28 May 2007

Sholeh Eks Tapol Orde Baru


Gara-gara sering demo menentang rezim Orde Baru, Muhammad Sholeh dipenjara pada 1996. Setelah Presiden Suharto jatuh, Sholeh menjadi ketua Partai Rakyat Demokratik. Kini, dia berkarier sebagai pengacara di Kota Surabaya.

Sholeh ini tipe aktivis sejati. Tak gentar sama polisi atau tentara di era Orde Baru. Dia dan kawan-kawannya, waktu itu, bahkan siap mati kapan saja. Risiko perjuangan, katanya.

Sholeh mulai menjadi aktivis pada 1995, setahun setelah kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Wijaya Kusuma, Surabaya. Dia nekat menentang pakem politik ala Orde Baru yang dipimpin Presiden Suharto.

Maka, dia bergabung dengan Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID). SMID ini wadah bagi aktivis mahasiswa yang getol menentang Orde Baru. Kelompok ini getol membaca buku-buku kiri. Banyak membahas pola perjuangan ala Che Guavara. Mereka pun kerap mendatangi kelompok marginal, khususnya buruh.

"Saya dan teman-teman dicap sebagai mahasiswa tukang demo. Bahkan dituduh sebagai antek-antek PKI," kenang Sholeh.

Asal tahu saja, di zaman Orde Baru unjuk rasa alias demo merupakan barang mewah di Indonesia. Unjuk rasa sedikit saja aparat sudah bertindak. Tentara bahkan ikut mendatangi pabrik-pabrik demi menjinakkan aktivis buruh yang dianggap kepala angin.

Pada 8 Juni 1996, Sholeh bersama Dita Indahsari dan Budiman Sudjatmiko menggelar aksi unjuk rasa di kawasan Simo, Surabaya, untuk membela kaum buruh. Sejak itulah, Sholeh bersama Dita ditangkap petugas. Dua aktivis muda itu divonis di Pengadilan Negeri Surabaya dengan penjara empat tahun. Ikut dihukum Coen Husein Pontoh, juga aktivis PRD.

"Kami memantau perjuangan rekan-rekan mahasiswa yang menggulirkan arus reformasi dari dalam penjara," cerita Sholeh.

Presiden Suharto akhirnya lengser pada 21 Mei 1998. Dua bulan kemudian, tepatnya 23 Juli 1998, para tahanan dan narapidana politik mendapat amnesti dari Presiden B.J. Habibie.

"Artinya, saya hanya menjalani masa hukuman dua tahun di Penjara Kalisosok. Keluar dari penjara, saya dipercaya menjadi ketua PRD Jawa Timur," tutur pria yang pandai berdebat itu.

Keluar dari penjara, Sholeh ingin kuliah lagi. Namun, dia tidak kuliah di FISIP melainkan di Fakultas Hukum. Kenapa? "Karena saya lihat perjuangan Munir (almarhum), Bambang Wijoyanto, Adnan Buyung Nasution, dan Trimulya D. Suryadi yang gigih membela saya dan teman-teman aktivis yang ditahan. Saya pun tertarik kuliah di hukum agar bisa jadi pengacara."

Lalu, menikah dengan sesama aktivis. Kini dia punya lima anak.

Lulus pada 2001 dari Universitas Wijaya Kusuma, Sholeh menekuni dunia pokrol bambu alias kepengacaraan. Rupanya, pengalaman sebagai aktivis, bekas napol, sangat membantu.
"Saya jadi lantang membela klien. Saya juga banyak dikenal orang," akunya.

"Karena dikenal orang, saya bisa masuk ke mana saja dengan leluasa," tambahnya.

Kini, Sholeh dipercaya sebagai pengacara PDI Perjuangan Kota Surabaya. Tak heran, wajah Sholeh kerap nongol di media massa ketika menangani kasus-kasus yang berhubungan dengan partai politik pemenang pemilu di Jawa Timur itu.
Dia pun meninggalkan PRD dan para aktivis lama yang masih berkutat dengan romantisme perjuangan ala Orde Baru dulu.
Sholeh dulu dan sekarang sudah beda. Bahkan, dia pernah dikontrak TVRI Surabaya sebagai presenter acara Suara Dewan.

Saat ditanya tentang hasil reformasi selama sembilan tahun terakhir, Sholeh mengatakan bahwa reformasi 1998 ternyata menciptakan banyak pengkhianat. Orang-orang yang berkuasa justru menindas rakyat, menyelewengkan agenda reformasi. Kasus korupsi alias KKN tidak kunjung tuntas. Alih-alih mengadili Suharto, penguasa pascareformasi malah membebaskan presiden yang berkuasa sejak 1966 hingga 1998 itu.

"Saya kecewa dengan reformasi walaupun ada perbaikan di beberapa sendi," kata Sholeh.

Di sisi lain, tidak sedikit aktivis yang juga kecewa dengan kiprah Sholeh di PDI Perjuangan. Sholeh dinilai mengejar kemapanan dan melupakan masa-masa sulit saat menjadi pejuang buruh dan wong cilik pada era 1990-an dulu.

Aktivis juga manusia, bukan? Perlu uang, perlu makan, perlu istri yang butuh uang belanja. Hehehe....

Berjuang teruslah, Sholeh!

4 comments:

  1. Hem...Sholeh ya... Dia sekarang terkenal dengan jargon: Maju Tak Gentar Membela Yang Bayar.
    Sayang, dia sendiri mengkhianati perjuangannya di masa lalu sebagai pembela buruh.

    ReplyDelete
  2. Tentang sebuah gerakan
    Oleh: Wiji Thukul


    tadinya aku pengen bilang:
    aku butuh rumah
    tapi lantas kuganti
    dengan kalimat:
    setiap orang butuh tanah
    ingat: setiap orang!

    aku berpikir tentang
    sebuah gerakan
    tapi mana mungkin
    aku nuntut sendirian

    aku bukan orang suci
    yang bisa hidup dari sekepal nasi
    dan air sekendi
    aku butuh celana dan baju
    untuk menutup kemaluanku

    aku berpikir tentang gerakan
    tapi mana mungkin
    kalau diam?

    ReplyDelete
  3. Tentang sebuah gerakan
    Oleh: Wiji Thukul


    tadinya aku pengen bilang:
    aku butuh rumah
    tapi lantas kuganti
    dengan kalimat:
    setiap orang butuh tanah
    ingat: setiap orang!

    aku berpikir tentang
    sebuah gerakan
    tapi mana mungkin
    aku nuntut sendirian

    aku bukan orang suci
    yang bisa hidup dari sekepal nasi
    dan air sekendi
    aku butuh celana dan baju
    untuk menutup kemaluanku

    aku berpikir tentang gerakan
    tapi mana mungkin
    kalau diam?

    ReplyDelete
  4. salut dgn pak soleh! keep on fire pak.. sukses selalu

    ReplyDelete