04 June 2007

Perajin Topeng Khas Surabaya

Walaupun tersendat-sendat, Matjadi [45 tahun] masih memproduksi topeng di rumahnya, Jalan Grililaya VII/17 Surabaya. Modal yang terbatas masih menjadi kendala utama. Matjadi merupakan perajin topeng yang masih bertahan di Kota Surabaya.


Ditemui di rumahnya yang sederhana di dalam gang kecil, Matjadi tampak asyik menggarap topeng-topeng pesanan para pelanggan. Modelnya macam-macam, mulai dari teletubbies, aneka binatang, hingga tokoh kartun kesukaan anak-anak.

“Sekarang ini Power Rangers banyak dicari anak-anak,” ujar Matjadi kepada kami.

Pria ini mengaku sejak kelas dua sekolah dasar telah membantu ayahnya, Sutadji (almarhum) menjadi perajin topeng di Girilaya.

Karena sudah terbiasa, Matjadi mengaku tidak kesulitan membuat topeng apa saja. Bahan-bahannya sangat sederhana dan mudah didapat. Kertas stopmap bekas 20 buah, kanji, dan cat minyak. Siang itu, mantan Kamra ini tampak sangat piawai meracik bahan-bahan topeng binatang.

Dalam sehari Matjadi rata-rata bisa membuat 20 topeng. Namun, jika ada pesanan dalam jumlah besar, maka dia pun harus kerja lembur.

Menurut dia, pesanan paling ramai datang menjelang Maulud Nabi muhammad SAW atau pentas anak-anak sekolah dasar. Pernah ada pemesan topeng gajah seharga Rp 500 ribu.

“Kalau yang harganya mahal seperti itu bahannya lebih halus. Tidak seperti ini,” tuturnya.

Harga topeng made in Grililaya ini berkisar Rp 7.000 sampai Rp 10 ribu per buah. Matjadi mengaku mendapat untung lumayan karena modalnya rata-rata hanya Rp 2.000 per biji. Artinya, dia beroleh laba Rp 5.000 sampai Rp 8.000.

“Lumayanlah buat hidup sehari-hari,” kata ayah tiga anak ini lalu tersenyum.

Yang membuat Matjadi bangga, topeng-topeng buatannya ternyata tidak saja beredar di Surabaya, tapi juga di kota-kota lain di Jawa Timur dan luar provinsi seperti Jawa Tengah, Jogja, Kaimantan, Papua, Sulawesi.

“Malah pernah dikirim hingga ke Australia,” ujar Matjadi.

Biasanya, orang-orang luar itu mengetahui topeng-topeng karya Matjadi dari mulut ke mulut alias gethuk tular. Saat berada di Surabaya, mereka sering berkunjung ke Girilaya bersama anak-anak.

Matjadi juga bercerita bahwa pada 1998 Ny Adi Sasono, istri mantan Menteri Koperasi Adi Sasono, sempat bertandang ke pusat kerajinan topeng di Girilaya.

“Sejak itu usaha kami makin dikenal orang luar. Wong beberapa kali diberitakan di media massa,” tutur Matjadi seraya memperlihatkan kliping surat kabar yang memuat usaha topengnya.

Apa saja kendala Anda? Matjadi menyebut modal yang terbatas. Ini yang membuat usahanya tidak bisa berkembang pesat. Dari dulu sentra topeng di Girilaya, ya, hanya sebatas industri rumahan tradisional.

“Tapi saya sudah syukur alhamdulillah. Hidup itu nggak usah ngoyo,” katanya.

Kendala lain, papar Matjadi, adalah hujan. Sebab, topeng-topeng ini harus dijemur sebelum proses akhir (finishing). Selama musim hujan, Matjadi terpaksa menggunakan oven untuk mengeringkan topeng-topengnya. "Kalau musim hujan, ya, nggak bisa buat banyak,” ujarnya.


Laporan LOLLA RAHAYU dan SUSANTI, mahasiswi Stikosa Surabaya

1 comment:

  1. Masih mengenang dan terus terkesan atas kegigihan warga GIRILAYA yang terus, masih dan akan berusaha dalam pelestarian kebudayaan leluhur.

    MATJADI dan teman2 di Girilaya 7 masih sangat Gigih mempertahankannya.

    semoga kebudayaan pembuatan TOPENG ini tetap terjaga.

    Ijin Share Artikel ini di FOrum Girilaya Real Groups. [http://forum.girilaya.com/t1715-matjadi-perajin-topeng-girilaya-khas-surabaya#2098]

    Salam,

    Girilaya Real Groups

    ReplyDelete