04 June 2007

Ki Entus Susmono Dalang Edan


Ki Entus Susmono, dalang asal Tegal, Jawa Tengah, berani bikin terobosan. Tak segan-segan ia keluar dari pakem, menghidupkan wayang-wayangnya agar lebih menarik. Hanya dengan begitu, kata dia, kesenian wayang kulit akan terus bertahan di tengah zaman yang berubah.

Sabtu, 28 April 2007, Ki Entus Susmono yang sudah melanglang ke berbagai negara ini memecahkan rekor Muri [Museum Rekor Indonesia] di Alun-alun Tegal. Tak tanggung-tanggung, Entus mengeluarkan seluruh wayang miliknya di hadapan tim Muri, Semarang.

Total wayangnya 1.493 buah. Jumlah yang tak sedikit, memang. Rinciannya: wayang Ramayana pesisiran 225 buah, wayang planet, wayang wali, dan tokoh terkenal 208 buah, wayang parayungan (campuran)) dua gaya Cirebon dan Solo 240.

Selain itu, wayang kulit rai wong 372 buah, wayang golek purwa rai wong 105, wayang golek cepak rai wong 130, wayang klasik gubahan 200, dan aneka gunungan dan rampogan ada 15.

Saat upacara pemecahan rekor Muri, Ki Entus bikin pergelaran khusus. Dia pakai layar atawa kelir panjang. Spektakuler. Lakonnya Makrifat Dewa Ruci. Elemen agama Islam ia kombinasikan dengan pakem pedalangan. Muatan dakwah sangat kental, sesuai dengan karakter masyarakat Tegal yang santri pesisir.

Menurut Ki Entus Susmono, seni wayang kulit tak hanya sekadar tontotan atau hiburan belaka, melainkan media efektif untuk menuntut masyarakat ke jalan yang benar. Tontonan plus tuntunan!

"Maka, saya melakukan syiar Islam, dakwah, lewat wayang," tutur Ki Entus Susmono dalam sebuah sarasehan di Sidoarjo beberapa waktu lalu.

Kreasi seniman nyentrik ini juga sekaligus menepis pendapat bahwa wayang itu identik dengan agama Hindu atau pra-Islam. Kalau mengilas sejarah, para wali penyebar Islam di Jawa, khususnya Sunan Kalijaga, pun menggunakan media wayang kulit untuk menyampaikan syiar-syiar keagamaan.

"Saya punya wayang wali untuk dakwah," tuturnya.

Peserta sarasehan, kebanyakan pengiat kesenian di Sidoarjo dan Surabaya, rata-rata mengeluhkan popularitas wayang kulit yang kian merosot. Gelar wayang sepi penonton. Banyak dalang alih profesi menjadi petani, buruh, sopir....

Menurut Ki Entus Susmono, dalam kondisi demikian para pelaku kebudayaan harus pandai-pandai membuat terobosan. Introspeksi. Kenapa kok orang tidak suka melihat wayang kulit?

"Saya sendiri membuat terobosan dengan wayang pesisiran, wayang wali, dan sebagainya. Jadi, tidak kaku dengan pakem-pakem tertentu. Lha, kalau kita fanatik dengan pakem, siapa yang mau nonton," ujar Ki Entus Susmono yang kerap tampil di Surabaya dan Sidoarjo ini.

Saya menyaksikan beberapa kali pergelaran wayang kulit Ki Entus Susmono. Gayanya pesisiran benar. Mirip orang Surabaya yang suka bicara blak-blakan. Pisuan-pisuan selalu mewarnai lakonnya. Juga lawakan yang bikin penonton tertawa-tawa.

"Saya memang ingin membuat wayang sebagai kesenian yang menghibur. Namun, unsur tuntunan jangan sampai hilang. Bagaimanapun juga wayang atau kesenian itu selalu punya misi," ujar Ki Entus Susmono.

Pertengahan Mei 2007, saya melihat di televisi Ki Entus Susmono mendalang bersama Ki Mantep Sudarsono. Ki Mantep tampil dengan gaya soloan, pakem masih kuat, Ki Entus Susmono muncul dengan gaya pinggirannya. Toh, kedua dalang ini bisa tampil serasi.

Terlepas dari kritikan untuk Ki Entus Susmono, khususnya dari seniman-seniman tua yang tak ingin keluar dari pakem, saya sangat menghargai berbagai upayanya untuk 'menghidupkan' seni wayang di Jawa. Kita beruntung punya dalang kreatif macam Ki Entus Susmono.

Plak.. pluk... plik....
Bumi gonjang-ganjing...
Langit kelap-kelip....
Woooooooooo... wooooo.....

No comments:

Post a Comment