12 June 2007

Mas Gendut, Teater Keliling




Duduk di kursi roda bukan alasan bagi Mas Gendut untuk berputus asa. Tahun 1980-an Mas Gendut dikenal sebagai dedengkot teater remaja di Sidoarjo dan Surabaya.


Nama sebenarnya Herry Siswandi, tapi ia lebih dikenal sebagai Gendut. Mas Gendut! Ini karena masa kecil dulu badan Herry sangat subur daripada teman-teman sebayanya. Kini, meski badannya tidak seberapa gendut, nama ini tetap melekat di dirinya.

Tanyakan pada warga Desa Kureksari, dekat jalan layang Waru, Kabupaten Sidoarjo. Hampir pasti mereka mengenal dan mengetahui alamat rumah Mas Gendut. “Di sini yang namanya Gendut itu, ya, saya sendiri," ujar Mas Gendut kepada saya di rumahnya, Jalan Kolonel Sugiono 22 Kureksari, Waru.

Tak berlebihan kalau Mas Gendut sangat dikenal oleh warga asli Kureksari. Pada tahun 1980, ketika usianya 23 tahun, Gendut membina teater remaja di Kureksari. Namanya Dian’s Group. Ini singkatan dari ‘di antara anak-anak nakal, tapi sekolah’.

Rumahnya di pinggir jalan dijadikan tempat mangkal ‘anak-anak nakal, tapi sekolah’ itu. Gendut berperan sebagai penulis naskah sekaligus pelatih grup tersebut. Gendut menerapkan latihan yang serius, tapi tetap santai.

Bosan latihan di rumah, Gendut membawa anak-anak asuhnya ke pertigaan Jalan Raya Juanda. Waktu itu di sana masih ada lapangan terbuka yang layak untuk latihan teater. Asyik sekali! “Anak-anak jadi semangat," ujar Gendut seraya tersenyum.

Tapi, seperti banyak dialami seniman lain, Gendut banyak diprotes warga sendiri. Ini karena track record anak-anak Dian’s Group itu umumnya kurang positif. Gendut sendiri menyebutnya sebagai anak-anak nakal.

"Kenapa anak-anak nakal harus dikumpulkan? Apa tidak menjadi gerombolan berbahaya?" gerutu warga.

Herry Siswandi bergeming. Dia jalan terus. Dibantu Sugeng Irianto, wartawan budaya koran Jawa Pos di Surabaya, Gendut terus menggembleng anak-anak dan remaja yang meminati teater.

Gendut kemudian membawa Dian’s Group manggung di kampung-kampung di kawasan Waru dan Surabaya. “Teater masuk desa,” ujar pria yang lahir pada malam tahun baru, 31 Desember 1957 ini.

Kerja keras Gendut dan kawan-kawan perlahan-lahan mampu mengubah image orang terhadap para remaja. Anak-anak muda pun semakin intens berlatih teater, energinya tersedot ke seni peran. Mereka akhirnya lupa berbuat onar atau melakukan kenakalan khas remaja lainnya.

Sementara itu, pergelaran teater dari kampung ke kampung semakin diminati warga. Jangan lupa, tahun 1980-an televisi hanya satu, TVRI, dan siarannya tidak 24 jam macam sekarang. Maka, masyarakat lebih mudah diajak menikmati hiburan di luar rumah seperti ludruk, ketoprak, layar tancap, wayang kulit, sandiwara keliling.

Mas Gendut ternyata menawarkan menu teater yang cukup ‘berat’ untuk ukuran orang kampung. “Teater kami lebih ke kontemporer. Yang realis malah jarang,” kenang Gendut.

Dibandingkan pentas teater sekarang, yang sepi, teater masuk desa ala Gendut sangat sukses. Setiap pergelaran selalu ramai, dan ceritanya menjadi bahan obrolan di kampung-kampung.


Kiprah Mas Gendut di dunia teater pada 1980-an juga terdengar ke luar daerah. Dian’s Group tampil di mana-mana, termasuk pusat kesenian utama Provinsi Jawa Timur: Balai Pemuda Surabaya.


Usaha Herry Siswadi alias Mas Gendut, tidak sia-sia. Program teater masuk desanya ternyata bergaung ke seluruh Jawa Timur. Apalagi, Gendut juga sering membawa anak-anak asuhnya ke luar Sidoarjo, khususnya Sarangan, untuk berlatih.

Hingga suatu ketika, seniman-seniman Surabaya mengundang Dian’s Group untuk main di Balai Pemuda. Sebuah kehormatan besar bagi remaja kampung di Kecamatan Waru karena saat itu hanya teater-teater top yang boleh main di Balai Pemuda.

Dian’s Group terus berkembang. Anak-anak yang lulus SMP/SMA keluar, berganti lagi dengan pemain baru. Kalau semula hanya anak-anak ‘nakal’ yang kurang kerjaan, kini hampir semua anak muda yang ingin menekuni seni teater.

Gendut mengaku dengan senang hati menerima mereka semua. “Karena berteater itu kan tujuannya baik. Banyak hal yang bisa dipelajari di seni teater,” ujarnya.

Sayang sekali, Dian’s Group tak berumur panjang. Pada tahun 1981, ketika belum genap dua tahun, Mas Gendut mengalami kelumpuhan total di dua kakinya. Ia tak bisa berjalan, dan harus duduk di kursi roda.

Sebagai orang yang sangat dinamis, rajin bepergian ke mana-mana, kondisi ini merupakan ujian sangat berat bagi Gendut. Anak-anak Dian’s Group sebenarnya ingin memperpanjang ‘nyawa’ teater yang dibentuk Gendut.

“Tapi sulit karena kondisi saya tidak memungkinkan. Saya sudah pakai kursi roda sehingga tidak bisa maksimal lagi.”

Bisa dipahami. Gendut bukan sekadar penggagas atau penulis naskah, tapi juga orang yang merealisasikan naskah itu dalam seni peran di atas panggung. Beberapa saudara Gendut [dia anak keempat dari sembilan bersaudara] memang suka seni, tapi lebih condong ke musik. Rupanya, talenta teater dimonopoli oleh Gendut.

Apa boleh buat, Dian’s Group yang dirintis dengan susah-payah dihantam badai besar. Oleng kemoleng dan akhirnya bubar untuk seterusnya.

Dian’s Group tak ayal merupakan cerita nostalgia, kenangan manis Gendut, tatkala energi seninya mengalir luar biasa. “Saya harus bisa menerima kenyataan bahwa semuanya berubah,” kata Gendut, masih tetap tersenyum.

Di saat duduk di kursi roda, Gendut mengaku bermain gitar, menciptakan lagu-lagu. “Saya ini orangnya sentimentil, jadi cukup mudah menciptakan lagu,” tutur Gendut, yang didampingi Niki Red, adik kandungnya.

Sedikitnya 10 lagu cinta [dalam arti luas], masalah sosial, balada... diciptakan Gendut. Beberapa lagunya sempat dinyanyikan pemusik Surabaya dan Sidoarjo di atas panggung, tapi tidak ada yang direkam. Sekarang Gendut masih bermain musik, tapi tidak sempat lagi menulis lagu.

Kenapa? Dunia Gendut sudah berubah drastis. Ketika harus mendekam di rumah terus, karena lumpuh, Gendut menekuni dunia elektronik. Dalam waktu singkat dia menguasai berbagai teknik untuk memperbaiki segala macam kerusakan barang-barang elektronik: radio, tape, televisi, setrika, dan sebagainya.

Dunia seni dianggapnya sebagai masa lalu. “Foto-foto saya juga sudah hilang kena banjir. Jadi, saya sebetulnya sudah tidak begitu ingat kegiatan-kegiatan saya di teater dulu,” kilahnya.

Darah seni anak-anak keluarga Sutrisno (RIP) dan Saromah (RIP) ini justru diteruskan oleh Niki Tulus. Adik kandung Gendut dikenal sebagai pemain bas Red Spider, band yang sangat terkenal di Jawa Timur pada 1990-an.

Red Spider malang melintang bersama band-band top macam Andromeda, Power Metal, Saltic, yang diorbitkan dalam festival rock versi Log Zhelebour.

1 comment:

  1. terima kasih ats informasinya..
    apa sekarang ada yang meneruskan konsep teater masuk desanya? terutama di jawa timur..
    http://wisatateater.blogspot.com/

    ReplyDelete