02 June 2007

Orkes Keroncong Mutiara


Musik keroncong di Sidoarjo memang ngos-ngosan, tapi belum mati. Beberapa seniman keroncong senior baru saja mendirikan Orkes Keroncong (OK) Mutiara, Sidoarjo.


Diawali langgam 'Mutiara', karya Harry Singgih, irama keroncong terdengar manis dan mendayu-dayu. Beat-nya datar saja, seakan mengajak pendengarnya untuk lebih tenang, merenung, sembari menikmati alun melodi yang indah. Jauh berbeda dengan pop-rock atau irama dangdut masa kini yang rata-rata menggelegar.

Selepas 'Mutiara', komunitas gabungan pemusik Sidoarjo dan Surabaya ini membawakan tembang-tembang lama seperti Kr Segenggam Harapan, Putri Solo, hingga langgam Jawa. Sesekali muncul lagu pop, dengan irama keroncong, macam 'Kucari Jalan Terbaik' (Pance), lagu kesenangan orang-orang berusia setengah baya ke atas.

''Cocok untuk melepas stres,'' kata Pinardi, seniman musik senior, yang mengikuti acara ini.

OK Mutiara diperkuat enam pemusik, yakni Edi Bokang (gitar), Bambang (cello), Yanto (ukulele), Yulianto (cuk), Hariyanto (bas), serta Anang Cangkring (suling, keyboard). Nurhayati, penyanyi keroncong senior yang juga guru vokal, dipercaya sebagai vokalis utama.

Di jajaran penyanyi, grup ini bersikap luwes, artinya bersedia menampung siapa saja yang ingin belajar membawakan lagu-lagu dalam irama keroncong. Sayang, orkes ini belum punya pemain violin (biola), dan basnya pakai listrik, bukan kontra bas akustik, yang sangat khas di orkes keroncong standar tempo doeloe. Sulingnya pun pakai bambu, bukan flute alias suling logam ala Barat.

Meski begitu, untuk tahap 'rintisan' sajian OK Mutiara sudah layak disebut keroncong. Ke depan grup ini berusaha memperbaiki penampilannya, apalagi ketika harus tampil secara profesional di depan khalayak ramai.

Menurut Iwan Mashud, penggagas OK Mutiara, kumpulan ini dibentuk secara spontan, bahkan tidak pernah direncanakan sebelumnya. Alkisah, sekitar tiga bulan lalu Cak Iwan, sapaan akrab arek Suroboyo ini secara tak sengaja berjumpa dengan Nurhayati.

''Dia jualan kopi, kami ngomong-ngomong biasa. Saya nggak tahu kalau dia itu bisa menyanyi keroncong atau langgam,'' kata Iwan kepada saya.

Sambil menyiapkan kopi dan mi goreng di dapur, Nurhayati menyanyi-nyanyi kecil, lagu keroncong. Iwan Mashud mengaku sangat terkejut mendengar suara Nurhayati yang sangat indah, dengan teknik vokal matang. Dari sini Iwan sadar bahwa si Nurhayati ini bukan sekadar penjual kopi atau jajan, tapi sejatinya seorang biduanita.

Dan memang Nurhayati ini penyanyi kawakan yang sering menjuarai lomba lagu keroncong di Kota Surabaya. Di Sidoarjo, Nurhayati terpaksa berjualan kopi karena sedang sepi tanggapan. Menurut Iwan, sejak Nurhayati 'ketahuan aslinya' sebagai vokalis langgam-keroncong, warung kopi di kawasan Pondok Mutiara itu kian ramai saja.

Dan, di antara sekian banyak penonton terdapat beberapa pemusik keroncong (rata-rata berusia di atas 50 tahun) yang ingin bernostalgia. Mereka main alat musik, hanya untuk memancing Nurhayati menyanyi.

''Nah, kenapa kita tidak buat sebuah grup keroncong saja? Wong pemusiknya komplet. Begitu kira-kira asal mula OK Mutiara,'' jelas Iwan, yang juga seniman itu.

Disebut OK Mutiara karena kumpulan ini bermarkas di kawasan Pondok Mutiara Sidoarjo.

Yang menarik, kendati usianya masih sangat muda, alias bayi, OK Mutiara sudah mendapat tawaran untuk mengisi beberapa tempat hiburan di Sidoarjo dan Surabaya. Namun, Iwan dan kawan-kawan masih terus melakukan negosiasi lebih lanjut.

''Kita ingin musik keroncong itu dihargai, punya tempat yang layak di masyarakat. Bermain musik keroncong itu nggak gampang kalau nggak punya feel khusus,'' kata Kris, vokalis tamu.

Bagi Iwan, tampil sebagai orkes profesional di berbagai acara dan tempat jelas penting untuk memberi 'nyawa' bagi OK Mutiara. Tapi itu bukan satu-satunya target utama mereka. Yang paling penting adalah sosialisasi musik keroncong kepada masyarakat.

Mereka ingin eksis, bermain terus, agar orang tahu bahwa keroncong itu belum mati di era globalisasi sekarang.

''Ada atau tidak ada tanggapan, teman-teman main terus,'' tegas Iwan.

5 comments:

  1. Okey,
    kami selaku Penyanyi Keroncong dan juga Bintang Keroncong, dan juga Generasi Kedua dari Tokoh keroncong (Alm.bpk.Sugiono-Pencipta lagu diantaranya Kr.Dirgahayu Indonesia-Pemain Biola-Pemimpin OK.Duta Ibukota-pengiring Pemilihan Bintang Radio) siap meningkatkan Prestasi nama Keroncong.

    silahkan kunjungi website kami di www.ika-keroncong.blogspot.com

    ReplyDelete
  2. mau dong lagunya yang segenggam harapan klo boleh... :D

    ReplyDelete
  3. Hehehe... Segenggam Harapan. Lagu ini pada 1990-an sering jadi lagu wajib/pilihan bintang radio. "Di ufuk timur... manakala sinarmu redup tertiup awam.... hari cerah tiada menjelang bagaikan punah harapan..."

    Selamat menyanyi. Saya yakin Kriptonhaz menguasai lagu ini. Salam.

    ReplyDelete
  4. Kalo boleh tau berapa untuk sewa orkes musik nya ya? Trims

    ReplyDelete
  5. terima kasih infonya......
    sangat menarik dan bermamfaat......
    mantap.

    ReplyDelete