04 May 2007

Sumaji Pelukis Madura


Di usia senja, Sumaji tetap melukis. Ikut pameran. Diskusi dengan komunitas seniman. Sumaji merupakan salah satu dari sedikit pelukis asal Pulau Madura yang istikamah mengabadikan kampung halamannya di atas kanvas.


Siapa seniman asal Madura yang terkenal? Sastrawan paling tidak ada D Zawawi Imron serta Abdul Hadi WM. Pelukis sangat langka.

Nah, Sumaji merupakan pelukis senior yang sangat langka dan konsisten menekuni bidang ini.

“Upaya Pak Sumaji memperkenalkan Madura melalui lukisan patut diacungi jempol karenaia mampu menampilkan Madura tidak hanya melalui kulit luar saja, tetapi juga mampu memperlihatkan esensi yang ada di balik alam dan budaya Madura,” kata Prof Dr Mahfud MD, anggota DPR RI, asal Madura.

Memang benar, karya-karya Sumaji memang kental dengan alam, budaya, serta kehidupan sehari-hari orang Madura. Warna-warna berani khas Madura, misalnya pria berbusana kaus bergaris-garis merah-putih horisontal, wanita berkebaya, songkok, atau tarian. Begitu melihat lukisan-lukisannya, orang pasti langsung menebak,

“Oh, itu pasti karya Pak Sumaji, bukan yang lain. Sebab, karakternya sangat kuat,” ujar Kris Mariono, penggiat budaya yang pernah mengajak Sumaji untuk pameran bersama di Surabaya dan Sidoarjo.

Lahir pada 7 Februari 1935, Sumaji belajar seni lukis di Jogja dalam usia relatif muda. Di usia 18 tahun Sumaji menempa diri di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI), Jogja, juga aktif di komunitas seniman Jogja.

Tahun 1954 Sumaji ikut mendirikan Sanggar Bambu di Jogja. Sanggar ini diminta membantu proyek Asian Games di Jakarta, 1964, yang bersejarah itu.

Namun, petulangan Sumaji ke luar Madura itu ternyata tak membuat dia lupa kampung halaman, pulau garam. Justru di rantau, bayang-bayang masa kecilnya terus membekas, menjadi sumber inspirasi yang tak pernah kering.

Menurut Sumaji, alam Madura itu sesungguhnya sangat indah karena masih banyak yang ‘perawan’. Alam pedalaman, pantai, laut, tradisi... cukup banyak yang masih murni, belum terpolusi budaya luar.

“Rumah penduduk yang rapi dan seragam desainnya juga sangat menarik,” ujar Sumaji beberapa waktu lalu.

Inilah alasan utama Sumaji, pelukis yang kini tinggal di Trosobo, Taman, untuk memperkenalkan Madura lewat lukisan-lukisannya. Madura itu, katanya, sulit menerima kebudayaan dan kesenian asing, sehingga ekspresi budaya di Madura relatif ‘murni’ ketimbang daerah lain di Indonesia.

Untuk melukis segala yang berbau Madura, Sumaji tak harus survei lagi ke Pulau Madura. Memori masa kecilnya tentang Madura sangat kuat, sehingga setiap saat ia bisa menggambarnya di atas kanvas. ‘Penjual Sate’ termasuk cukup sering dilukisnya.

“Sebab, di mana-mana yang namanya penjual sate itu banyak orang Madura meskipun orang dari suku lain bisa,” jelasnya.

Ada lagi lukisan ‘Ambuten’, pantai di sebelah utara Sumenep yang ombaknya sangat besar. Lokasi ini, kata Sumaji, menjadi medan pencarian ikan bagi nelayan Madura. Ada lagi cadik, perahu kecil untuk satu orang. Dengan bantuan lampu petromaks, ikan-ikan berdatangan karena daya tarik petromaks alias stromking.

Ada lagi tari pecut untuk mengiringi karapan sapi. ‘Sereseh’, perahu nelayan di Madura bagian barat, penuh ukiran. Sumaji ingat, dulu pernah ada ikan besar (panjang 9 meter, tinggi 6 meter) pernah terdampar di kawasan Sereseh.

Melihat lukisan Sumaji, kita seakan-akan diajak bertamasya di Pulau Madura. Dan mantan kepala SMA negeri di Sumenep dan Bangkalan (1980-an) ini dengan senang hati bercerita tentang objek-objek yang dilukisnya. Tak heran, pejabat dan tokoh Madura macam Mahfud MD atau Fuad Amin [bupati Bangkalan] sangat membanggakan Sumaji.

3 comments:

  1. mas Hurek, berita-berita cukup inspiratif, terutama yang tentang madura, sangat membantu saya untuk memperoleh info tentang madura, mengigat saya sudah hampir 7 tahun di luar madura, dan saya ucapkan mator sakalangkong, blog-nya boleh saya link?

    ReplyDelete
  2. Oke, mas, silakan saja. Saya malah senang. Sejak kasus lumpur di Porong, saya memang sering jalan2 ke Madura karena asyik. Banyak teman di sana, juga memang karena saya suka daerah yang masih natural. Salam.

    ReplyDelete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete