08 June 2007

Mashuri, Novelis Juara DKJ

Mashuri [31 tahun] belum lama ini terpilih sebagai pemenang pertama lomba menulis novel sastra yang digelar Dewan Kesenian Jakarta [DKJ]. Toh, sastrawan muda ini tetap sederhana, ramah, akrab dengan siapa saja. Juga tetap doyan soto lamongan di pinggir jalan.


Mashuri menulis novel berjudul Hubbu, yang artinya cinta. Menurut dia, cinta di sini sangat luas, banyak makna. Dia beroleh inspirasi untuk menulis Hubbu setelah menyaksikan wayang kulit berjudul Lokapala.

“Tadinya saya ingin membuat puisi. Tapi setelah jalan kok enak kalau sekalian menulis novel,” ujar Mashuri kepada LOLLA RAHAYU dan SUSIANTI, mahasiswi Akademi Wartawan Surabaya, belum lama ini. Kedua gadis ini kebetulan saya bimbing saat magang di harian Radar Surabaya.

Jalan cerita Hubbu cukup menarik. Tokoh utama bernama Jarot, seorang santri, dihadapkan pada nilai-nilai kota. Dia terjerat cinta dengan seorang gadis jelita yang akhirnya meninggal. Kemudian dia mengenal Agnes dan jatuh cinta, tapi Agnes pun meninggal.

Dari situ Jarot merantau ke Ambon. Di sana dia menikah dengan Zulaeka dan beroleh anak bernama Aida. Setelah Jarot meninggal, Aida menelusuri masa lalu ayahnya. Usut punya usut, ternyata ayahnya masih berdarah biru.

"Saya menulis novel ini selama 18 bulan di sela-sela kesibukan saya sebagai wartawan dan peneliti di Balai Bahasa Surabaya,” katanya.

Pergulatan cinta dan hidup seorang santri ini, rupanya, menarik perhatian para juri lomba menulis novel DKJ. Di Taman Ismail Marzuki Jakarta, 9 Maret 2006, Mashuri dinyatakan sebagai juara pertama. Sungguh, prestasi nasional yang tak pernah dia bayangkan. “Hadiahnya uang tunai Rp 20 juta sudah saya pakai untuk resepsi pernikahan saya, Januari 2007,” ujar sulung dari lima bersaudara ini.

Jarot... eh Mashuri, sangat mengagumi sastrawan Budi Darma, Pramoedya Ananta Toer, Goenawan Mohamad, Afrizal Malna, dan Sapardi Joko Damono. Alasannya, “Karya-karya mereka bagus. Mereka juga sastrawan besar yang memberi warna pada dunia sastra Indonesia.”

Alumnus Fakultas Sastra Indonesia, Universitas Airlangga, Surabaya, 2002, ini sedang mendalami filsafat di IAIN Sunan Ampel Surabaya. Dia juga pernah aktif di Teater Gapus dan Forum Studi Sastra dan Seni Luar Pagar. “Sastra itu sangat penting bagi saya sebagai ajang untuk berekspresi dan mengungkapkan pemikiran-pemikiran saya,” kata laki-laki asal Lamongan ini.

Mashuri merupakan salah satu dari sedikit santri yang menekuni sastra secara intensif. Tak tanggung-tanggung, dia mondok dua pondok pesantren di Lamongan, yakni Pesantren Salafiyah, Wanar, dan Peantren Ta’sisut Taqwa, Galang.

Latar belakang Mashuri yang santri ini membuat novelnya, Hubbu, sangat menarik karena mengungkapkan perjanalan hidup seorang santri yang berkenalan dengan dunia lain, bahkan terlibat percintaan dengan gadis dari komunitas lain. Dia pun banyak mempertanyakan berbagai pakem atau tradisi di masyarakat santri.

Tulisan-tulisan Mashuri berupa puisi, esai, dan cerpen pernah dipublikasikan di JURNAL KEBUDAYAAN KALAM, JURNAL PUISI, AKSARA, KIDUNG, SURABAYA POST, KOMPAS, dan DUTA MASYARAKAT. Dia punya beberapa kumpulan puisi seperti REFLEKSI [Gapus, 1995], SERIBU WAJAH LILIN [Gapus, 1997], MENGUAK TANAH KERING [Gapus, 2000].

Salah satu cerpennya dimuat dalam kumpulan cerpen BLACK FOREST [Festival Seni Surabaya, 2005] dan SECANGKIR KOPI DAN SEBATANG ROKOK [Gapus, 2006]. Anak pertama dari pasangan Imam dan Masfuanah ini juga aktif menulis puisi dalam bahasa Jawa alias guritan dan dipublikasikan di JAYA BAYA, TELUNJUK, SURABAYA POST, SUKET SURABAYA NEWS, dan DAMAR JATI.

Esainya terdapat dalam buku SASTRA DAN MISTISISME JAWA [Lanskap Indonesia dan Fakultas Psikologi Unair, 2003]. Dia juga menulis buku TAFSIR MIMPI KEBERUNTUNGAN [Arkola Surabaya, 2002] dan RAMAL NASIB MANUSIA BERDASARKAN SHIO, WETON, DAN ASTROLOGI [Arkola Surabaya, 2002].

Untuk menyambung hidup, karena sastrawan di Indonesia belum bisa hidup dari karyanya, suami Haniatun Mariah ini bekerja di koran MEMORANDUM dan Balai Bahasa Surabaya. Kini, Mashuri yang tinggal di Jalan Kalikepiting, Surabaya, ini sedang mempersiapkan antologi puisi berjudul NGACENG.

Yang menarik, kemenangan Mashuri di lomba menulis novel DKJ tidak dirayakan oleh media massa Surabaya. bahkan, para seniman dan pengurus Dewan Kesenian Surabaya tidak tahu siapa gerangan Mashuri. Nomor telepon, alamat, tempat kerja... tak ada yang tahu.

Menurut Mashuri, begitulah situasi kesenian, khususnya sastra, di Jawa Timur. Menurut dia, banyak sastrawan atau penyair asal Jawa Timur justru ‘dibesarkan’ di luar Jawa Timur, khususnya Jakarta. Media-media terbitan Jakarta yang justru banyak memberi tempat untuk karya-karya sastrawan Jawa Timur. Majalah TEMPO, misalnya, menjadi media pertama yang memuat sosok Mashuri setelah memenangi penulisan novel versi DKJ.

Setelah dimuat TEMPO, barulah media-media di Surabaya dan sekitarnya kaget. Oh, ya, ada anak Lamongan menang di DKJ? Asal tahu saja, lomba ini sebelumnya melahirkan Ayu Utami dengan novel Saman yang banyak dibahas itu. Toh, Mashuri mengaku tidak merasa kecil hati.

“Nggak apa-apa, kondisinya memang begitu. Yang penting, saya tetap bisa berkarya terus,” ujarnya.

Sebab, pada akhirnya karya yang baiklah yang akan abadi di masyarakat.

No comments:

Post a Comment