21 June 2007

Bioskop Kelud Riwayatmu Dulu


Akhir pekan lalu saya main-main di Malang. Kota ini sejuk, bagus untuk tetirah. Kota pensiunan, kata banyak orang. Dulu, saya sekolah di SMAN I Malang alias Mitreka Satata sehingga saya tahu [cukup] banyak kota tua ini.

"Apa kabar Kelud sekarang?" saya bertanya kepada teman lama, Hadi, di Jalan Suropati.

"Hehehe.. sudah lama tutup. Bioskop itu nggak ada lagi. Hampir semua bioskop lama di Malang tutup. Kelud tutup. Mutiara, Merdeka, Ria... gak ono maneh. Pokoke bisokop-bioskop lawas wis kabur kabeh," ujar alumnus SMAN 3 Malang alias Bhawikarsu itu lalu tertawa.

Dulu, hingga pertengahan 1990-an, Bioskop Kelud sangat dikenal di Malang Raya [Kota Malang, Kabupaten Malang, Kota Batu]. Berlokasi di kampung, kawasan Jalan Kawi, Kelud dirancang sebagai bioskop misbar, gerimis bubar. Warga Malang, kelas menengah-bawah, sangat suka melihat film di sini.

Tak peduli malam minggu, tanggal merah... setiap hari Biskop Kelud dijejali penonton. Film apa saja dilahap penonton. Film India, film Indonesia, film Barat, tak peduli. Mana ada wong cilik yang suka milih-milih?

Menurut pengamatan saya, pengelola Kelud biasanya memilih film India [karena banyak tarian, wanita berbusana minim], film Indonesia 'panas' [banyak buka-bukaan], atau film laga [koboi] Barat.

"Pokoke sing ono perang, tembak-tembakan, aku doyan banget. Asyik," ujar Prapto, tukang becak di kawasan bekas Bioskop Kelud, kepada saya. "Lha, kalo pilem londo akeh omonane gak enak. Wong awak-awak ini gak ngerti bahasa Inggris."

"Kan ada terjemahannya, Pak?"

"Kesuwen, Mas. Pokoke pilem koboi kayak Rambo iku paling disenengi penonton. Wong malang biyen kan golek hiburan. Gak golek pilem sing angel-angel," ujar pria berusia 60-an tahun ini.

Saya sendiri, waktu SMA, tergolong penonton setia Kelud. Jalan kaki dari Suropati ke Kelud tidak terasa karena Malang memang dingin. Apalagi, banyak teman remaja yang juga penggemar film-film di Kelud. Sambil berjalan, kami membahas betapa serunya adegan film-film di bioskop paling murah itu.

[Harga karcis di Bioskop Kelud sama dengan satu piring nasi di warung pinggir jalan. Bandingkan dengan karcis Mutiara atau Ria yang setara dengan 5-10 piring nasi di pinggir jalan. Hehehe..]

Karena berupa panggung terbuka, beratap langit, Bioskop Kelud baru mulai main film sekitar pukul 19.00 WIB. Tiap malam, Jalan Kawi dan sekitarnya dipenuhi ribuan orang. Tukang parkir, pedagang keliling, tukang sulap, pedagang obat [yang suka ngecap], pedagang kelontong.... Persis pasar malam.

Di depan bioskop antrean cukup panjang. Siapa bilang orang Indonesia sulit antre? Di Bioskop Kelud, meski hampir semua wong cilik, budaya antrenya layak dipuji. Ini karena banyak tentara berpakaian dinas [loreng] ikut mengawasi. Asal tahu saja, semua tentara boleh menonton film apa saja secara gratis di Kelud, kapan saja dia mau.

Imbalannya, ya itu tadi, dia menjaga keamanan dan ketertiban baik di dalam maupun di luar. Maka, jarang ada kasus kejahatan di tengah ribuan manusia yang berjejal di Bioskop Kelud setiap malamnya. Penjahat-penjahat takut sama tentara, bukan?



Beda dengan di bioskop kelas atas [sinepleks Grup 21], suasana di Kelud riuh rendah macam di stadion bola. Penonton bebas mengomentari adegan film, suit-suit, menyoraki sang jagoan, tepuk tangan, 'menggurui' aktor/aktris....

Bebas tapi tidak boleh terlalu ngawur. Misalnya, penonton yang tiba-tiba berdiri lama, menghalangi pandangan orang lain, pasti diteriaki, bahkan dicaci penonton.

Bagaimana kalau hujan? Ini memang persoalan besar bagi pengusaha bioskop misbar macam Kelud [Malang] atau Gebang [Jember]. Kalau sekadar gerimis, rintik-rintik, pemutaran film jalan terus. Sebagian penonton ngacir, sebagian lagi bertahan.

Kalau hujan deras? Otomatis bubar. Sia-sia putar film karena cahaya dari proyektor di bagian belakang tidak akan menembus layar [tembok] di depan sana. Toh, orang Malang sudah sangat mahfum bahwa Bioskop Kelud tidak mungkin memutar film saat hujan deras.

Di bagian belakang ada balkon. Tempat proyektor serta kursi khusus untuk penonton 'kelas satu'. Berdasar pengalaman saya, menonton dari balkon tidak seasyik di bawah, meski hanya duduk di bangku kayu jelek. Suasana demokratis dan kerakyatan kurang terasa di atas.

Enaknya, kalau gerimis, penonton di balkon tetap aman. Suara berisik pun tidak separah di bawah.

Sabtu, 16 Juni 2007.

Saya menapaktilasi Bioskop Kelud. Gedungnya sih masih ada, tapi suasananya sudah berubah 180 derajat. Sepi. Hanya ada delapan tukang becak. Ada beberapa gerai yang menjual barang-barang bekas.


"Wah, Bioskop Kelud sudah lama tutup. Sekarang jadi kafe, Mas," kata Pak Ahmad, abang becak yang parkir di pertigaan Jalan Kawi.

Benar. Saat saya ke sana tampak reklame minuman keras khas kafe. Gedung bioskop yang pernah sangat terkenal di Malang Raya itu kini tak ada apa-apanya. Hanya jadi bangunan tua, temboknya penuh lumut. Sampah berserakan di [bekas] ruang penjualan karcis [dulu jarang dipakai istilah 'tiket'].



"Iya, Mas, sekarang jadi kafe," ujar Ikhlas, pemuda berusia 20-an tahun kepada saya.

"Tapi layarnya masih ada?"

"Mari kita lihat bareng."

Saya diajak Ikhlas ke lantai dua, ya bekas balkon. Kondisinya masih lumayan bagus, cuma kuran terawat. Bagian tengah balkon ditembok dijadikan ruangan kafe yang rutin menyajikan musik dangdut.

Saya pandangi ruangan kosong yang dulu, tiap malam, riuh rendah dengan suara penonton bioskop. Layar lebar itu kini tak lebih dari tembok kosong berlumut. Bioskop Kelud pun tinggal catatan sejarah belaka. Waktu terus bergulir dan akhirnya menggilas Kelud serta bioskop-bioskop lama di Kota Malang.

Kini, saluran televisi sangat banyak. VCD murah meriah. Orang bisa menonton sendiri-sendiri di rumah. Kalau mau lihat film, ya, cukup datang ke sinepleks di Plaza Malang, Mandala Theatre, yang menawarkan beberapa film dengan fasilitas nyaman. Budaya nonton film pun berubah drastis, tidak saja di Malang, tapi juga di seluruh Indonesia.

Kapitalisme yang merasuk dunia hiburan, termasuk bioskop, telah mengubah paradigma hiburan mutakhir. Nonton film bersama, sambil bergurau, celometan, komentar, membeli kacang rebus, menggoda cewek yang lewat... tidak ada lagi.

Sekarang nonton film ya, nonton sendiri-sendiri i dalam gedung ber-AC, tapi pengap, dengan kadar privasi luar biasa. Lu lu.. gua gua!

Jangankan budaya nonton film, budaya nonton televisi pun berubah. Kalau dulu satu keluarga nonton tivi bersama-sama, sekarang di kamar anak-anak ada televisi sendiri-sendiri. Nonton, ya, sendiri-sendiri.

Bahkan, televisi sudah masuk ke telepon seluler sehingga orang bisa menonton televisi sambil jalan-jalan. Bukan main!

Oh, Bioskop Kelud, riwayatmu dulu!

24 comments:

  1. wah, jadi inget malang 80an. suwun cak.

    ReplyDelete
  2. wuaduh aku jadi terharu, kalau ada buku sejarah khusus bioskop di malang pasti tak beli berapun harganya, asal sesuai gaji.....hayo konco-konco siapa lagi yang punya koleksi foto bioskop di malang? termasuk gedung flora tempat main ketoprak siswo budoyo? salam...hormat buat lambertus

    ReplyDelete
  3. mas....
    makasih atas infonya...
    mau sekedar tanya...
    mas punya alamat bioskop yang lama gak di malang???
    seperti contoh diatas...
    soalnya saya dapat project untuk memotret gedung bioskop yang lama di malang...


    terima kasih sebelumnya mas atas infonya....
    kalau tidak keberatan, infonya boleh di kirim ke
    email saya. cocaine_bugs@yahoo.com




    kading wijanarko

    ReplyDelete
  4. top banget dah .. thanks for sharing ...

    dwi-

    ReplyDelete
  5. Salam hormat juga buat teman-teman "Sayang Anak", Kading, dan Dwi yang sudah tulis komentar.

    Saya tidak punya data bioskop di Malang. Tapi saya yakin carinya gampang sekali karena Malang itu kota kecil dan hampir semua arek Malang ingat betul nama-nama bioskop yang pernah ada di kotanya.

    Suwun!

    ReplyDelete
  6. Bioskop Gadang Jl. Kol. Sugiono 383 Malang
    Bioskop Garuda Jl. Raya Singosari 3 Singosari
    Bioskop Irama Jl. Semeru Selatan 354 Dampit
    Bioskop Jaya Jl. Jend. Gatot Subroto 69 Malang
    Bioskop Kelud Jl. Kelud 9 Malang

    Bioskop Merdeka Jl. Basuki Rahmad 10 Malang
    Bioskop Mulia Jl. Laks. RE. Martadinata 12
    Bioskop Kayu Tangan Pertokoan Kayutangan
    Cinedex di gedung serbaguna Dinoyo
    Bioskop President (Sekarang menjadi Mitra II)
    Bioskop Mutiara Jalan trunojoyo
    Bioskop Ria (Sekarang menjadi Bank Lippo), dulu ada di Alun-Alun sebelah timur.

    MT (Malang Theater) di Jalan Ade Irma Suryani, sekarang menjadi pertokoan.
    Bioskop RATNA sekarang dipakai Malang Plasa
    Bioskop “GRAND” sekarang gedung Mitra 1
    Bioskop Manunggal blkg Polsek Lowokwaru
    Misbar Soekarno-Hatta

    (dan masih ada beberapa lagi)


    cak wawan

    ReplyDelete
  7. Tambahan daftar gedung bioskop di Malang tempo doeloe

    Bioskop Tenun, Janti (ini saudaranya Bioskop Kelud)

    Bioskop/biskop Kelud dikelola oleh Polresta Kota Malang/Brimob dan memang berada di samping perumahan Polri/Brimob

    Film India menjadi idola penonton semua lapisan terutama ibu-ibu, jika film India yg diputar yg banyak nonton bisa dipastikan kebanyakan sudah ibu-ibu, bahkan diantaranya nonton berkebaya (sewekan)...
    Trima kasih sam Hurek, sudah memuatnya... mohon ijin saya ambil fotonya untuk saya gabung dengan lagu pembukaannya biskop Kelud, nggak akan dijual kok... pasti diijinkan... jika ingin ikut menikmati (kalau sidah saya upload lho) silahkan add Kimas To Piek... Salam Kota Malang

    ReplyDelete
  8. Onok siji meneh cak iki yo dulure bioskop kelud yoiku Bioskop Celaket (sakdurunge jenenge Surya Baru)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nontok film Le Mans nang bioskop iki.

      Delete
  9. Trims mas ttg tlsnx,,saya jadi bs membayangkan lg gmn guyubx org malang saat itu.
    Ibu saya slalu crita kpd saya ttg hebohnya bioskop dulu ini dan mungkin inilah salah satu kebanggaan warga malang..sayang hal itu tidak terawat skrg,,smoga pihak yg punya kuasa berkenan merawatnya agar saksi sejarah ini bs mnjadi suatu hal yg dpt diambil hkmahnya
    kalo da tlsn ttg tmpt brsjarah d malang tlg di share y mas,SALAM MITREKA!!

    ReplyDelete
  10. suwun atas masukan konco2 ngalam. dulu suasana kota sangat guyub, tenang santai saling sapa n guyon. orang antre tiket kelud dgn santai, gak dorong2an krn pasti dapat. menikmati jagung bakar, ngopi sambil menunggu jam main kelud. nostalgia masa lalu memang indah banget.

    salam mitreka juga mas. ah jadi ingat teman2 lama di mitreka satata yg sekarang entah di mana semua. sekali lagi suwun atas tambahan informasi dari teman2.

    ReplyDelete
  11. Nice posting, saya sendiri mulai tahun 1973 sampai dengan 2000 hidup di Asrama Polisi di sebelah barat bioskop Kelud, sampe sekarang saya masih di malang. Kalo pingin mengenang masa kecil ya main aja ke Asrama Polisi tersebut. kalo dulu yang berhak tinggal disana adalah bapaknya sekarang anaknya yang juga temanku SD yang berhak tinggal karena jadi polisi.
    Salut habis two thumbs up buat postingnya kalo boleh tak copas ke FB :-)

    Wasallam

    Istiyarto arek Kelud Asli jess :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. oyi jes umak wes gak tau nang dulek blas...saiki d endi??

      Delete
  12. two thumbs up
    dari

    Istiyarto arek Kelud asli jes

    ReplyDelete
  13. Salam kenal untuk Sam Istiyarto, semoga tetap semangat! Silakan dicopas untuk mengenang masa2 indah di Ngalam jaman biyen.

    ReplyDelete
  14. saya jadi ingat iklan jamu dibintangi benyamin s sebelum pilem diputar. bener2 merakyat n khas wong cilik. kayaknya keguyuban ala wong kampung itu makin sulit ditemukan di era sekarang yg makin individualis di kota. salam nostalgia

    ReplyDelete
  15. saya siswa SMA angkatan 2010 , terkadang saya ingin hidup di era tersebut

    ReplyDelete
  16. Satu lagi Bioskop Lodalem, desa Arjowilangun, kecamatan Kalipare Malang selatan.

    ReplyDelete
  17. hehehe kelud misbar legend di malang.

    ReplyDelete
  18. aku sudah di sby...tapi masa sekolah di arema...bermukim di asrama brimob pahlawan trip...jadi kalau mau nonto di keldu kenal dengan yang jaga tiket....masuknya gratis...heheheh

    ReplyDelete
  19. Sam siapa yang tahu judul lagu pembuka di bioskop kelud.

    Nuwus. SaSaji.

    ReplyDelete
  20. Aku biyen nang DuleK Nontok film "ARI ANGGARA" sekitar taon 80'an... wess jan mesakno disikso ambek ibuk Tiri'e sampek ARI almarhum... sing nontok podo Nangis Kabbeh....
    NB: Onok Etas 02 ndek pojok sisih etan... hahahahaha

    ReplyDelete
  21. Still got the blues....Keluuuud

    ReplyDelete