24 June 2007

Green Art Harryadjie B.S.



Pelukis Harryadjie B.S. kasih kursus seni hijau kepada sejumlah bule Australia di Pusat Pendidikan dan Lingkungan Hidup [PPLH] Trawas, Mojokerto. Anda dan saya diajak kembali ke alam.


“Sekali-sekali lah orang bule itu kita kasih kursus. Kenapa orang Jawa harus kalah terus sama bule? Wong bule iku podho wae ambek awak dhewe," kata Bambang Soebagjo Harryadjie, yang lebih akrab disapa Bambang Thelo.

Saya dan beberapa teman ketawa-ketawa melihat Harryadjie ‘menggarap' bule-bule itu. Mereka ikut rombongan Intreped Tours & Travel. Umumnya usia mereka di bawah 40 tahun, cantik-cantik pula.

Harryadjie, aktif di Dewan Lingkungan Sidoarjo, menjelaskan bahwa green art alias ‘seni hijau’ pada dasarnya kesenian berwawasan lingkungan hidup. Seniman memanfaatkan bahan-bahan dari alam untuk mengembangkan ekspresinya.

Bahan-bahan kimiawi seperti cat, senyawa kimia, apalagi bahan-bahan yang berbahaya bagi lingkungan, sangat diharamkan. Green art ini mirip unjuk rasa atau protes terhadap perusakan lingkungan yang luar biasa dalam tiga dasawarsa terakhir.

Nah, untuk urusan seni hijau Harryadjie memang jagonya. Bukan saja di Sidoarjo, di kawasan Jawa Timur, Harryadjie dikenal ‘gila’ memanfaatkan berbagai bahan alam. Sampah, ranting pohon, pelepah kelapa, pelepah pisang, kayu kering... dipakai untuk seni.

Kalau diajak pameran di Surabaya atau Sidoarjo, karya-karya tersebut selalu disertakan. Itu pula yang diperlihatkan Harryadjie saat memberi kursus singkat kepada para turis bule di Trawas.

Kalau tidak boleh pakai cat, lalu...? Begitu pertanyaan umum yang mengemuka dari peserta, nota bene bukan seniman.

"Gampang saja," kata Harryadjie.

Tanpa banyak bicara, Harryadjie memetik beberapa helai daun, kemudian ‘mengulek-ulek’ mirip orang bikin sambal pedas. Dicampur sedikit air, jadilah ‘cat’ warna hijau. Untuk warna-warna lain seperti merah, cokelat, hitam, ungu... semua ada rumusnya sendiri.

“Yang jelas, kalau bergelut dengan green art, jangan khawatir kekurangan bahan. Bahan-bahan ada di alam, kita tinggal memanfaatkan saja. Gratis lagi,” ujar Harryadjie, pria kelahiran Jogjakarta tahun 1943.

Dia berbahasa Inggris dengan logat Jawa kental. Para turis bule menyimak dengan penuh minat. Lalu, mencoba praktik sendiri karena bahan-bahan sudah tersedia.

Harryadjie sendiri menyediakan sejumlah pelepah kelapa kering. Menurut dia, pelepah kepala ini paling bagus untuk membentuk apa saja, sesuai dengan selera dan kreativitas seniman. Tanpa perlu diutak-atik pun Harryadjie menganggap pelepah itu sudah menjadi karya seni.

"Indah sekali, bukan?" ujar Harryadjie meminta konformasi saya.

"Bukan. Hehehe...," jawab saya, bercanda.

Nah, hanya dalam tempo sekitar 10 menit, pelepah kelapa tadi sudah menjadi topeng manusia ala Afrika. Pola dekoratif-tradisional ala suku-suku Afrika dan pedalaman Papua.

“Saya sudah belasan tahun bergelut dengan pelepah seperti itu. Melukis di atas kanvas justru sudah sangat kurang karena saya agak gila dengan green art,” tutur pria yang pernah tinggal selama 10 tahun di Jerman itu.

Selama berada di Jerman, Harryadjie diajak kru televisi Jerman untuk mengambil gambar lingkungan hidup, satwa liar, di daratan Afrika. Pengalaman ini akhirnya memengaruhi corak seni rupa Harryadjie dalam 20 tahun terakhir. Di Afrika, dia banyak belajar green art dari masyarakat setempat.

Di sela-sela kursus, ada beberapa peserta yang meminta dilukis tas dan kaus. “Dengan senang hati. Berarti kalian suka green art,” ujar si kakek berjenggot putih itu.

Maka, jadilah lukisan tokek hijau yang dibingkai ornamen ala suku-suku pedalaman. Di sudut kanan bawah Harryadjie tak lupa membubuhkan tanda tangannya.

“Lumayan, buat kenang-kenangan selama di Indonesia,” ujar seorang turis asal Australia. Tas itu, katanya, akan dipajang di rumahnya.

No comments:

Post a Comment