05 June 2007

Bandeng Kawak Sidoarjo


Bandeng kawak juara satu se-Kabupaten Sidoarjo sebelum diarak keliling kota.

Para petambak tradisional di Kabupaten Sidoarjo selalu memelihara bandeng kawak alias bandeng raksasa. Setiap tahun bandeng kawak selalu dilombakan dalam ajang Lelang Bandeng di alun-alun.

Kalah menang dalam lelang bandeng tidak terlalu enting. Yang penting, para petambak bisa menyalurkan hobi dan kecintaannya pada bandeng, satwa unggulan Sidoarjo selain udang. Bandeng kawak memang telah menjadi budaya, tradisi, sekaligus klangenan para petambak.

"Dibilang hobi, ya, hobi, dibilang tradisi juga bisa," kata Syaiful Bachri, petambak asal Desa Sekardangan, Kecamatan Sidoarjo, kepada saya.

Tahun lalu, bandeng kawak miliknya keluar sebagai juara pertama lelang bandeng tradisional. Berusia enam tahun, bandeng kawak milik Syaiful beratnya 6,8 kilogram. Setelah dilelang bandeng raksasa ini terjual dengan harga Rp 627,87 juta.

Usia bandeng kawak, begitu juga berat saat ditimbang di Dinas Perikanan, memang sulit ditebak. Karena itu, siapa yang bakal menjadi juara pertama, kedua... selalu menjadi teka-teki tersendiri di acara lelang bandeng.

"Kadang-kadang kita sudah yakin bakal menang, eh ternyata setelah ditimbang, kalah sama bandeng milik teman-teman," jelas Syaiful Bachri.

Maka, sang juara bertahan ini tidak bisa memastikan apakah bakal menang lagi tahun depan. Ketidakpastian inilah yang membuat para petambak selalu deg-degan. Kalau juara [masuk tiga besar], jerih payah mereka selama empat hingga tujuh tahun bakal impas. Sebab, hadiah bagi bandeng jawara memang cukup menarik. Uang tunai, sepeda motor, penghargaan dari bupati, dan lain-lain.

Menurut Syaiful, petambak tradisional di Sidoarjo senantiasa membuat petak khusus untuk merawat si kawak. Petambak, apalagi sekaliber Syaiful Bachri, punya insting yang sangat kuat untuk memastikan apakah anak bandeng bakal menjadi 'kawakan' atau hanya sekadar bandeng biasa.

"Potongannya sudah lain sejak kecil. Ada ciri-ciri khusus," kata pria yang ramah ini.

Di usia yang sama, postur tubuh si calon bandeng kawak jauh lebih bongsor ketimbang teman-temannya. Petambak kemudian memindahkannya ke dalam petak khusus. Di situ, si calon bandeng kawak mendapat perlakuan khusus pula. Pakan lebih diperhatikan. Pergantian air. Ekosistemnya pun khusus.

"Tapi, pada dasarnya perawatan bandeng kawak, ya, sama dengan bandeng-bandeng biasa," tutur Syaiful Bachri.

Lalu, kenapa si bandeng bisa mengawak, membesar puluhan kali dari bandeng biasa? Jawabnya sederhana. Selain sudah punya bakat gemuk dari sononya, bandeng-bandeng itu dipelihara selama bertahun-tahun.

Di Sidoarjo, bandek kawak rata-rata berusia empat hingga tujuh tahun. Kurang dari empat tahun dianggap terlalu muda, sebaliknya di atas tujuh tahun terlalu tua. Bagaimanapun juga bandeng kawak tetaplah ikan untuk konsumsi. Di atas tujuh tahun dagingnya tak enak dimakan.

"Buat apa gemuk sekali kalau dimakan nggak enak?" ujar Syaiful. Karena itu, sulitlah kita menemukan bandeng kawak berusia 10-15 tahun di Kabupaten Sidoarjo.

Merawat bandeng kawak selama bertahun-tahun [di Sidoarjo rata-rata enam tahun] penuh suka duka, banyak tantangan. Ada-ada saja kendala di lapangan. Bisa saja, tanpa diduga-duga, si bandeng raksasa itu mati tanpa sebab yang jelas. Ini dialami Iwan Hamzah, petambak asal Buduran.

"Bandeng kawak yang saya jagokan ternyata tewas. Saya nggak tahu kenapa," cerita Iwan Hamzah.

Toh, Iwan yang juga pengurus Forum Komunikasi Masyarakat Tambak dan mantan caleg sebuah partai politik ini tidak putus asa. Iwan selalu menyiapkan petak khusus di tambaknya sebagai ajang peternakan bandeng kawak.

Yah... namanya juga tradisi.

No comments:

Post a Comment