26 June 2007

Djaja Laksana dan Lumpur




Sejak lumpur panas menyembur di Porong, Sidoarjo, 29 Mei 2006, sudah ratusan orang menawarkan kemampuan untuk menghentikan semburan. Dukun atawa paranormal ratusan, bahkan ribuan. Kemudian pakar pertambangan, pakar geologi, pakar tanggul, pakar teknik sipil... yang jumlahnya pun ratusan.

Pertama-tama tentu pakar Amerika Serikat karena Lapindo Brantas Inc [pengelola minyak dan gas di Blok Brantas] erat kaitannya dengan USA. Lalu pakar Rusia, Tiongkok, negara-negara bekas komunis, dan tentu saja pakar anak negeri. Ahli-ahli terbaik dari ITB dan ITS sudah diajak serta, tapi hasilnya ya nol persen.

Lucunya, menjelang akhir masa kerjanya di Sidoarjo, Tim Nasional bikin teknologi 'telor naga' alias bola beton untuk mengurangi semburan. Orang Jawa Timur, wong cilik, tertawa ngakak karena metode bola beton ini dinilai terlalu awam.

"Wuedan... iku pakar opo dukun? Pakar kok cara mikirnya podo karo dukun? Hehehe...," begitu guyonan sambil ngopi di warung.

Dan betul, bola beton gagal total. Ia hanya sukses menghabiskan uang miliaran rupiah. "Yah, mending dipakai untuk bayar ganti rugi pengungsi," kata teman-teman di Sidoarjo.

Usia lumpur sudah setahun lebih. Dampaknya makin parah dan berantai. Sementara para ahli terus 'mikir', menjajal ilmu yang pernah dipelajari di kampus. Tersebutlah nama Ir. Djaja Laksana [55 tahun], pengusaha tinggal di Surabaya.

Lahir di Singaraja, Bali, Djaja menempuh pendidikan terakhir di Teknik Mesin ITS. Meski bukan dosen atau staf ahli di ITS, pengusaha ini tak pernah lupa ilmu yang pernah dipelajari di almamaternya. Bahkan, Djaja menerapkan ilmunya untuk menutup beberapa semburan kecil [liar] di Porong.

Sejak 20 September 2007 Djaja Laksana menawarkan ide ke Timnas [sekarang Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo, BPLS]. Djaja menggunakan Hukum Bernoulli yang sudah dikenal pelajar atau mahasiswa jurusan fisika. Intinya, dibuat sebuah waduk penampung air dengan ketinggian 30 meter, diameter 500 meter, tebal tanggul bawah 15 meter, tebal tanggul bagian puncak 10 meter.

"Saya sudah buat perhitungannya secara detail. Anda bisa pelajari di VCD yang sudah saya berikan," ujar Djaja Laksana kepada saya dalam sebuah percakapan telepon.

Asumi Djaja Laksana: tinggi semburan di Desa Renokenongo, Porong, saat ini 'hanya' 15 meter. Dihitung dengan rumus bernoulli, maka total head [titik di mana semburan akan konstan] mencapai 27 meter. Nah, dibuatlah dam dengan ketinggian 30 meter.

"Maka, lumpur akan stop atau balans," ujar Djaja Laksana dengan gaya meledak-ledak.

"Saya sudah bicara di sebuah forum yang diadakan di Hotel Shangri-La, Surabaya, 20 September 2007. Bahwa semburan itu bisa diatasi dengan pipa berdiameter sekitar dua meter dengan biaya Rp 100 juta. Saya tawarkan saya bayar sendiri," papar Djaja Laksana.

Singkatnya, konsep bernoulli ala Djaja Laksana tidak direspons BPLS. Baru setelah Takashi Okamora, pengusaha Jepang, diterima Presiden Susilo pada pertengahan Mei 2007, orang teringat konsep yang pernah dibahas Djaja Laksana. Sebab, konsep double cover dam versi Jepang itu prinsipnya sama dengan versi Djaja Laksana.

"Kok mirip sama metode anda, Pak?" tanya saya kepada Djaja Laksana.

"Hehehe... Kalau soal mirip tidaknya saya belum baca. Yang jelas, saya sudah lama menawarkan Hukum Bernoulli untuk mengatasi lumpur di Sidoarjo," tegas Djaja Laksana.

Djaja Laksana menambahkan, metode bernoulli ini selain menghentikan semburan lumpur, juga mampu memasukkan kembali lumpur ke bumi. "Saya membayangkan lumpur berjuta-juta ton itu bisa dikembalikan ke bumi secara bertahap sehingga amblesnya tanah di lokasi pusat semburan bisa dicegah," ujar Djaja Laksana.

Yah, namanya juga usaha, metode, konsep... biasanya bagus, logis, efektif di atas kertas. Bagaimana hasil di lapangan? Setahu saya, para pakar sudah kehabisan stok ilmu bahkan menganggap game over menghadapi semburan lumpur lapindo.

Metode bernoulli ala Djaja Laksana pun dipertanyakan karena kondisi di Porong sudah tidak karuan. Beda kalau metode ini langsung diterapkan ketika usia semburan baru tiga bulan atau enam bulan, katakanlah.

Lha, sekarang sudah berapa bulan, Cak? Namun, bagaimanapun juga konsep yang diusulkan Djaja Laksana layak diapresiasi.

No comments:

Post a Comment