11 June 2007

Dewa Budjana dkk di Java Mocha


Kolaborasi DEWA BUDJANA dengan Progresive Jazz Quartet di Java Mocha Coffee House, Deltasari, Sidoarjo, belum lama ini, sangat memikat. Penonton tak hanya menyaksikan kebolehan para musisi, tapi menikmati senda gurau sepanjang konser.

JOEL AHMAD, vokalis asal Peneleh, Surabaya, bak pelawak yang tak bosan-bosannya mengocok perut 200-an pencinta jazz. Celetukan-celetukan khas Suraboyoan meluncur mulus dari bibirnya.

"Gapleki Budjana iki. Maine wuapiik tenan," ujar Jol yang nama aslinya ARIF ZULKARNAEN. "Penonton, mohon maaf atas kelakuan anak ini," balas Dewa Budjana disambut tawa riuh penonton.

Seperti konser jazz umumnya, para pemain berlagak seolah-olah belum tahu komposisi apa yang bakal dibawakan. BINTANG INDRIANTO (bas) dibiarkan membetot basnya, disambut pukulan drum sekenanya GERRY HERB.

Lalu, meluncurlah `Nasi Goreng Siput' komposisi karya ARIEF SETIADI (saksofon). Ketiga instrumentalis ini (Arief, Bintang, dan Gerry) saling mengisi dan menggoda lewat teknik instrumen mereka masing-masing. Disusul kemudian Crazy Little Thing yang rancak dan sarat improvisasi.

Dewa Budjana, yang juga gitaris Gigi, tiba-tiba nyelong ke panggung. Basa-basi dan bercanda sebentar dengan Joel, band ini memainkan dua komposisi berturut-turut karya Budjana: ‘Yang Terindah’ dan ‘Lalulintas’.

"Yang Terindah’ itu saya ciptakan ketika membayangkan seorang wanita. Dia yang memberikan inspirasi," jelas Budjana menjawab pertanyaan seorang penonton.

Sementara `Lalulintas', lanjut Budjana, menggambarkan lalulintas Surabaya-Jakarta yang tidak karuan. Ketika itu, awal 1990-an, Budjana (yang SMP dan SMA di Surabaya) harus hijrah ke Jakarta untuk mengembangkan karier musik. Lalulintas begitu semrawut, namun justru saat itulah muncul inspirasi untuk membuat komposisi tersebut.

Direkam pada 1997 di album pertama Budjana, komposisi ini sengaja dibuat nyeleneh. Gitarnya bertempo sangat cepat, drum malah lambat, bas pun tidak serasi.

"Makanya, Gerry tadi banyak salahnya. Bintang juga begitu," ujar Budjana disambut tawa renyah hadirin.

Joel, vokalis yang banyak nganggur, didalat Arief Setiadi untuk menyanyi. Lady Valentine!

"Ternyata, si Joel ini bisa nyanyi juga. Kirain Cuma bisa ngelawak saja," ujar SOFIE dari Java Mocha, penyelenggara konser santai ini.

Saat interlude, empat pemusik bergantian tampil solo. Joel malah merokok di pinggir panggung dan bercanda dengan penonton. Tapi, ketika saatnya harus menyanyi, Joel menunjukkan kebolehannya sebagai vokalis yang cukup tangguh. Improvisasi Joel boleh juga.

Masih dalam suasana santai, Budjana dan kawan-kawan menuntaskan dua komposisi instrumental: Travel dan Chromatic. Konser ditutup dengan Nothing Gonna Change My Love, nomor jazz ringan yang dipopulerkan oleh George Benson. Penonton bernyanyi bersama Joel Ahmad dalam tempo yang santai.

"Suasananya enak sekali. Jazz itu ya, begini ini: pemain dan penonton nggak ada jarak. Ini yang jarang kita temukan di Jawa Timur akhir-akhir ini," ujar Rudy, pencinta jazz asal Surabaya.

Lody Maringka, ketua panitia, mengaku cukup puas dengan respons penonton dan kualitas Budjana dan Progressive Jazz Quartet. Melihat animo penonton, pihak Java Mocha berencana menggelar konser jazz secara teratur di sini.

No comments:

Post a Comment