19 June 2007

Level 42 di Surabaya


Baliho promosi konser Level 42 yang dipasang di Jalan Basuki Rachmat, Malang.


Penggemar musik di Surabaya layak bersyukur karena bisa melihat langsung Level 42. Biasanya, kota terbesar kedua di Indonesia ini 'dilalui' begitu saja oleh grup besar. Surabaya sudah lama dianggap 'bukan apa-apa' untuk urusan apresiasi musik kelas dunia.

Menurut saya, Level 42 kurang begitu jazz. Cuma selama ini band yang dipimpin Mark King [bas, vokal] ini selalu dikait-kaitkan dengan jazz. Level 42 pun kerap tampil di festival-festival jazz.

Kamis, 14 Juni 2007, Level 42 tampil di Hotel Shangri-La Surabaya. Tiket paling murah Rp 150 ribu, sehingga tentu saja level penontonnnya pun khusus. Profesional, anak muda era 1980-an, pengusaha, pejabat. Bupati Sidoarjo Win Hendrarso ikut menyaksikan konser promo album Retroglide ini.

Selain Mark King, yang permainan basnya khas [pakai pukul, jadi ciri khas Level 42], band ini diperkuat Mike Lindup [kibor], Gary Husband [drum], Sean Freeman [saksofon], Nathan King [gitar].

'Saya punya kesan luar biasa dengan penonton di Surabaya. Sangat antusias,' puji Mark King dalam jumpa pers. Memang, mereka sebelumnya pernah tampil di sini. Level 42 kebetulan band yang punya banyak sekali penggemar lantaran gaya bas Mark King yang unik, ditambah ramuan musiknya yang ngebeat. Nonton Level 42, ya, harus goyang. Iramanya begitu menggoda.

Dibuka dengan Dive into the Sun, seperti biasa Mark King dkk. tidak pakai basa-basi. Lampu temaram, lima pemusik ini langsung beraksi memperlihatkan kualitas musiknya. Orang dikondisikan untuk bergayang sejak awal sampai akhir. Memang ada beberapa nomor slow, tapi beat rancak ala Level 42 mau tak mau memaksa orang untuk bergoyang.

Saya selalu tertarik menyaksikan gaya Mark King di atas panggung. Dia betul-betul larut dalam musiknya. Pukul bas, nyanyi, sekali-sekali menyapa penonton. Keringat bercucuran meski ada pendingin udara di panggung.

'Saya senang bisa main di sini. Sebab, lagu-lagu kami ternyata disukai orang,' papar Mark King yang sering kali tangannya berdarah gara-gara 'memukul' bas. [Yah, lazimnya bas itu dibetot, tapi Mark justru pakai pukul. Hasilnya pun jadi lain. Asyik sekali.]

Di usia rata-rata [mendekati] kepala lima, Level 42 tetap bikin album baru. Tetap eksis, menciptakan penggemar muda. Namun, di Surabaya [mungkin di kota lain juga], Level 42 tetap saja dianggap band lama yang datang ke sini untuk bernostalgia.

Anak-anak muda era 1980-an atau 1990-an justru ingin mendengar beberapa hit mereka macam Lessons in Love, Love Games, Guarantee, The Chinese Way....

Hary Wibisono dari HM Sampoerna selaku promotor pun menyadari kondisi ini. Maka, di Surabaya daftar lagu yang disajikan Level 42 pun disesuaikan dengan selera wong Jawa Timur. 'Kami sesuaikan karena pendengar minta lagu lama diperbanyak. Ya, kami turuti dan pihak Level 42 bisa memahami,' ujar Hary.

Maka, malam itu Level 42 tampil sebagai band ngetop era 1980-1990-an. Ada beberapa lagu dari album baru macam Dive into the Sun, Rooted, Sleep Talking. Tapi, ya itu tadi, saya dan kebanyakan penggemar Level 42 tidak kenal lagu-lagu baru tersebut.

'Saya tetap paling suka Lesson in Love. Asyik banget. Itu lagu favorit saya waktu kuliah,' ujar Anton, tinggal di Sidoarjo.

Sama. Saya pun sejak 1990-an gemar irama dan bunyi bas Level 42. Teman saya, Bambang Wijanarko, anak band jazz saat mahasiswa di Jember, bahkan tergila-gila dengan Level 42. Tiap hari dia berlatih agar bisa menirukan gaya Mark King, the king of bass. Bambang juga suka melakukan demo bas, pakai pukul, di atas panggung. Hehehe....

'Yang jelas, Level 42 ini memang luar biasa. Sejak dulu saya pun suka,' ujar Ahmad Dhani, pemimpin Dewa Band, yang dikenal sebagai penggemar Level 42. Dhani, yang pernah menyaksikan Level 42 di Surabaya, kebetulan persisi berdiri di samping saya depan panggung, mengaku terinspirasi dari Level 42.

'Kalau bisa tur kelas dunia seperti ini sering-sering diadakan di Surabaya. Tapi kalau bisa tiketnya jangan mahal-mahal, tidak usah di hotel berbintang. Kenapa sih nggak di lapangan terbuka saja? Kok eksklusif banget ya?' keluh Arif, penggemar jazz di Surabaya.

Menurut Arif, seringnya konser jazz di hotel berbintang, dengan tiket mahal, membuat jazz semakin menjauh dari masyarakat luas. Jazz dianggap sebagai musik kaum elite. Musik kelas atas, orang beruang.

'Jadinya seperti sekarang. Jazz nggak dapat dapat pasaran di Jawa Timur. Padahal, setahu saya band seperti Level 42, Incognito... ingin tampil di lapangan terbuka agar penonton bisa banyak. Lha, kalau caranya seperti sekarang, ya, sama dengan mengerangkeng musik jazz,' ujar Arif kepada saya.

Mudah-mudahan masukan dari para penggemar jazz 'kelas bawah' ini bisa dipertimbangkan oleh para promotor musik di Indonesia.

No comments:

Post a Comment