04 June 2007

Pengungsi Lapindo Keleleran

Semburan lumpur panas di Porong sejak 29 Mei 2006 membuat ribuan warga tercerabut dari kampung halamannya. Rumah, sawah, dan harta benda mereka ludes. Sebagian korban lumpur sudah mencari rumah kontrakan baru, namun sebagian lagi tidak jelas nasibnya.

Saat kami meninjau lokasi pengungsi di Pasar Porong baru, pekan lalu, terlihat ratusan warga menganggur, bengong, tak melakukan apa-apa. Tatapan mata mereka terasa hampa.

“Kerjaan kami, ya, makan, tidur, ngobrol. Habis mau buat apa? Sawah sudah lama terendam lumpur. Pabrik nggak ada lagi,,” ujar Rahmat, warga Desa Renokenongo, Kecamatan Porong, Sidoarjo.

Desa Renokenongo merupakan lokasi pengeboran gas Sumur Banjarpanji 1 yang dilakukan Lapindo Brantas Inc. Karena itu, desa ini pertama kali ditenggelamkan lumpur panas. Disusul kemudian tiga desa lain, yakni Siring, Jatirejo, dan Kedungbendo.

Kawasan Perumahan Tanggulangin Sejahtera I merupakan korban tahap kedua pascaledakan pipa gas Pertamina pada 22 November 2006. Setelah itu empat desa lain menyusul: Desa Pejarakan, Besuki, Mindi, Kedungcangkring. Desa Ketapang di Kecamatan Tanggulangin pun kecipratan lumpur keparat.


Kondisi warga Renokenongo yang mengungsi hampir enam bulan ini memang sangat memprihatinkan. Mulai dari tempat tidur, pakaian, makanan... semuanya serba darurat. Pihak Lapindo memang menyediakan jatah makanan setiap hari dengan menu bervariasi seperti mujair, tongkol, ayam, ikan asin, daging kambing.

“Tapi kalau sudah masuk mulut rasanya hambar. Lain dengan makan di rumah sendiri biarpun sederhana," kata Rahmat yang dibenarkan pengungsi lain.

Menurut pria berusia 50-an tahun ini, warga sebenarnya sudah tidak tahan hidup berlama-lama di camp pengungsian. Apalagi, lampu tidak ada dan begitu banyak nyamuk di malam hari. Namun, mereka benar-benar tidak berdaya. Biaya untuk kontrak rumah atau pindah praktis tidak ada.

“Uang dari mana? Kami ini jadi gelandangan akibat lumpur panas itu. Yah... yang bisa kami lakukan hanya bersabar dan menunggu perkembangan lebih lanjut. Makanya, kami ingin Lapindo segera mengganti rugi tanah dan rumah kami,” kata Rahmat lagi.

Nasib Arofah, juga warga Renokenongo, tak kalah apes. Setiap hari, setelah mencuci pakaian dan peralatan makan, dia ke jalanan untuk mengumpulkan kaleng-kaleng bekas.

"Saya terpaksa jadi pemulung agar bisa dapat sedikit uang,” tuturnya. Malam harinya Arofah kembali berkumpul dengan keluarga sambil menuggu bantuan dari sang dermawan.

Rahmat bercerita, anak-anak warga Renokenongo di lokasi pengungsian pun banyak yang putus sekolah dan menghadapi ketidakpastian masa depan. Bagaimana tidak. Lokasi sekolah mereka berpindah-pindah dari gedung satu ke gedung yang lain. “Akhirnya, anak-anak malas sekolah," kata Rahmat.

Pitanto, pengurus paguyuban warga Renokenongo, menyebutkan, anak-anak balita di pengungsian tercatat 329 jiwa, SD 39 anak, SMP 23 anak, SMA 6 anak. Sebagian di antaranya terpaksa putus sekolah atau ‘libur panjang’ karena suasana belajar yang tidak kondusif.

“Kalau ini tidak segera ditangani, mau jadi apa anak-anak itu kelak? Kami sendiri nggak punya apa-apa sehingga hanya bisa mengeluh,” ujar Pitanto.

Bagaimana dengan kesehatan pengungsi? Pitanto dan kawan-kawan menyebutkan sakit panas dingin, batuk, flu, hingga gejala tifus di kalangan anak-anak. Adapun orang dewasa kabanyakan sakit perut, diare, dan flu. Meski tergolong ringan, warga tetap saja resah karena tidak ada uang untuk membeli obat.

Warga Renokenonggo ini sebenarnya sudah lama diminta meninggalkan lokasi pengungsian dan mencari rumah kontrakan di tempat lain. Namun, mereka bertahan karena menolak uang kontrak senilai Rp 5 juta per dua tahun. Mereka sepakat meminta ganti rugi tunai dan langsung agar bisa bebas mencari tempat tinggal baru dan membuka usaha baru.

“Kalau tidak dikasih uang tunai, ya, kami memilih bertahan di sini. Bila perlu kami membuat rumah di sini,” ujar Arofah.

Ditulis berdasarkan laporan SUSANTI, mahasiswa jurnalistik Stikosa Surabaya, anak magang yang saya bimbing.

1 comment:

  1. Wah, sangat memprihatinkan sekali korban lumpur lapindo. Pemerintah memang harusnya bergerak cepat dan serius dalam menangani korban lapindo. Pemerintah harus lebih pro terhadap korban pengungsi.

    ReplyDelete