26 June 2007

Heri Lentho Koreografer


Namanya Heri Prasetyo, tapi lebih akrab disapa Heri Lentho. Pada 4 Juni 2007 penari dan penata tari ini tampil dalam Festival Seni Surabaya [FSS] 2007. Heri Lentho membawakan tarian berjudul 'Suara Padi'.

Pagi hari, Heri Lentho berdiskusi dengan puluhan anak-anak sekolah dasar yang ingin mengapresiasi festival. Heri bicara sederhana saja. Dia ajak anak-anak untuk 'memikirkan' dari mana asalnya nasi di atas meja makan. Yah, dari beras, dari padi... yang ditanam para petani.

Artinya, padi itu sumber makanan pokok orang Indonesia. Bisakah kita hidup tanpa padi? Begitu kira-kira gagasan Heri Lentho. Anak-anak kota, yang asing dengan tanaman padi, pun mengangguk. Malamnya, Heri Lentho menari. Panggung penuh dengan gabah satu truk plus jerami kering. Dan Heri Lentho menari!

Heri Lentho bukan penari yang asing di Jawa Timur. Pada FSS 2003 dia pun membawakan karya tari berjudul 'Sunat'. Hanya saja, pada 2007 ini dia tampil sendirian. Karena itu, banyak pengamat mengkritik panitia FSS yang memaksanakan Heri Lentho tampil tunggal di event sebesar FSS. Heri Lentho dinilai belum pantas lah.

"Heri Lentho terlalu besar untuk tampil tunggal di event FSS," tulis M. Anis, ketua panitia FSS 2003-2004, di Jawa Pos edisi 24 Juni 2007.
Menurut Anis, biaya produksi untuk Heri Lentho sebesar Rp 15 juta sampai Rp 20 juta terlalu mahal. Apalagi, Heri mendapat jatah kamar hotel berbintang, padahal dia tinggal di Surabaya.

Begitulah.

Kesenian memang perlu kritik. FSS perlu kritik. Ini semua demi perbaikan mutu di masa mendatang. Dan, setahu saya, sejak dulu Heri Lentho kerap menjadi sasaran kritik di Surabaya. Sebagai penari dia dikritik. Sebagai panitia atau event organizer, dia dikritik. Sebagai pembicara dia dikritik. Sebagai pengurus dewan kesenian, ya, dikritik pula.

Namun, Heri Lentho maju terus. Tetap berkarya. Tetap eksis. Namanya bertahan di dunia kesenian Jawa Timur. Dia getol bikin konsep festival atau kesenian, diskusi dengan wartawan, seniman, maupun pejabat. Juga cari sponsor kesenian.

"Saya memang tidak pernah berhenti berkarya. Sebab, bagaimanapun juga saya ini penari. Tidak mungkin saya meninggalkan dunia tari," ujar pria asal Malang itu.

Jauh sebelum FSS, 1-15 Juni 2007, Heri Lentho sudah bicara dengan saya tentang rencana membuat tarian tentang padi. Adalah Candi Pari [pari artinya padi] di Porong, Sidoarjo, ikut mengilhaminya. Candi Pari itu sejatinya lumbung padi pada masa kerajaan-kerajaan tempo doeloe.

Bagaimana manusia Indonesia zaman dulu sadar akan pentingnya menyimpan padi agar tidak kelaparan.
"Filosofinya luar biasa Candi Pari itu," ujar Heri Lentho kepada saya. Nah, ide itu kemudian diwujudkan Heri Lentho dalam 'Suara Padi' yang sudah digelar di FSS 2007.


Selain menari, mencipta karya tari, Heri Lentho juga event organizer [EO]. Saya mulai kenal dia sejak Festival Cak Durasim di Taman Budaya Jatim, di mana Heri Lentho sebagai konseptornya. Dia kemas FCD sebagai festival yang merakyat. Promosi, sosialisasi.. gencar.

Dia datang ke media. Bawa seniman ke sekolah-sekolah. Bikin atraksi di jalan raya. Maka, FCD pun cukup dikenal di Kota Surabaya. "Saya ingin kesenian ini dinikmati masyarakat luas dari remaja hingga kaum lansia. Jangan sampai kesenian hanya dilihat seniman dan teman-temannya saja."

Setelah sukses bikin FCD, Heri Lentho tidak lagi mengelola festival tahunan itu. Pihak Taman Budaya mengambil alih. "Nggak masalah. Yang penting, saya pernah memperkenalkan FCD kepada masyarakat Surabaya. Tidak baik juga kalau saya terus-terusan di situ," katanya.

Beberapa waktu lalu, saya omong-omong dengan Heri Lentho tentang gagasan Bupati Win Hendrarso yang ingin menjadi Sidoarjo sebagai kota festival. Saya tahu Heri Lentho pernah studi banding tentang manajemen festival di Australia.

"Sah-sah saja kalau Pak Win ingin menjadikan Sidoarjo kota festival," ujar Heri Lentho.

Persoalannya, festival macam apa yang dituju Sidoarjo. Referensinya ke mana? Konsepnya apa?
“Kalau tidak dijernihkan dari sekarang, saya khawatir kota festival itu hanya sekadar jargon saja,” ujar Heri pria yang pernah dijegal sebagai ketua Dewan Kesenian Surabaya gara-gara tak punya KTP Surabaya itu.

Menurut dia, sebuah festival memerlukan perencanaan, pendanaan, dan persiapan panjang. Tidak bisa mendadak atau sekonyong-konyong seperti yang banyak dilakukan di Indonesia.

Di Australia, misalnya, festival digarap secara serius oleh sebuah dewan khusus yang diisi para profesional. Festival pun digemakan tidak saja di dalam negara, tapi juga di luar negara.

"Itu kalau kita ingin festival dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dan pelaku kesenian itu sendiri," papar Heri Lentho.

Kelemahan orang Indonesia: banyak omong, banyak gagasan, tapi isinya tidak jelas. Lho!

No comments:

Post a Comment