13 June 2007

Bahasa Jawa Mati di Jawa


Ada yang ironis di Jawa Timur. Sebagian besar pelajar sekarang sudah tidak bisa berbahasa Jawa dengan baik dan benar. Jangankah bahasa halus (krama), bahasa Jawa sehari-hari (ngaka) pun para pelajar itu gagap.

''Saya tidak melebih-lebihkan karena ini pengalaman saya di lapangan. Pelajar SMA itu pasti kesulitan kalau diajak berbahasa Jawa,'' kata Sukrisno, guru SMAN 2 Sidoarjo, dalam sebuah sarasehan bahasa Jawa di Surabaya.

Sukrisno, yang nota bene guru bahasa Inggris, fasih berbahasa Inggris, mengaku sangat prihatin dengan keadaan ini. Jika pengembangan bahasa Jawa tidak ada, generasi muda semakin gagap berbahasa Jawa, bukan tak mungkin bahasa Jawa akan punah jsutru di Tanah Jawa.

Pelajar SLTA di Jawa Timur [umumnya] saja sudah susah, apalagi siswa SLTP dan SD. Sukrisno memastikan, dalam 10 hingga 20 tahun ke depan bahasa Jawa semakin jarang dipakai masyarakat. Warga, yang saat ini berusia di bawah 17 tahun, dipastikan sulit mengajar anak-anaknya untuk berbahasa Jawa.

''Bagaimana bisa ngajar, wong dia sendiri nggak bisa bahasa Jawa?'' kata Sukrisno dalam nada tinggi.

Kenapa anak-anak makin gagap, bahkan tidak bisa, berbahasa Jawa?

Sukrisno menyebut, ini tak lepas dari perkembangan masyarakat, sekaligus pengaruh teknologi informasi, termasuk televisi. Sejak awal 1980-an para orang tua tidak lagi membiasakan anak-anaknya berbahasa Jawa di rumah. Sejak balita anak-anak dirangsang untuk berbahasa Indonesia. Bahasa Jawa, apalagi krama inggil, praktis tidak dibiasakan di rumah.

Karena prihatin, Sukrisno akhir-akhir ini banyak terlibat dalam acara-acara seni budaya khas Jawa. Sukrisno pun kerap tampil sebagai pemandu acara pernikahan ala Jawa. ''Saya sendiri waktu Lebaran di Solo nggak bisa apa-apa. Mirip orang bisu, karena nggak bisa bahasa Jawa halus. Bahasa Jawa saya, ya, kayak anak muda di Sidoarjo itulah,'' kata Darmaji, pelajar sebuah SMA swasta di Sidoarjo, kepada saya.

Aming Aminoedin, ketua paguyuban pengarang bahasa Jawa, mengaku tidak terkejut dengan banyaknya anak muda Sidoarjo yang tidak bisa berbahasa Jawa. Menurut Aming, gejala ini tak hanya terjadi di Sidoarjo atau Surabaya, tapi hampir di semua kota di Pulau Jawa.

Anak-anak muda di kawasan pedesaan masih lumayan, karena lingkungan masyarakatnya memungkinkan mereka untuk menguasai bahasa Jawa.

Celakanya lagi, kata Aming, pelajaran bahasa Jawa hendak dihapus [bahkan sudah dihapus] dari kurikulum sekolah dasar. Jika benar-benar dihapus, maka nasib bahasa
Jawa akan semakin merana. Terpinggirkan dari masyarakat Jawa sendiri.

Karena itu, Aming dan kawan-kawan terus berjuang agar pelajaran bahasa Jawa tidak dihapus dari sekolah.

''Kalau di rumah sudah tidak berbahasa Jawa, di sekolah pelajaran tidak ada, di masyarakat tidak berbahasa Jawa, lalu bagaimana?'' keluh Aming Aminoedin.

Di sela sarasehan beberapa pelajar SMA ngomong sendiri.

Saya kutip kata-katanya: "Ih, ngapain sih ngomong Jawa? Sorry... plis deh, itu kan kagak jamannya lagi. Ngapain sih nguruin bahasa Jawa. Emangnya kita-kita ini anak jadul... Now, I want to speak English... biar gaul, biar gak katro... gicu lho."

Tikus mati di lumbung padi. Bahasa Jawa mati di Jawa Timur.

Hehehehe... Sialan!

726 bahasa daerah terancam punah

6 comments:

  1. Artikel ini diterjemahkan dalam bahasa Inggris dan mendapat respons cukup luas dan ramai. Matur nuwun, Cak!

    Bisa baca di www.indonesiamatters.com/1298/dying-languages/

    ReplyDelete
  2. Itu yang sangat dikhawatirkan...
    Saya sendiri saja berusaha mempertahankan bahasa Jawa, jangan sampai nasib bahasa Jawa seperti bahasa Jawa di Malaysia yang kian lama kian pudar...

    ReplyDelete
  3. suwun, cak bambang, dah mampir ke warung saya. salam

    ReplyDelete
  4. 10 Bahasa Daerah Punah, 700 Lainnya Terancam
    Selasa, 04 September 2007 | 11:56 WIB

    TEMPO Interaktif, Solo:Sebanyak 10 bahasa daerah di Indonesia dinyatakan telah punah, sedang puluhan hingga ratusan bahasa daerah lainnya saat ini juga terancam punah. Temuan ini didapat dari hasil penelitian para pakar bahasa dari sejumlah perguruan tinggi.

    Menurut Kepala Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Dendy Sugono, sepuluh bahasa daerah yang telah punah itu berada di Indonesia bagian timur, yakni di Papua sebanyak sembilan bahasa dan di Maluku Utara satu bahasa.

    "Data yang kita kumpulkan dari akademisi perguruan tinggi menyebutkan ada 10 bahasa daerah yang telah punah. Lalu yang terancam punah ada 33 tersebar di Papua sebanyak 32 dan Maluku Utara satu bahasa," tandas Dendy saat berbicara pada Kongres Linguistik Nasional XII di Hotel Sahid Solo yang berlangsung dari tanggal 3-6 September.

    Sementara itu, pakar bahasa dari Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo, Prof Dr H Edi Subroto, menyatakan, dari hasil penelitian yang dilakukan Jurusan Bahasa UNS menyebutkan, bahasa daerah yang terancam punah bisa mencapai 700 bahasa. "Dari hasil penelitian kami, jumlah bahasa daerah yang rawan punah sangat banyak. Sedikitnya 700 bahasa daerah bisa punah dalam waktu sesaat jika tidak ada upaya untuk merawatnya," ungkapnya.

    Salah satu penyebab lunturnya bahasa daerah, lanjut Edi, adalah fenomena ketertarikan generasi muda mempelajari bahasa asing ketimbang bahasa daerah. Mereka juga enggan untuk menggunakan bahasa daerahnya untuk komunikasi keseharian.

    Pakar bahasa dari Universitas Indonesia (UI), Prof Dr Asim Gunarwan, memprediksikan untuk kepunahan sebuah bahasa berlangsung cukup lama, yakni sekitar 75-100 tahun atau tiga generasi. Ia juga melihat adanya potensi punahnya bahasa Jawa, bahasa Lampung dan bahasa Bali.

    Asim mengatakan ada beberapa faktor yang menjadi penyebab kepunahan bahasa daerah. Pertama, vitalisasi etnolinguistik. Ia mencontohkan bahasa Ibrani yang dulu hampir punah. Namun karena adanya vitalitas yang tinggi untuk menghidupkan kembali bahasa Ibrani, maka bahasa tersebut kini menjadi bahasa nasional.

    Kedua, kata Asim, adalah faktor biaya dan keuntungan. Selama ini kecenderungan orang belajar bahasa adalah karena faktor berapa biaya yang dikeluarkan dan seberapa besar keuntungan yang diperoleh kelak.

    Ia menyebut, orang rela belajar bahasa Inggris dengan biaya mahal karena ada keuntungan yang diperoleh kelak. Maka perlu adanya upaya pembalikan pergeseran bahasa. Langkahnya tak cukup dengan pengajaran bahasa yang selama ini dilakukan di instansi-instansi pendidikan. Caranya dengan menumbuhkan kesadaran dan menjadikan bahasa tersebut sebagai alat komunikasi keseharian.

    Anas Syahirul

    ReplyDelete
  5. All about REOG PO(r)NO ROGO…..eehhhh PONOROGO!!!!!

    I just want to say “Thanks or Malaysian brothers there…that JAVANESE CULTURE still lives in Negeri Melayu…

    Matur nuwun poro sederek Melayu…poro leluhur Jowo sing iseh urip lan wis kundur dumateng ALLAH bileh kesenian jowo taksih wilujeng ing tanah Mojopahit kang sampun wucal dados MALAYSIA.

    Thanks for my grandpa and grandma…who still alive and back to ALLAH’s hand…..that Javanese Culture is still alive in Majapahit Land as known Malaysia….

    Terima kasih para leluhur Jawa yang masih hidup dan sudah kembali ke Rahmatullah…karya seni Bapak-Ibu masih terpelihara di tanah Majapahit yang sekarang kita kenal sebagai Malaysia…

    Masak hanya gara-gara tarian Reog kita ribut!!!???? malu aku…isen isiiiin aku….

    Pertama kali waktu awak menginjak tanah Melayu ini awak sebenarnya bangga dan merindiiiinng waktu disugihi tarian Jawa..”kuda lumping” kok ya masih ada di Malaysia ini….(awak datang waktu itu sebagai duta mahasiswa hukum dari Indonesia “Association of Law Students for Asean Countries”, padahal tarian itu sulit saya temukan di luar wilayah Jawa Tengah dan Jawa Barat.

    Lalu Kapan ada “The Real van JowoScript”???? bukannya JavaScript…
    padahal kalau mau kita pelajari JavaScript itu khan mengambil filsafat budaya Jawa murni ….ONE WRITE FOR ALL!!!! tanya si pembuatnya, kenapa dia pakai nama JAVA….

    Lha wong Google wae wis nganggo “boso jowo” lho…..kok ora podho ribut…

    ReplyDelete
  6. aku yo sedih lek boso jowo alus dipinggirne..aku anak kelahiran malysia tp sek untung2 nge diwarai boso ngoko..tapi boso ku maleh cmpur boso melayu.. neng ngomah aku yo ngomong jowo tapi ra tau ngomong boso jowo alus.. yen aku ngrungokne enek wong ngomong jowo alus,atiku seneng banget.. poko’e aku duwe semangat arep blajar boso jowo alus…^_^

    ReplyDelete