05 June 2007

Romo Tondo dan Paduan Suara





Di sela-sela menonton konser La Scala di Seta, ensembel opera asal Milan, Italia, di Hotel Majapahit, Surabaya, Jumat, 1 Juni 2007, saya sempat diskusi dengan Prof. Dr. John Tondowijojo, C.M. Pria berusia 73 tahun ini akrab disapa Romo Tondo.

Romo Tondo bertugas di Paroki Kristus Raja, Surabaya. Sehari-hari dia tinggal di pastoran, di samping Gereja Katolik dengan jumlah umat terbanyak di Jawa Timur itu. Paroki Kristus Raja di Jalan Residen Sudirman tercatat punya lebih dari 15 ribu umat Katolik.

Tapi Romo Tondo bukan pastor biasa. Dia punya banyak kemampuan: profesor ilmu komunikasi. Komposer. Penyelenggara lomba paduan suara. Wartawan freelanche. Penerbit buku-buku komunikasi. Dosen di beberapa universitas. Pekerja sosial. Dan banyak lagi.

"Saya sebentar lagi menerbitkan buku lho. Sekarang sudah punya 73 buku," ujar Romo Tondo yang suka blak-blakan.

Dia bisa menerbitkan banyak buku karena, selain rajin membaca dan menulis, Romo Tondo punya penerbit sendiri. Maka, semua tulisannya diterbitkan sebagai buku. Bisa jadi Romo Tondo ini merupakan pastor yang paling banyak menerbitkan buku di Indonesia.

"Kalau kita bicara minat baca, ya, harus ada yang menulis buku. Mau baca apa kalau buku tidak ada," kata rohaniwan yang tergolong masih kerabat dekat Raden Ajeng Kartini, pejuang perempuan asal Jepara, Jawa Tengah, itu.

Malam itu, karena event-nya musik, opera, saya ajak Romo Tondo bicara soal musik. Asal tahu saja, sejak 1980-an Romo Tondo sudah menulis buku seni suara untuk sekolah lanjutan. Namanya Ricordate. Kebetulan Romo Tondo alumnus Centro della Cultura, Venezia, jurusan komposisi dan dirigen. Dia belajar musik pada 1951 saat kuliah teologi sebagai calon imam Vinsensian di Italia.

Di bukunya, Romo Tondo banyak membahas teknik mengolah suara berdasar teori yang diperolehnya di Italia. Bell canto alias cara menyanyi ala opera Italia dia kupas habis. Juga berbagai teknik untuk menyembuhkan suara fals atau sumbang.

"Semua orang bisa nyanyi. Orang yang suaranya fals berarti dia menyanyi dengan cara yang tidak benar. Teknik untuk meluruskan suara fals tidak sulit kok," papar Romo Tondo.

Dalam 10 tahun terakhir, Romo Tondo aktif menyelenggarakan lomba paduan suara untuk sekolah-sekolah mulai SD sampai SMA di Keuskupan Surabaya. Meliputi sebagian provinsi Jawa Timur. Cari sponsor sendiri, siapkan hadiah, menulis komposisi untuk lagu wajib, cari lokasi lomba, dan seterusnya.

Kenapa ngotot mengadakan lomba paduan suara yang boleh dikata proyek rugi?

"Siapa bilang proyek rugi? Ini pendidikan humaniora untuk generasi muda. Banyak hal yang bisa dipelajari generasi muda melalui lomba paduan suara. Saya bangga bisa menyelenggarakannya secara rutin. Saya tidak rugi kalau semua itu demi pendidikan anak-anak bangsa," ujar Romo Tondo dalam nada tinggi.

Pada 2006 Romo Tondo menulis komposisi Himne 45 Tahun Keuskupan Surabaya. Ini menjadi lagu wajib lomba paduan suara tahun lalu. "Lagu-lagu yang diciptakan oleh Romo Tondo tidak hanya mudah dalam notasi dan syair, tapi juga kuat dalam tema, tepat dalam momentum," ujar Eduardus Yustantyo, yang biasa menggarap aransemen lagu-lagu karya Romo Tondo.

Menurut Eduardus, komposisi karya Romo Tondo sarat dengan unsur pendidikan. Sangat edukatif. Penyanyi dituntut menguasai teknik vokal dan stamina prima. Wajar karena lagu-lagu Romo Tondo kerap dipakai untuk lomba paduan suara antarsekolah di Surabaya, Sidoarjo, Gresik, dan sekitarnya.

Kepada saya, Romo Tondo mengeluh bahwa saat ini kita di Indonesia kekurangan komponis. Penulis lagu pop sih banyak, tapi yang memenuhi kriteria komponis macam Ismail Marzuki, Muchtar Embut, Binsar Sitompul, F.X. Sutopo... sangat sedikit.

"Kita kekurangan komponis. Saya jarang menemukan orang Indonesia yang menekuni ilmu komposisi," kata Romo Tondo.

Nah, karena kekurangan komponis itulah, Romo Tondo 'terpaksa' harus menulis sendiri komposisi-komposisi untuk lomba paduan suara setiap tahun. Dia ingin agar setiap lomba paduan suara selalu ada lagu baru yang benar-benar baru. Bukan lagu atau komposisi lama yang dinyanyikan dari tahun ke tahun.

Selain lagu wajib yang ditulisnya sendiri, Romo Tondo menuntut peserta lomba membawakan lagu-lagu daerah di tanah air. Aransemen bebas, namun tetap mengacu pada harmoni musik. Kenapa harus lagu daerah?

"Siswa harus menguasai itu. Harus bisa lagu daerah, harus bisa tarian daerah. Jangan sampai kita malah belajar nyanyian dan tarian daerah dari orang Barat," katanya.

Romo Tondo pun selalu berpesan kepada orang Surabaya yang akan studi ke luar negeri untuk menguasai lagu dan tarian daerah. Minimal lima lagu. Kenapa? Kalau ada malam kesenian atau event yang diadakan untuk memperkenalkan Indonesia, semua orang Indonesia harus bisa tampil.

"Apa sih sulitnya belajar lagu-lagu daerah?" ujar dosen terbang di beberapa universitas itu.




Romo Tondo anak sulung dari 10 bersaudara keturunan bangsawan. Jangan heran nama penuh pastor ini Kanjeng Raden Mas Tumenggung John Tondowidjojo Tondodiningrat.

Dialah satu-satunya pemeluk Katolik di antara keluarga besarnya yang beragama Islam. "Sejak belasan tahun saya dipermandikan sebagai umat Katolik," katanya.

Romo Tondo mengatakan, di keluarganya tak pernah ada persoalan atau ganjalan hanya karena dia Katolik, bahkan studi teologi di Roma, Italia, kemudian ditahbiskan sebagai pastor 44 tahun silam. Setiap akhir bulan Ramadan, Romo Tondo berlibur selama sepekan ke rumah keluarganya di Jogja untuk merayakan Idul Fitri.

"Orang tua kami berwawasan luas," kata pencipta sejumlah himne sekolah-sekolah di lingkungan Yayasan Yohanes Gabriel, Keuskupan Surabaya, itu.

"Tapi kenapa Anda belum memperluas lomba paduan suara ke sekolah-sekolah negeri dan swasta di luar yayasan Katolik?" tanya saya.

Romo Tondo bilang, pikiran ke sana sudah ada. Bahkan, dia sangat ingin semangat bernyanyi, berpaduan suara, digemakan juga di luar sekolah-sekolah Katolik.

"Tapi saya belum berani adakan ke sekolah-sekolah negeri atau swasta non-Katolik. Saya tidak mau ada isu kristenisasi. Anda harus tahu, ini Jawa bukan Flores," ujar Romo Tondo seraya tersenyum.

Okelah! Sing penting nyanyi lan ngarang lagu terus, Romo! Que bene cantat bis orat!

3 comments:

  1. Romo Tondo saya kenal dan pernah hidup bersama di Surabaya... Dia orang yang sangat rajin, berbakat, energik dan perhatian...

    Salam

    Fr. Wawan, CM
    http://diamsejenak.wordpress.com

    ReplyDelete
  2. salam kenal,bung Lambertus dan Romo Tondo.
    saya Gressindo Raja Sinaga, dari Sekolah Tinggi Teologi Jakarta

    ReplyDelete
  3. Salam kenal juga, Raja, semoga sukses di STT Jakarta. Jangan lupa bikin paduan suara ya!!! Shalom.

    ReplyDelete