18 June 2007

Kafe Khusus Jazz


Penggemar jazz di Surabaya beruntung ada Vista Sidewalk Cafe. Sesuai dengan namanya, kafe ini berada di pinggir Jalan Raya Pemuda, persis di halaman Hotel Garden Palace.

Kebetulan Peterjanto, general manager hotel ini, senang jazz. Peter pun ingin menghidupkan jazz di Surabaya karena beberapa tahun belakangan ini sajian jazz terbilang langka di Kota Surabaya.
'Saya ingin kafe ini konsisten di jalur jazz,' ujar Peter dalam berbagai kesempatan.

Sejak awal banyak pengamat jazz di Surabaya sanksi, apakah kafe ini bisa bertahan. Maklum, beberapa kafe jazz sebelumnya kolaps. Klub jazz pun hangat-hangat tahi ayam. Alhamdulillah, Sidewalk Cafe sudah berusia satu tahun. Sampai tulisan ini dibuat, Juni 2007, pergelaran jazz masih pula berlangsung.

Tiada hari tanpa jazz, begitu prinsip kafe ini.

Tiap malam band-band lokal [mulai mahasiswa, 30-an tahun, 40-an tahun... hingga sangat senior] mengisi sajian jazz di kafe. Pengunjung tak perlu bayar karcis. Cukup membayar makanan dan minuman yang disediakan pihak Garden Palace.

Sambil makan-minum, hm... bisa geleng-geleng kepala merespons musik jazz. Jangan khawatir, kebanyakan jazz ringan, smooth jazz, sehingga gampang dicerna masyarakat jazz di Surabaya dan Jawa Timur. Nuansa popnya lebih kental.

Penyanyi-penyanyi muda, menurut saya, bahkan lebih pop ketimbang jazz. Mereka belum sampai menemukan soul jazz, blues, swing, dan semacamnya. Pokoke nyanyi, wong senang... ya wis.

Maka, lagu-lagunya Tompi pun dianggap sebagai jazz. Tak apalah, yang penting suasana jazz tetap berasa di kafe baru ini. Jazz itu demokratis dan kaya warna, bukan? Siapa sih yang berani mendefinisikan jazz?

Selain band-band Surabaya, pengelola kafe secara teratur menanggap penyanyi-penyanyi senior jazz dari Jakarta. Tersebutlah beberapa nama: Ermy Kullit, Syaharani, Indra Lesmana, Gilang Ramadhan, Pra Budhi Dharma, Buby Chen, Tompi. Kalau ada artis luar, apalagi ngetop, biasanya kafe penuh sesak. Jangan harap dapat karcis.

'Jangankan anda, saya saja nggak dapat tiket. Banyak penggemar jazz kecewa karena nggak kebagian tiket. Wong tempatnya sempit begini,' kata Rudi Purnama, ketua C.TwoSix Jazz Club Surabaya, kepada saya.

Saat PIG Project tampil di sini beberapa waktu lalu, saya melihat sendiri begitu banyak penonton kecewa, dan kemudian pulang, gara-gara tiket habis. Ada yang memilih bertahan dengan menonton dari jalan raya. Ini menunjukkan bahwa sesungguhnya penggemar jazz di Surabaya masih ada. Mereka haus pergelaran jazz yang baik.

Setelah berjalan satu tahun, muncul banyak masukan, kritik, juga pujian. Ada yang bilang kafe ini sulit dimasuki mahasiswa, anak muda, karena belum apa-apa sudah segan. Sebab, selama ini ada image bahwa makanan, minuman, atau komoditas hotel berbintang pasti mahal. Mana mahasiswa punya uang banyak?

Mahasiswa juga senang berbusana santai, casual. 'Lha, kalau ke kafe hotel kan kita-kta harus berpakaian rapi banget,' ujar Santi, mahasiswa komunikasi di Surabaya. 'Beda dengan jazz masuk kampus, kita lebih bebas,' tambah mahasiswa lain.

Penikmat jazz yang senior, khususnya bule, diam-diam mengkritik sajian musiknya. Di kuping mereka, jazz ala Sidewalk Cafe terlalu encer. Kurang mainstream. Terlalu ngepop.

'Mana instrumen tiupnya? Orang Barat itu kurang afdal kalau jazz tidak punya instrumen tiup,' tulis Duncam Graham, wartawan asal Australia, yang tinggal di Surabaya, dalam sebuah artikelnya.

F.X. Boy, manajer Rhunos Production yang kerap menggelar konser jazz, mengaku kagum dengan pengelola Vista Sidewalk Cafe. Dia geleng-geleng kepala dengan usaha Peterjanto yang mau menyediakan kafe spesialis jazz di Surabaya. Kita tahu peminat jazz di kota pahlawan ini masih sangat sedikit.

Lebih-lebih lagi, pengelola kafe tidak mengutip tiket masuk. Harga minuman juga relatif murah. Ada pengunjung yang hanya memesan satu gelas, tetapi duduk sangat lama.

'Coba kalau kafe itu dikembalikan ke fungsi awal sebagai tempat parkir. Secara komersial mungkin akan meraih keuntungan lebih besar. Sebutan gila mungkin lebih cocok bagi orang seperti itu [Peterjanto] daripada sekadar peduli,' ujar F.X. Boy sebagaimana dikutip Kompas Jatim.

Sebagai penggemar jazz, saya berharap kafe jazz ini bertahan lama. Syukur-syukur menginspirasi pengusaha lain untuk menyelenggarakan jazz secara teratur di seluruh wilayah Surabaya. Terus terang, kehidupan jazz di Surabaya sampai sekarang belum menggembirakan.

1 comment:

  1. wah, sekarang masih ada ga ya? saya tau dari teman, ada kafe jazz bernama Jazz Centrum. yg mengelola Yason Gunawan (dia bljr jazz di Amrik), jadi satu ama sekolah musik yg dia bikin. agak baru buka, udah bbrp bulan gitu. coba ke sana, di jalan Dr. Ir. H. Soekarno

    ReplyDelete