09 May 2007

SSO Tekor Rp 100 Juta


[Grace, Jaya Suprana, Solomon Tong.]

Surabaya Symphony Ochestra baru saja mengelar konser di Hotel JW Marriott, Surabaya, Selasa [24/4/2007]. Ini konser ke-51 sejak orkestra yang diaba Solomon Tong berdiri pada akhir 1996.

Seperti biasa, SSO menampilkan sebagian besar pemusik binaannya sendiri. Kebanyakan orang-orang muda usia SMP/SMA. SSO punya 54 pemain tetap.

Saat konser Pak Tong mendatangkan 17 pemusik asal Jogja [asal Institut Seni Indonesia]. Yang dari Jogja ini bermain flute, oboe, klarinet, basson, french horn, trumpet, trombone, timpani. Pemusik lulusan ISI Jogja ini pun sudah tergolong keluarga besar SSO.

"SSO ini satu-satunya orkestra di Indonesia yang punya pemain tetap. Orkestra yang lain-lain, misal di Jakarta, itu mengandalkan pemain bon-bonan. Mereka hanya berlatih kalau akan konser saja. Lalu buyar," ujar Solomon Tong, dirigen SSO yang lahir di Xia Men, Tiongkok, 20 Oktober 1939, kepada saya.

Sebagai orang tua, boleh dikata 'bapak musik klasik Surabaya', Pak Tong memang memang ingin mencetak sebanyak mungkin pemusik klasik di Surabaya dan Jawa Timur umumnya. Juga membina audiens. Sebab, tanpa audiens, penggemar setia, SSO tak akan bertahan sampai hari ini.

Rata-rata seribu orang menyaksikan setiap konser besar SSO di Marriott [dulu Hotel Westin]. Toh, Pak Tong selalu menyebut bahwa SSO selalu rugi. Tiket meski habis tidak bisa menutup biaya produksi. "Yah, kami harus putar otak, agar bisa terus tampil," papar Pak Tong.

Nah, pada spring concert lalu [Pak Tong memang suka mengadopsi istilah Barat, meski di sini tidak ada musim semi atau musim gugur], bintang SSO adalah Grace Rozella Soetedja. Violinis muda binaan SSO [lahir di Surabaya 23 Mei 1994] memainkan konserto karya Johannes Brahms: Violin Concerto in D Major Opus 77.

Komposisi panjang ini sarat tantangan. Ada empat gerakan yang harus dilalui Grace, pencetak rekor Muri [Museum Rekor Indonesia di bidang violin]: allegro non tropo, adagio, allegro, giocoso ma non troppo, vivace. Namanya juga konserto, Grace tampil sebagai solis, sedangkan orkestra bertugas sebagai pengiring.

Bukan main! Grace bertambah matang sejak tampil perdana bersama SSO pada 16 April 2004 [konser ke-33 SSO]. Gadis remaja yang cuek, hemat kata, tak suka diwawancarai, ini selamat meniti konserto Brahms yang penuh jebakan. "Grace tampil bagus," puji Pak Tong.

Grace sendiri sih tenang-tenang saja. Didekati wartawan, dia tak banyak bicara. Hanya bapa mamanya saja yang membantu memberi sedikit keterangan. "Anaknya memang pemalu, pendiam," ujar Bu Cathrin Sutedja, mamanya Grace.

Yang pasti, eksistensi SSO bersama Pak Tong yang istikamah mengemakan musik klasik, orkestra, di Kota Surabaya layak diapresiasi. Belum pernah ada pemusik yang punya energi besar macam Pak Tong, idealisme, untuk mengembangkan musik klasik di 'republik dangdut' ini.

"Tapi kami tidak akan menyerah. Saya bangga melihat anak-anak muda di SSO bisa tampil sangat bagus. Dan itu memberi kepuasan tersendiri kepada saya," kata Pak Tong yang selalu menyertakan istrinya, Bu Esther Carolina Magawe, dalam setiap konser SSO sebagai pianis tetap.

Saya beberapa kali berdiskusi empat mata dengan Pak Tong tentang musik klasik, khususnya di Surabaya. Pak Tong bilang, biaya konser orkestra lengkap macam SSO tidak murah. Sekali main Rp 200 juta. Luar biasa!

Dari penjualan tiket [yang rata-rata seribu penonton] ternyata hanya menghasilkan Rp 53 juta. Ini juga karena banyak sekali undangan VIP/VVIP yang nonton gratisan. Kemudian dari sponsor hanya 25 persen. "Kalau mau jujur, SSO ini selalu tekor Rp 100 juta setiap kali konser," beber Pak Tong.


Saya terperangah. Kok tekornya banyak sekali? Tapi kok bisa eksis sejak 1996? Pak Tong tersenyum mendengar pertanyaan saya.

"Hurek, Pak Tong is no body, tapi saya punya kemauan yang habis-habisan. Saya ini melawan arus. Makanya, banyak teman bilang Pak Tong ini orang sinting," ujarnya lalu tertawa kecil.

Pak Tong sangat religius. Ia pendiri sinode Gereja Kristen Abdiel serta Sekolah Tinggi Teologia di Surabaya. Adiknya, Pendeta Dr Stephen Tong, sangat terkenal di Indonesia. Karena itu, Pak Tong sangat percaya bahwa Tuhan senantiasa mencukupi kebutuhan konsernya.

Buktinya, ya, konser SSO jalan terus. Jangan heran, di setiap akhir konsernya, SSO bersama paduan suara senantiasa membawakan lagu-lagu pujian dan syukur kepada Tuhan. Bukankah Tuhan telah menghidup orkestra ini?

2 comments:

  1. Saya suka Pak Tong yang energik dan berani membina musik klasik di Surabaya. Salam.

    ReplyDelete
  2. Maria Cellina Wijaya6:40 PM, October 24, 2009

    wah hebat ya saya juga suka main piano mulai saya kecil saya lahur 1997 boleh tanya ya pak Tong tinggal di mana? tolong jawab di email :celline.malay13@gmail.com makasih

    ReplyDelete