18 June 2007

Bahaya Anak Ikut Lomba

Banyak orang tua memaksa anaknya ikut lomba. Lomba apa saja. Ratusan piala dipajang di ruang tamu. Padahal, memaksakan anak ikut lomba justru merugikan masa depan anak.

Begitulah. Muhammad Fauzil Adhim, pengamat masalah keluarga dan anak, menyoroti tren lomba-lomba untuk anak di Surabaya dan Sidoarjo. Ada lomba karaoke. Fashion. Melukis. Mewarnai. Mata pelajaran. Putra-putri wisata.

Biasanya, kalau sudah pernah ikut lomba, orang tua seperti keranjingan. Anaknya harus ikut lomba agar menang dan menang lagi. Piala bertambah! "Mereka tidak sadar kalau perkembangan intelegensia anak bisa terganggu karena ikut lomba," tegas Fauzil, yang juga penulis buku laris ini.

Di Australia, ujar Fauzil Adhim, anak-anak berusia 11 tahun ke bawah dilarang keras ikut lomba. Begitu pula di negara-negara maju lainnya. Kalaupun ada kontes, panitia tidak boleh membuat peringkat (juara) pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya.

Cukup disebutkan si Wulan unggul di aspek A, Retno hebat di unsur B, si Sari menonjol di aspek C, dan seterusnya.

Mengapa?

Anak-anak yang ikut lomba, kemudian kalah, akan mengalami apa yang disebut the lack of achievement. Merasa gagal, tak bisa berprestasi. Padahal, setiap anak memiliki potensi dan kecerdasan yang khas. Kalau trauma karena kalah ini tidak ditangani, bukan tak mungkin si anak malas belajar dan terus diantui oleh kegagalan.

Sebagai catatan, lomba-lomba di Sidoarjo dan Surabaya sejatinya kerap tidak fair karena (oknum) juri ternyata bisa dibeli oleh orang tua peserta lomba. Hasilnya, tentu saja, juara-juara yang palsu.

Menurut Fauzil Adhim, konsep kecerdasan tradisional yang diukur dengan IQ sudah lama ditinggalkan karena hanya menekankan satu aspek saja, yakni kognitif. Padahal, ada banyak sisi lain dari kecerdasan anak yang lolos dari sensor tes IQ. Anak yang IQ-nya sangat tinggi, jenius, belum tentu sukses dalam hidup.

Sebaliknya, yang IQ-nya 90 ke bawah tidak berarti kiamat.

Howard Gardner pada 1983 merilis sembilan macam kecerdasan pada anak:

1. Kecerdasan verbal-linguistik
2. Kecerdasan matematis-logis
3. Kecerdasan musikal
4. Kecerdasan visual-spasial
5. Kecerdasan fisik-kinestetik
6. Kecerdasan interpersonal
7. Kecerdasan intrapersonal
8. Kecerdasan naturalis
9. Kecerdasan eksistensial.


Tuhan mengangerahkan semua potensi dan kecerdasan ini [bisa jadi tak hanya sembilan macam] kepada semua mansia dengan porsi masing-masing. Masa anak-anak, kata Fauzil Adhim, merupakan momentum emas untuk mengembangkan semua potensi itu. Maka, sangat tidak tepat manakala orang tua terus-menerus menekankan hanya salah satu kelebihan anak.

Misalnya, karena sang anak pandai melukis lantas terus-menerus mengikuti lomba, masuk sanggar lukis, setiap saat melukis. "Ini bisa membuat anak bermasalah secara fisik," ujar Fauzil Adhim.


Kecerdasan majemuk [multiple intelligence] pada anak-anak bisa dirangsang di rumah dan di sekolah. Komunikasi orang tua dan anak-anak harus terbuka. Lingkungan rumah membuat anak merasa diterima dan dihargai.

Sekolah pun harus memberi keseimbangan pada otak kiri dan otak kanan.

3 comments:

  1. Kalau pendapat pribadi saya justru kuncinya terletak di orangtua si anak.
    Jika orangtua menanamkan bahwa lomba hanyalah selingan untuk melihat ketrampilan orang lain dan juara I bukan sebagai tujuan utama saya pikir mengikutkan anak dalam suatu lomba adalah hal yang baik - karena setelah sering berlatih contoh menggambar, ikut lomba menggambar akan baik sebagai stimulus untuk si anak supaya tekun berlatih...

    Jadi ikut lomba atau tidak kembali sangat utama peran orangtua daripada si anak...
    Mungkin orangtua-nya yang harus ikut penataran & pelatihan :-)

    ReplyDelete
  2. kk klo mau di kenlain blog saya ke google tanpa masukin no rekening mo gimana lagi caranya ya kk

    ReplyDelete
  3. Ikut lomba itu belajar manajemen hati, manajemen waktu, belajar menerima kemenangan dan kekalahan, belajar memupuk rasa percaya diri. Banyak aspek positifnya. Anak saya menang bukan karena saya nyogok juri. Anak saya kalah juga bukan karena yang menang nyogok juri. Saya yakin itu karena anak saya sering ikut lomba dan sejauh ini jurinya fair. Tidak sebagaimana yang Anda sebutkan.

    ReplyDelete