12 June 2007

Pesta Rakyat di Kelenteng Sidoarjo




Tiap tahun Kelenteng Tjong Hok Kiong di Jalan Hang Tuah, Sidoarjo, menggelar pesta rakyat dan festival budaya besar-besaran. Festival tahunan itu dalam rangka hari jadi Thian Siang Seng Bo yang lebih dikenal dengan Mahco.

Festival ini sungguh meriah, lebih-lebih setelah reformasi 1998. Masyarakat di sekitar kelenteng, entah itu Tionghoa, Jawa, Madura... tumplek blek menimati aneka atraksi hiburan. Wayang kulit. Wayang potehi. Tarian Tiongkok. Tarian Nusantara. Barongsay. Paduan suara. Festival jajan pasar dan pala pendhem.

Saya selalu berusaha hadir di keramaian yang diwarnai harum-haruman dupa dari kompleks rumah ibadah umat Tridharma tersebut. Gelar wayang potehi selama 30 hari berturut-turut, kadang kala diperpanjang, sangat menarik. Saya sering diskusi bersama pengurus kelenteng dan pemain wayang potehi.

“Kita usahakan agar perayaan ini bisa dirasakan warga Sidoarjo, khususnya di sekitar kompleks kelenteng,” ujar Purwanto, Humas Kelenteng Tjong Hok Kiong, kepada saya.

Di samping atraksi seni budaya, seperti biasa, umat Tridharma menggelar bakti sosial dan ritual khusus. Ribuan orang, khususnya warga keturunan Tionghoa, dari berbagai daerah di Jawa Timur datang ke Sidoarjo untuk mengikuti perayaan ulang tahun Mahco. Ini tokoh yang amat dihormati penganut Tridharma.

“Kekhasan kelenteng di Sidoarjo itu, ya, di Mahco. Sejak dulu kelenteng ini dikenal sebagai tempat yang selalu dipilih warga yang menderita penyakit. Banyak lho mukjizat penyembuhan di sana. Ini membuat kelenteng di Sidoarjo terkenal di mana-mana,” ujar Fransiskus Sutikno.

Pemilik toko di Jalan Gajah Mada ini rajin mengikuti acara-acara di kelenteng sejak tahun 1950-an. Padahal, pengusaha bunga sintetik ini beragama Katolik. "Orang Tionghoa itu tidak bisa lepas dari tradisi dan budayanya. Samalah dengan orang Batak, Flores, Papua, Jawa.... Kan nggak bisa lepas dari tradisi," katanya.

Bagi warga Tionghoa, jelas Sutikno, Mahco merupakan seorang perempuan luhur berhati mulia.
Lahir pada 23 Imlek tahun 960 (Masehi), Thian Siang Seng Bo sejak bayi sudah menunjukkan berbagai kelebihan. Dia sangat canti dan tidak menangis seperti bayi biasa.

Mahco juga selalu tersenyum manis dan menyenangkan begitu banyak orang. Ketika dewasa, dan dikenal dengan sapaan Mahco, ia menjadi wanita yang baik budi, sederhana, welas asih, dan layak diteladani. Karena itu, Mahco mendapat tempat khusus di hati orang Tionghoa.

“Hari lahirnya selalu dirayakan secara khusus dan meriah di seluruh dunia. Apalagi, di kelenteng-kelenteng yang memposisikan Mahco secara khusus seperti di Sidoarjo,” ujar Nugroho, ketua Perwalian Umat Buddha di Sidoarjo.

Yang menarik, festival budaya HUT Mahco di Sidoarjo ini melibatkan banyak warga non-Tionghoa. Tak sedikit yang beragama Islam. Grup wayang potehi, yang bermain di kompleks kelenteng, sepenuhnya dimainkan warga pribumi yang tinggal di sekitar kelenteng.

Wayang Jawa Timuran pun sengaja dipilih agar lebih membumi. Menurut Sutikno, sejak dirinya masih kecil, 1950-an, warga di sekitar kelenteng selalu dilibatkan dalam festival atau pesta rakyat ini.

“Kelenteng itu usianya sudah ratusan tahun, dan punya hubungan baik dengan warga di sekitarnya. Orang-orang dalam kota Sidoarjo pasti sudah tahu kalau ulang tahun Mahco pasti ramai,” kata Sutikno.

Bagi Subur, yang tinggal di pinggir kali, persis di depan kelenteng, perayaan hari jadi Mahco merupakan berkah tersendiri. Maklum, dia bersama grupnya sejak dulu dipercaya mengisi pergelaran wayang potehi di kelenteng itu.

Di pojok kanan kelenteng ada panggung permanen bagi Ki Subur, dalang wayang potehi, untuk memainkan lakon-lakon pesanan pengurus kelenteng. Biasanya, Subur menawarkan tiga empat judul, kemudian ditawarkan kepada panitia.

"Bisa dipilih salah satu atau ditolak semuanya. Sebab, proses pemilihannya melalui ritual khusus. Saya sih siap saja karena sudah biasa memainkan lakon apa saja," tutur Ki Subur kepada saya.

Selain Ki Subur, Ki Sugilar dari Mojokerto pun panen rezeki setiap ada hajatan di kelenteng ini. Asal tahu saja, dalang jawa timuran ini sejak dulu ditanggap untuk menghibur warga selama hajatan berlangsung.

"Alhamdulillah, sampai sekarang saya masih dipercaya oleh pengurus kelenteng," ujar Ki Sugilar.

"Sampeyan dibayar piro, Cak?" tanya saya.

"Hehehe... pokoke, soal bayaran rahasia dapur. Sing jelas, kalo ditanggap wong kelenteng mesti mantep. Gak ono tawar-menawar, wong wis kenal kabeh. Hehehe....," kata Ki Sugilar.

2 comments:

  1. thanks atas tulisan ttg klenteng di kota sidoarjo. ada berapa sih klenteng di sana?

    ReplyDelete
  2. Sama-sama.
    Ada dua. Satu di pusat kota, Jalan Hangtuah, satunya lagi di Krian. Dulu katanya ada juga di Sepanjang, Kecamatan Taman, tapi sudah tidak ada lagi sejak awal Orde Baru.

    ReplyDelete