05 June 2007

Detik-Surabaya dan Hak Cipta



Pekerja media di Indonesia, hampir pasti, kenal www.detik.com. Ini situs berita pertama di Indonesia. Pada 21 Mei 2007 lahir www.detiksurabaya.com di Surabaya. Bukan main!

Berita detik.com paling banter, selalu dimutakhirkan, sehingga menjadi rujukan berbagai media di Indonesia. Agenda setting detik.com pun, apa boleh buat, diikuti begitu saja.

Tak sedikit media yang mencuri berita-berita detik.com tanpa basa-basi. Mana ada pencuri yang mau mengaku kalo dorang ambil orang lain punya barang to? Maka, berita detik.com pun diaku sebagai karya reporter sendiri. Saya pernah membaca berbagai koran di banyak kota. Isinya sama. Cara mengolah berita pun 'mirip banget' dengan detik.com. Hehehe....

"Kami sih tahu, tapi diam-diam saja. Kalau kami mau keras, bisa-bisa koran-koran pada nggak terbit. Hehehe...," ujar Budi Sugiarto alias Ugluk, kepala biro detik.com di Surabaya.

Sahabat yang satu ini kerap diskusi dengan saya tentang berbagai persoalan di Jawa Timur. Kalau saya ragu dengan data di detik.com, ya, saya telepon Ugluk. Harus diakui, media online macam detik.com punya kecepatan luar biasa. Reporternya cepat merasuk ke mana-mana.

Hanya dalam hitungan detik, namanya saja detik.com, berita sudah dimutakhirkan, updating. Data yang dipunyai reporter cetak pun lekas basi gara-gara si detik. Tapi, syukur alhamdulillah, di Indonesia pengguna internet masih sedikit, koneksi pun masih lambat. Maka, berita-berita media cetak masih dicari orang.

Mana mungkin orang jalan-jalan ke pantai sambil baca detik.com, bukan? Bawa laptop, saya kira, kurang praktis juga. Entahlah, 20 tahun, 30 tahun mendatang, ketika penetrasi internet sudah luar biasa di Indonesia. Mungkin surat kabar hanya tinggal menjadi catatan sejarah.

"Masa depan informasi ada di internet, Bos. Kami mempersiapkan orang Indonesia untuk menghadapi tren informasi di masa depan, Bos," ujar Budi Sudarsono, adik kandung Budiono Darsono, bos besar detik.com di Jakarta.

Entah kenapa, si Uglu ini suka menyapa saya dengan 'Bos'. Bos gundulmu, Cak! Kita kan sama-sama kuli, Cak! Hehehehe.....



Senin, 21 Mei 2007. Uglu dan kawan-kawan punya gawe besar di Hotel Sheraton Surabaya. Dia meluncurkan portal berita www.detiksurabaya.com. Tak tanggung-tanggung Menteri Komunikasi dan Informasi Prof. Dr. Muhammad Nuh diundang ke perhelatan ini.

"Alhamdulillah, acara berlangsung lancar, mendapat liputan luas dari berbagai media di Surabaya dan sekitarnya," ujar Ugluk, yang tinggal di dekat Stadion Tambaksari itu.

Budi Sugiarto berkata, www.detiksurabaya.com ini sengaja diadakan untuk melayani warga Jawa Timur, khususnya Surabaya dan sekitarnya, yang haus akan berita-berita lokal. Mulai urusan cuaca, ekonomi, kejahatan, hiburan, budaya, politik, olahraga.... Tapi, karena detiksurabaya.com ini anak kandung detik.com, maka berita-berita Surabaya yang berbobot nasional, ya, ditayangkan pula di situs detik.com.

Kasus penembakan empat warga Desa Alastlogo, Kecamatan Lekok, Pasuruan, oleh prajurit Marinir pada 30 Mei 2007 menjadi contoh. Bobot berita ini tentu luar biasa. Maka, para reporter detiksurabaya.com harus kerja keras memasok berita ke detik.com. Begitu pula dengan tragedi bocah yang jatuh dan tewas di ITC Surabaya, 3 Juni 2007.

Ke depan, kata Uglu yang juga fotografer ulung dan bekas wartawan Surabaya Post, detiksurabaya mengembangkan berita-berita dari masyarakat. Siapa saja boleh melaporkan peristiwa kepada redaksi via email, formulir elektronik, pesan pendek [SMS], surat, telepon. Redaksi akan melakukan verifikasi, cek dan recek.... Lalu, ditayangkan di detiksurabaya.com.

Dengan begitu, siapa saja menjadi 'reporter' atau 'wartawan'. Tentu saja, tidak dibayar macam para reporter yang direkrut secara khusus oleh Ugluk dan kawan-kawan. Di Surabaya, beberapa radio swasta sudah menerapkan mekanisme ini mendapatkan informasi. Tiap hari kita bisa dengar berbagai laporan via telepon dari pendengar tentang jalan raya macet, kebakaran, pencurian, unjuk rasa, dan sebagainya.

Tapi apakah orang Surabaya mau menulis berita ke detiksurabaya.com? Saya kok ragu. Kalau soal omong, bicara di radio, diskusi lisan... wah, orang Jawa Timur ini tak ada lawan. Berebut menelepon ke Radio Suara Surabaya FM 100, misalnya, sehingga telepon radio itu kerap sesak. Tapi menulis surat pembaca atau komentar tentang topik tertentu di koran?

Wah, jarang sekali kecuali beberapa nama beken macam Labih Basar, Hardono, Rusdiono, atau kader Hisbut Tahrir yang memang suka beropini. Paling banyak kasus-kasus kehilangan dompet, SIM/STNK, sepeda motor, hingga mobil. Toh, Ugluk si bos detiksurabaya selalu optimistis.

"Kami mempersiapkan masa depan, Bosssss! Masyarakat kan makin maju, makin banyak yang mengonsumsi internet," ujar sahabat kental ini.

"Eh, Ugluk... apa kamu tahu kalau berita-berita detik.com sering dikutip berbagai radio, surat kabar, majalah... di mana-mana?" tanya saya.

"Ya, jelas tahu, Bos! Bahkan, dulu saya sudah buat catatan nama-nama media yang suka mengutip detik.com, tapi tidak mau menyebut sumbernya," ujar Ugluk.

"Terus?"

"Mau ditegur, dikasih peringatan pun percuma. Kalau kami main keras-kerasan, ya, koran-koran terancam tidak terbit. Hehehehe...," ujar Uglu dengan gaya Surabayaan. Enteng-entengan, tapi menohok.

Saya bilang informasi di internet itu, mengutip beberapa pendapat pakar, bersifat public domain. Milik khalayak. Kalau anda mempublikasikan sesuatu di internet, ya, siap-siaplah di-copy paste orang lain. Bikin blog, ya, dikutip orang setiap saat. Situs berita apalagi. Apakah anda tidak sadar dengan konsekuensi public domain ini?

"Jelas sadar, Bos!" kata Uglu. [Hehehe... 'bos' lagi.]

"Memang produk informasi di internet itu public domain. Tapi jangan lupa hak cipta alias copyright. Kalau kami keras di hak cipta, ya, bisa kena semua tuh," tambah Ugluk.

Dari omong-omong santai ini, Ugluk mengusulkan agar media-media di Indonesia jujur dan ksatria. Kalau mengutip detik.com, ya, tulis bahwa berita itu diambil dari situs berita www.detik.com. Kebijakan ini selalu dilakukan kantor berita Bernama di Malaysia yang memang kerap mengutip detik.com.

"Saya senang sekali kalau baca koran ada tulisan seperti dikutip dari www.detik.com atau tulisan sejenis. Kalau untuk online, ya, ditulis alamat URL-nya dong," ujar Budi Sugiarto alias Ugluk, kepala biro detik.com Surabaya.

Ugluk mengaku khawatir dengan mental para reporter media cetak di Indonesia yang suka 'mencuri' detik.com dan mengaku-ngaku melakukan wawancara sendiri. Kenapa?

"Reporter bisa-bisa jadi malas. Tidur-tiduran di rumah atau pacaran, lalu bohongi redakturnya kalau dia sudah bikin liputan. Eh, tahunya dia copy-paste dari detik.com. Hehehehe....," ujar teman saya ini.

Saya pun ikut tertawa. Kemudian merenung. Jangan-jangan tengara yang disampaikan Ugluk alias Ugik alias Budi ini sudah dan sedang terjadi di Indonesia.

8 comments:

  1. ah, detik.com juga sering tidak akurat. kalo detik.com tak punya wartawan di suatu daerah, mereka juga suka minta berita dari wartawan lain di daerah itu. nggak usah sok jago, deh.

    ReplyDelete
  2. He he he he...ada yang sirik......kasihan ya...setahu saya tidak hanya detikcom, tapi kantor berita asing juga tak punya reporter di daerah tapi punya beritanya. Aneh juga. Jangan jangan reporter koran di daerah banyak yang selingkuh. Maklum gaji kecil......detikcom jangan lelet dong. update beritanya yang cepet ya....pembaca setiamu meski kadang kala aku memcuri diam diam.

    ReplyDelete
  3. hehe... tau sama tau lah. kita kan gotong royong. iya apa iya???

    ReplyDelete
  4. mantap si detiksurabaya ini..selamat selamat..

    ReplyDelete
  5. detik cepat, tapi kadang gak akurat. postingnya juga kadang telat. masa, kejadian siang diposting jam 20.00. online media kok gitu sih?

    ReplyDelete
  6. biasa aja lah. orang detik gak usah sombong lah.

    ReplyDelete
  7. anda benar. saat ini detik.com menjadi acuan utama hampir semua surat kabar di indonesia.

    ReplyDelete
  8. hehehe.. uglu suka sepeda onthel ya??? moga2 detik surabaya cepat maju.

    ReplyDelete