28 June 2007

Harapan Umat untuk Uskup Baru

Sejak ditunjuk Paus Benediktus XVI sebagai Uskup Surabaya pada 3 April 2007, umat Katolik di Keuskupan Surabaya memberikan harapan yang besar kepada Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono. Umat memang haus akan hadirnya seorang gembala mengingat sejak 13 Desember 2003 Keuskupan Surabaya mengalami 'takhta lowong' setelah Mgr. Johanes Sudiarna Hadiwikarta meninggal dunia.

Berikut harapan beberapa umat Katolik:

Riana-Suarno, pasutri [pasangan suami-istri], Koordinator Marriage Encounter [ME] Distik IV Surabaya:

Beliau bisa diajak omong apa saja, termasuk yang gak enak-enak [nyelekit]. Orangnya blak-blakan, sederhana. Kalau mendapat sesuatu, diberikan orang lain lagi. Tidak minta dilayani, spontan, tidak menggurui, dan ringan tangan.

Leony-Yohan, pasutri, ME Surabaya:

Beliau mudah berkomunikasi dan mudah didekati, humoris. Tidak membeda-bedakan orang miskin atau kaya, dekat dengan orang kecil.

Pada awalnya beliau ikut ME hanya ikut-ikutan. Tapi lama-kelamaan menjadi fasilitator kegiatan-kegiatan ME di Surabaya. Dalam sebuah weekend ME, beliau bantu membawa koper peserta lain. Dasar ringan tangan, semuanya dibantu.

Ada seorang suster mengira beliau pembantu. Setelah dijelaskan tim ME bahwa beliau pastor... lha baru tho kalau beliau Romo Tik yang sekarang jadi Uskup Surabaya. Dalam berbagai acara ME, beliau sering kali menitikkan air mata haru ketika mendengar pengalaman pahit pasutri tertentu dalam hidup berumah tangga.

Penampilan beliau yang ala kadarnya [tidak rapi] sering kali membuat pasutri ME menggojlok: 'Ayo, kita cari dana untuk menyekolahkan Romo Tik ke John Robot Klowor biar rapi dan tidak klowor-klowor lagi penampilannya. Hehehe....

Wolly Baktiono, tokoh PRSSNI Jawa Timur:

Mudah-mudahan terilihnya Romo Tik sebagai Uskup Surabaya merupakan jawaban atas doa kita. Tapi kita perlu ingat bahwa uskup juga berproses. Jadi, potensi perubahan mesti ada, menjadi baik atau sebaliknya.

Maka, umat perlu berdoa agar Mgr. Tikno benar-benar menjadi berkat bagi umat Katolik di Keuskupan Surabaya.

Saya berharap, uskup baru tidak sekadar menjadi pembicara yang efektif, namun mengembangkan kemampuan mendengarkan yang efektif pula. Jangan sampai terkooptasi oleh kelompok tertentu sehingga menciptakan suasana kaos.

Eddy Locke, Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi Keuskupan Surabaya:

Saya berharap Bapa Uskup yang baru membenahi sekretariat sebagai think tank Keuskupan Surabaya. Sekaligus pengembangan kualitas sumber daya manusia kaum muda. Selama ini Gereja kurang menangani pengembangan SDM kaum muda.

Perlu dirancang perbaikan gaji guru dan pekerja, kalau perlu sekalian dengan sistem pensiunnya. Dengan demikian, para guru di yayasan keuskupan dan pekerja gereja bisa bekerja dengan tenang.

Kanisius Karyadi, mantan Ketua Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia [PMKRI] Cabang Surabaya:

Sejak dulu saya kagum pada Romo Tik. Beliau bisa dekat dengan siapa saja, menjadi jembatan bagi semua pihak. Skill komunikasinya juga bagus.

Karena itu, saya menyusun sebuah buku khusus untuk menyambut terpilihnya beliau sebagai Uskup Surabaya yang baru. Buku saya berjudul 'Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono, Sang Maestro dari Perak Timur'.

Di dalam buku itu saya mengajak pembaca untuk mengenal lebih dekat sosok Mgr. Tikno. Bagaimana maminya ngidam, hamil, dan sejuta pengalaman dan pemikiran Mgr. Tikno. Kisahnya unik, antik, nyentrik, dan menarik.

[Hehehe... Karyadi, teman saya yang tinggal di Sedati, Sidoarjo, ini memang suka mempromosikan buku barunya dalam berbagai kesempatan. Moga-moga laku keras, cak!]

1 comment:

  1. Semoga Uskup Surabaya yang baru ini bisa memberikan kesegaran dan memberikan kehangatan ditengah-tengah umat yang sudah lama menunggu datangnga seorang Bapak. Khusus untuk misi Pendidikan, semoga Bapak Uskup memperhatikan beberapa Lembaga Sekolah yang akhir-akhir ini mengalami kemunduran. Dan segera memberikan keputusan yang tepat.

    Trima Kasih

    ReplyDelete