29 June 2007

Agenda: Tahbisan Uskup Surabaya

Uskup Surabaya yang baru, Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono, Pr. akan ditahbiskan di Stadion Jala Krida Mandala, Akademi Angkatan Laut, Bumimoro, Surabaya, Jumat Pahing, 29 Juni 2007. Mgr. Sutikno menggantikan Mgr. Johanes Sudiarna Hadiwikarta, Pr. yang wafat pada 13 Desember 2003.

Oleh Lambertus L. Hurek



Bagaimana skenario dan persiapan tahbisan pemimpin sekitar 200 ribu umat Katolik di Keuskupan Surabaya itu? Bagaimana pula visi Uskup Surabaya yang baru? Ut Vitam Abundantius Habeant.

Romo Y. Eko Budi Susilo, Pr., ketua panitia, berkata persiapan sudah hampir selesai. Namun, panitia inti tetap melakukan berbagai pertemuan untuk mematangkan program kerja. Maklum, tahbisan uskup merupakan hajatan paling besar di Keuskupan Surabaya sejak 1994.

"Saya tiap hari koordinasi dengan koordinator masing-masing seksi,” ujar pastor yang bertugas di Paroki Aloysius Gonzaga, Jalan Satelit I Surabaya, ini.

Panitia inti ada 70 orang, belum termasuk seksi-seksi dari semua paroki di Keuskupan Surabaya. Ketua I Kolonel Laut A.V. Sri Suhardiningsih membidangi pengamanan, resepsi dengan pejabat, perlengkapan. Ketua II Kolonel Laut [Pur] A.M. Sudaryadi membidangi kesehatan, akomodasi, konsumsi, publikasi, dokumentasi, transportasi. Ketua III Romo Dicky Rukmanto, Pr. membidangi liturgi atau misa pontifikal tahbisan.

Biaya tahbisan diperkirakan mencapai Rp 500 juta. Itu pun sudah banyak ditekan karena beberapa pos penting, misalnya akomodasi tamu istimewa [VIP], gratis. Umat Katolik yang punya hotel, apartemen, vila... ikhlas menyumbang asetnya untuk hajatan ini. Andai semuanya pakai bayar, wah, biaya tahbisan Mgr. Sutikno akan membengkak luar biasa.

Liturgi atau misa pontifikal tahbisan dimulai pukul 15.00 WIB. Misa yang diperkirakan bakal dihadiri 10 ribu jemaat [sengaja dibatasi karena kapasitas tidak memungkinkan untuk menampung semua umat] dipimpin oleh Julius Kardinal Darmaatmadja, S.J.

Uskup Agung Jakarta Julius Kardinal Darmaatmadja, S.J. sekaligus bertindak sebagai uskup penahbis. Kardinal Darmaatmadja didampingi oleh Mgr. Ignatius Suharya, Pr. [Uskup Agung Semarang] dan Mgr. Herman Joseph Sahadat Pandoyoputro, O.Carm. [Uskup Malang].

Para uskup di Jawa-Bali ditambah uskup lain dari seluruh Indonesia menyatakan hadir di acara tahbisan akbar ini. Juga Duta Besar Vatikan untuk Indonesia [Pronuntio] Mgr. Leopold Girelli. “Romo Dicky Rukmanto bertugas mengatur jalannya upacara ini. siapa bertugas apa. Di mana. Putra altar, pembagi komuni, tata tertib... semua harus sudah jelas,” tutur Romo Eko Budi Susilo dalam sebuah rapat koordinasi panitia pekan lalu.


Paduan suara berkekuatan 500 penyanyi dipimpin Yulius Kristanto. Dirigen utama Gereja Katedral Surabaya serta pembina Kelompok Pelayanan Musik Gerejawi ini dikenal sebagai salah satu pelatih dan dirigen paduan suara terbaik di Jawa Timur. Pada 1980-an, Yulius merupakan dedengkot Paduan Suara Mahasiswa [PSM] Universitas Airlangga, Surabaya.


Diperkirakan, pukul 17.30 wib misa agung tahbisan Mgr. Sutikno sebagai Uskup Surabaya sudah selesai. Selanjutnya, Mgr. Sutikno bersama para uskup dan pejabat Keuskupan Surabaya bertemu dengan para pejabat tinggi Provinsi Jawa Timur. Mulai dari Gubernur Jatim, Gubernur AAL, Panglima Armada Timur, Pangdam Brawijaya, Kapolda Jawa Timur, Wali Kota Surabaya... di Gedung Moeljadi.

"Saya usul supaya tidak bertele-tele. Cukup sambutan Romo Administrator [Romo Julius Haryanto, C.M.], kemudian Mgr. Sutikno, Gubernur Imam Utomo... terus makan,” ujar Romo Eko yang gemar ketoprak dan ludruk itu. Pukul 21.00 WIB acara di Kodikal Bumimoro diharapkan sudah selesai.

Sebelum tahbisan uskup, tepatnya 27-29 Juni 2007 para uskup Regio Jawa menggelar pertemuan tahunan di Surabaya. Jadwal semula, pertemuan berlangsung di Tanjungkarang, Lampung. Namun, berkaitan dengan rencana tahbisan Uskup Surabaya, para uskup memutuskan untuk memindahkan pertemuan tahunan ini di Kota Surabaya. Sebab, semua uskup di Pulau Jawa dan Sumatera [bagian selatan] menyatakan hadir dalam tahbisan Mgr. Sutikno.

Mereka ikut simpati dengan umat Katolik di Keuskupan Surabaya yang mengalami takhta lowong sejak 13 Desember 2003. Tiga tahun tanpa seorang uskup sebagai magisterium ex chatedra bukanlah masa yang pendek.

Dengan berbagai pertimbangan, kata Romo Eko, pertemuan para uskup ini digelar di Citra Raya, Surabaya. Tempat ini dinilai lebih tenang, hening, terjamin dari gangguan manusia. Sebelumnya, ada umat pemilik hotel dan apartemen mengusulkan di dalam kota. Semua biaya akomodasi, transportasi, dan sebagainya gratis. “Tapi kami akhirnya memilih Citra Raya,” jelas Romo Eko. Panitia pertemuan para uskup Regio Jawa diserahkan pada Keuskupan Malang.

Jumat, 29 Juni 2007, siang, pertemuan para uskup Regio Jawa selesai. Mereka akan bergabung dengan para uskup dari kawasan lain untuk bersama-sama ke Kompleks AAL di Bumimoro untuk menghadiri misa pontifikal tahbisan Mgr. Sutikno.

Apa visi Mgr. Sutikno? Moto? Lambang keuskupan yang baru? Kenapa memilih Tugu Pahlawan?

Kalau mendiang Mgr. Hadiwikarta memilih moto Pastor Bonus atau Gembala yang Baik, Mgr. Sutikno memilih Ut Vitam Abundantius Habeant. Dipetik dari Injil Yohanes 10:10 bermakna ‘semoga kamu mempunyai hidup yang berlimpah’. Menurut Mgr. Sutikno, hidup sejati adalah hidup di dunia dan hidup ilahi. Kita yang hidup di dunia pun sedang melakoni hidup ilahi itu.

Syahdan, tiga hari setelah ditunjuk Paus Benediktus XVI sebagai Uskup Surabaya, Romo Sutikno pergi ke Our Lady of Manaoag, tempat ziarah sekitar 200 kilometer dari Manila, Filipina. Dia berdoa agar Tuhan kasih visi untuk tugasnya yang baru sebagai Uskup Surabaya. visi itu, seperti lazimnya, dituangkan dalam moto keuskupan yang singkat, padat, berisi. Beliau mengaku mendapat ilham beberapa ayat Alkitab, tapi masih ragu-ragu mana yang dipilih.

Nah, saat berjalan keluar gereja, beliau terjatuh di lantai keramik yang jumlahnya 10. Lalu didapati petikan Yohanes 10:10. Ayat ini lengkapnya demikian: "Aku datang supaya mereka mempunyai hidup dan mempunyainya dalam segala kelimpahan”. Ut Vitam Abundantius Habeant menjadi inspirasi bagi Mgr. Sutikno dalam mengemudikan bahtera Keuskupan Surabaya.

Yang menarik, di logo Uskup Surabaya, Mgr. Sutikno sengaja memasang Tugu Pahlawan di kuadran kanan bawah. Ini tak lepas dari latar belakang Mgr. Sutikno yang asli Surabaya, lahir 26 September 1953 di kawasan Pelabuhan Tanjung Perak. Tugu Pahlawan [Surabaya memang disebut Kota Pahlawan], kata Mgr. Sutikno melambangkan karakter arek-arek Surabaya yang berani berkorban, mengabdi, dan melayani tanpa pamrih.

Watak ini mengingatkan seorang “gembala yang baik yang rela mempertaruhkan nyawa bagi domba-domba-Nya”.

Kanisius Karyadi, bekas aktivis mahasiswa dan penulis buku Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono, Sang Maestro dari Perak Timur baru-baru ini mewawancarai Mgr. Sutikno. Salah satu tema yang menarik adalah keluarga. Mgr. Sutikno sangat menekankan pentingnya memperkuat keluarga sebagai benteng rohani dan moralitas. Sebab, dunia saat ini dipenuhi hedonisme, konsumerisme, sensualisme, materialisme. Banyak masyarakat jatuh ke liang kehancuran karena tiang keluarganya hancur.

“Kalau keluarga hancur, bagaimana nasib anak-anaknya,” tanya Mgr. Sutikno.

Menurut Karyadi, uskup yang juga pembimbing Marriage Encounter itu pendukung paham keluarga konvensional. Ibu sebaiknya di rumah, ayah bekerja di luar rumah. Dengan begitu, ibu berkonsentrasi pada pendidikan serta perkembangan fisik dan psikis anaknya. Apalagi, usia anak-anak di bawah lima tahun sangat rawan. Sang ibu harus kasih kasih sayang 100 persen kepada anaknya, demi masa depannya kelak.

Mgr. Sutikno berpendapat, air susu ibu alias ASI daripada susu-susu kaleng atau susu formula apa pun yang beredar di pasaran. Sosok ibu itulah yang telah mengantar Sutikno kecil alias Oei Tik Hauw sebagai Uskup Surabaya. [*]


Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono, Pr.

Beliau lahir pada 26 September 1953 di Surabaya.

Setelah menyelesaikan sekolah dasar dan menengah, masuk ke Seminari Menengah Santo Vincensius a Paolo di Garum, Blitar, dan lalu melanjutkan ke Seminari Tinggi Santo Paulus, Kentungan, di Jogjakarta untuk belajar filsafat dan teologi.

Beliau ditahbiskan menjadi imam untuk Keuskupan Surabaya pada tanggal 21 Januari 1982 di Katedral Surabaya. Setelah pentahbisan, beliau telah melaksanakan penugasan sebagai berikut:

1982 - 1983: menjadi pastor bantu di Paroki St. Yosef, Kediri,
1983 - 1988: menjadi pembina dan ekonom pada Seminari St. Vincentius A
Paolo, Garum, Blitar,
1988 - 1991: studi untuk Master dalam bidang psikologi di Universitas De
La Salle, Filipina,
1991 - 2000: Rektor Seminari Tinggi Inter-diosesan di Malang,
2000 - 2004: studi untuk Doktorat dalam bidang psikologi di Universitas De
La salle, Filipina,
sejak 2004 : menjadi pastor bantu di Katedral Surabaya.

28 June 2007

Sisi Lain Mgr. Sutikno


Perjalanan Vincentius Sutikno Wisaksono, arek Surabaya kelahiran Perak Timur, menjadi pastor, kemudian Uskup Surabaya, panjang dan berliku-liku. Dia sempat mengalami kecelakaan dan harus dioperasi. Tapi Tuhan punya rencana lain atas Sutikno.

Pengalaman berwarna dialami Sutikno selama bertugas di Seminari Garum, Blitar, sejak 1 Maret 1984. Di seminari Sutikno menjadi romo pembina sekaligus mengajar bahasa latin, sejarah gereja,dan kitab suci. Kedatangannya disambut gembira para seminaris alias siswa sekolah calon imam milik Keuskupan Surabaya itu.

Pengurus VIVA VOX, majalah seminari, Paulus Suparmono [kini romo] menyambut Sutikno dengan canda. "Selamat datang Romo Sutikno. Su itu artinya baik, tikno berarti ketikkan. Jadi, kita punya tukang ketik untuk VIVA VOX hehehe...." Semua tertawa, termasuk Romo Sutikno.

Selain bertugas di seminari, Romo Sutikno menjadi pastor pembantu di Slorok dan Suwaru Buluroto, stasi [gereja] kecil di pedalaman Blitar. Wilayah sederhana, miskin. Di situ Sutikno bertemu orang-orang desa nan sederhana. Di situlah ia belajar hidup sederhana, pasrah kepada Tuhan, tidak neko-neko.

Hidup di asrama sebagai pembina seminari cukup berkesan. Selalu ada kegiatan-kegiatan yang lucu. Saat itu dia juga membina dua frater: Fr. Senti Fernandez dan Fr. Yosef Eko Budi Susilo. Keduanya calon imam diosesan alias praja saat itu.

[Kedua frater itu kini menjadi Romo Senti dan Romo Eko, dua pastor yang berpengaruh di Keuskupan Surabaya. Romo Eko bahkan menjadi ketua panitia penahbisan Mgr. Sutikno.]

Mereka selalu akrab dalam gaya suroboyoan. Frater Eko, orang Solo, yang terbiasa dengan unggah-ungguh ala wong Solo, diminta bersikap ala arek suroboyo: egaliter, demokratis, terbuka.

Pada 13 Agustus 1986, usai mencukur rambut di Blitar, Romo Sutikno bersama Frater Senti menuju Slorok pakai sepeda motor. Sutikno mengemudikan motor dengan kecepatan tinggi. Di depan ada truk yang sudah memberikan sein belok kiri. Maka, Sutikno tancap gas untuk mendahului.

Masya Allah!

Truk malah belok kanan. Sutikno dan Senti pun jatuh, berdarah-darah. Sutikno koma. Atas bantuan warga, dua korban kecelakaan ini dilarikan ke Rumah Sakit Umum Blitar. Setelah sadar, dilarikan lagi ke RS Budi Rahayu Jalan Ahmad Yani 18 Blitar.

Dokter mendiagnosa: urat saraf di sekitar rahang Sutikno putus. Rahang kanan patah. Di rumah sakit ini Sutikno bertemu Suster Agnes, Ss.P.S., yang kelak menjadi rekan kerja Romo Sutikno di Seminari Tinggi Giovanni XXIII Malang. Selama dirawat, Sutikno ternyata tetap gembira. Tetap bercanda dengan perawat dan para pembesuknya.

Karena harus operasi, Sutikno dirujuk ke RS Vincentius a Paulo [dikenal dengan RKZ = Roomsch Katholieke Ziekenhuis] di Jalan Diponegoro Surabaya. Selama tiga bulan Sutikno harus menjalani rawat intensif di situ.

Suatu ketika, Setio Budiono, teman karib Sutikno, mengunjungi Sutikno di RKZ. Melihat si Boen [sapaan akrab Setio Budiono], Sutikno langsung menyambut dengan suara keras:

"Boen, apa kabar? Kok dari dulu sampai sekarang badanmu tetap kurus. Kamu kalau makan langsung jadi TA.. ya? Hehehehe...."

Suara Sutikno yang keras membuat para tamu dan pasien terkejut. Lalu, tertawa terbahak-bahak. Boen sendiri hanya senyam-senyum karena tahu persis kelakuan sahabat dekatnya sejak anak-anak itu. "Dari dulu Sutikno itu ya gitu. Suka bercanda terus."

Pada 27 Oktober 1986, Romo Adam van Mensvoort, C.M., rektor Seminari Garum, Blitar, hendak membesuk Romo Sutikno di RKZ Surabaya. Apa yang terjadi? Dalam perjalanan, pastor itu mendapat kecelakaan maut di kawasan Wlingi, Blitar. Requescat in pace, Romo Mensvoort meninggal dunia!

Sutikno tentu saja sangat bersedih. Selama ini dia menganggap Romo Mensvoort sebagai ayahnya sendiri. Sutikno sampai kini masih mengenang pastor idolanya itu. Menurut Sutikno, Romo Mensvoort adalah begawan seminari yang sulit dicari gantinya.

"Kebapakan, penetahuan luas, bijaksana, bagus hidup rohaninya, selalu menemukan pelanggaran para seminaris dan segera mengingatkan dengan cara baik-baik," tutur Romo Sutikno tentang mendiang Romo Mensvort.

Hikmahnya: "Jangan mudah kasihan pada diri sendiri!" kata Sutikno, yang sejak 3 April 2007 ditunjuk Paus Benediktus XVI sebagai Uskup Surabaya.

[Misionaris itu lahir di Berkel, Belanda, 6 Januari 1927, wafat di Wlingi 27 Oktober 1986, dimakamkan di Kembang Kuning, Surabaya.]

Menurut Karyadi, penulis buku biografi Mgr. Sutikno, sepulang dari RKZ, setelah dirawat selama satu tahun, Sutikno langsung meminta ibundanya, Mami Mady, di Perak Timur, agar dimasakkan tempe kesukaannya. Rupanya, Sutikno jenuh dengan masakan ala rumah sakit.

Wah, enak tenan!

Harapan Umat untuk Uskup Baru

Sejak ditunjuk Paus Benediktus XVI sebagai Uskup Surabaya pada 3 April 2007, umat Katolik di Keuskupan Surabaya memberikan harapan yang besar kepada Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono. Umat memang haus akan hadirnya seorang gembala mengingat sejak 13 Desember 2003 Keuskupan Surabaya mengalami 'takhta lowong' setelah Mgr. Johanes Sudiarna Hadiwikarta meninggal dunia.

Berikut harapan beberapa umat Katolik:

Riana-Suarno, pasutri [pasangan suami-istri], Koordinator Marriage Encounter [ME] Distik IV Surabaya:

Beliau bisa diajak omong apa saja, termasuk yang gak enak-enak [nyelekit]. Orangnya blak-blakan, sederhana. Kalau mendapat sesuatu, diberikan orang lain lagi. Tidak minta dilayani, spontan, tidak menggurui, dan ringan tangan.

Leony-Yohan, pasutri, ME Surabaya:

Beliau mudah berkomunikasi dan mudah didekati, humoris. Tidak membeda-bedakan orang miskin atau kaya, dekat dengan orang kecil.

Pada awalnya beliau ikut ME hanya ikut-ikutan. Tapi lama-kelamaan menjadi fasilitator kegiatan-kegiatan ME di Surabaya. Dalam sebuah weekend ME, beliau bantu membawa koper peserta lain. Dasar ringan tangan, semuanya dibantu.

Ada seorang suster mengira beliau pembantu. Setelah dijelaskan tim ME bahwa beliau pastor... lha baru tho kalau beliau Romo Tik yang sekarang jadi Uskup Surabaya. Dalam berbagai acara ME, beliau sering kali menitikkan air mata haru ketika mendengar pengalaman pahit pasutri tertentu dalam hidup berumah tangga.

Penampilan beliau yang ala kadarnya [tidak rapi] sering kali membuat pasutri ME menggojlok: 'Ayo, kita cari dana untuk menyekolahkan Romo Tik ke John Robot Klowor biar rapi dan tidak klowor-klowor lagi penampilannya. Hehehe....

Wolly Baktiono, tokoh PRSSNI Jawa Timur:

Mudah-mudahan terilihnya Romo Tik sebagai Uskup Surabaya merupakan jawaban atas doa kita. Tapi kita perlu ingat bahwa uskup juga berproses. Jadi, potensi perubahan mesti ada, menjadi baik atau sebaliknya.

Maka, umat perlu berdoa agar Mgr. Tikno benar-benar menjadi berkat bagi umat Katolik di Keuskupan Surabaya.

Saya berharap, uskup baru tidak sekadar menjadi pembicara yang efektif, namun mengembangkan kemampuan mendengarkan yang efektif pula. Jangan sampai terkooptasi oleh kelompok tertentu sehingga menciptakan suasana kaos.

Eddy Locke, Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi Keuskupan Surabaya:

Saya berharap Bapa Uskup yang baru membenahi sekretariat sebagai think tank Keuskupan Surabaya. Sekaligus pengembangan kualitas sumber daya manusia kaum muda. Selama ini Gereja kurang menangani pengembangan SDM kaum muda.

Perlu dirancang perbaikan gaji guru dan pekerja, kalau perlu sekalian dengan sistem pensiunnya. Dengan demikian, para guru di yayasan keuskupan dan pekerja gereja bisa bekerja dengan tenang.

Kanisius Karyadi, mantan Ketua Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia [PMKRI] Cabang Surabaya:

Sejak dulu saya kagum pada Romo Tik. Beliau bisa dekat dengan siapa saja, menjadi jembatan bagi semua pihak. Skill komunikasinya juga bagus.

Karena itu, saya menyusun sebuah buku khusus untuk menyambut terpilihnya beliau sebagai Uskup Surabaya yang baru. Buku saya berjudul 'Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono, Sang Maestro dari Perak Timur'.

Di dalam buku itu saya mengajak pembaca untuk mengenal lebih dekat sosok Mgr. Tikno. Bagaimana maminya ngidam, hamil, dan sejuta pengalaman dan pemikiran Mgr. Tikno. Kisahnya unik, antik, nyentrik, dan menarik.

[Hehehe... Karyadi, teman saya yang tinggal di Sedati, Sidoarjo, ini memang suka mempromosikan buku barunya dalam berbagai kesempatan. Moga-moga laku keras, cak!]

27 June 2007

Komodo's Natural Fascinations




By KANIS DURSIN
The Jakarta Post, June 26, 2007

Thousands of flying foxes lingered in the sky; fishes of various colors swam languorously in blue sea water; while small waves rippled through mangrove trees on a tiny island. In the background, speedboats and motorized boats, mostly ferrying foreign tourists back to their hotels that afternoon, charged through high waves between white-sanded islets dotting the park's marine water.

As the sun sank deeper into the sea, some flying foxes came closer to the passing speedboats. "Catch me if you can," they seemed to tease.

Welcome to Komodo National Park in West Manggarai regency, East Nusa Tenggara province.

You would be forgiven to think the 1,817 square kilometer park in the heart of Wallacea has nothing more but the Komodo dragon (varanus komodoensis) to offer. After all, most tourism books and promotional leaflets have focused on the endangered species.

The truth is, while the unique dragon remains its main draw, the national park, established in 1980, is pregnant with fascinating natural attractions -- and watching roaring flying foxes is just one of them.

Next time you come to Komodo National Park make sure you tell your guide to drop by a mangrove islet off Rinca village so you can see thousands of flying foxes migrating in droves.

The birds usually leave their caves on Rinca Island at daybreak for the mangrove island, where they spend the day sleeping. They fly back to their caves at sunset to look for food.

The routine voyage becomes a unique fascination as the birds fly back and fro, up and down, in roaring sound before perching on mangrove trees or heading back to their caves. If you happen to leave the place just shortly after dusk, some flying foxes would fly next to your speedboat -- traveling with you for half your trip home, as if to see you off.

A similar spectacle is found at a mangrove islet off Komodo village, where you can watch flying foxes dangling on mangrove trees during day time. If you are an adventurer, negotiating high waves on the way to and from Rinca and Komodo islands, where the endangered Komodo dragons are mostly found, is another thrill in the park, particularly if you hire a speedboat.

Hold tight and be ready to get wet when your speedboat cruises through successive walls of waves. The waves normally do not exceed one meter in height, but are enough to drive your adrenalin especially if you are running the speedboat at a high speed.

One advice, though, hire an experienced skipper familiar with the routes and the characteristics of the park's sea current to avoid bumping into submerged rock mountains.

During the northwest monsoon season from November to February, for example, the waves in the northern end of the park tend to be larger than in the southern end, while during the southeast monsoon between June and August, waves in the southern end tend to be larger than in the northern end.

Waves tend to be largest in the July, which may be too dangerous for small boats to travel. On the way to and from Rinca and Komodo, you would pass by small limestone islands -- so many it's tempting to think each visitor to the park could enjoy an island each.

Most of the islands appear like hills rising majestically from the sea, some with long white-sanded beaches. The islets are generally young, oceanic volcanic islands that are constantly changing by rising, eroding and subsiding into the sea. Privacy and serenity are guaranteed here -- no people live on those small islands, making them ideal places for your personal retreat.

The deep tranquility is broken only by small ripples of waves smashing into the islands' pristine white beaches. Go to any point in the park's marine area and chances are you would find yourself challenged to a race by rare or endangered marine animals.

There are around 1,000 species of fish in the park's water, including endangered and rare species such as dugongs, whales, dolphins, turtles and a number of other protected marine animals. Dolphins and whales make their presence felt by throwing themselves into the air, trailing behind your speedboat or motorized boats or just swimming in front.

An experienced skipper knows exactly where and when whales or dolphins usually appear. The real treat of your trip to Komodo National Park is perhaps its numerous diving and snorkeling sites scattering all over the park. Putri Naga Komodo (PNK), a private company in charge of managing the park since 2004, has identified at least 41 diving and snorkeling sites in and around the park.

Each diving and snorkeling site offers unique sightings and a different experience. (See diving and snorkeling sites in Komodo National Park) One of the frequently visited diving sites in the park is Pantai Merah on Komodo Island. Diving in Pantai Merah, or Pink Beach, you would find a great variety of fishes and a good selection of curious critters including leave scorpions fish, blue ribbon eels, crocodile fish and many more frolicking around colorful coral reefs.

It is called Pantai Merah because of abundant destroyed red coral reefs washed ashore. Until recently fishermen would come to fish in the area using destructive methods such as blasting and bombing. These which methods destroyed coral reefs there. Such practice has ceased thanks to rigorous law enforcement and a growing awareness among local fishermen to preserve the coral reefs.

Pantai Merah is also an excellent snorkeling site. There is a very good dive to be found around a small area of reef and a steep rocky wall, which is visible from the surface at low tide. It is also a very good night dive site and can offer excellent macro-photography opportunities.

Waters surrounding the islands in the park are also known to have a high diversity of marine life considered to be some of the richest on the planet. It's not at all surprising the United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization declared the park in 1986 as a World Heritage Site as well as a Man and Biosphere Reserve.

The park is home to at least 253 species of hard, reef-building corals which are scattered over an estimated 17 square kilometers. According to PNK, there are three different types of reefs in the park with fringing reefs, which grow along the edges of shorelines of land masses and islands, making up the bulk of it.

Most islands in the park are fringed with coral with patch reefs and seamounts also found in the park. Patch reefs are stand-alone reefs in areas with a shallow bottom -- they do not rise up past the surface of the water. They are mostly found in north-eastern side of Komodo island.

Seamounts, on the other hand, are submerged pinnacles encrusted with coral reef and there are a number of these types of reef around Komodo. Seamounts are a favored area for pelagic fish to congregate. If you decide to dive or snorkel in the park's marine area you must be accompanied by a master diver and even your master diver has to be guided by a local master diver who knows the sea's characteristics.

While the waters directly surrounding islands in the park are only between 30 and 100 meters deep, the Komodo National Park has some of the swiftest currents on the planet -- in fact they sometimes resemble a raging river. The park forms a bottleneck passage between two large deep bodies of water -- the Pacific Ocean to the north and the Indian Ocean to the south.

During the rising tide, a vast amount of water moves south to the north, and during the falling tide, from north to the south. As the number of north-south water passages is very limited, an enormous volume of water is forced to travel through the park's narrow passages at a rapid rate, creating some of the strongest current in the world.

The good news is the strong currents and up-welling transport nutrient-rich waters throughout the park's marine area and support a wealth of diverse marine life. So although dangerous for divers, the strong currents ensure the existence of some of the greatest marine biodiversity on earth. Once of diving and snorkeling, you can drop by either Rinca or Komodo islands, where you are likely to be greeted by Komodo dragons, the park's ultimate attraction.

During a recent visit to Rinca, for example, our entourage was welcomed by a baby dragon hiding in a small cave near the gate leading to the information office. Trained guides are already ready to bring you around.

And finally, the world's heaviest living lizard comes hand in hand with the islands' ideal places for trekking. Along one of the most scenic walks in the world, you're likely to see Timor deer, wild boars, water buffaloes and wild horses.

Enjoy.




Diving and snorkeling sites in Komodo park

While the Komodo dragon remains the ultimate draw of Komodo National Park, numerous diving and snorkeling sites in and around the park are equally fascinating. The following are some diving and snorkeling sites you cannot afford to miss when visiting the park.

1. Batu Saloka: Is part of a cluster of unchartered rocky islets and reefs off the point of Tanjung Saloka. The westernmost islet is an excellent dive spot, although it is very prone to currents and swell. The terrain is very dramatic. Some of the types of marine life you are likely to encounter include the Napoleon wrasse, big groupers, snappers, turtles, sharks and giant trevalies. The best time to dive is during low tide.

2. Letuhoh Reef: Extending south from Tanjung Letuboh, the reef offers some of the best big-fish diving in Komodo park. Big potato cod, gray reef sharks, eagle rays, turtles, dogtooth tuna and snapper can be found on this reef. The best time to dive is during a falling tide.

3. The Alley: Marked with large giant trevally, sharks, beautiful coral and a high diversity of other invertebrate life, this tiny collection of rock islands in the south of Komodo bay is a great place for snorkeling and diving. The site tends to be current-prone, with temperatures dropping below 20 degrees Celsius at times.

4. Tanjung Loh Sera: There is superb diving all along the southern point of Loh Sera where you can see large pelagic fish such as dogtooth tuna circling off the point and around the pinnacles. Turtles, monster-sized giant trevallies, potato cod, malabar grouper, bumphead parrotfish, Napoleon wrasse, manta rays and much more can be seen along the reef wall. Due to potentially strong currents, however, only experienced divers should attempt to swim in the pinnacles while beginner divers should stay along the wall.

5. Yellow Wall: Is an excellent day or night dive spot just inside the south-eastern corner of Loh Dasa Bay at Rinca Island. Considered one of the best snorkeling sites in Loh Dasami, Yellow Wall is the place to see invertebrate diversity, especially during a night dive. Walls are packed with an array of marine life and colors including colorful sea urchins, bright red sea apples, beautiful soft corals and a great variety of tunicates. Nighttime fish life include sleeping coral trout, cat sharks, many kinds of cardinal fishes and parrotfishes in their mucus cocoons, as well as sleeping turtles.

6. Boulders: Located on Nusa Kode, the boulders are a good night dive location. A torch is useful at this site. The dive begins with a forest of soft coral at 30 to 35 meters deep. Along the way to the boulders is a good location for finding fire urchins and Coleman shrimp. The boulders themselves display good coral, invertebrate and fish life. Quite often manta rays are also seen in this area.

7. Payung Island: It is an interesting underwater landscape with huge rocks. Fish and invertebrate life is diverse and there are big schools of surgeons and smaller yellow snappers (Lutjanus kasmira and L. Quinquelineatus). Rocky reefs are covered with soft coral gorgonians and feather stars. The southern and western sides of Payung Island offer the most interesting reef capes. Visibility is between 9.5 and 10 meters.

8. Tiga Dara: Tiga Dara -- literally means three sisters -- offers a pristine reef with excellent coral coverage and rich fish life.

9. Batu Bolong: A tiny rocky outcropping in the strait between Tatawa Kecil and Komodo Island, Batu Bolong is one of the top diving locations in the park, offering undamaged reefs thanks to strong currents and steep drop-offs that make it difficult for local fishermen to use dynamite and cyanide-fishing techniques. Sharks, Napoleon wrasse, giant trevally, dogtooth tuna, and rainbow runners are found in the area.

10. Tatawa Kecil: This small rocky islet southwest of Tatawa Besar island is an egret nesting site and a fantastic snorkel and dive site when the current is not too fast. Rocks, caves and beautiful coral gardens race the reef on the western side of the islet. Many coral reef fishes including large groupers, snappers, sweetlips, trevally and sharks can be seen. An amazing number of anthias swim among colorful fields of branching corals. Dugongs have also been spotted here and manta rays are often seen on the southern side of the island.

11. Castle Rock: Is a colorful dive with soft coral coverage. Clouds of anthias and schools of yellow-ribbon sweetlips are usually encountered while frogfish, moray eels and scorpion fish are also commonly seen. It's an excellent dive usually worth doing twice. It's called crystal rock because of the clear water surrounding it. The top of the site is exposed at low tide.

12. Darat Passage North: The slope is very rich in marine life and the sandy bottom at 15 meters deep is covered in garden eels. On the approach to the channel, turtles and schools of giant sweetlips that live in a grotto may be seen near the surface of the water. Parrotfish aggregate here to spawn annually around April. Sharks and batfish also reside in the passage. An excellent dive and good snorkeling can be found on the northern side of the channel between Gililawa Darat and Komodo Island.

13: Darat Passage South: Turtles can be seen on this coral reef. At 20 to 30 meters deep to the south of the point, many small coral trout, large schools of anchovies and small tuna and trevallies come in to feed in the bay. There is good snorkeling here, although a lot of damage has been done by bomb-fishing and reef gleaning.

26 June 2007

Heri Lentho Koreografer


Namanya Heri Prasetyo, tapi lebih akrab disapa Heri Lentho. Pada 4 Juni 2007 penari dan penata tari ini tampil dalam Festival Seni Surabaya [FSS] 2007. Heri Lentho membawakan tarian berjudul 'Suara Padi'.

Pagi hari, Heri Lentho berdiskusi dengan puluhan anak-anak sekolah dasar yang ingin mengapresiasi festival. Heri bicara sederhana saja. Dia ajak anak-anak untuk 'memikirkan' dari mana asalnya nasi di atas meja makan. Yah, dari beras, dari padi... yang ditanam para petani.

Artinya, padi itu sumber makanan pokok orang Indonesia. Bisakah kita hidup tanpa padi? Begitu kira-kira gagasan Heri Lentho. Anak-anak kota, yang asing dengan tanaman padi, pun mengangguk. Malamnya, Heri Lentho menari. Panggung penuh dengan gabah satu truk plus jerami kering. Dan Heri Lentho menari!

Heri Lentho bukan penari yang asing di Jawa Timur. Pada FSS 2003 dia pun membawakan karya tari berjudul 'Sunat'. Hanya saja, pada 2007 ini dia tampil sendirian. Karena itu, banyak pengamat mengkritik panitia FSS yang memaksanakan Heri Lentho tampil tunggal di event sebesar FSS. Heri Lentho dinilai belum pantas lah.

"Heri Lentho terlalu besar untuk tampil tunggal di event FSS," tulis M. Anis, ketua panitia FSS 2003-2004, di Jawa Pos edisi 24 Juni 2007.
Menurut Anis, biaya produksi untuk Heri Lentho sebesar Rp 15 juta sampai Rp 20 juta terlalu mahal. Apalagi, Heri mendapat jatah kamar hotel berbintang, padahal dia tinggal di Surabaya.

Begitulah.

Kesenian memang perlu kritik. FSS perlu kritik. Ini semua demi perbaikan mutu di masa mendatang. Dan, setahu saya, sejak dulu Heri Lentho kerap menjadi sasaran kritik di Surabaya. Sebagai penari dia dikritik. Sebagai panitia atau event organizer, dia dikritik. Sebagai pembicara dia dikritik. Sebagai pengurus dewan kesenian, ya, dikritik pula.

Namun, Heri Lentho maju terus. Tetap berkarya. Tetap eksis. Namanya bertahan di dunia kesenian Jawa Timur. Dia getol bikin konsep festival atau kesenian, diskusi dengan wartawan, seniman, maupun pejabat. Juga cari sponsor kesenian.

"Saya memang tidak pernah berhenti berkarya. Sebab, bagaimanapun juga saya ini penari. Tidak mungkin saya meninggalkan dunia tari," ujar pria asal Malang itu.

Jauh sebelum FSS, 1-15 Juni 2007, Heri Lentho sudah bicara dengan saya tentang rencana membuat tarian tentang padi. Adalah Candi Pari [pari artinya padi] di Porong, Sidoarjo, ikut mengilhaminya. Candi Pari itu sejatinya lumbung padi pada masa kerajaan-kerajaan tempo doeloe.

Bagaimana manusia Indonesia zaman dulu sadar akan pentingnya menyimpan padi agar tidak kelaparan.
"Filosofinya luar biasa Candi Pari itu," ujar Heri Lentho kepada saya. Nah, ide itu kemudian diwujudkan Heri Lentho dalam 'Suara Padi' yang sudah digelar di FSS 2007.


Selain menari, mencipta karya tari, Heri Lentho juga event organizer [EO]. Saya mulai kenal dia sejak Festival Cak Durasim di Taman Budaya Jatim, di mana Heri Lentho sebagai konseptornya. Dia kemas FCD sebagai festival yang merakyat. Promosi, sosialisasi.. gencar.

Dia datang ke media. Bawa seniman ke sekolah-sekolah. Bikin atraksi di jalan raya. Maka, FCD pun cukup dikenal di Kota Surabaya. "Saya ingin kesenian ini dinikmati masyarakat luas dari remaja hingga kaum lansia. Jangan sampai kesenian hanya dilihat seniman dan teman-temannya saja."

Setelah sukses bikin FCD, Heri Lentho tidak lagi mengelola festival tahunan itu. Pihak Taman Budaya mengambil alih. "Nggak masalah. Yang penting, saya pernah memperkenalkan FCD kepada masyarakat Surabaya. Tidak baik juga kalau saya terus-terusan di situ," katanya.

Beberapa waktu lalu, saya omong-omong dengan Heri Lentho tentang gagasan Bupati Win Hendrarso yang ingin menjadi Sidoarjo sebagai kota festival. Saya tahu Heri Lentho pernah studi banding tentang manajemen festival di Australia.

"Sah-sah saja kalau Pak Win ingin menjadikan Sidoarjo kota festival," ujar Heri Lentho.

Persoalannya, festival macam apa yang dituju Sidoarjo. Referensinya ke mana? Konsepnya apa?
“Kalau tidak dijernihkan dari sekarang, saya khawatir kota festival itu hanya sekadar jargon saja,” ujar Heri pria yang pernah dijegal sebagai ketua Dewan Kesenian Surabaya gara-gara tak punya KTP Surabaya itu.

Menurut dia, sebuah festival memerlukan perencanaan, pendanaan, dan persiapan panjang. Tidak bisa mendadak atau sekonyong-konyong seperti yang banyak dilakukan di Indonesia.

Di Australia, misalnya, festival digarap secara serius oleh sebuah dewan khusus yang diisi para profesional. Festival pun digemakan tidak saja di dalam negara, tapi juga di luar negara.

"Itu kalau kita ingin festival dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dan pelaku kesenian itu sendiri," papar Heri Lentho.

Kelemahan orang Indonesia: banyak omong, banyak gagasan, tapi isinya tidak jelas. Lho!

Harry Noerdi, Hakim dan Penyanyi



Kalau ke ruang karaoke, saya selalu pilih 'Andaikan'. Lagu ini saya hafal sejak kecil di kampung halaman, Flores Timur. Melodinya enak, syairnya puitis. Ini khas lagu-lagu Indonesia sebelum era 1980-an.

Setelah jadi wartawan di Kota Surabaya, tahulah saya bahwa 'Andaikan' diciptakan oleh Bapak Harry Noerdi. Dia hakim senior yang bertugas di Pengadilan Negeri Surabaya, Jalan Arjuna. Kebetulan, ah lagi-lagi kebetulan, saya pernah beat alias ngepos di PN Surabaya. Tambah klop!

Saya pun jadi mengenal lebih dekat Pak Harry Noerdi, penulis lagu, penyanyi, yang dulu hanya bisa saya dengar suaranya di tape recorder. Wah, Pak Harry ternyata tidak bertampang artis atau orang terkenal. Sama saja dengan hakim-hakim lain. Orang biasalah.

Bahkan, tak banyak yang tahu kalau dia itu pernah menjadi penyanyi, penulis lagu, yang karya-karyanya hit pada 1970-an. "Saya memang suka musik sejak remaja. Main band, menyanyi, gitaran. Teman saya antara lain Markus Sajogo yang kebetulan sama-sama anak band," cerita Harry Noerdi [69 tahun] suatu ketika.

Beberapa saat setelah reformasi, 1998, Harry Noerdi dipercaya menjadi juru bicara atawa humas PN Sidoarjo. Otomatis, beliau sering berhubungan dengan wartawan. Malam-malam saya sering menelepon Pak Harry untuk meminta konfirmasi atas suatu masalah.

Di ujung wawancara, biasanya saya mengalihkan persoalan, "Bapak masih sempat main gitar atau menulis lagu?" Pak Harry Noerdi biasanya tertawa kecil. Dia bilang musik tidak bisa lepas dari kehidupannya. Menyanyi menjadi hobi yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupannya.

"Tapi saya sibuk di pengadilan sehingga tidak bisa seperti dulu. Profesi saya kan hakim. Hehehe," ujar penyanyi bersuara bariton ini. Harry Noerdi biasanya menyanyi dengan penuh penghayatan.

Lagu 'Andaikan' sangat berasa kalau dia nyanyikan sendiri kendati kualitas vokalnya termasuk tidak istimewa. Dia pernah cerita bahwa lagu 'Andaikan' yang sangat terkenal, legendaris itu, ditulis secara spontan. Dia main gitar, bersenandung, ketemu melodi, menulis lirik... jadilah lagu yang belakangan dinyanyikan penyanyi-penyanyi macam Yuni Shara, Elfa Singer's, Broery Marantika, Ade Manuhutu, Rachmat Kartolo... dan banyak lagi.

Seperti umumnya penulis lagu, Harry Noerdi mengaku tak menyangka bahwa 'Andaikan' akan terkenal sampai hari ini. Tugas seniman, kata dia, hanya bikin karya seni. Terkenal atau tidak, populer atau tidak... itu urusan waktu dan pasar. Kebetulan orang Indonesia rata-rata melodius, suka lagu-lagu bermelodi kuat, sehingga 'Andaikan' pun cepat menjadi hits di blantika musik pop pada 1970-an.

Di era Presiden B.J. Habibie digelar pemilihan umum multipartai pertama di era reformasi. Kali ini, Harry Noerdi dipercaya sebagai ketua Panitia Pengawas Pemilu [Panwaslu] Kota Surabaya. Kebetulan saya mendapat tugas sebagai reporter politik dengan fokus pada pemilu. Sebanyak 48 partai ikut pemilu, dan itu membuat suasana politik riuh rendah.

Pelanggaran terjadi di seluruh Kota Surabaya. Tiap hari Harry Noerdi mendapat pengaduan dari pengurus partai di desa, kecamatan, hingga kota. Apa boleh buat, Harry Noerdi pun pusing kepala menghadapi proses politik yang sebelumnya tak pernah ditekuninya. Dia seniman musik, dia hakim atawa hamba hukum.

Boleh dikata, Harry Noerdi itu apolitis. Namun, justru kenetralannya inilah yang membuat peserta pemilu yakin bahwa Panwaslu Kota Surabaya bersikap netral. Kredibilitas Panwaslu Surabaya sangat baik jadinya.

"Waktu itu kami menghadapi semua pengaduan dengan enjoy. Semua pengaduan kami kaji, analisis, dan memberikan rekomendasi. Apalagi, kepemimpinan Pak Harry Noerdi di Panwaslu juga sangat demokratis," cerita Romo Eko Budi Susilo, Pr., rohaniwan Katolik, yang juga anggota Panwaslu Surabaya pada tahun 1999.

Eh, kebetulan lagi di Panwaslu ada beberapa anggota yang suka musik dan nyanyi. Harry Noerdi jelas penyanyi dan penulis lagu. Romo Eko sangat senang menyanyi apa saja. Mbak Indah, perempuan anggota Panwaslu, bekas juara bintang radio dan televisi di Jawa Timur. Ditambah beberapa wartawan politik, termasuk saya, suka nyanyi dan antusias di musik. Klop!

"Jangan lupa nanti malam kita rekreasi di Nur Pacific ya? Anda habis menulis berita cepat-cepat gabung ya?" pesan Romo Eko Budi Susilo.

Asal tahu saja, Nur Pacific adalah restoran yang punya fasilitas kamar karaoke paling bagus di Surabaya, saat itu. Tentu saja, saya gabung karena pasti dapat banyak informasi seputar pemilu di Kota Surabaya. Bukankah Pak Harry Noerdi serta para anggota panwaslu ada di sana? Hehehe....

Di situlah, kali pertama, saya menyaksikan penyanyi dan penulis lagu menyanyikan lagunya sendiri. Pak Harry Noerdi membawakan 'Andaikan' dengan penuh perasaan. Andaikan seorang kan datang... menghibur hati sedang sunyi.... Lalu, tepuk tangan ramai-ramai.

Karier Harry Noerdi di bidang hukum naik terus. Setelah jadi Humas PN Surabaya, kemudian ketua Panwaslu Surabaya, beliau ditarik ke Mahkamah Agung di Jakarta. Saya pun kehilangan kontak sama beliau. Belakangan, dari Jakarta dia ditugaskan lagi ke Mataram, Nusa Tenggara Barat, sebagai hakim tinggi. Apa kabar Pak Harry Noerdi sekarang?

Yang jelas, sampai sekarang saya masih memesan lagu 'Andaikan' di kamar karaoke di Surabaya. Ini membuat saya tak pernah melupakan sosok Bapak Harry Noerdi. Manusia multitalenta: hakim, penulis lagu, penyanyi, pengawal reformasi, ayah, teman, guru... yang baik.

Berkat musik, hakim senior ini selalu murah senyum, ramah, halus tutur kata, dan siap melayani siapa pun.

Ah, andaikan semua hakim macam Harry Noerdi!


Andaikan seorang kan datang
Menghibur hati sedang sunyi
Ku kan mengabdi padamu seorang
Kekal abadi insani

Andaikan seorang kan datang
Menghibur hati sedang sunyi
Ku kan mengabdi padamu seorang
Kekal abadi insani

Namun ku pohonkan kepadamu
Janganlah kau ragu kan cintaku

Di kala hati sedang pilu
Harapanku seorang s'lalu
Dikalaulah sayang pujaan hati
Saling mencinta dan murni



CATATAN:

Syair lagu yang ditulis Harry Noerdi ini sangat memerhatikan rima. Perhatikan: bait pertama pola rimanya g-i-g-i [datang, sunyi, seorang, insani].
Jembatan atau bridge lagu pakai vokal u [kepadamu, cintaku]. Bait akhir pola rima uu-ii [pilu, s'lalu, hati, murni].

Pandangan Mgr. Sutikno

Sejak ditunjuk Paus Benediktus XVI sebagai Uskup Surabaya pada 3 April 2007, banyak umat Katolik bertanya-tanya apa visi Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono? Berikut beberapa gagasan Mgr. Sutikno [ditahbiskan 29 Juni 2007] yang dilontarkan dalam berbagai kesempatan.

KELUARGA SEBAGAI INTI MASYARAKAT

Dewasa ini dunia dipenuhi oleh hedonisme, konsumerisme, sensualisme, materialisme. Banyak sekali keluarga yang retak akibat perkembangan dunia yang hedonis-konsumtif itu. Di sinilah kita perlu kembali memperkuat basis kita: keluarga.

Keluarga sangat berperan dalam pembentukan masyarakat. Ayah berperan sebagai pelindung, berkorban mencari nafkah, mencintai, memberikan arah hidup pada anggota keluarga. Ibu sebagai sosok yang mendoakan, menata rumah tangga.

Andaikan banyak keluarga hancur, bagaimana masa depan anak-anak? Contoh yang buruk di dalam keluarga akan dibawa anak-anak hingga dewasa.

KATOLIK SEBAGAI MINORITAS

Di Indonesia, umat Katolik memang tidak banyak [sekitar 5 persen]. Minoritas. Tapi istilah 'minoritas' kurang menguntungkan umat Katolik secara psikologis. Seolah-olah orang Katoik tidak diperhitungkan di masyarakat. Padahal, 'minoritas' itu hanya istilah sosiologis.

Katolik itu universal, sama kedudukannya dengan semua warga negara Indonesia. Yang penting, umat Katolik menyadari eksistensinya sebagai warga negara Indonesia. Mengutip mendiang Mgr. Albertus Soegijapranata, S.J. [uskup dan pahlawan nasional]: kita harus menjadi 100 persen warga gereja, dan 100 persen warga negara.

Orang Katolik tidak boleh minder dalam masyarakat, hanya karena dia minoritas, jumlahnya sedikit. Orang Katolik perlu hadir menebarkan kelimpahan-kelimpahan Allah berupa nilai-nilai kejujuran, disiplin, kesetiaan, murah hati, cinta kasih... dan sebagainya.

Masyarakat Katolik tidak boleh terkungkung oleh dirinya sendiri, tetapi mampu menjadi garam dan terang dunia di dalam masyarakat. Tidak perlu takut. Kalau perlu dia menjadi perintis dalam bidang-bidang yang membawa kesejahteraan dan kemaslahatan bagi orang banyak.

DOA DAN LITURGI

Injil Matius 6:6 berkata, "Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi....

Masuklah ke dalam kamarmu! Doa bukanlah aktivitas yang penuh gebyar, semarak, melainkan hening dan sembunyi. Suasana hening memberi kedalaman untuk berdoa. Ajakan 'masuk ke dalam kamar' mengingatkan akan jatidiri kita masing-masing. Saat berdoa, kita hendaknya melihat diri kita apa adanya.

Para pelayan liturgi tidak perlu berlebihan atau overakting. Jadilah pelayan atau imam yang sederhana saja. Bertindak biasa-biasa saja. Jangan aneh-aneh.

Gereja Katolik itu kaya akan tradisi dan hidup doa. Dalam perayaan ekaristi, kita menemukan doa perjamuan yang ideal untuk hidup beriman kita. Tidak harus 'wah' dan 'ramai-ramai'.

Kalaupun kita lemah, misalnya mengantuk saat doa, rahmat Allah akan tetap bekerja dalam kelemahan kita.

Djaja Laksana dan Lumpur




Sejak lumpur panas menyembur di Porong, Sidoarjo, 29 Mei 2006, sudah ratusan orang menawarkan kemampuan untuk menghentikan semburan. Dukun atawa paranormal ratusan, bahkan ribuan. Kemudian pakar pertambangan, pakar geologi, pakar tanggul, pakar teknik sipil... yang jumlahnya pun ratusan.

Pertama-tama tentu pakar Amerika Serikat karena Lapindo Brantas Inc [pengelola minyak dan gas di Blok Brantas] erat kaitannya dengan USA. Lalu pakar Rusia, Tiongkok, negara-negara bekas komunis, dan tentu saja pakar anak negeri. Ahli-ahli terbaik dari ITB dan ITS sudah diajak serta, tapi hasilnya ya nol persen.

Lucunya, menjelang akhir masa kerjanya di Sidoarjo, Tim Nasional bikin teknologi 'telor naga' alias bola beton untuk mengurangi semburan. Orang Jawa Timur, wong cilik, tertawa ngakak karena metode bola beton ini dinilai terlalu awam.

"Wuedan... iku pakar opo dukun? Pakar kok cara mikirnya podo karo dukun? Hehehe...," begitu guyonan sambil ngopi di warung.

Dan betul, bola beton gagal total. Ia hanya sukses menghabiskan uang miliaran rupiah. "Yah, mending dipakai untuk bayar ganti rugi pengungsi," kata teman-teman di Sidoarjo.

Usia lumpur sudah setahun lebih. Dampaknya makin parah dan berantai. Sementara para ahli terus 'mikir', menjajal ilmu yang pernah dipelajari di kampus. Tersebutlah nama Ir. Djaja Laksana [55 tahun], pengusaha tinggal di Surabaya.

Lahir di Singaraja, Bali, Djaja menempuh pendidikan terakhir di Teknik Mesin ITS. Meski bukan dosen atau staf ahli di ITS, pengusaha ini tak pernah lupa ilmu yang pernah dipelajari di almamaternya. Bahkan, Djaja menerapkan ilmunya untuk menutup beberapa semburan kecil [liar] di Porong.

Sejak 20 September 2007 Djaja Laksana menawarkan ide ke Timnas [sekarang Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo, BPLS]. Djaja menggunakan Hukum Bernoulli yang sudah dikenal pelajar atau mahasiswa jurusan fisika. Intinya, dibuat sebuah waduk penampung air dengan ketinggian 30 meter, diameter 500 meter, tebal tanggul bawah 15 meter, tebal tanggul bagian puncak 10 meter.

"Saya sudah buat perhitungannya secara detail. Anda bisa pelajari di VCD yang sudah saya berikan," ujar Djaja Laksana kepada saya dalam sebuah percakapan telepon.

Asumi Djaja Laksana: tinggi semburan di Desa Renokenongo, Porong, saat ini 'hanya' 15 meter. Dihitung dengan rumus bernoulli, maka total head [titik di mana semburan akan konstan] mencapai 27 meter. Nah, dibuatlah dam dengan ketinggian 30 meter.

"Maka, lumpur akan stop atau balans," ujar Djaja Laksana dengan gaya meledak-ledak.

"Saya sudah bicara di sebuah forum yang diadakan di Hotel Shangri-La, Surabaya, 20 September 2007. Bahwa semburan itu bisa diatasi dengan pipa berdiameter sekitar dua meter dengan biaya Rp 100 juta. Saya tawarkan saya bayar sendiri," papar Djaja Laksana.

Singkatnya, konsep bernoulli ala Djaja Laksana tidak direspons BPLS. Baru setelah Takashi Okamora, pengusaha Jepang, diterima Presiden Susilo pada pertengahan Mei 2007, orang teringat konsep yang pernah dibahas Djaja Laksana. Sebab, konsep double cover dam versi Jepang itu prinsipnya sama dengan versi Djaja Laksana.

"Kok mirip sama metode anda, Pak?" tanya saya kepada Djaja Laksana.

"Hehehe... Kalau soal mirip tidaknya saya belum baca. Yang jelas, saya sudah lama menawarkan Hukum Bernoulli untuk mengatasi lumpur di Sidoarjo," tegas Djaja Laksana.

Djaja Laksana menambahkan, metode bernoulli ini selain menghentikan semburan lumpur, juga mampu memasukkan kembali lumpur ke bumi. "Saya membayangkan lumpur berjuta-juta ton itu bisa dikembalikan ke bumi secara bertahap sehingga amblesnya tanah di lokasi pusat semburan bisa dicegah," ujar Djaja Laksana.

Yah, namanya juga usaha, metode, konsep... biasanya bagus, logis, efektif di atas kertas. Bagaimana hasil di lapangan? Setahu saya, para pakar sudah kehabisan stok ilmu bahkan menganggap game over menghadapi semburan lumpur lapindo.

Metode bernoulli ala Djaja Laksana pun dipertanyakan karena kondisi di Porong sudah tidak karuan. Beda kalau metode ini langsung diterapkan ketika usia semburan baru tiga bulan atau enam bulan, katakanlah.

Lha, sekarang sudah berapa bulan, Cak? Namun, bagaimanapun juga konsep yang diusulkan Djaja Laksana layak diapresiasi.

25 June 2007

Djaja Laksana Bisa Tutup Lumpur?




Oleh Djaja Laksana

Bencana semburan lumpur di Porong, Sidoarjo, masih terus meneror masyarakat selama satu tahun lebih. Sebuah lembaga baru pengganti Tim Nasional Penanggulangan Semburan Lumpur di Sidoarjo telah terbentuk. Sesuai Perpres 14 Tahun 2007, nama lembaga baru tersebut adalah Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS).


Orang-orang kini bertanya, apakah badan baru ini akan berhasil menanggulangi bencana tersebut? Pertanyaan yang masuk akal mengingat setelah lebih dari delapan bulan Timnas belum dapat memberikan hasil yang menggembirakan. Tidak mengherankan bila tidak sedikit pihak yang merasa pesimistis dan skeptis.

Tetapi menurut penulis, BPLS akan mampu menanggulangi bencana lumpur dengan bantuan berbagai pihak. Apakah langkah yang paling utama? Apakah dengan pembuatan kanal pembuangan lumpur panas ke Sungai Porong seperti direkomendasikan oleh Timnas, seperti ditulis ditulis di Kompas, Selasa, 10 April 2007?

BPLS tentu akan mempelajari rekomendasi itu dengan seksama. Namun seperti telah penulis sampaikan kepada berbagai pihak, termasuk kepada Timnas, ada cara yang kiranya lebih efektif yang bisa diambil oleh BPLS.

Untuk menunjukkan keseriusan penulis, cara yang disampaikan berikut ini telah didaftarkan ke Departemen Hukum dan HAM dengan nomor P 00200700135. Bukan untuk menarik biaya dari BPLS, tetapi sekadar tidak diklaim pihak luar negeri.

Pada dasarnya, luapan lumpur itu memang dapat dihentikan. Hal ini sudah terbukti dalam penanganan semburan air lumpur berskala kecil di rumah keluarga Akhmad Duha di Desa Mindi, Kecamatan Porong pada 24 April 2007 yang lalu (Surya, 25 April 2007).

Untuk menghentikannya, pipa 4 dim yang digunakan untuk menyalurkan semburan air kami tutup ujungnya. Sedang pipa 4 dim lain yang menyalurkan gas ke atas setinggi 1 meter tetap dibiarkan terbuka. Beberapa saat kemudian semburan air berhenti. Kalaupun kemudian semburan pindah tak jauh dari tempat itu, hal tersebut karena semburan lain tersebut sangat dekat.

Tidak ada yang aneh dengan dapat dihentikannya semburan itu. Penulis teringat Hukum Bernoulli tentang suatu fluida atau cairan yang bergerak. Hukum itu bergantung pada ketinggian, tekanan, berat jenis, kecepatan dan gravitasi bumi.

Dengan melihat hukum ini, kita tahu bahwa pada suatu kedalaman tertentu, ketinggian dan kecepatan cairan dianggap nilainya sama dengan nol, sehingga parameter yang tersisa hanya tekanan dan berat jenis. Jadi bila tekanan pada kedalaman tertentu diketahui, maka ketinggian semburan cairan lumpur yang keluar dapat diketahui pula.

Marilah kita sekarang kita bicara tentang tekanan. Para mahasiswa teknik yang belajar soal fluida kiranya mengerti bahwa tekanan fluida mempunyai suatu total head, termasuk tekanan pompa air dan tekanan lumpur dari dalam tanah, pasti memiliki total head dan setelah itu tidak akan naik lagi.

Demikian pula dengan semburan lumpur di Porong tersebut, pasti memiliki total head dan setelah itu lumpur tersebut akan diam. Hal ini telah saya sampaikan di depan sejumlah media dan juga di depan Timnas.

Menurut data yang diperoleh penulis dari lapangan, kedalaman sumber lumpur tersebut berkisar antara 0,5 km hingga 1,9 km, sementara tekanan lumpur itu sebesar 2.000 psi (pound per square inches). Melihat data tadi dan kondisi semburan lumpur di lapangan, maka perkiraan total head semburan lumpur itu hanya mencapai 27 meter di atas permukaan tanah.

Bila kemudian kita membangun tanggul melingkar dengan ketinggian 30 meter, misalnya, maka lumpur akan mencapai titik keseimbangan (konstan) pada ketinggian 27 meter itu. Tidak mungkin meluap lagi, kecuali tekanan dari dalam tanah meningkat.

Ide ini sebenarnya telah penulis sampaikan ke sejumlah pihak yang ikut menangani masalah lumpur di Porong tersebut sejak September tahun lalu. Pada awalnya, penulis datang ke almamater, Fakultas Teknik Mesin ITS pada 20 September 2006. Di LPPM ITS, penulis bertemu Prof Ir Nyoman Sutantra, MSc. Beliau mengatakan, ide itu masuk akal. Prof Sutantra pun menyarankan penulis untuk datang ke Hotel Shangri-la karena sore itu ada acara seminar "Mud Volcano".


Beda dengan Prof Mori

Ada sekitar 25 orang yang hadir, kebanyakan adalah ahli geologi. Ada profesornya, juga pejabat dinas pertambangan, serta beberapa orang asing yang kiranya juga ahli geologi. Setelah mendapat kesempatan bicara, penulis mengutarakan ide tersebut.

Namun, bukan sambutan positif yang muncul, tetapi malah olok-olokan. Ada misalnya, seorang ahli geologi yang berkomentar, "Kalau lumpur you tutup di sana nanti kalau keluar di sebelahnya juga you tutup dengan cerobong. Nanti keluar di Hotel Shangri-la ini, bagaimana?" Hadirin pun tertawa terbahak-bahak.

Penulis tidak putus asa. Apalagi kemudian penulis membaca adanya usulan dari Prof James Mori dari Universitas Kyoto, Jepang, yang dikutip oleh Gesit Ariyanto di Kompas 12 Maret 2007. Menurut tulisan Gesit, Prof Mori mengusulkan pembangunan tanggul melingkar berdiameter hingga 200 meter berdinding pelat dan pipa besi (confferdam) setinggi 50 meter lebih, untuk mengalirkan lumpur ke sistem buangan dengan memanfaatkan perbedaan dengan ketinggian. Persoalannya, dana pembangunan sangat besar dan perlu waktu bertahun-tahun.

Saya tidak tahu rincian dari usulan Prof Mori. Tetapi apa yang sampaikan sejak tahun lalu ini dapat dilakukan oleh BPLS. Tidak ada kata terlambat. Kita memang berpacu dengan waktu dan beragam kemungkinan buruk, termasuk amblesnya tanah di Porong.

Menurut hemat penulis, BPLS bisa membangun tanggul setinggi 30 meter. Semula kami membayangkan pembuatan tanggul dengan diameter 500 meter. Tetapi rasanya itu terlalu besar dan mahal. Dengan suatu sistem yang juga telah kami urus hak patennya, tanggul bisa jauh lebih kecil diameternya dan jauh lebih murah biaya pembangunannya.

Ini menyangkut pembangunan sebuah rangkaian pipa aluminium ukuran 2 inci, tebal 1 mm, dan panjang 30 meter yang bisa dipesan secara khusus. Rangkaian itu dibentuk segi empat dengan ukuran 4 x 16 meter dalam satu kontruksi baja yang akan dibenamkan di pusat semburan. Hukum Bernoulli akan bekerja. Lumpur diam di dalam pipa-pipa aluminium dalam ketinggian 27 meter. Baru setelah itu dibangun tanggul di luarnya.

Dalam posisi lumpur seimbang, lumpur tidak akan keluar lagi dari perut bumi karena dilawan oleh tekanan ke bawah oleh dirinya sendiri. Selanjutnya, ini yang barangkali tidak terpikirkan sebelumnya, lumpur yang ada di luar tanggul dapat dimasukkan kembali ke dalam tanggul.

Lumpur tambahan itu akan membuat tekanan di atas bumi lebih besar dari tekanan di dalam perut bumi, sehingga lumpur dapat masuk kembali ke dalam bumi. Untuk ini, rangkaian baja bisa diangkat bila perlu karena fungsinya hanya untuk mempermudah (dan mempermurah) pembuatan tanggul.

Sistem ini jelas berbeda dengan usul Prof Mori, yang disebut membangun tanggul untuk mengalirkan lumpur ke sistem pembuangan dengan memanfaatkan perbedaan ketinggian. Dalam sistem ini, lumpur yang telah keluar dari perut bumi dapat dimasukkan kembali. Mungkin ada yang meragukan, tetapi melalui simulasi yang penulis lakukan, sistem ini berjalan. Silakan para ahli mekanika fluida mengeceknya. Penulis bahkan merasa yakin, lumpur yang telah berjuta-juta ton tersebut secara bertahap bisa dikembalikan ke asalnya dan amblesnya tanah di lokasi pusat semburan bisa dicegah.

Mengutip Prof Mori, belum ada satu pun contoh penanganan semburan lumpur sebesar di Sidoarjo. Ia pula pun bertanya, mampukah ilmu pengetahuan memberi jawabannya? Mereka yang pernah belajar masalah fluida dan ingat Hukum Bernoulli, pasti akan menjawab tegas secara positif.

Djaja Laksana adalah pengusaha, alumnus Fakultas Teknik Mesin ITS Surabaya

24 June 2007

Ludruk Gema Tribrata Tinggal Nama


Kendati dikelola oleh Polda Jawa Timur, Ludruk Gema Tribrata yang bermarkas di Tarik, Sidoarjo, kurang berkembang. Tanggapan memang ada, namun kalah jauh dibandingkan beberapa ludruk asal Mojokerto.

“Satu bulan paling-paling kami cuma main satu dua kali saja. Tanggapan sepi, Mas,” kata Suwarni, pemain sekaligus pengurus Ludruk Gema Tribrata, di Mergosari, Kecamatan Tarik, Sidoarjo, kepada saya.

Dibentuk sejak 1990-an, grup seni tradisional yang menggunakan logo kepolisian dan nama berbau polisi, tribarata, ini dimaksudkan untuk melestarikan seni tradisi. Polda Jatim sengaja menempatkan markas ludruk ini di Tarik karena kawasan itu banyak peminat seni tradisi.

Menurut Suwarni, para pemain pun hampir semuanya berasal dari desa-desa di Tarik. “Ada dari tempat lain seperti Tulangan, Balongbendo, Mojokerto, tapi nggak banyak. Dari 60-an orang, sebagian besar dari sini,” cerita Suwarni.

Pada awal 1990-an Ludruk Gema Tribrata berkembang pesat di kawasan Tarik dan sekitarnya, bahkan merambah ke pelosok Mojokerto. Kebetulan kawasan Tarik ini berbatasan dengan Mojokerto sehingga Gema Tribrata memang lebih banyak menggarap pasar Mojokerto ketimbang Sidoarjo. Jika ada penyuluhan bersama Polda Jatim atau Polres Sidoarjo, biasanya Gema Tribrata dipakai.

Namun, setelah krisis ekonomi merebak tahun 1997, disusul tumbangnya rezim Orde Baru 1998, Ludruk Gema Tribrata menghadapi masa sulit. Banyak grup seni tradisi yang merana karena tidak lagi mendapat ‘pembinaan’ seperti dulu.

Maka, pemain ludruk pun harus pandai-pandai mencari job sendiri. “Sekarang susah cari tanggapan,” aku Suwarni, yang merangkap pemain, pelawak, sinden, penyanyi campursari.

Kini, ketika tanggapan sepi, Suwarni dan kawan-kawan terpaksa memanfaatkan semua peluang yang tersedia di kampung-kampung. Mereka pun tampil di hajatan pernikahan, mengisi wayang kulit, hingga acara campursari. Main ludruk murni, sesuai dengan pakem, praktis sudah sulit.

“Alhamdulillah, saya sendiri masih bisa mengisi acara mantenan bersama Cak Otheng, suami saya,” ujar Suwarni sambil tersenyum.

Cak Otheng tak lain pimpinan Ludruk Gema Tribrata sekaligus sutradara, pembuat cerita, dedengkot ludruk.

Lantas, ke mana pemain-pemain lain yang jumlahnya cukup banyak itu? Macam-macam, kata Ning Suwarni. Seperti umumnya seniman tradisi, mereka bekerja sebagai petani tebu [kampung mereka dekat Pabrik Gula Watutulis], kuli bangunan, penambang pasir, dan sebagainya.

Green Art Harryadjie B.S.



Pelukis Harryadjie B.S. kasih kursus seni hijau kepada sejumlah bule Australia di Pusat Pendidikan dan Lingkungan Hidup [PPLH] Trawas, Mojokerto. Anda dan saya diajak kembali ke alam.


“Sekali-sekali lah orang bule itu kita kasih kursus. Kenapa orang Jawa harus kalah terus sama bule? Wong bule iku podho wae ambek awak dhewe," kata Bambang Soebagjo Harryadjie, yang lebih akrab disapa Bambang Thelo.

Saya dan beberapa teman ketawa-ketawa melihat Harryadjie ‘menggarap' bule-bule itu. Mereka ikut rombongan Intreped Tours & Travel. Umumnya usia mereka di bawah 40 tahun, cantik-cantik pula.

Harryadjie, aktif di Dewan Lingkungan Sidoarjo, menjelaskan bahwa green art alias ‘seni hijau’ pada dasarnya kesenian berwawasan lingkungan hidup. Seniman memanfaatkan bahan-bahan dari alam untuk mengembangkan ekspresinya.

Bahan-bahan kimiawi seperti cat, senyawa kimia, apalagi bahan-bahan yang berbahaya bagi lingkungan, sangat diharamkan. Green art ini mirip unjuk rasa atau protes terhadap perusakan lingkungan yang luar biasa dalam tiga dasawarsa terakhir.

Nah, untuk urusan seni hijau Harryadjie memang jagonya. Bukan saja di Sidoarjo, di kawasan Jawa Timur, Harryadjie dikenal ‘gila’ memanfaatkan berbagai bahan alam. Sampah, ranting pohon, pelepah kelapa, pelepah pisang, kayu kering... dipakai untuk seni.

Kalau diajak pameran di Surabaya atau Sidoarjo, karya-karya tersebut selalu disertakan. Itu pula yang diperlihatkan Harryadjie saat memberi kursus singkat kepada para turis bule di Trawas.

Kalau tidak boleh pakai cat, lalu...? Begitu pertanyaan umum yang mengemuka dari peserta, nota bene bukan seniman.

"Gampang saja," kata Harryadjie.

Tanpa banyak bicara, Harryadjie memetik beberapa helai daun, kemudian ‘mengulek-ulek’ mirip orang bikin sambal pedas. Dicampur sedikit air, jadilah ‘cat’ warna hijau. Untuk warna-warna lain seperti merah, cokelat, hitam, ungu... semua ada rumusnya sendiri.

“Yang jelas, kalau bergelut dengan green art, jangan khawatir kekurangan bahan. Bahan-bahan ada di alam, kita tinggal memanfaatkan saja. Gratis lagi,” ujar Harryadjie, pria kelahiran Jogjakarta tahun 1943.

Dia berbahasa Inggris dengan logat Jawa kental. Para turis bule menyimak dengan penuh minat. Lalu, mencoba praktik sendiri karena bahan-bahan sudah tersedia.

Harryadjie sendiri menyediakan sejumlah pelepah kelapa kering. Menurut dia, pelepah kepala ini paling bagus untuk membentuk apa saja, sesuai dengan selera dan kreativitas seniman. Tanpa perlu diutak-atik pun Harryadjie menganggap pelepah itu sudah menjadi karya seni.

"Indah sekali, bukan?" ujar Harryadjie meminta konformasi saya.

"Bukan. Hehehe...," jawab saya, bercanda.

Nah, hanya dalam tempo sekitar 10 menit, pelepah kelapa tadi sudah menjadi topeng manusia ala Afrika. Pola dekoratif-tradisional ala suku-suku Afrika dan pedalaman Papua.

“Saya sudah belasan tahun bergelut dengan pelepah seperti itu. Melukis di atas kanvas justru sudah sangat kurang karena saya agak gila dengan green art,” tutur pria yang pernah tinggal selama 10 tahun di Jerman itu.

Selama berada di Jerman, Harryadjie diajak kru televisi Jerman untuk mengambil gambar lingkungan hidup, satwa liar, di daratan Afrika. Pengalaman ini akhirnya memengaruhi corak seni rupa Harryadjie dalam 20 tahun terakhir. Di Afrika, dia banyak belajar green art dari masyarakat setempat.

Di sela-sela kursus, ada beberapa peserta yang meminta dilukis tas dan kaus. “Dengan senang hati. Berarti kalian suka green art,” ujar si kakek berjenggot putih itu.

Maka, jadilah lukisan tokek hijau yang dibingkai ornamen ala suku-suku pedalaman. Di sudut kanan bawah Harryadjie tak lupa membubuhkan tanda tangannya.

“Lumayan, buat kenang-kenangan selama di Indonesia,” ujar seorang turis asal Australia. Tas itu, katanya, akan dipajang di rumahnya.

23 June 2007

Wow... Mulan Kwok Minta Dihamili

Jumat, 22 Juni 2009.

Koran-koran di Surabaya memuat berita dan gambar Mulan Kwok. Penyanyi cantik ini mempromosikan film 'Maaf, Saya menghamili Istri Anda'.

Kepala berita di surat kabar sangat menggigit: Mulan Minta Dihamili. Mulan terlihat tertawa saat digandeng Ringgo Agus Rahman.

"Dari awal ceritanya sudah gak masuk akal. Karena itu, jangan diambil hati. Jangan dibuat serius," ujar Ringgo.

"Mulan minta dihamili? Maaf, saya menghamili istri anda?" tanya Pak Sucipto dan beberapa peserta diskusi warung kopi kepada saya, Sabtu dinihari.

"Iki opo maksude, Mas? Kok iso ditulis nang koran kayak ngene. Opo bener iku? Gak kebablasan ta?" protes Pak Amir, tukang becak yang suka beli dan baca koran.

Di pinggiran Kota Surabaya dan Sidoarjo memang ada kebiasaan cangkrukan sambil ngopi, makan pisang goreng, mi... atau pangan kecil lain. Nah, saat cangkrukan ada saja topik yang dibahas. Umumnya diambil dari koran yang harganya saat ini sangat murah, Rp 1.000.

"Iyo Cak, maksudnya Mulan minta dihamili itu apa? Kalo gak salah Mulan itu kan rondo [janda] anak dua. Lha, kalo minta dihamili ya, aku gelem ae," tukas Cak Syamsul disambut tawa peserta cangkrukan ala jawa timuran itu.

"Aku ya gelem rek! Aku paling siap, wong aku kan duda," tambah Cak Wahid. Hehehe...

Semua lelaki kok ingin menghamili Mulan Kwok. Lha, apa bener bisa hamil kalau main rame-rame macam itu?

Setelah bercanda agak lama tentang hamil-menghamili, gara-gara membaca koran pagi, para bapak yang rata-rata sudah punya anak gadis, bahkan cucu, ini bilang mengaku prihatin. Menurut mereka, ungkapan 'Maaf, Saya Menghamili Istri Anda' sebagai kebablasan. Kelewatan. Sudah melanggar tabu serta adat kesopanan di masyarakat kita.

Senakal-nakalnya orang Indonesia, sering melacur di lokalisasi, punya simpanan 'arek nakal'... kata wong jatim, tidak pernah tebersit niat akan menghamili istri orang. Tabu!

Apa pun alasannya, rumah tangga orang lain tak boleh diganggu. Ada nilai-nilai religius, pagar moral... yang masih kita jaga. Belum lagi kalau kita pakai kitab suci sebagai rujukan. Wah, tambah haram lagi!

"Lha, kalau sampai bilang, maaf, saya menghamili istri anda... itu kan sudah ngawur-ngawuran, Cak! Kesannya kok main-main dengan istri orang. Main-main dengan rumah tangga orang. Bagaimana kalo semua orang melakukan 'itu'... lalu bilang maaf, selesai?" ujar Pak Amir yang dikenal sebagai 'kiainya' cangkrukan.

"Di Madura, ya, wis dicarok, Cak. Jangankan menghamili, jalan bareng istri orang, berakrab ria dengan istri orang saja sudah dibunuh," tambah Pak Cipto, bekas TKI di Malaysia.

Angin malam membuat udara di sekitar Bandara Juanda tambah dingin. Tapi percakapan memanas. Guyon hamil-menghamili istri orang stop. Sekarang peserta cangkrukan ini berubah serius. Saya yang menyebarkan koran, sehingga menjadi topik bahasan, pun jadi sasaran kegundahan mereka.

"Bagaimana kok media massa bisa memuat ini? Koran, televisi, film... rame-rame promosikan 'Mulan Minta Dihamili'? Sampeyan-sampeyan di media massa kan punya tanggung jawab. Mau dibawa ke mana adat ketimuran.

"Ingat, Cak, orang Indonesia itu hampir semuanya beragama Islam! Ada nilai-nilai Islam yang harus diperhatikan oleh pembuat film, wartawan, orang televisi, hiburan, artis...," ujar peserta baru, ternyata bekas guru. Dia sangat serius. Sering mengutip Alquran dan Alhadis.

"Mulan Kwok iku kan muslim. Wong di infotemen dia ngajinya wuenaak, Cak!"

"Artis-artisnya, yang bikin film... semua kru ya hampir semua muslim, Cak. Agama apa pun ya menolak pelecehan terhadap istri orang. Mana ada suami yang mau istrinya dihamili. Gila!" komentar seseorang.

Melihat diskusi yang memanas, sudah mengarah ke agama, beberapa peserta mengutip ayat Alquran... saya pun minta diri. Saya kan ikut cangkrukan untuk melepas stres, mencari kesegaran, setelah memelototi berita-berita keras di surat kabar. Lha, kalau diikuti terus diskusinya, iso-iso tambah setres. Hehehe.....

Besoknya, tiba-tiba, beberapa wartawan senior ikut membahas film 'Maaf, Saya Menghamili Istri Anda'. Saya jamin teman-teman wartawan ini belum pernah menyaksikan film itu. Dan mereka bukan tipe penggemar film-film macam begini. Mereka hanya melihat judulnya saja yang provokatif dan ngawur-ngawuran itu.

Saya tidak bisa tidur gara-gara ikut cangkrukan di warung kopi dekat bandara internasional itu. Padahal, biasanya saya bisa tidur di mana saja, kapan saja. Pendapat para abang becak, bekas TKI, bekas guru, buruh pabrik, pegawai kecil... itu membuat otak saya berputar keras.

Saya kemudian membuka buku 'Nonton Film, Nonton Indonesia' karya J.B. Kristanto, Penerbit Kompas, September 2004. Buku ini berisi banyak catatan tentang film Indonesia. Setelah membaca pengantar buku ini, saya akhirnya 'maklum' mengapa film Mulan Kwok yang disutradarai Monty Tiwa itu ngawur dan kebabalasan.

J.B. Kristanto, wartawan senior KOMPAS, menulis di halaman 4 bukunya:

"Kisah film-film Indonesia boleh dikata 95 persen tidak logis, tidak memenuhi hukum sebab-akibat. Hanya mencari efek: efek haru, efek lucu, dan sebagainya. Untuk mencapai efek ini tidak dipedulikan lagi logika."

Ah, film Indonesia....

Sejak dulu kok goblok dan ngawur ya! Padahal, rakyat kecil di kampung-kampung sebetulnya sudah cerdas dan kritis lho!

21 June 2007

Bioskop Kelud Riwayatmu Dulu


Akhir pekan lalu saya main-main di Malang. Kota ini sejuk, bagus untuk tetirah. Kota pensiunan, kata banyak orang. Dulu, saya sekolah di SMAN I Malang alias Mitreka Satata sehingga saya tahu [cukup] banyak kota tua ini.

"Apa kabar Kelud sekarang?" saya bertanya kepada teman lama, Hadi, di Jalan Suropati.

"Hehehe.. sudah lama tutup. Bioskop itu nggak ada lagi. Hampir semua bioskop lama di Malang tutup. Kelud tutup. Mutiara, Merdeka, Ria... gak ono maneh. Pokoke bisokop-bioskop lawas wis kabur kabeh," ujar alumnus SMAN 3 Malang alias Bhawikarsu itu lalu tertawa.

Dulu, hingga pertengahan 1990-an, Bioskop Kelud sangat dikenal di Malang Raya [Kota Malang, Kabupaten Malang, Kota Batu]. Berlokasi di kampung, kawasan Jalan Kawi, Kelud dirancang sebagai bioskop misbar, gerimis bubar. Warga Malang, kelas menengah-bawah, sangat suka melihat film di sini.

Tak peduli malam minggu, tanggal merah... setiap hari Biskop Kelud dijejali penonton. Film apa saja dilahap penonton. Film India, film Indonesia, film Barat, tak peduli. Mana ada wong cilik yang suka milih-milih?

Menurut pengamatan saya, pengelola Kelud biasanya memilih film India [karena banyak tarian, wanita berbusana minim], film Indonesia 'panas' [banyak buka-bukaan], atau film laga [koboi] Barat.

"Pokoke sing ono perang, tembak-tembakan, aku doyan banget. Asyik," ujar Prapto, tukang becak di kawasan bekas Bioskop Kelud, kepada saya. "Lha, kalo pilem londo akeh omonane gak enak. Wong awak-awak ini gak ngerti bahasa Inggris."

"Kan ada terjemahannya, Pak?"

"Kesuwen, Mas. Pokoke pilem koboi kayak Rambo iku paling disenengi penonton. Wong malang biyen kan golek hiburan. Gak golek pilem sing angel-angel," ujar pria berusia 60-an tahun ini.

Saya sendiri, waktu SMA, tergolong penonton setia Kelud. Jalan kaki dari Suropati ke Kelud tidak terasa karena Malang memang dingin. Apalagi, banyak teman remaja yang juga penggemar film-film di Kelud. Sambil berjalan, kami membahas betapa serunya adegan film-film di bioskop paling murah itu.

[Harga karcis di Bioskop Kelud sama dengan satu piring nasi di warung pinggir jalan. Bandingkan dengan karcis Mutiara atau Ria yang setara dengan 5-10 piring nasi di pinggir jalan. Hehehe..]

Karena berupa panggung terbuka, beratap langit, Bioskop Kelud baru mulai main film sekitar pukul 19.00 WIB. Tiap malam, Jalan Kawi dan sekitarnya dipenuhi ribuan orang. Tukang parkir, pedagang keliling, tukang sulap, pedagang obat [yang suka ngecap], pedagang kelontong.... Persis pasar malam.

Di depan bioskop antrean cukup panjang. Siapa bilang orang Indonesia sulit antre? Di Bioskop Kelud, meski hampir semua wong cilik, budaya antrenya layak dipuji. Ini karena banyak tentara berpakaian dinas [loreng] ikut mengawasi. Asal tahu saja, semua tentara boleh menonton film apa saja secara gratis di Kelud, kapan saja dia mau.

Imbalannya, ya itu tadi, dia menjaga keamanan dan ketertiban baik di dalam maupun di luar. Maka, jarang ada kasus kejahatan di tengah ribuan manusia yang berjejal di Bioskop Kelud setiap malamnya. Penjahat-penjahat takut sama tentara, bukan?



Beda dengan di bioskop kelas atas [sinepleks Grup 21], suasana di Kelud riuh rendah macam di stadion bola. Penonton bebas mengomentari adegan film, suit-suit, menyoraki sang jagoan, tepuk tangan, 'menggurui' aktor/aktris....

Bebas tapi tidak boleh terlalu ngawur. Misalnya, penonton yang tiba-tiba berdiri lama, menghalangi pandangan orang lain, pasti diteriaki, bahkan dicaci penonton.

Bagaimana kalau hujan? Ini memang persoalan besar bagi pengusaha bioskop misbar macam Kelud [Malang] atau Gebang [Jember]. Kalau sekadar gerimis, rintik-rintik, pemutaran film jalan terus. Sebagian penonton ngacir, sebagian lagi bertahan.

Kalau hujan deras? Otomatis bubar. Sia-sia putar film karena cahaya dari proyektor di bagian belakang tidak akan menembus layar [tembok] di depan sana. Toh, orang Malang sudah sangat mahfum bahwa Bioskop Kelud tidak mungkin memutar film saat hujan deras.

Di bagian belakang ada balkon. Tempat proyektor serta kursi khusus untuk penonton 'kelas satu'. Berdasar pengalaman saya, menonton dari balkon tidak seasyik di bawah, meski hanya duduk di bangku kayu jelek. Suasana demokratis dan kerakyatan kurang terasa di atas.

Enaknya, kalau gerimis, penonton di balkon tetap aman. Suara berisik pun tidak separah di bawah.

Sabtu, 16 Juni 2007.

Saya menapaktilasi Bioskop Kelud. Gedungnya sih masih ada, tapi suasananya sudah berubah 180 derajat. Sepi. Hanya ada delapan tukang becak. Ada beberapa gerai yang menjual barang-barang bekas.


"Wah, Bioskop Kelud sudah lama tutup. Sekarang jadi kafe, Mas," kata Pak Ahmad, abang becak yang parkir di pertigaan Jalan Kawi.

Benar. Saat saya ke sana tampak reklame minuman keras khas kafe. Gedung bioskop yang pernah sangat terkenal di Malang Raya itu kini tak ada apa-apanya. Hanya jadi bangunan tua, temboknya penuh lumut. Sampah berserakan di [bekas] ruang penjualan karcis [dulu jarang dipakai istilah 'tiket'].



"Iya, Mas, sekarang jadi kafe," ujar Ikhlas, pemuda berusia 20-an tahun kepada saya.

"Tapi layarnya masih ada?"

"Mari kita lihat bareng."

Saya diajak Ikhlas ke lantai dua, ya bekas balkon. Kondisinya masih lumayan bagus, cuma kuran terawat. Bagian tengah balkon ditembok dijadikan ruangan kafe yang rutin menyajikan musik dangdut.

Saya pandangi ruangan kosong yang dulu, tiap malam, riuh rendah dengan suara penonton bioskop. Layar lebar itu kini tak lebih dari tembok kosong berlumut. Bioskop Kelud pun tinggal catatan sejarah belaka. Waktu terus bergulir dan akhirnya menggilas Kelud serta bioskop-bioskop lama di Kota Malang.

Kini, saluran televisi sangat banyak. VCD murah meriah. Orang bisa menonton sendiri-sendiri di rumah. Kalau mau lihat film, ya, cukup datang ke sinepleks di Plaza Malang, Mandala Theatre, yang menawarkan beberapa film dengan fasilitas nyaman. Budaya nonton film pun berubah drastis, tidak saja di Malang, tapi juga di seluruh Indonesia.

Kapitalisme yang merasuk dunia hiburan, termasuk bioskop, telah mengubah paradigma hiburan mutakhir. Nonton film bersama, sambil bergurau, celometan, komentar, membeli kacang rebus, menggoda cewek yang lewat... tidak ada lagi.

Sekarang nonton film ya, nonton sendiri-sendiri i dalam gedung ber-AC, tapi pengap, dengan kadar privasi luar biasa. Lu lu.. gua gua!

Jangankan budaya nonton film, budaya nonton televisi pun berubah. Kalau dulu satu keluarga nonton tivi bersama-sama, sekarang di kamar anak-anak ada televisi sendiri-sendiri. Nonton, ya, sendiri-sendiri.

Bahkan, televisi sudah masuk ke telepon seluler sehingga orang bisa menonton televisi sambil jalan-jalan. Bukan main!

Oh, Bioskop Kelud, riwayatmu dulu!

20 June 2007

Tukul Arwana pun Habis

Selasa 19 Juni 2007 malam.

Saya sengaja menyetel Trans 7. Acara Empat Mata. Ternyata, teman-teman cuek saja. Hanya satu dari sekitar 20 orang yang mau menonton pelawak Tukul Arwana mewawancarai Adi Bing Slamet dan beberapa artis lain.

Tak ada lagi suara ngakak macam beberapa bulan lalu. Sepi. Malah ada beberapa teman yang minta agar channel televisi diubah saja. "Ngapain lihat Tukul? Wong wis gak payu. Cari acara lain yang lebih bagus," komentar seorang teman.

Saya, yang sejak dulu tidak suka Empat Mata, malam itu sengaja berpaku di depan Trans 7. Ingin tahu bagaimana pembawaan Tukul setelah acaranya disebut-sebut sedang di ambang senja. Aha... Tukul memang tak ada apa-apanya lagi. Guyonannya garing. Kering.

Ibarat cucian, kalau diperas terus-menerus, ya, kering airnya. Pengelola Trans 7 pun saya nilai mengeksploitasi habis si Tukul hingga kering air humornya. Saking kuatnya eksploitasi itu, beberapa kali bintang tamunya berulang. Muka-muka lama. Pertanyaan sama. Bintangmu apa? Gaya Tukul ya sama saja.

Penonton masih bisa tertawa, tapi ya itu tadi... tidak 'sebasah' dulu. Saya lihat Pepi, teman si Tukul, sudah berusaha habis-habisan melucu, merusak rambut dan penampilannya. Pelayan cantik di kedai Empat Mata pun sudah berusaha... Tapi habislah sudah.

Pekan lalu, Tukul Arwana ditanggap di sebuah kampus di Surabaya. Beberapa teman yang sempat meliput acara itu bilang bahwa Tukul memang masih bisa melucu, tapi daya kejutnya tak ada lagi. Sebab, hampir semua ilmunya sudah diumbar di televisi.

"Tukul tanya mahasiswa dia cakep apa jelek. Lalu kasih hadiah kepada tiga orang masing-masing Rp 100 ribu. Yah.. gitu-gitu aja," ujar wartawan muda kepada saya.

"Kamu masih bisa menikmati Tukul Arwana?"

"Lumayan lah. Kebetulan aku kan gak pernah lihat Tukul dari dekat. Jadi, bisa usir stres setelah kerja keras. Hehehe...."

Saya terlalu sering bertemu pemain ludruk, ketoprak, atau seniman tradisi di Jawa Timur. Mereka punya prinsip tidak boleh tampil terlalu sering dan terlalu dekat dengan lokasi pertunjukan sebelumnya. Kenapa?

"Supaya penonton tidak bosan. Kalau lawakannya sama, penonton sudah bisa menebak, apalagi sudah tahu sebelumnya, ya, buyar. Lawakan sampeyan gagal membuat orang ketawa. Itu prinsip di grup saya," ujar Marliyah, pemain ludruk Karya Budaya, Mojokerto, kepada saya.

"Lha, kalau Tukul Arwan tampil tiap hari di televisi, dengan gaya yang sama, pola melawak sama, bahasa tubuh pancet, jargonnya sama... pertanyaan sama, kejutannya apa?" kata Freddy, teman saya, mantan aktivis mahasiswa.

Sejak Tukul didemo anak-anak SD Muhammadiyah 4 Pucang, Surabaya, [atas 'petunjuk' guru-gurunya, tentu saja] pada 2 Mei 2007, saya sudah sangat yakin bahwa Empat Mata akan segera tamat. Sebab, selling point Empat Mata justru terletak di 'cipika-cipiki' Tukul terhadap artis-artis cantik.

"Lha, kok wong ndeso iso ambung cah-cah ayu? Kok enak tenan si Tukul?" begitu kira-kira celoteh hampir semua penonton yang mayoritas orang biasa.

Orang biasa atawa orang kampung atawa wong ndeso... jelas hanya bisa bermimpi mencium artis-artis cantik. Nah, si Tukul mampu memenuhi hasrat tersembunyi wong-wong ndeso tenan itu. Lha, kalau acara ambung-ambungan gak ada lagi, terus apa bedanya Empat Mata dengan talk show atau wawancara biasa? Hehehe....

Kasus Tukul Arwana ini mengingatkan saya pada Inul Daratista, pedangdut asal Kejapanan, Pasuruan. Pada 2003-2004 Inul benar-benar bikin heboh di Indonesia. Goyang ngebornya sungguh dahsyat. SCTV bahkan bikin acara khusus, Sang Bintang, untuk mewadahi goyangan Inul Daratista.

Penonton televisi Indonesia mabuk Inul, tergila-gila dengan pola goyang dangdut yang belum ada duanya di tanah air itu. Semua media berlomba-lomba membuat liputan tentang Inul, istri Adam Suseno.

Saya pernah meliput Inul 'Sang Bintang' di parkir timur Gelora Delta Sidoarjo. Ribuan penonton memenuhi areal parkir demi menyaksikan secara langsung aksi Inul Daratista. Waktu itu kami begitu sulit menemui Inul yang bintangnya bersinar terang luar biasa. Ia ibarat bintang yang sulit dijangkau siapa pun, termasuk wartawan. Inul dikawal berlapis-lapis sehingga sulit ditembus.

Siapa pun tahu, bintang Inul akhirnya meredup. Sekarang dia jarang muncul di televisi. "Mblenger, Cak. Orang itu kalau tiap hari dikasih rawon, ya, bosan juga. Makan pecel terus, ya, bosan juga. Manusia itu pasti ada bosannya," kata teman saya, Haryadi.

Apa pun kata orang, Tukul Arwana atau Inul Daratista pernah tercatat dalam sejarah televisi Indonesia sebagai bintang yang sangat berjaya pada masanya. Bintang televisi itu sejatinya sama dengan bintang beneran di jagat raya. Ia mulai terbit, merekah, mencapai klimaks, kemudian pelan tapi pasti akan tenggelam di ufuk langit.

Lalu, terbit lagi bintang baru dengan corak dan warna baru. Begitu seterusnya. Meminjam ungkapan Gesang, dedengkot musik keroncong, dunia itu punya roda yang terus berputar. Kadang di atas, kadang di bawah... semua sudah ada yang atur.

Kembali ke... laptop!!!!

Wong ndeso, wong katro... kristalisasi keringat, Cak!

Puas.... puaaasssss..... puaaasssssssssss!!!!!

19 June 2007

Selamat Jalan Ustaz Abdurrahim Noor


Lokasi pengajian Fajar Shodiq di Porong yang terimbas lumpur lapindo.


Tadi saya 'melancong' ke Porong, lokasi semburan lumpur lapindo. Di Jatirejo, dekat pom bensin, banyak warga yang mampir untuk melihat-lihat lumpur. Rupanya, mereka turis lokal yang belum sempat menikmati dahsyatnya lumpur di Porong.

Saya sudah bosan dengan lumpur. Bahkan, saya sudah tak punya kata-kata lagi untuk mengungkapkan kekesalan atas musibah lumpur. Jalan raya di Porong macet bukan main, panas, bau lumpur... Ribuan orang sengsara gara-gara lumpur.

Saya berpaling ke rumah tua di dekat pom bensin. Di dekat masjid itu kompleks rumah keluarga Ustaz Abdurrahim Noor. Beliau baru saja meninggal dunia tiga pekan lalu.

''Waduh, Mas, kami di sini deg-degan terus. Wong rumah kami dekat lumpur, setiap saat terancam. Susah,'' ujar seorang perempuan setengah baya kepada saya.

Saya cukup mengenal Pak Abdurrahim Noor. Beberapa kali saya datang ke pangajiannya untuk meliput. Saat Lebaran saya pun beberapa kali ikut mendampingi beberapa pemuka agama yang silaturahim Lebaran.

Sebagai informasi, sejak dulu Pak Abdurrahim mengadakan pengajian rutin setiap awal bulan, Ahad pertama, di halaman rumahnya. Ramai sekali! Almarhum senantiasa mendatangkan pembicara-pembicara terkenal dari luar kota, entah itu tokoh nasional, regional, atau tingkat kabupaten.

Pak Din Syamsuddin, ketua umum pengurus pusat Muhammadiyah, berkali-kali ditanggap ke Pengajian Fajar Shodiq, Desa Jatirejo, Kecamatan Porong, Sidoarjo. Pak Amien Rais pun pernah. Begitu juga tokoh-tokoh Muhammadiyah lainnya.

Abdurrahim Noor merupakan sesepuh Muhammadiyah di Jawa Timur. Dia juga bekas ketua DPW Partai Amanat Nasional [PAN] Jawa Timur, partai yang didirikan politisi Muhammadiyah. Karena itu, pengaruh Abdurrahim Noor dalam dunia agama, politik, dan sosial-budaya di Jawa Timur sangat tinggi.

Saya mengenang wajah Pak Abdurrahim yang hangat, ramah, sopan, tenang. Kalimat-kalimat almarhum Abdurrahim Noor senantiasa menyejukkan. Ketika diserang lawan-lawan politiknya di media massa, Pak Ustaz tetap tenang. Di awal reformasi, Abdurrahim Noor memang dikritik habis gara-gara menjadi ketua PAN Jatim.

Posisi ini diangap tidak pas mengingat warga PAN itu tersebar di banyak partai politik. ''Lha, bagaimana dengan orang Muhammadiyah di PPP? Golkar? Partai lain?'' ujar Sholeh Syuhdi, aktivis Pemuda Muhammadiyah. Akhirnya, Abdurrahim Noor lengser, memilih berkhidmat di Muhammadiyah sampai akhir hayatnya.

Sejak lumpur menyembur di Renokenongo, 29 Mei 2006, dan kemudian meluber ke mana-mana, Pengajian Fajar Shodiq di Porong terseok-seok. Pengajian tetap ada, tapi tidak semeriah dulu. Apalagi, kesehatan Pak Abdurrahim Noor pun sedang menurun. Setelah lumpur membesar, mengancam Jatirejo, kata para tetangga, Pak Abdurrahim ikut mengungsi. Lalu, kembali lagi ke rumah di Porong.

''Pengajian dipindahkan ke masjid. Nggak di halaman lagi. Tapi ya itu, kayaknya nggak ada daya tariknya lagi. Wong simbolnya Fajar Shodiq itu kan Bapak [Abdurrahim Noor],'' ujar seorang ibu, yang tinggal di kompleks rumah almarhum Abdurrahim Noor.

''Lantas, bagaimana masa depan Pengajian Fajar Shodiq yang dirintis Bapak [Abdurrahim Noor] selama bertahun-tahun?''

Perempuan berusia 50-an tahun itu tak sempat menjawab pertanyaan saya. Ia sibuk membersihkan rumahnya yang penuh debu gara-gara proyek tanggul lumpur lapindo. Ibu ini hanya meminta agar pemerintah mengurus bencana ini sampai tuntas, ganti rugi segera dibayar, serta ada jaminan keamanan masyarakat.

''Kami di sini tidak bisa tidur. Sebab, sewaktu-waktu lumpur bisa mengalir ke mana-mana di seluruh Porong. Lha, kami mau tinggal di mana?'' ujarnya.

Muhammad Mirdasy adalah anak kandung almarhum Abdurrahim Noor. Kini, dia menjadi politikus Partai Persatuan Pembangunan [PPP] dan duduk sebagai anggota DPRD Jawa Timur. Sebagai putra asli Porong, saya bisa memahami mengapa Mirdas dalam berbagai kesempatan bicara keras soal lumpur lapindo. Ia juga baru saja menerbitkan buku khusus tentang lumpur.

Bagaimana ini Cak Mirdas? Masa depan Kecamatan Porong, Jabon, Tanggulangin... bagaimana? Lha, kalau lumpur di samping Sumur Banjarpanji 1 itu, kata para ahli, baru bisa berhenti setelah 30 tahun... terus piye?

Saya yakin, semasa hidupnya Pak Abdurrahim Noor tak pernah membayangkan akan ada bencana sedahsyat ini di sekitar rumahnya. Selamat jalan Pak Ustaz!

Level 42 di Surabaya


Baliho promosi konser Level 42 yang dipasang di Jalan Basuki Rachmat, Malang.


Penggemar musik di Surabaya layak bersyukur karena bisa melihat langsung Level 42. Biasanya, kota terbesar kedua di Indonesia ini 'dilalui' begitu saja oleh grup besar. Surabaya sudah lama dianggap 'bukan apa-apa' untuk urusan apresiasi musik kelas dunia.

Menurut saya, Level 42 kurang begitu jazz. Cuma selama ini band yang dipimpin Mark King [bas, vokal] ini selalu dikait-kaitkan dengan jazz. Level 42 pun kerap tampil di festival-festival jazz.

Kamis, 14 Juni 2007, Level 42 tampil di Hotel Shangri-La Surabaya. Tiket paling murah Rp 150 ribu, sehingga tentu saja level penontonnnya pun khusus. Profesional, anak muda era 1980-an, pengusaha, pejabat. Bupati Sidoarjo Win Hendrarso ikut menyaksikan konser promo album Retroglide ini.

Selain Mark King, yang permainan basnya khas [pakai pukul, jadi ciri khas Level 42], band ini diperkuat Mike Lindup [kibor], Gary Husband [drum], Sean Freeman [saksofon], Nathan King [gitar].

'Saya punya kesan luar biasa dengan penonton di Surabaya. Sangat antusias,' puji Mark King dalam jumpa pers. Memang, mereka sebelumnya pernah tampil di sini. Level 42 kebetulan band yang punya banyak sekali penggemar lantaran gaya bas Mark King yang unik, ditambah ramuan musiknya yang ngebeat. Nonton Level 42, ya, harus goyang. Iramanya begitu menggoda.

Dibuka dengan Dive into the Sun, seperti biasa Mark King dkk. tidak pakai basa-basi. Lampu temaram, lima pemusik ini langsung beraksi memperlihatkan kualitas musiknya. Orang dikondisikan untuk bergayang sejak awal sampai akhir. Memang ada beberapa nomor slow, tapi beat rancak ala Level 42 mau tak mau memaksa orang untuk bergoyang.

Saya selalu tertarik menyaksikan gaya Mark King di atas panggung. Dia betul-betul larut dalam musiknya. Pukul bas, nyanyi, sekali-sekali menyapa penonton. Keringat bercucuran meski ada pendingin udara di panggung.

'Saya senang bisa main di sini. Sebab, lagu-lagu kami ternyata disukai orang,' papar Mark King yang sering kali tangannya berdarah gara-gara 'memukul' bas. [Yah, lazimnya bas itu dibetot, tapi Mark justru pakai pukul. Hasilnya pun jadi lain. Asyik sekali.]

Di usia rata-rata [mendekati] kepala lima, Level 42 tetap bikin album baru. Tetap eksis, menciptakan penggemar muda. Namun, di Surabaya [mungkin di kota lain juga], Level 42 tetap saja dianggap band lama yang datang ke sini untuk bernostalgia.

Anak-anak muda era 1980-an atau 1990-an justru ingin mendengar beberapa hit mereka macam Lessons in Love, Love Games, Guarantee, The Chinese Way....

Hary Wibisono dari HM Sampoerna selaku promotor pun menyadari kondisi ini. Maka, di Surabaya daftar lagu yang disajikan Level 42 pun disesuaikan dengan selera wong Jawa Timur. 'Kami sesuaikan karena pendengar minta lagu lama diperbanyak. Ya, kami turuti dan pihak Level 42 bisa memahami,' ujar Hary.

Maka, malam itu Level 42 tampil sebagai band ngetop era 1980-1990-an. Ada beberapa lagu dari album baru macam Dive into the Sun, Rooted, Sleep Talking. Tapi, ya itu tadi, saya dan kebanyakan penggemar Level 42 tidak kenal lagu-lagu baru tersebut.

'Saya tetap paling suka Lesson in Love. Asyik banget. Itu lagu favorit saya waktu kuliah,' ujar Anton, tinggal di Sidoarjo.

Sama. Saya pun sejak 1990-an gemar irama dan bunyi bas Level 42. Teman saya, Bambang Wijanarko, anak band jazz saat mahasiswa di Jember, bahkan tergila-gila dengan Level 42. Tiap hari dia berlatih agar bisa menirukan gaya Mark King, the king of bass. Bambang juga suka melakukan demo bas, pakai pukul, di atas panggung. Hehehe....

'Yang jelas, Level 42 ini memang luar biasa. Sejak dulu saya pun suka,' ujar Ahmad Dhani, pemimpin Dewa Band, yang dikenal sebagai penggemar Level 42. Dhani, yang pernah menyaksikan Level 42 di Surabaya, kebetulan persisi berdiri di samping saya depan panggung, mengaku terinspirasi dari Level 42.

'Kalau bisa tur kelas dunia seperti ini sering-sering diadakan di Surabaya. Tapi kalau bisa tiketnya jangan mahal-mahal, tidak usah di hotel berbintang. Kenapa sih nggak di lapangan terbuka saja? Kok eksklusif banget ya?' keluh Arif, penggemar jazz di Surabaya.

Menurut Arif, seringnya konser jazz di hotel berbintang, dengan tiket mahal, membuat jazz semakin menjauh dari masyarakat luas. Jazz dianggap sebagai musik kaum elite. Musik kelas atas, orang beruang.

'Jadinya seperti sekarang. Jazz nggak dapat dapat pasaran di Jawa Timur. Padahal, setahu saya band seperti Level 42, Incognito... ingin tampil di lapangan terbuka agar penonton bisa banyak. Lha, kalau caranya seperti sekarang, ya, sama dengan mengerangkeng musik jazz,' ujar Arif kepada saya.

Mudah-mudahan masukan dari para penggemar jazz 'kelas bawah' ini bisa dipertimbangkan oleh para promotor musik di Indonesia.