03 May 2007

Serma Ferdinand Purba, Tentara dan Pelukis


Serma TNI Angkatan Laut Ferdinand S Purba bukan anggota tentara biasa. Bang Purba juga dikenal sebagai pelukis yang banyak mengabadikan pemandangan alam Tapanuli, Sumatera Utara, kampung halamannya.


“SEJAK remaja saya sudah melukis, tapi sempat tenggelam. Setelah jadi tentara, bakat saya ini dikembangkan lagi. Kalau ada waktu luang, saya usahakan untuk melukis,” ujar Ferdinand S Purba kepada saya di rumahnya.

Rumah di kawasan Sidokare Indah R/18 Sidoarjo itu memang penuh lukisan Tanah Batak. Cocok dengan figur Bang Purba, ‘tentara yang seniman’ atau ‘seniman yang tentara’. Lukisan-lukisan di rumah pun mencerminkan karakter Bang Purba yang lembut, halus, senang bercanda, murah senyum... jauh dari karakter tentara yang (katanya) keras, tegas, disiplin kaku. Yang jelas, tidak ada lukisan tentara di rumahnya yang asri itu.

“Lihat, yang itu gambar siapa? Istri dan anak-anak saya takut kalau dipasang di ruang tamu. Makanya, ditaruh saja di ruang atas,” ujar Bang Purba seraya tertawa kecil.

Gambar pengantin wanita Batak, mengenakan gaun putih, itu sekilas mirip ‘dunia lain’ yang banyak gentayangan di televisi. “Ada yang bilang hantu hehehe....”

Ada lagi lukisan rumah adat, lengkap dengan kepala kerbau, pemandangan di sekitar Danau Toba, hingga busana tradisional Tapanuli. Busana itu, kata Bang Purba, sudah menjadi tradisi ribuan tahun di kampung halamannya.

Karena itu, “Saya ketawa saja kalau ada perancang busana bilang busana seperti itu baru dibuat beberapa waktu lalu,” tukas pria kelahiran Brastagi, Sumatera Utara, 17 Juli 1959 itu.

Ayah tiga anak ini (Christine, Elizabeth, Ucok) mengaku sudah menekuni seni budaya di kampung halamannya. Pelajaran bahasa daerah (Batak) sangat disukainya. Di situlah Purba kecil menemukan banyak pelajaran berharga seputar seni lukis, musik, hingga tradisi Batak.

Purba kemudian menjadi salah satu dari sedikit pelajar yang menguasai dengan baik aksara Batak. “Saya malah diharap-harap menjadi pelestari aksara dan tradisi Batak,” kenang pria yang bertugas di Kodikal, Bumimoro, Kota Surabaya, itu.

Tapi, perjalanan waktu menentukan lain. Bang Purba melamar ke TNI Angkatan Laut, dan akhirnya jatuh cinta pada ‘Jaleveva Jayamahe’, di laut kita jaya. Kesibukan berdinas di laut, latihan perang, dan seterusnya sempat membuat Bang Purba ‘lupa’ pada talenta seni lukisnya.

Nah, ketika masa dinasnya sudah cukup panjang di TNI AL, tepatnya jadi pengajar di Kodikal, ada waktu untuk Bang Purba untuk melukis kembali. Dan lingkungan di Sidoarjo dianggap kondusif untuk melampiaskan gejolak seni di hati Bang Purba. Tentu saja, Bang Purba tidak bisa melukis setiap saat mengingat tugas pokoknya tetap di Kodikal, Surabaya.

“Tapi, puji Tuhan, saya sudah bisa membuat banyak lukisan. Ada yang dipajang di rumah, ada yang dititipkan di galeri, ada yang dikoleksi, dan sebagainya,” kata suami Maria Magdalena Br Ginting ini seraya tersenyum. Rumah di Sidokare Indah, Sidoarjo, boleh dikata menjadi galeri sekaligus studio baginya.

Melukis sudah menjadi panggilan jiwa Bang Purba. Ini bukan sekadar slogan, tapi benar-benar dijalankan Bang Purba di kala senggang. Karena itu, Bang Purba tidak begitu peduli lukisan-lukisannya dikoleksi atau laku terjual di pasar seni rupa. Tak heran, dia tidak begitu aktif menggelar pameran lukisan (tunggal atau bersama), ikut bursa lukisan, sibuk bertemu kolektor, dan sebagainya.

Dibeli syukur, tidak dibeli, toh lukisan-lukisan itu bisa dipajang dan dinikmati di rumahnya. Paling tidak, lukisan-lukisan Tanah Batak itu bisa mengingatkan tiga anaknya bahwa mereka sesungguhnya orang Batak yang kebetulan lahir di Tanah Jawa.

“Anak-anak saya itu nggak ada yang bisa berbahasa Batak hehehehe...,” kata Bang Purba, tertawa lepas.

No comments:

Post a Comment