12 May 2007

Sanggar Delta Tivikrama


Sanggar Delta Tivikrama, bermarkas di Jalan Trunojoyo II/4 Sidoarjo, merupakan sanggar tari tertua di Kabupaten Sidoarjo. Begitu banyak anak muda pernah belajar menari di sini.

Kisah Sanggar Delta Tivikrama berawal pada 1979. Mula-mula hanya segelintir anak-anak yang ingin belajar menari. Masyarakat heran kok menari jadi rutinitas.

Sutrisno Kasim, pendiri sekaligus ketua Sanggar Delta Tivikrama, bercerita kepada saya, pada 1979 itu para orang tua sangat enggan mengikutkan anaknya di sanggar tari. Imej seni tari di Sidoarjo kurang bagus, waktu itu.

"Malah ada yang mengaitkan seni tari dengan PKI [Partai Komunis Indonesia]. Kedengaran aneh, tapi itulah yang muncul pada awal berdirinya Sanggar Delta Tivikrama," ujar Sutrisno Kasim.


Pada tahun 1970-an itu perumahan-perumahan belum banyak di Sidoarjo, sehingga masyarakatnya cenderung konservatif. Sidoarjo masih disebut-sebut sebagai kota santri. Nah, ketika perumahan-perumahan bermunculan, 1980-an, banyak warga Surabaya pindah ke Sidoarjo, Delta Tivikrama pun berkembang pesat. Warga perumahan giat mengirimkan anak-anaknya untuk belajar menari.

Pelan tapi pasti, sanggar ini pun berkembang pesat. Sutrisno mencatat, sedikitnya 3.000 orang pernah dan sedang belajar di Delta Tivikrama. Saking banyaknya, Sutrisno mengaku tak ingat lagi para bekas muridnya.

"Tahu-tahu mereka mengantar anak-anak, bahkan cucunya, untuk belajar di Delta Tivikrama. Dari ibu, anak, sampai cucu, belajar di sini," ujar Mas Tris, sapaan akrabnya, lalu tertawa kecil.

Kini, Delta Tivikrama menggunakan paseban alun-alun Sidoarjo untuk latihan. Dalam sepekan digelar tiga kali latihan: Selasa, Rabu, dan Minggu. Kalau Anda main-main ke alun-alun, dan menyaksikan anak-anak dan remaja berlatih tari, hampir pasti mereka anak-anak asuh Mas Tris.

"Untung juga ada fasilitas di alun-alun. Sejak dulu kami sudah menggunakan untuk latihan," kata pria kelahiran Sidoarjo, April 1954 ini. Tanggal dan jam, katanya, tidak jelas!

Seiring perjalanan waktu, dan kematangan dalam berproses, Delta Tivikrama membina 10 kelas tari. Kelas 1A, 1B, 2A, 2B ...hingga 5B. Kelas-kelas ini tidak berdasar tingkat usia, tapi kematangan siswa. Menurut Mas Tris, klasifikasi ini sangat penting karena Delta Tivikrama selalu mengikuti ujian tari tingkat Jawa Timur.

Sebelum lulus di kelas bawah, peserta tak mungkin mengikuti kelas di atasnya. Mirip kelas di sekolah formal saja.

Sutrisno Kasim merintis Sanggar Delta Tivikrama benar-benar dari nol besar. Bermula dari kecintaan akan seni tari, sekaligus semangat untuk memberikan wadah positif kepada anak-anak dan remaja, dia mengirim dua utusan ke Jogjakarta: Djamali (almarhum) dan Dwi Puji Utami.

Keduanya secara khusus belajar di padepokan milik Bagong Kusudiardjo (almarhum). Mereka nyantrik, tinggal lama, sekaligus menyerap ilmu tari dari Sang Maestro.

Bagong sendiri, kata Mas Tris, seorang empu tari yang amat bijaksana. Ia tak ingin para cantriknya meniru mentah-mentah gayanya. "Jangan jadi Bagong-Bagong di daerah. Kalian harus bisa mengembangkan tarian sendiri," ujar Mas Tris mengutip kata-kata Bagong Kusudiarjo.

Kembali ke Sidoarjo, Djamali dan Dwi mampu membina dan mengembangkan tari di Delta Tivikrama dengan sangat baik. Agar tidak ketinggalan, Mas Tris terus-menerus mengirim pelatih-pelatih lain ke markas Bagong, juga Didik Nini Thowok, di Jogja. Waktu itu, dua seniman tari ini praktis menjadi kiblat guru tari di Indonesia.

"Sehingga, Delta Tivikrama selalu bisa menciptakan banyak macam variasi tarian. Kami memang berangkat dari tradisi (Jawa), tapi bisa membuat berbagai modifikasi," ujar Mas Tris, yang juga mantan wartawan harian Suara Indonesia.

Kelebihan Sanggar Delta Tivikrama adalah sikapnya yang berswadaya. Mas Tris dan asistennya tidak mau mengandalkan fasilitas dari pemerintah atau swasta. Ada atau tidak fasilitas pemerintah, Delta Tivikrama jalan terus. "Fasilitas apa yang kami dapat? Paling, ya, cuma tempat latihan di alun-alun itu," tegas Mas Tris.

Delta Tivikrama selalu menjadi pengisi tetap berbagai even di Sidoarjo, khususnya yang digelar Pemkab Sidoarjo. Delta Tivikrama memang paling siap ketimbang sanggar-sanggar lain.


Mau tarian tradisi, modifikasi, hingga modern, Delta Tivikrama oke-oke saja. "Anak-anak kami siap tampil di mana saja, dan kapan saja," ujar Sutrisno Kasim, kepada saya.

Untuk keperluan pergelaran besar, misal lelang bandeng atau ulang tahun Sidoarjo, penari-penari berjam terbang tinggi yang ia turunkan. Begitu pula untuk keperluan dokumentasi atau rekaman di televisi.

Sebagai sanggar utama di Sidoarjo, papar Mas Tris, pihaknya berusaha menggarap tarian khas Sidoarjo. Mula-mula Mas Tris dan kawan-kawan mengadopsi Tari Udang karya Bagong Kusudiarjo. Setelah beberapa tahun, koreografer lokal mengembangkan Tari Udang Windu, yang kini sudah dianggap tarian khas Sidoarjo.

Tarian ini sederhana, memasyarakat, tapi cukup menghibur. Durasinya hanya sekitar enam menit sehingga tidak membosankan.

Masih seputar tarian khas Sidoarjo, Delta Tivikrama juga memopulerkan Tari Banjarkemuning. Mengambil inspirasi dari Banjarkemuning, kampung nelayan di Sedati [kawasan Bandara Juanda], tarian ini bercerita tentang para istri nelayan yang sibuk kerja di rumah.

Ada yang repot membuat terasi serta berbagai produk olahan dari hasil laut. Ibu-ibu atau wanita Sidoarjo digambarkan rajin, ringan tangan, ketika suaminya tengah melaut.

Memasuki dekade ketiga, selain banyak prestasi, Delta Tivikrama juga punya cerita muram. Menurut Sutrisno, sejak beberapa tahun terakhir pihaknya sulit menemukan siswa yang tekun belajar hingga usia SMA. Rata-rata hanya anak SD dan sedikit SMP yang konsisten berolah tari di Delta Tivikrama.

Lainnya ke mana?

"Sinau, belajar! Tuntutan di sekolah yang makin berat membuat para orang tua khawatir anaknya ketinggalan pelajaran atau tidak lulus," papar Mas Tris.

Akibatnya, Sanggar Delta Tivikrama sulit melahirkan penari yang benar-benar matang. Gejala ini juga terjadi di sanggar-sanggar tari dan seni di kota lain.

Kendala lain?

Sampai sekarang Sidoarjo belum punya gedung kesenian. Karena itu, anak-anak Delta Tivikrama terpaksa menggunakan Pendopo Pariwisata di Jalan Sultan Agung yang sempit itu. Tentu saja, hasilnya tidak maksimal, tak sebanding dengan standar mutu yang diinginkan Delta Tivikrama.

"Saya dari dulu sudah menunggu gedung kesenian, kok sampai sekarang hanya janji thok. Kapan direalisasikan, itu yang penting. Buat apa janji-janji kalau tidak ditepati?" tandas Mas Tris.

Soal janji membangun gedung kesenian, para petinggi Sidoarjo memang ahli. Sejak zaman Bupati Sugondo janji itu sudah ada. Pak Gondo lengser diganti Eddy Sanyoto, janji itu diulang lagi. Pak Eddy diganti Sudjito, muncul lagi komitmen untuk membuat sebuah gedung kesenian yang representatif. Kini, zamannya Win Hendrarso [dua periode] datang lagi janji mau bikin gedung kesenian.

"Tak enteni janji-janji iku. Aku gak kiro lali," ujar Mas Tris. [Saya tunggu realisasi janji-janji itu. Saya tidak akan lupa.]

Menurut Sutrisno, yang dibutuhkan adalah sebuah gedung milik Pemerintah Kabupaten [baca: milik rakyat], sehingga bisa digunakan warga Sidoarjo setiap saat. Sewa gedung dibuat semurah mungkin. Bila perlu gratis.

8 comments:

  1. Selamat pada Pak tris dan Delta Trivikrama! kebetulan saya sering melihat hasil karya anda / anak didik anda. Pak Tris patut mendapat penghargaan atau minimal perhatian lebih dari Pemkab Sidoarjo. kalo bisa latihannya bisa pakai pendopo pariwisata. Jaya Selalu

    ReplyDelete
  2. salam buat pak tris.

    ReplyDelete
  3. Terima kasih anda sudah kasih respons. Bagaimana kalau kali lain pakai identitas? Salam.

    ReplyDelete
  4. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  5. wah...ikut senang deh...tari BJK,bisa dikenal dimasyarakat jatim kususnya.....karena aku juga lagi memperkenalkan budaya jatim dijepan,dan aku juga perna menampilkan tari BJK ini.ok sukses buat pak trisnya...saya juga pengen kenal tuh ama pak trisnya....semoga bisa ketemu ya pak???insyaallah.

    ReplyDelete
  6. waH ...
    Slamat Y pak Tris dN KawaN2 Delta Trivikrama atas Keberhasilannya.Saya Elsa aNkNya B.LESTARI,yG Ingin iKut Sanggar Tari PaK Tris ...
    dN Bias Nya mama Saya pNjem Bju K pK Tris Bwt Mengikuti loMba Tari.
    SuKsesSlalu Y PaK ?!! ..

































































































































































    BY : Elsa

    ReplyDelete
  7. Pak, kalo mao daftar gmn caranya?n brp tarif yang dikenakan bwt ikudan latihan di pendopo itu?
    mhon dibalas y..trim's

    ReplyDelete