01 June 2007

Nurhayati Bintang Keroncong Sidoarjo


Di era musik industri, yang mengagungkan budaya massa ini, musik keroncong terdesak ke pinggiran. Irama keroncong yang mendayu-dayu ini hampir punah. Namun, Nurhayati (49) tetap menekuni keroncong.


Tak ada hari tanpa keroncong.

Datang saja ke Pasar Seni Mutiara, kompleks Pondok Mutiara, Sidoarjo, dan temui Nurhayati. Anda akan disambut ramah, dan ia tak segan-segan memperdengarkan suara emasnya. Nurhayati menguasai hampir semua jenis lagu, namun semuanya diolah dalam langgam keroncong yang kental.

Keroncong asli, langgam, stambul, keroncong pop, hingga gending Jawa dikuasainya dengan baik. Kebetulan para seniman yang mangkal di pasar seni senang tembang-tembang lawas seperti Uler Kambang, Caping Gunung, Ojo Lamis, Perkutut Manggung, dan sejenisnya. Nurhayati melayani semua request ini. Gratis!

Menurut dia, sejak menekuni seni suara pada tahun 1960-an para vokalis kita dituntut menguasai segala macam tembang. Sebab, mereka harus tampil di mana-mana, menghadapi penikmat musik yang seleranya berbeda.

"Saya rasa, vokalis harus begitu. Kalau kita nggak siap bisa habis," ujar wanita kelahiran 6 Mei 1958 itu.

Proses olah vokal Nurhayati menuju ke kematangan seperti sekarang (dia selalu menang di lomba lagu keroncong, terakhir di Radio Bahtera Yudha, Surabaya) sebetulnya tidak mudah. Ketika kelas 4 SD, ia diajak ayahnya ke sebuah hajatan.

Kebetulan sang ayah pemain musik tradisi, spesialis gong. Kakak perempuannya, Ambar, seorang sinden yang bagus di masanya. Nur kecil (kurang 10 tahun) coba-coba membawakan Uler Kambang, tembang Jawa yang cukup sulit.

Eh, ternyata bisa. Sang ayah pun kaget karena kualitas suara Nur tak jauh berbeda dengan Ambar, kakak sepupu. Dari sinilah sang ayah, almarhum Sutikno, menggembleng
Nur dengan latihan keras sepekan sekali. "Saya latihan hanya tiga bulan, tapi intensif," kenang Nur.

Bertahun-tahun Nur tidak menyanyi hingga ia menikah (dengan Supangkat, kini almarhum) pada 1981. Nur banyak ditanggap mengisi acara wayang kulit, mantenan,
dan hajatan lain di Surabaya, Sidoarjo, dan sekitarnya. Pada 1990-an Nur juga diundang ke Jakarta untuk membawakan lagu-lagu keroncong serta langgam Jawa kesukaannya. Nama Nurhayati pun makin berkibar di dunia keroncong Jawa Timur.

Nurhayati rupanya ditakdirkan untuk berkeluarga dengan seniman musik. Setelah Supangkat meninggal dunia, Nur menikah dengan Pinardi, pemimpin Orkes Keroncong
Putra Timur, Joyoboyo, Surabaya. Seperti grup seni tradisi lain, kondisi orkes ini pun bagaikan kerakap di atas batu. Hidup segan mati tak mau.

Meski begitu, Nurhayati tidak kehilangan semangat, apalagi putus asa. Ia terus menekuni musik keroncong kendati pengemarnya sudah sangat langka.

"Saya sudah telanjur cinta dengan keroncong. Walaupun tidak di atas panggung, saya tetap bernyanyi untuk kebutuhan hidup sehari-hari," ujar Nurhayati yang ber-KTP Desa Kemiri, Kecamatan Sidoarjo Kota, itu.

Berkat keroncong itu pula, penggemar penyanyi Hetty Koes Endang (alasan: Hetty vokalis serba bisa, teknik vokalnya matang) selalu gembira, murah senyum, tidak
pernah susah.

Kini, ketika tanggapan untuk manggung tidak banyak, Nurhayati berusaha menyebarkan kemampuan bernyanyi keroncong dengan mengajar beberapa anak muda yang dinilai potensial. Biasanya, ia mendengarkan suara anak-anak muda ketika bersenandung atau
menyanyi-menyanyi santai. Jika ada suara-suara berbakat, Nurhayati menawarkan diri menjadi guru.

"Saya ingin generasi muda bisa menyanyi dengan benar. Vokal itu harus diolah, mulutnya dibuka lebar. Saya nggak suka penyanyi yang mulutnya tidak dibuka," ujar
Nurhayati blak-blakan.

Di ujung wawancara, Nurhayati memberikan kado istimewa berupa dua lagu keroncong: Kr Mawar Sekuntum dan Kr. Rindu Malam. Suaranya memang oke, khas juara bintang radio dan televisi pada era 1980-an.

No comments:

Post a Comment