24 June 2007

Ludruk Gema Tribrata Tinggal Nama


Kendati dikelola oleh Polda Jawa Timur, Ludruk Gema Tribrata yang bermarkas di Tarik, Sidoarjo, kurang berkembang. Tanggapan memang ada, namun kalah jauh dibandingkan beberapa ludruk asal Mojokerto.

“Satu bulan paling-paling kami cuma main satu dua kali saja. Tanggapan sepi, Mas,” kata Suwarni, pemain sekaligus pengurus Ludruk Gema Tribrata, di Mergosari, Kecamatan Tarik, Sidoarjo, kepada saya.

Dibentuk sejak 1990-an, grup seni tradisional yang menggunakan logo kepolisian dan nama berbau polisi, tribarata, ini dimaksudkan untuk melestarikan seni tradisi. Polda Jatim sengaja menempatkan markas ludruk ini di Tarik karena kawasan itu banyak peminat seni tradisi.

Menurut Suwarni, para pemain pun hampir semuanya berasal dari desa-desa di Tarik. “Ada dari tempat lain seperti Tulangan, Balongbendo, Mojokerto, tapi nggak banyak. Dari 60-an orang, sebagian besar dari sini,” cerita Suwarni.

Pada awal 1990-an Ludruk Gema Tribrata berkembang pesat di kawasan Tarik dan sekitarnya, bahkan merambah ke pelosok Mojokerto. Kebetulan kawasan Tarik ini berbatasan dengan Mojokerto sehingga Gema Tribrata memang lebih banyak menggarap pasar Mojokerto ketimbang Sidoarjo. Jika ada penyuluhan bersama Polda Jatim atau Polres Sidoarjo, biasanya Gema Tribrata dipakai.

Namun, setelah krisis ekonomi merebak tahun 1997, disusul tumbangnya rezim Orde Baru 1998, Ludruk Gema Tribrata menghadapi masa sulit. Banyak grup seni tradisi yang merana karena tidak lagi mendapat ‘pembinaan’ seperti dulu.

Maka, pemain ludruk pun harus pandai-pandai mencari job sendiri. “Sekarang susah cari tanggapan,” aku Suwarni, yang merangkap pemain, pelawak, sinden, penyanyi campursari.

Kini, ketika tanggapan sepi, Suwarni dan kawan-kawan terpaksa memanfaatkan semua peluang yang tersedia di kampung-kampung. Mereka pun tampil di hajatan pernikahan, mengisi wayang kulit, hingga acara campursari. Main ludruk murni, sesuai dengan pakem, praktis sudah sulit.

“Alhamdulillah, saya sendiri masih bisa mengisi acara mantenan bersama Cak Otheng, suami saya,” ujar Suwarni sambil tersenyum.

Cak Otheng tak lain pimpinan Ludruk Gema Tribrata sekaligus sutradara, pembuat cerita, dedengkot ludruk.

Lantas, ke mana pemain-pemain lain yang jumlahnya cukup banyak itu? Macam-macam, kata Ning Suwarni. Seperti umumnya seniman tradisi, mereka bekerja sebagai petani tebu [kampung mereka dekat Pabrik Gula Watutulis], kuli bangunan, penambang pasir, dan sebagainya.

No comments:

Post a Comment