berjaya. Pak Narain meneruskan bisnis orang tuanya hingga usia lanjut, meski toko buku itu tidak laku lagi.

Setiap Kamis pagi [dulu Jumat], kita bisa melihat ratusan orang miskin berjubel di Jalan Pahlawan Surabaya, dekat rumah Pak Narain. Sekitar 10 staf Pak Narain sibuk menyiapkan bahan-bahan makanan untuk kaum miskin. Pemandangan rutin yang terus berulang. Dari pekan ke pekan. Dari tahun ke tahun.

Biasanya, orang-orang gereja gelar bakti sosial kalau ada hari besar. Aksi puasa pembangunan. Aksi Natal. Paskah. Hari ulang tahun paroki atau organisasi. Orang Islam gencar bersedekah, bakti sosial, pada bulan puasa. Lha, Pak Narain ini bikin bakti sosial SETIAP PEKAN. Saya kagum luar biasa ketika mengetahui tradisi filantropis Pak Narain ini.

"God bless you! God Bless you! Terima kasih, anda sudah datang ke tempat saya," ujar Pak Narain saat saya mewawancarainya beberapa kali. Ucapan sama disampaikan kepada semua tamunya.

God bless you! God bless you! God bless you! Pak Narain mengucapkan kalimat ini dengan tulus, suara lembut, tatapan mata tajam, ramah. Dia juga minta asistennya untuk foto bersama saya, katanya, sebagai dokumentasi.

"Kalau sudah dimuat, tolong kirim satu koran ke saya ya?" pesan Pak Narain. Sangat khas Narain!

Pria kelahiran India ini tiba di Indonesia pada 1947. Usianya 22 tahun, baru tamat Universitas Bombay. Kebetulan waktu itu pamannya berdagang kain [tekstil] di Surabaya.

Narain mula-mula menekuni bisnis buku di Jalan Pahlawan. Berdagang buku-buku teks perguruan tinggi. Narain pun sukses, lantas terpilih sebagai konsul India sekaligus ketua asosiasi pedagang Sindhi. Setelah jadi warga negara Indonesia, Narain mengembangkan bisnis keramik, kerajinan, serta perlengkapan ibadah agama Hindu.

Sebagai orang sukses dan konsul, Narain selalu diundang di acara-acara penting di Surabaya. Ikut resepsi, ketemu macam-macam pejabat serta tokoh penting Jawa Timur dan dunia. Dia pernah berdialog akrab dengan Mahatma Gandhi, Sukarno, Suharto, Megawati Sukarnoputri, Gus Dur. Semua gubernur Jawa Timur adalah sahabatnya.

Relasinya memang sangat luas. Saya juga selalu bertemu Pak Narain di konser-konser musik klasik di Surabaya. Terakhir, konser Surabaya Symphony Orchestra.

Pada 2001 Narain lumpuh. Dia didiagnosa diabetes, tekanan darah tinggi, dan kolesterol. Sempat dirawat di rumah sakit lokal dalam keadaan koma. Kemudian dirujuk ke Singapura, Hospital Mounth Elizabeth. Hasilnya, kaki kiri Narain diamputasi. Sejak itulah dia bergantung pada kursi roda.

Toh, bakti sosial dan kesibukan Narain jalan terus. Namun, toko buku bersejarah di Kota Surabaya itu harus tutup. Sedikitnya 15 ribu buku-buku lama [berbahasa Inggris] pun berantakan di gedung berlantai dua itu. Narain pun asyik dengan ibadahnya, di tengah ruangan yang penuh ikon-ikon Hindu serta berbagai orang kudus.

Beberapa bulan sebelum meninggal dunia, Pak Narain sempat menerima wartawan senior Duncan Graham. Percakapan mereka dimuat di koran The Sunday Post edisi 26 Februari 2006.

Petikannya:

ANDA TENTU SYOK DENGAN PENYAKIT YANG SEMPAT ANDA ALAMI.

Waktu saya masuk [rumah sakit], saya tidak tahu apa yang terjadi. Saya omong dengan perawat dan dia taruh tangan saya di kaki saya [yang teramputasi]. Saya berteriak ketakutan dan dokter kemudian datang.

Dia bilang: "Anda ke Singapura hampir mati. Tidak ada jaminan operasi akan berhasil. Sekarang anda marah dan berteriak. Anda akan hidup."

KENAPA ANDA PERCAYA TUHAN MEMPERPANJANG USIA ANDA?

Mungkin Tuhan pikir: Siapa yang dapat melakukan seperti dilakukan orang ini? Belum ada orang yang bisa ganti dia, jadi dia perlu hidup beberapa tahun lagi.

Tuhan itu mahakuasa, Dia mengatur semua yang terjadi di sini dan di sana. [Narain kemudian menunjukkan kutipan tulisan dalam bahasa Inggris: Distinguished men of today are extinguished men of tomorrow.”]

Jika anda percaya Tuhan 100 persen, maka anda menemukan sesuatu yang sangat berarti dalam karya Tuhan. Contoh: setelah banjir akan ada perbaikan-perbaikan. Ingatan saya masih baik dan kesehatan saya pulih. Saya bangun jam tiga [subuh] dan kerja sekitar 16 jam sehari. Saya juga berolahraga.

SEKARANG USAHA ANDA TUTUP. DARI MANA UANG UNTUK MEMBERI MAKAN SEKIAN BANYAK ORANG MISKIN SETIAP PEKAN?

Tiap Rabu malam saya juga pikir begitu. Tapi Kamis pagi selalu cukup. Anda perlu tinggal di rumah saya semalam dan lihat uang pada berdatangan. Tuhan kasih saya uang di tangan kiri, dan saya mesti kasihkan ke orang lain [miskin] dengan tangan kanan.

Kalau saya datang ke rumah anda, dan anda ajak saya makan, saya tidak ambil makanan anda. Saya hanya berbagi makanan dengan anda.

KENAPA ANDA LAKUKAN INI? BERBAKTI SOSIAL RUTIN SETIAP KAMIS. BANYAK ORANG BILANG ITU TUGAS PEMERINTAH. KENAPA MELAKUKAN LEWAT LEMBAGA SOSIAL MILIK PEMERINTAH?

Saya sudah lakukan itu dengan sebuah klinik milik pemerintah. Lalu dananya habis dan klinik itu mandek. Indonesia sangat korup - nomor satu [di dunia]. Dan nomor dua India.

Ini masalah manakala pemerintah membantu masyarakat miskin. Saya sudah katakan, masalah ini juga terjadi dengan kebijakan subsidi bahan bakar minyak sebesar Rp 100 ribu per kepala pada Oktober 2005.

ANDA TIDAK SEMPAT BICARA DENGAN ORANG MISKIN YANG ANDA BERI MAKAN HARI INI. [SEBAB, NARAIN DUDUK DI LANTAI DUA DI ATAS KURSI RODA].

Soalnya, saya tidak menemukan empat orang yang bisa mengangkat saya ke bawah. Saya sih pikir mau pasang lift di sini tapi terlalu mahal. Saya juga sudah jajal kaki buatan (prostetik), tapi bikin saya tidak seimbang.

KENAPA KARYA SOSIAL INI ANDA LAKUKAN SENDIRI? TIDAK ADA YAYASAN ATAU KOMITE?

Ini dimulai 30 tahun lalu ketika ayah saya, Tikamdas, memberikan Rp 1 sehari kepada pengemis yang mengetuk pintu. Ternyata, jumlahnya naik dalam waktu cepat dan tidak bisa dihentikan. Saya meneruskan ini setelah ayah meninggal.

Ini bukan proyek. Ini semata-mata karena Tuhan. Kewajiban kita untuk bantu orang miskin, mereka yang butuh makan, di sekitar kita.

SAYA DIKASIH TAHU BAHWA BANYAK ORANG MENJUAL LAGI MAKANAN YANG ANDA BERIKAN. ADA JUGA PENGEMIS YANG DIORGANISASI PREMAN. MEREKA TIDAK CACAT TAPI TIDAK MAU KERJA.

Coba perhatikan mereka. Berapa orang yang bisa dapat pekerjaan? Pakaian mereka macam itu. Mereka tinggal di bawah jembatan. Siapa yang memperkerjakan mereka? Kesadaran mereka sudah dibunuh oleh kemiskinan.

Saya tahu beberapa orang menjual apa yang saya berikan. Tidak apa-apa. Itu hak mereka.

Yesus berkata, orang miskin selalu berada di antara kalian. Mereka lahir sebagai pengemis, oang tuanya pengems. Itu karma mereka. Anda bisa mengubah itu hanya dengan doa dan perbuatan amal.

Bakti sosial saya ini semata-mata sebagai kewajiban saya untuk Indonesia Raya. Sama seperti anak kepada mamanya. Saya akan terus melakukan sepanjang hidup saya. Sebab, jiwa saya ada di Indonesia. Saya mendapat rezeki di Indonesia. Saya juga cinta orang Indonesia, negara Indonesia. Indonesia tanah air kedua saya.

Saya hanyalah hamba yang hina untuk kemanusiaan. Saudara kaum miskin. Saudara orang-orang yang membutuhkan bantuan.

ANDA SELALU MENGIRIM SURAT-SURAT BERISI KATA-KATA BIJAK. ANDA PIKIR ORANG AKAN MEMERHATIKAN ITU?

Oh ya. Semuanya kecuali orang India. Mereka pikir mereka sudah tahu segalanya.

KATA-KATA BIJAK YANG ANDA INGIN ORANG LAIN PERHATIKAN?


Character is life,
character is power.
Character is true holiness.
Without transforming character
Packing the brain with information
Can only result in damaging it.



[Saya pun kerap menerima dokumen-dokumen kiriman Pak Narain. Kata-kata ini tak pernah alpa dari berkas yang dia kirim, selalu dalam kertas warna kuning.]

ANDA PERNAH KETEMU MAHATMA GANDHI. APA YANG BISA KAU INGAT?

Saya ketemu dia dua kali, pertama usia saya 12 dan kedua hampir 20. I call him a man of light. Gandhi membawa negaranya, India, dari kegelapan kepada terang. Saya melihat di wajah dan kata-katanya sebagai refleksi layanan untuk kaum papa, persahabatan dengan kaum rendah, wong cilik....

Siapa yang mencintai India melebihi Gandhi? Berapa banyak pemimpin India hari ini yang berkata seperti Gandhi: "Semua agama itu benar! Dan semua agama saya hayati seperti agama Hindu yang saya anut"?

DI RUMAH INI ADA KAMAR DOA DENGAN ALTAR DAN SIMBOL-SIMBOL BERBAGAI AGAMA.

I’m Hindu, but all religions are universal. Saya percaya Tuhan. Dan inilah doa saya setiap hari:

God keep my big mouth shut...
till I know what I’m saying.
God be in my prayers and in my worship.
God be in my heart to recite your Holy Name and spread it around my surroundings
God help me to offer my thoughtfulness, kindness and compassion to all living things.
God create peace on Earth for all.
God, shine my path in departing from this world.





Jumat, 1 Juni 2006.

Saya menelepon Kastiani, perempuan yang selama 19 tahun menemani almarhum Pak Narain. [Pak Narain tidak pernah menikah. Keluarga dekatnya di India semua.] Kastiani mengaku sangat kehilangan pria berhati mulia nan langka ini.

"Cari orang kayak Bapak [Narain] itu seribu satu, Mas. Nggak ada lagi orang sebaik beliau yang pernah saya temui dalam hidup ini," ujar Kastiani yang masih menahan kepedihan mendalam.

Saya setuju dengan Kastiani. Pak Narain sangat baik, terlalu baik. Saya pun terkagum-kagum dengan bakti sosial untuk 200-an kaum miskin setiap pekan selama 30 tahun. Dia lakukan itu tanpa pamrih, tak pernah minta publikasi, tak kedok apa pun. Semata-mata "karena cinta Indonesia Raya dan cinta Tuhan".

Saya sangat kehilangan Pak Narain. Saya yakin warga Kota Surabaya, Jawa Timur, pun kehilangan. Tapi, mengutip wejangan Pandita Prakash [Jakarta] yang memimpin upacara pelepasan jenazah Pak Narain di Jalan Pahlawan Surabaya, kita tidak boleh bersedih.

"... Jangan ada tangis karena Narain pulang ke rumah Tuhannya. Itu lebih baik daripada di dunia yang tidak berarti apa-apa," kata Pak Pandita.

Selamat jalan Pak Narain!

Terima kasih!

Foto-foto Pak Narain serta kaum miskin yang antre pembagian bahan makanan di Jalan Pahlawan Surabaya saya kutip dari blog Duncan Graham.

2 comments:

  1. Wah tulisan yg bagus. Salam kenal Mas Hurek ... Blog saya di www.ahmed shahikusuma.wordpress.com
    Kenangan saya ttg dirinya adalah saat saya harus belusukan mencari buku ke toko bukunya. Menarik melihat beragam buku di sana, Sampai saya dapat Bhagavadgita segala.....
    Peace, salam,salom..
    Ahmed Shahi Kusuma

    ReplyDelete
  2. Selamat jalan Pak Narain , saya berjanji Atas Nama Tuhan untuk meneruskan cita"mu ! Amin .

    akutukangbecak@yahoo.com

    ReplyDelete