14 June 2007

Jepang Tawarkan Cofferdam

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Purnomo Yusgiantoro menyatakan, pemerintah sedang menyiapkan solusi permanen mengatasi semburan lumpur panas PT Lapindo Brantas di Porong, Kabupaten Sidoarjo.

Penegasan itu disampaikan Purnomo sebagai anggota Dewan Pengarah Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) di kantor BPLS di Jalan Gayungsari Surabaya, Kamis (14/6/2007).

"Embrio untuk penanganan permanen itu sekarang sudah ada dan tinggal disempurnakan," katanya. Salah satu langkah strategis yang akan dilakukan adalah menyempurnakan penggunaan kanal pembuangan lumpur panas. Lumpur panas nantinya dibuang ke laut melalui Kali Porong.

Selama ini, proses pembuangan ke laut lewat Kali Porong kurang berjalan efektif dan optimal, mengingat sejumlah perangkat teknis juga mengalami kerusakan.

Seperti mesin penyedot lumpur ngadat, kanal spillway yang penuh dengan lumpur pekat, dan lainnya. "Anda tahu, harga mesin penyedot lumpur bisa mencapai Rp 3 miliar lebih," ujar sebuah sumber yang dekat dengan Lapindo Brantas.

Purnomo menyatakan, selain memyempurnakan penggunaan kanal pembuangan lumpur panas, BPLS juga diminta mempelajari secara cermat dan komprehensif tentang topografi Kabupaten Sidoarjo. Tujuannya, untuk meneruskan penggunaan kanal permanen pembuangan lumpur panas ke laut via Kali Porong.

"Ada juga alternatif lain yang sedang dikaji terus yakni cofferdam," tambahnya.

Konsep menanggulangi lumpur panas dengan teknologi cofferdam ditawarkan pakar dari Jepang. Hanya, teknologi itu harganya sangat mahal, sekitar Rp 600 miliar.

Pola teknologi hampir serupa diajukan pakar ITS Surabaya dan Universitas Brawijaya Malang. Dalam konteks ini, pemerintah dan BPLS belum menentukan pilihan.


Jumat, 11 Mei 2007

Presiden Direktur Katahira Engginering, Okumura, siang tadi memaparkan teknologi control cofferdam untuk menghentikan semburan lumpur panas di Sidoarjo. Teknologi ini akan mengantikan penghentian lumpur dengan menggunakan untaian bola beton.

Menurut Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto, lumpur yang keluar dari pusat semburan akan ditahan dengan menggunakan bendungan. Air lumpur akan dialirkan ke kali Porong dan endapannya tetap berada dalam bendungan dari pipa besi yang melingkar disekeliling pusat semburan.

“Lumpur yang keluar itu menjadi counter weight bagi lubang lumpur itu, suatu saat tekanan lumpur dari dalam dan dari luar seimbang, sehingga mengurangi semburan lumpur,” kata Djoko usai mengikuti rapat terbatas yang dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Jakarta.

Bendungan itu dibuat dengan cara menyusun pipa dari besi melingkar di pusat semburan lumpur. Diameter bendungan dari pipa besi ini diperkirakan mencapai 120
meter. Ketinggian pipa ini mencapai 40 meter.

No comments:

Post a Comment