26 June 2007

Pandangan Mgr. Sutikno

Sejak ditunjuk Paus Benediktus XVI sebagai Uskup Surabaya pada 3 April 2007, banyak umat Katolik bertanya-tanya apa visi Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono? Berikut beberapa gagasan Mgr. Sutikno [ditahbiskan 29 Juni 2007] yang dilontarkan dalam berbagai kesempatan.

KELUARGA SEBAGAI INTI MASYARAKAT

Dewasa ini dunia dipenuhi oleh hedonisme, konsumerisme, sensualisme, materialisme. Banyak sekali keluarga yang retak akibat perkembangan dunia yang hedonis-konsumtif itu. Di sinilah kita perlu kembali memperkuat basis kita: keluarga.

Keluarga sangat berperan dalam pembentukan masyarakat. Ayah berperan sebagai pelindung, berkorban mencari nafkah, mencintai, memberikan arah hidup pada anggota keluarga. Ibu sebagai sosok yang mendoakan, menata rumah tangga.

Andaikan banyak keluarga hancur, bagaimana masa depan anak-anak? Contoh yang buruk di dalam keluarga akan dibawa anak-anak hingga dewasa.

KATOLIK SEBAGAI MINORITAS

Di Indonesia, umat Katolik memang tidak banyak [sekitar 5 persen]. Minoritas. Tapi istilah 'minoritas' kurang menguntungkan umat Katolik secara psikologis. Seolah-olah orang Katoik tidak diperhitungkan di masyarakat. Padahal, 'minoritas' itu hanya istilah sosiologis.

Katolik itu universal, sama kedudukannya dengan semua warga negara Indonesia. Yang penting, umat Katolik menyadari eksistensinya sebagai warga negara Indonesia. Mengutip mendiang Mgr. Albertus Soegijapranata, S.J. [uskup dan pahlawan nasional]: kita harus menjadi 100 persen warga gereja, dan 100 persen warga negara.

Orang Katolik tidak boleh minder dalam masyarakat, hanya karena dia minoritas, jumlahnya sedikit. Orang Katolik perlu hadir menebarkan kelimpahan-kelimpahan Allah berupa nilai-nilai kejujuran, disiplin, kesetiaan, murah hati, cinta kasih... dan sebagainya.

Masyarakat Katolik tidak boleh terkungkung oleh dirinya sendiri, tetapi mampu menjadi garam dan terang dunia di dalam masyarakat. Tidak perlu takut. Kalau perlu dia menjadi perintis dalam bidang-bidang yang membawa kesejahteraan dan kemaslahatan bagi orang banyak.

DOA DAN LITURGI

Injil Matius 6:6 berkata, "Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi....

Masuklah ke dalam kamarmu! Doa bukanlah aktivitas yang penuh gebyar, semarak, melainkan hening dan sembunyi. Suasana hening memberi kedalaman untuk berdoa. Ajakan 'masuk ke dalam kamar' mengingatkan akan jatidiri kita masing-masing. Saat berdoa, kita hendaknya melihat diri kita apa adanya.

Para pelayan liturgi tidak perlu berlebihan atau overakting. Jadilah pelayan atau imam yang sederhana saja. Bertindak biasa-biasa saja. Jangan aneh-aneh.

Gereja Katolik itu kaya akan tradisi dan hidup doa. Dalam perayaan ekaristi, kita menemukan doa perjamuan yang ideal untuk hidup beriman kita. Tidak harus 'wah' dan 'ramai-ramai'.

Kalaupun kita lemah, misalnya mengantuk saat doa, rahmat Allah akan tetap bekerja dalam kelemahan kita.

No comments:

Post a Comment