29 June 2007

Agenda: Tahbisan Uskup Surabaya

Uskup Surabaya yang baru, Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono, Pr. akan ditahbiskan di Stadion Jala Krida Mandala, Akademi Angkatan Laut, Bumimoro, Surabaya, Jumat Pahing, 29 Juni 2007. Mgr. Sutikno menggantikan Mgr. Johanes Sudiarna Hadiwikarta, Pr. yang wafat pada 13 Desember 2003.

Oleh Lambertus L. Hurek



Bagaimana skenario dan persiapan tahbisan pemimpin sekitar 200 ribu umat Katolik di Keuskupan Surabaya itu? Bagaimana pula visi Uskup Surabaya yang baru? Ut Vitam Abundantius Habeant.

Romo Y. Eko Budi Susilo, Pr., ketua panitia, berkata persiapan sudah hampir selesai. Namun, panitia inti tetap melakukan berbagai pertemuan untuk mematangkan program kerja. Maklum, tahbisan uskup merupakan hajatan paling besar di Keuskupan Surabaya sejak 1994.

"Saya tiap hari koordinasi dengan koordinator masing-masing seksi,” ujar pastor yang bertugas di Paroki Aloysius Gonzaga, Jalan Satelit I Surabaya, ini.

Panitia inti ada 70 orang, belum termasuk seksi-seksi dari semua paroki di Keuskupan Surabaya. Ketua I Kolonel Laut A.V. Sri Suhardiningsih membidangi pengamanan, resepsi dengan pejabat, perlengkapan. Ketua II Kolonel Laut [Pur] A.M. Sudaryadi membidangi kesehatan, akomodasi, konsumsi, publikasi, dokumentasi, transportasi. Ketua III Romo Dicky Rukmanto, Pr. membidangi liturgi atau misa pontifikal tahbisan.

Biaya tahbisan diperkirakan mencapai Rp 500 juta. Itu pun sudah banyak ditekan karena beberapa pos penting, misalnya akomodasi tamu istimewa [VIP], gratis. Umat Katolik yang punya hotel, apartemen, vila... ikhlas menyumbang asetnya untuk hajatan ini. Andai semuanya pakai bayar, wah, biaya tahbisan Mgr. Sutikno akan membengkak luar biasa.

Liturgi atau misa pontifikal tahbisan dimulai pukul 15.00 WIB. Misa yang diperkirakan bakal dihadiri 10 ribu jemaat [sengaja dibatasi karena kapasitas tidak memungkinkan untuk menampung semua umat] dipimpin oleh Julius Kardinal Darmaatmadja, S.J.

Uskup Agung Jakarta Julius Kardinal Darmaatmadja, S.J. sekaligus bertindak sebagai uskup penahbis. Kardinal Darmaatmadja didampingi oleh Mgr. Ignatius Suharya, Pr. [Uskup Agung Semarang] dan Mgr. Herman Joseph Sahadat Pandoyoputro, O.Carm. [Uskup Malang].

Para uskup di Jawa-Bali ditambah uskup lain dari seluruh Indonesia menyatakan hadir di acara tahbisan akbar ini. Juga Duta Besar Vatikan untuk Indonesia [Pronuntio] Mgr. Leopold Girelli. “Romo Dicky Rukmanto bertugas mengatur jalannya upacara ini. siapa bertugas apa. Di mana. Putra altar, pembagi komuni, tata tertib... semua harus sudah jelas,” tutur Romo Eko Budi Susilo dalam sebuah rapat koordinasi panitia pekan lalu.


Paduan suara berkekuatan 500 penyanyi dipimpin Yulius Kristanto. Dirigen utama Gereja Katedral Surabaya serta pembina Kelompok Pelayanan Musik Gerejawi ini dikenal sebagai salah satu pelatih dan dirigen paduan suara terbaik di Jawa Timur. Pada 1980-an, Yulius merupakan dedengkot Paduan Suara Mahasiswa [PSM] Universitas Airlangga, Surabaya.


Diperkirakan, pukul 17.30 wib misa agung tahbisan Mgr. Sutikno sebagai Uskup Surabaya sudah selesai. Selanjutnya, Mgr. Sutikno bersama para uskup dan pejabat Keuskupan Surabaya bertemu dengan para pejabat tinggi Provinsi Jawa Timur. Mulai dari Gubernur Jatim, Gubernur AAL, Panglima Armada Timur, Pangdam Brawijaya, Kapolda Jawa Timur, Wali Kota Surabaya... di Gedung Moeljadi.

"Saya usul supaya tidak bertele-tele. Cukup sambutan Romo Administrator [Romo Julius Haryanto, C.M.], kemudian Mgr. Sutikno, Gubernur Imam Utomo... terus makan,” ujar Romo Eko yang gemar ketoprak dan ludruk itu. Pukul 21.00 WIB acara di Kodikal Bumimoro diharapkan sudah selesai.

Sebelum tahbisan uskup, tepatnya 27-29 Juni 2007 para uskup Regio Jawa menggelar pertemuan tahunan di Surabaya. Jadwal semula, pertemuan berlangsung di Tanjungkarang, Lampung. Namun, berkaitan dengan rencana tahbisan Uskup Surabaya, para uskup memutuskan untuk memindahkan pertemuan tahunan ini di Kota Surabaya. Sebab, semua uskup di Pulau Jawa dan Sumatera [bagian selatan] menyatakan hadir dalam tahbisan Mgr. Sutikno.

Mereka ikut simpati dengan umat Katolik di Keuskupan Surabaya yang mengalami takhta lowong sejak 13 Desember 2003. Tiga tahun tanpa seorang uskup sebagai magisterium ex chatedra bukanlah masa yang pendek.

Dengan berbagai pertimbangan, kata Romo Eko, pertemuan para uskup ini digelar di Citra Raya, Surabaya. Tempat ini dinilai lebih tenang, hening, terjamin dari gangguan manusia. Sebelumnya, ada umat pemilik hotel dan apartemen mengusulkan di dalam kota. Semua biaya akomodasi, transportasi, dan sebagainya gratis. “Tapi kami akhirnya memilih Citra Raya,” jelas Romo Eko. Panitia pertemuan para uskup Regio Jawa diserahkan pada Keuskupan Malang.

Jumat, 29 Juni 2007, siang, pertemuan para uskup Regio Jawa selesai. Mereka akan bergabung dengan para uskup dari kawasan lain untuk bersama-sama ke Kompleks AAL di Bumimoro untuk menghadiri misa pontifikal tahbisan Mgr. Sutikno.

Apa visi Mgr. Sutikno? Moto? Lambang keuskupan yang baru? Kenapa memilih Tugu Pahlawan?

Kalau mendiang Mgr. Hadiwikarta memilih moto Pastor Bonus atau Gembala yang Baik, Mgr. Sutikno memilih Ut Vitam Abundantius Habeant. Dipetik dari Injil Yohanes 10:10 bermakna ‘semoga kamu mempunyai hidup yang berlimpah’. Menurut Mgr. Sutikno, hidup sejati adalah hidup di dunia dan hidup ilahi. Kita yang hidup di dunia pun sedang melakoni hidup ilahi itu.

Syahdan, tiga hari setelah ditunjuk Paus Benediktus XVI sebagai Uskup Surabaya, Romo Sutikno pergi ke Our Lady of Manaoag, tempat ziarah sekitar 200 kilometer dari Manila, Filipina. Dia berdoa agar Tuhan kasih visi untuk tugasnya yang baru sebagai Uskup Surabaya. visi itu, seperti lazimnya, dituangkan dalam moto keuskupan yang singkat, padat, berisi. Beliau mengaku mendapat ilham beberapa ayat Alkitab, tapi masih ragu-ragu mana yang dipilih.

Nah, saat berjalan keluar gereja, beliau terjatuh di lantai keramik yang jumlahnya 10. Lalu didapati petikan Yohanes 10:10. Ayat ini lengkapnya demikian: "Aku datang supaya mereka mempunyai hidup dan mempunyainya dalam segala kelimpahan”. Ut Vitam Abundantius Habeant menjadi inspirasi bagi Mgr. Sutikno dalam mengemudikan bahtera Keuskupan Surabaya.

Yang menarik, di logo Uskup Surabaya, Mgr. Sutikno sengaja memasang Tugu Pahlawan di kuadran kanan bawah. Ini tak lepas dari latar belakang Mgr. Sutikno yang asli Surabaya, lahir 26 September 1953 di kawasan Pelabuhan Tanjung Perak. Tugu Pahlawan [Surabaya memang disebut Kota Pahlawan], kata Mgr. Sutikno melambangkan karakter arek-arek Surabaya yang berani berkorban, mengabdi, dan melayani tanpa pamrih.

Watak ini mengingatkan seorang “gembala yang baik yang rela mempertaruhkan nyawa bagi domba-domba-Nya”.

Kanisius Karyadi, bekas aktivis mahasiswa dan penulis buku Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono, Sang Maestro dari Perak Timur baru-baru ini mewawancarai Mgr. Sutikno. Salah satu tema yang menarik adalah keluarga. Mgr. Sutikno sangat menekankan pentingnya memperkuat keluarga sebagai benteng rohani dan moralitas. Sebab, dunia saat ini dipenuhi hedonisme, konsumerisme, sensualisme, materialisme. Banyak masyarakat jatuh ke liang kehancuran karena tiang keluarganya hancur.

“Kalau keluarga hancur, bagaimana nasib anak-anaknya,” tanya Mgr. Sutikno.

Menurut Karyadi, uskup yang juga pembimbing Marriage Encounter itu pendukung paham keluarga konvensional. Ibu sebaiknya di rumah, ayah bekerja di luar rumah. Dengan begitu, ibu berkonsentrasi pada pendidikan serta perkembangan fisik dan psikis anaknya. Apalagi, usia anak-anak di bawah lima tahun sangat rawan. Sang ibu harus kasih kasih sayang 100 persen kepada anaknya, demi masa depannya kelak.

Mgr. Sutikno berpendapat, air susu ibu alias ASI daripada susu-susu kaleng atau susu formula apa pun yang beredar di pasaran. Sosok ibu itulah yang telah mengantar Sutikno kecil alias Oei Tik Hauw sebagai Uskup Surabaya. [*]


Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono, Pr.

Beliau lahir pada 26 September 1953 di Surabaya.

Setelah menyelesaikan sekolah dasar dan menengah, masuk ke Seminari Menengah Santo Vincensius a Paolo di Garum, Blitar, dan lalu melanjutkan ke Seminari Tinggi Santo Paulus, Kentungan, di Jogjakarta untuk belajar filsafat dan teologi.

Beliau ditahbiskan menjadi imam untuk Keuskupan Surabaya pada tanggal 21 Januari 1982 di Katedral Surabaya. Setelah pentahbisan, beliau telah melaksanakan penugasan sebagai berikut:

1982 - 1983: menjadi pastor bantu di Paroki St. Yosef, Kediri,
1983 - 1988: menjadi pembina dan ekonom pada Seminari St. Vincentius A
Paolo, Garum, Blitar,
1988 - 1991: studi untuk Master dalam bidang psikologi di Universitas De
La Salle, Filipina,
1991 - 2000: Rektor Seminari Tinggi Inter-diosesan di Malang,
2000 - 2004: studi untuk Doktorat dalam bidang psikologi di Universitas De
La salle, Filipina,
sejak 2004 : menjadi pastor bantu di Katedral Surabaya.

No comments:

Post a Comment