03 May 2007

Sutaji di Amerika


Selama dua pekan Sutaji, ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sidoarjo, bersama istri, Ismiati, ‘studi banding’ selama dua pekan di San Fransisco, Amerika Serikat. Banyak pengalaman menarik diperoleh dari negara Paman Sam itu.


Sutaji berkunjung ke Amerika Serikat atas undangan Joel Allan Sigar, pengusaha San Fransisco, yang punya hubungan bisnis dengannya sejak 1986. Mr Joel Sigar dan Mrs Patricia Sigar ingin agar Sutaji bisa melihat langsung kondisi San Fransico, negara bagian California.

“Joel ini yang menganggung semua biaya hidup, rekreasi, hotel... semuanya di San Fransisco. Saya bebas melakukan acara apa saja,” cerita Sutaji, yang juga pengagas Himpunan Wirausaha Daerah Sidoarjo (HWDS), kepada saya.

Selama dua pekan--kalau mau, sebetulnya bisa tinggal lebih lama di USA atas tanggungan Joel Sigar--Sutaji tinggal di Cortemadera, kota kecil dekat San Fransisco. Kota yang sangat bersih, asri, sejuk, suhu antara 10-15 derajat Celcius.

“Ini mirip studi banding, tapi sendirian sama istri. Setiap hari ada saja acara untuk mengenal dari dekat kehidupan masyarakat serta dunia perdagangan di California,” tutur Sutaji.

Namanya juga pengusaha, ketua Kadin yang getol pada UKM (usaha kecil dan menengah), Sutaji mengaku banyak mendatangi sentra-sentra penjualan produk UKM di San Fransico dan sekitarnya. Apa yang menarik?

“Sebagian besar produk di sana ternyata made in China. Produk buatan China begitu dahsyat, mudah dijumpai di mana-mana. Harganya juga sangat murah, untuk ukuran Amerika, tapi untuk orang Indonesia masih tergolong mahal,” kata Sutaji seraya geleng-geleng kepala.

Sutaji kemudian memperlihatkan topi koboi warna hitam yang dibeli di San Fransisco seharga USD 30. Di dalamnya tertulis jelas ‘made in China’ berikut tulisan dalam aksara China. Selain topi, alat-alat rumah tangga, keramik, suvenir, hingga tekstil didominasi oleh produk impor asal China.
Seperti di Indonesia, perbedaan harga produk China dengan produk negara lain sangat mencolok, bahkan hingga tiga kali lipat.

Lagi, Sutaji memperlihatkan topi yang dibeli di tempat sama, yang ini made in Canada. Harganya USD 85. “Kualitasnya, ya, hampir sama meskipun produk yang bukan China agak lebih bagus sedikit. Tapi dominasi tetap produk-produk China. Kalau tekstil, wah, hampir semua pasar di California didominasi China. Ini memang kenyataan yang saya lihat dan rasakan sendiri,” kata Sutaji.

Mengutip Joel Sigar, mitra bisnisnya di San Fransisco, serbuan gencar tekstil China sempat membuat geger pemerintah Amerika. Produsen tekstil lokal mendesak pemerintah melakukan proteksi, bila perlu membendung sama sekali masuknya tekstil China.

Tapi, diplomasi dagang China ternyata lebih canggih, apalagi sudah ada klausul di WTO (organisasi perdagangan dunia) yang memungkinkan sistem free trade di dunia. Batasan-batasan dalam perdagangan praktis tidak ada lagi.

Menurut Sutaji, rupanya China yang dikenal sebagai negara berpenduduk terbanyak di dunia itu paling siap memasuki era perdagangan bebas. Tak tanggung-tanggung, mereka lebih dulu ‘memborbardir’ Amerika Serikat dengan berbagai produk UKM-nya dengan harga murah. Amerika saja kelimpungan, apalagi Indonesia yang belum mapan.

“Kita tidak usah kaget kalau produk China begitu banyak masuk Sidoarjo. Di Amerika malah lebih dahsyat,” ujar pria kelahiran Bojonegoro, 7 April 1941 itu.

Bagaimana dengan produk-produk (UKM) Indonesia? Apa ada juga di pasar-pasar San Fransisco atau California umumnya? Pertanyaan ini pula yang menggelayut di benak Sutaji dan istri. Diantar Joel, Sutaji akhirnya menemukan beberapa unit bakul (besek) dari rotan di sebuah toko.
Sutaji meraba-raba bakul rotan itu, sementara si bule dari San Fransisco memotret.

Ternyata, hanya itulah produk UKM kita yang sempat ‘kesasar’ di Amerika. Kalah jauh dari China, raksasa dagang berkulit kuning.

Di Amerika Serikat, pusat utama kapitalisme dunia, Sutaji akhirnya sadar bahwa globalisasi, perdagangan bebas, itu bukan lagi wacana, tapi kenyataan. Mau tidak mau, suka tak suka, kita harus terlibat di dalamnya.

*******

Aneka produk made in China, khususnya yang membidik segmen menengah ke bawah, sangat dominan di San Fransisco atau negara bagian California umumnya. Selain banyak, distribusi produk China berlangsung begitu lancar. Dalam hitungan hari, kata Sutaji, sudah dikirim produk-produk baru dari Tanah Tiongkok ke Negeri Paman Sam.

“Terus terang saja, China sekarang paling siap dengan perdagangan bebas. Negara-negara lain akhirnya menjadi pasar produk made in China,” ujar Sutaji.

Bagaimana dengan produk Indonesia?

Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sidoarjo ini sempat menggelengkan kepala. Payah, begitulah kesan Sutaji di San Fransisco. Dari ratusan toko yang ia datangi (bersama istri, Hj Ismiati, serta mitranya di California, Joel Allan Sigar dan Patricia), Sutaji mengaku hanya menemukan satu toko kerajinan yang menjual produk rotan Indonesia.

“Nggak mencolok sama sekali,” ujar Sutaji seraya memperlihatkan foto produk kerajinan rotan kita di San Fransisco. Produk tas, kulit, sandal karya perajin UKM Sidoarjo? Nihil. Yang ada, itu tadi, barang-barang buatan China, China, dan China. Kalaupun ada produk luar, biasanya produk mahal dari negara-negara Barat sendiri.

Ironis, padahal kualitas produk kita sebenarnya tidak kalah dengan China. Andai UKM kita sedikit bekerja keras, punya strategi pemasaran yang canggih, relasi yang luas, bukan tak mungkin produk Sidoarjo menembus pasar Amerika. Di sinilah kita kalah telak dari UKM China yang sudah mempersiapkan diri memasuki globalisasi pada era 1980-an.

“Kita masih sibuk dengan politik," ujar mantan anggota DPRD Jawa Timur ini.

Jabatan di DPRD ini sempat dikritik Joel Allan Sigar, pengusaha San Fransisco. “Anda tidak cocok di situ. Politik itu ibarat kursi yang empat kakinya tidak rata hehehe...,” sergah Joel.

Ada lagi yang membuat kita harus mengelus dada. Sebagai pengusaha rotan, Sutaji sudah sering berhubungan dengan pengusaha mancanegara untuk bisnis rotan. Boleh dikata, dulu rotan kita menjadi primadona di pasar dunia. Apalagi, Indonesia punya hutan rotan sebagai sumber bahan baku aneka produk rotan. Tapi, kini, apa yang terjadi?

Negara-negara Asia seperti Thailand, China, Vietnam sudah unggul jauh di atas kita. Pengusaha Amerika macam Mr Joel ini pun mengaku lebih banyak berhubungan dengan mitra rotannya dari negara-negara di luar Indonesia. Padahal, asal tahu saja, bahan baku mereka umumnya diambil dari Indonesia.

“Mereka mengimpor rotan dari kita, mengolah, membuat produk, kemudian mengekspor ke Amerika, dengan harga yang lebih murah. Kita kalah bersaing,” tutur Sutaji.

Sadar melihat Sutaji yang gelisah, Joel A Sigar mengatakan bahwa Indonesia sebenarnya masih punya prospek dalam perdagangan bebas. Hanya saja, kata Joel seperti dikutip Sutaji, pengusaha
Indonesia harus melakukan perbaikan, pembenahan, di segala bidang. Perbaikan, perbaikan, perbaikan! Mulai desain, efisiensi, marketing, promosi, dan sebagainya.

“Improvement itu yang ditekankan sekali oleh teman-teman di Amerika. Dan saya sangat setuju dengan masukan dari teman saya itu,” kata Sutaji.

Ada lagi hikmah yang dipetik Sutaji selama ‘ditraktir’ dua pekan di San Fransisco. Bagi orang Barat, kepercayaan atau trust adalah segalanya dalam hidup, khususnya bisnis. Jangan suka mencla-mencle, ingkar janji, tidak disiplin, menipu mitra bisnis.

“Istilahnya mereka, if you want to say yes, do not say no. Jangan mencla-mencle,” ujar Sutaji.

Nah, berkat trust, saling percaya, itulah Sutaji ditraktir oleh Joel Sigar selama dua pekan di San Fransisco. Menginap di hotel berbintang gratis, rekreasi ke tempat wisata, tur ke sentra produk UKM, menikmati ‘desa’ di Amerika, hingga pulang ke Sidoarjo.

“Saya diurus mulai datang di airport hingga pulang ke Indonesia,” ujarnya. Alhamdulillah!

1 comment:

  1. nice sharing sir.. saya orang indonesia yang kebetulan pgn sekali kerja di amerika, kira2 bgmn kehidupan disana? visa? how to get there without connetion?pandangan american to indonesian?

    ReplyDelete