25 May 2007

Wadji MS Pembuat Relief KBS


Kebun Binatang Surabaya [KBS] punya ratusan relief di dinding yang sangat menarik. Kisahnya seputar dunia binatang. Yang bikin itu semua ternyata Wadji MS, seniman asal Sukodono, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.


“Buatnya nggak sulit, tapi capek. Fisik saya benar-benar diuji saat membuat relief binatang di KBS,” ujar Wadji MS kepada saya.

Wadji MS alias Wadji Iwak memang seniman serba bisa. Berbekal gemblengan keras di Akademi Seni Rupa Surabaya alias Aksera, Wadji MS tumbuh sebagai orang yang menghayati benar kehidupan sebagai perupa. Apa saja dia tekuni di awal kariernya pada era 1970-an. Relief. Sketsa. Lukisan cat minyak. Lukisan di atas kanvas.

Bagi Wadji MS, membuat relief dalam jumlah puluhan hingga ratusan sama sekali bukan pekerjaan sulit. Tekniknya tak berbeda jauh dengan pekerjaan seni rupa lainnya. Hanya saja, untuk membuat sekian banyak relief seperti di KBS pada tahun 1980-an, ia harus memimpin pasukan dalam jumlah besar.

Kerja keras banting tulang di bawah sinar matahari Surabaya yang panas. Ketika hujan turun, ia dan pasukannya harus cepat-cepat mengamankan relief yang belum kering. Kerja tiap hari sampai seluruh dinding kebun binatang di kawasan Wonokromo/Joyoboyo itu rampung. Kesel tenan!

“Cukup repot, sangat capek, tapi itulah tantangan dalam berkesenian. Semua pekerjaan itu pasti ada tantangan dan kendala. Sing penting, awak dhewe iki lakoni urip ae. Kabeh-kabeh iku wis diatur ambe Gusti Allah,” ujar pria asli Sidoarjo ini seraya tersenyum.

Usai menggarap pesanan relief dari Perkumpulan KBS di Surabaya, Wadji MS mengaku ingin mencari tantangan baru. Tidak mungkin ia terus-menerus menggarap relief lantaran berbagai kerepotan mengkoordinasi sekian banyak orang tadi. Lagi pula, “Secara fisik saya merasa tidak sanggup bekerja seperti itu. Capek,” tegasnya.

Dan, singkat cerita, Wadji MS pun menjadi ‘Wadji Iwak’ seperti yang dikenal para seniman dan kolektor di Jawa Timur saat ini. Berbeda dengan kebanyakan pelukis yang mau menjajal objek apa saja, Wadji MS sengaja membatasi diri pada lukisan ikan. Kenapa ikan? “Yah, saya suka ikan. Filosofi saya juga ikan,” ujarnya.

Di mata Wadji MS, ikan itu binatang yang gesit, rajin, tidak pernah tidur, bisa hidup di lingkungan yang buruk, pantang menyerah. Wadji mengidentikkan diri sebagai ikan.
Makhluk air bernama ikan ini dieksploitasi habis-habisan oleh Wadji MS dalam karya-karyanya sejak 1970-an sampai hari ini.

Kendati begitu, ia merasa tidak mengalami kejenuhan atau kemandekan kreativitas. Ikan bisa dilukis dengan berbagai sudut pandang, gaya, gerak, irama, dan seterusnya. Belum lagi jenis ikan yang juga tak habis-habis ia eksplorasi.

“Sampai saya mati pun, insya Allah, saya tetap punya ide untuk menggambar ikan. Saya betul-betul tertarik dengan ikan, khususnya arwana,” tuturnya.

Khusus untuk arwana ini, menurut dia, ada banyak cerita mistis di baliknya, tentu bagi mereka yang percaya. Syahdan, dahulu kala arwana hanya boleh dikonsumsi oleh raja-raja atau kalangan bangsawan. Karena itu, ikan ini punya kelebihan khusus yang sulit dicari tandingannya. Latar belakang kisah seperti ini, bagi yang percaya, membuat lukisan arwana dijadikan bahan koleksi di rumah atau kantor. Siapa tahu sang kolektor mendapat keutamaan bak sang raja atau ratu.

“Kalau sudah bicara keyakinan, kita sulit menggunakan rasio biasa untuk memahaminya. Di sinilah seninya menggambar ikan, khususnya arowana,” kata Wadji MS yang sudah berkali-kali menggelar pameran di Sidoarjo, Surabaya, serta kota-kota lain di Indonesia.

Bagaimana dengan ikan lohan? Dipaksa seperti apa pun, Wadji MS enggan melukiskannya. Lho, kenapa? “Lohan itu singkatan dari ‘lo hancur’. Anda boleh percaya boleh tidak, tapi itu kenyataan. Saya mau lihat mana ada pemelihara ikan lohan ya eksis sampai sekarang? Nggak ada. Lohan itu pembawa sial,” ujar Wadji MS.


Pelukis di Surabaya dan Sidoarjo dalam beberapa tahun terakhir melonjak luar biasa. Di Sidoarjo 200 orang lebih. Di sisi lain pasar seni rupa tidak berkembang, sehingga persaingan menjadi sangat ketat.

"Nah, di sinilah teman-teman bisa menunjukkan ciri khasnya. Silakan orang menggambar ikan seperti yang saya lakukan. Tapi pasti ikan yang dihasilkan tidak sama dengan karya saya," ujar Wadji MS.

Setelah malang-melintang di seni rupa sejak 1976, menekuni beberapa jenis seni rupa, Wadji MS 'menemukan' dua filosofi penting dalam seni rupa.

Pertama, seniman harus bisa menghidupi karyanya.

Kedua, seniman harus bisa hidup dari karya sendiri. "Kalau saya jelaskan akan sangat panjang. Intinya, kita tidak boleh setengah-setengah kalau terjun ke seni rupa atau kesenian pada umumnya. Ini pilihan hidup yang harus dilakoni," ujar pria asal Dukuh Bangsri RT 08, Sukodono, Kabupaten Sidoarjo, itu.

Hidup dari karya, apa berarti membuat lukisan yang disukai pasar (pembeli, kolektor, pedagang)? "Oh, tidak seperti itu," tepisnya cepat.

Menurut Wadji MS, saat berkarya, entah membuat relief atau lukisan, sang seniman harus bekerja berdasarkan idealisme atau prinsip-prinsip kesenian yang dianutnya. Menggambar tidak boleh dilakukan asal-asalan, harus seideal mungkin. Hanya dengan begitu, karakter seseorang akan muncul di karyanya. Inilah yang disebut Wadji MS sebagai 'menghidupi' karya.

Setelah karya, katakanlah lukisan itu jadi, maka idealisme itu selesai. Yang bicara sekarang adalah bagaimana 'mengantar' lukisan itu kepada kolektor alias pembeli. Ilmu marketing jelas terlibat dalam bisnis seperti ini. "Supaya bagus, lukisan dipigura, didandani yang bagus, ketemu kolektor, diskusi, ketemu wartawan, pameran, dan sebagainya."

Dalam praktik, tak sedikit pelukis yang tak banyak bergerak setelah menghasilkan karya yang, katanya, idealis. Lukisan itu hanya disimpan saja di studio, rumah, tidak diapa-apakan. Pola seperti ini membuat si seniman sulit hidup dari karyanya.

"Sebagus-bagusnya karya kita nggak akan ada kolektor yang tahu. Memang jadi seniman itu harus kerja keras, sama dengan profesi yang lain."

Wadji MS sendiri beberapa kali menyebut 'alhamdulillah' karena sudah 30 tahun lebih bisa hidup semata-mata dari lukisannya, yang khas ikan (arwana). Rahasianya sederhana saja:

"Kalau sudah punya kolektor, silakan dirawat dengan baik. Kolektor harus makin lama makin banyak, bukan makin lama makin sedikit. Punya 10 kolektor saja kita sudah bisa makan satu tahun, bahkan lebih. Yang penting, kerja keras, ulet, tidak pernah menyerah. Filosofi ikan itu yang saya pakai, sehingga saya eksis sampai sekarang."

Bicara dengan Wadji MS niscaya Anda tak menemukan kata-kata pesimistis, apalagi putus asa. Seperti ikan yang tak pernah lelah berenang.

No comments:

Post a Comment