06 July 2007

Kor Gabungan Tahbisan Uskup

Kemeriahan liturgi tahbisan Uskup Surabaya Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono tak lepas dari dukungan paduan suara. Kor bagus dan penuh semangat.

Kali ini, Komisi Liturgi Keuskupan Surabaya menampilkan paduan suara gabungan dari 35 gereja di Keuskupan Surabaya.

"Ini untuk menciptakan kebersamaan di antara kita. Jangan sampai ada kesan bahwa paduan suara hanya diisi umat di Surabaya dan sekitarnya," ujar Yulius Kristanto, dirigen utama sekaligus koordinator paduan suara, kepada saya.

Selain Yulius, bekas dedengkot Paduan Suara Mahasiswa Universitas Airlangga, paduan suara tahbisan Mgr. Sutikno ini dilatih oleh F.X. Arie Soeprapto, Siprianus, Mateus, Ronny Kleden [bekas PSM Unair], Agustinus, P.Y. Kusuma, dan Wempy. Mereka diringi pemusik gabungan Elizabeth Tunggorono, Elly Mahulete, Amelinda, dan Monica Ika.

Menurut Yulius, paduan suara ini berkekuatan 500 penyanyi sopran, alto, tenor, bas. Masing-masing paroki mengirim 20 perwakilannya dengan komposisi sopran 6 orang, alto 4, tenor 4, bas 6. Adapun stasi [gereja kecil] mengirim sopran 3, alto 2, tenor 2, bas 3. Komposisi macam ini agar harmonisasi empat suara bisa dihasilkan dengan baik.

Latihan perdana pada minggu kedua Mei 2007, dibagi tiga kelompok. Pertama, di SMPK Stella Maris Jalan Indrapura, Surabaya, untuk wilayah utara. Kedua, di Graha Widya Mandala untuk paroki-paroki wilayah tengah. Ketiga, di Gereja Pagesangan [kompleks Masjid Agung] untuk paroki-paroki wilayah selatan.

Latihan bersama 500 orang digelar pada 17 Juni, 24 Juni, dan 26 Juni di kampus Unika Widya Mandala Surabaya. Yulius mengatakan, proses latihan tidak sulit karena lagu-lagu yang dipakai di sini relatif sudah dikenal di kalangan umat Katolik dan sederhana. Ada 27 lagu yang dibawakan sebagai bagian tak terpisahkan dari liturgi penahbisan Mgr. Sutikno.

Saya terkesan dengan lagu 'Cahaya Suci' [ciptaan Paul Widyawan] yang dipimpin Ronny Kleden. Komposisi ini sangat pentatonis, gaya Sunda, dengan pola syair yang menimbulan efek sengau.

"Di relung gunung-gunung
kunanti surya berseri...."


Kemudian Hallelujah [G.F. Handell] yang dibawakan dengan penuh semangat. Pak Arie, pelatih paduan suara SMAK St. Louis I Surabaya, tetap menunjukkan kualitasnya sebagai salah satu dirigen terbaik di Jawa Timur.

Kemudian Marsha Sindarto [soprano] tampil sebagai solis di 'Panis Angelicus'. Lazimnya, tenor yang jadi solis. Toh Marsha tampil bagus dengan pembawaan yang bagus. Saya lihat banyak umat menoleh, mencari tahu, siapa gerangan pemilik suara merdu itu. Manis lagi!

Jarang lho ada mahasiswa di Surabaya macam Marsha mau bersusah payah latihan seni suara klasik Barat seperti ini. Saya sempat bersalaman dan omong-omong kecil sama Marsha, sekadar memberikan selamat dan apresiasi kepadanya.

Menurut Yulius, paduan suara ini akan dipertahankan kendat misi utamanya [tahbisan Mgr. Sutikno] sudah selesai. Mungkin bikin konser atau hajatan musik untuk meningkatkan mutu paduan suara di Keuskupan Surabaya.

"Kami juga berencana bikin lomba paduan suara," ujar Yulius Kristanto, sang dirigen plus koordinator.

Romo Budi Prasetijo, Pr. memberikan profisiat kepada teman-teman paduan suara, para dirigen, dan pemusik. Namun, ketua Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Surabaya ini mengingatkan para penyanyi untuk membantu mengangkat kualitas masing-masing paduan suaranya di paroki. Jangan sampai hanya rajin berlatih dan menyanyi bagus saat tahbisan uskup thok.

"Semoga suara kalian diterima oleh Tuhan," ujar Romo Budi.

No comments:

Post a Comment