13 June 2007

Peter Schwaderer Pemain Oboe


Sebagai profesional di perusahaan multinasional, Peter Schwaderer bolak-balik Jerman, Malaysia, Indonesia. Di Jawa Timur, pria asal Jerman ini meninjau beberapa pabrik di kawasan Sidoarjo dan Mojokerto.

Yang menarik, Peter Schwaderer bukan pengusaha thok. Ia sangat piawai memainkan alat musik, khusus piano dan oboe. Bahkan, Peter beberapa kali tampil dalam konser di Kota Bahru, Malaysia. Main musik klasik yang sangat dikuasainya.

"Saya tampil bersama pemusik-pemusik Jerman," ujar Peter Schwaderer kepada saya. Wah, orang Jerman satu ini ramah, hangat, murah senyum... senang diskusi. Apalagi, soal musik yang memang sangat dicintainya.

Diam-diam, kebolehan Peter bermain musik, khususnya oboe, diketahui teman bisnisnya di Indonesia. Sayang, talenta itu tidak dibagikan kepada khalayak musik di Jawa Timur. Begitu kira-kira 'provokasi' teman-teman si Peter.

Singkat cerita, Peter pun didaulat untuk menjadi solis bersama orkes simfoni. Gayung bersambut. Beberapa waktu silam Peter Schwaderer tampil bersama Surabaya Symphony Orchestra [SSO] di Hotel JW Marriott Surabaya. Peter memainkan Concerto for Oboe op. 7/6 karya Albinoni.

"Ini pengalaman pertama saya ikut konser di Indonesia. Ternyata cukup menyenangkan bermain di depan pencinta musik klasik di sini. Apresiasi musik orang Indonesia sangat bagus," kata pria kelahiran 29 Maret 1960 itu seraya tersenyum.

Dibandingkan dengan Malaysia, negara tetangga yang sudah lama didiaminya, Peter Schwaderer menilai orang Indonesia jauh lebih musikal. Musik jenis apa saja bisa dimainkan oleh orang Indonesia. Hasilnya pun sangat baik. Ia juga tak menyangka begitu anak kecil di Surabaya yang menekuni musik klasik, bahkan konser bersama orkes simfoni.

"Saya kaget melihat begitu banyak anak-anak Indonesia yang sudah mampu memainkan musik klasik. Ini luar biasa," puji Peter.

Meski piawai bermain piano dan oboe, ayah dua anak (kembar) ini mengaku musik hanya sekadar hobi.

Ihwal oboe, yang ditekuninya, Peter Schwaderer menjelaskan bahwa instrumen tiup ini tergolong sulit sehingga tak banyak yang memainkannya. Oboe adalah alat musik tiup double reed, di samping basson alias fagot. "Meniupnya tidak gampang. Perlu latihan sangat lama," tutur Peter.

Solomon Tong, dirigen SSO, menjelaskan, si peniup harus punya anatomi gigi yang rapi, lurus, dan rata. Tanpa memenuhi syarat alamiah ini sulit bagi siapa pun meniup alat musik bernama oboe itu. "Dan Peter Schwaderer bermain bagus saat konser dengan SSO," ujar Tong memuji pemusik tamunya itu.

Kepada saya, Peter Schwaderer mengaku kagum dengan beberapa lagu Indonesia yang dinilainya sangat indah. Apa misalnya? Indonesia Pusaka, kata dia. Peter tidak hafal syair lagu ciptaan Ismail Marzuki ini, tapi sangat menguasai melodinya. Ia juga memainkan melodi ini di depan saya.

"Indah sekali," pujinya.

Setelah saya buka riwayat hidupnya di SSO, Peter Schwaderer ternyata bukan pemusik sembarangan. Dia mulai main musik di orkes simfoni sekolahnya, di Jerman, pada 1970-1979. Pada Mei 1979 menggelar resital piano di Jerman, membawakan karya J. Haydn.

Pada 1981-1989 Peter bergabung dengan University Orchestra of Passau dan beberapa orkestra di Jerman sebagai pemain oboe.

Peter juga tampil bersama sejumlah pemusik Jerman [Wood Wind Quintet] memainkan komposisi bikinan sendiri. "Di samping musik klasik, saya main piano di kelompok jazz dan main akordion untuk musik rakyat Jerman dan Austria," tulis Peter Schwaderer dalam biografi singkatnya.

Di Malaysia, Peter Schwaderer memainkan musik kamar bersama orkestra asal Keelung, Taiwan, di Penang. "Tapi saya senang main di Indonesia. Orang-orangnya musikal banget deh," ulang Peter Schwaderer.

Wah, saya senang dengan kata-kata manis dari mulut Peter Schwaderer. Benarkah, tuan?

2 comments:

  1. HAlloo,
    slm kenal, saya nike,mahasiswi music education di Jerman. Wah, senang sekali rasanya baca artikel anda. Apalagi tentang SSO nya, soalnya saya dulu anggota SSO, main biola, jadi rasa kangen saya sama mereka, jadi terobati deh hehe. Dulu memang SSO slalu masuk koran: Surabaya post apa jawa post ya.. duh lupa. Terus setelah saya lulus SMU, saya ninggalin Surabaya, dan cuman dapat kabar dari mama saya, tentang berita2 musik di Sby, misalnya juga tentang SSO. Baru kemarin, saya menemukan blog anda, senang sekali rasanya membacanya. Enaknya jaman sekarang ini, ada blog ya.. dulu sih belom ada hehehe... anyway salam kenal.

    ReplyDelete
  2. Salam juga Nike.
    Semoga sukses dan betah di Jerman. Kalau balik ke Surabaya, kasih tahu ya. Terima kasih sudah mampir ke blog orang kampung.

    ReplyDelete