03 May 2007

Ruwatan Nyaris Punah

Belum lama ini saya menyaksikan ruwatan sukerto di Sidoarjo. Peminatnya sangat sedikit. Generasi muda di Jawa semakin asing dengan tradisi budayanya.Orang Jawa hilang Jawanya, kata pepatah.


Di Sidoarjo, kota santri, ruwatan boleh dikata menjadi barang langka. Sekitar 200 pelajar SMP terpaksa dikerahkan untuk memeriahkan acara ini. Anak-anak muda yang akrab dengan budaya pop tampaknya gagap dan asing menikmati tradisi lama yang antik itu.

Andai tidak dimobilisasi oleh gurunya, hampir pasti ruwatan ini hanya disaksikan oleh kalangan sepuh dan beberapa penggiat budaya Jawa di Sidoarjo.

“Tradisi seperti ini memang kurang dikenal di Sidoarjo. Dan ini menjadi tugas kita semua untuk melestarikannya,” ujar Nugroho, rohaniwan Buddha, di sela-sela ruwatan.

Panitia cukup telaten menjelaskan tata cara ruwatan berikut anak-anak yang perlu diruwat agar terbebas dari sukerto. Dijelaskan secara detail kriteria semacam ontang-anting (anak tunggal), pancuran piniring sendang (anak pria dengan adik-adik wanita), dan seterusnya. Para pelajar pun saling pandang.

“Wah, kalau kriterianya seperti ini kita semua perlu diruwat juga,” ujar seorang siswa SMP negeri disambut tawa teman-temannya. Hampir 200 anak SMP yang menonton ritual ruwatan di Sidoarjo itu memang belum pernah diruwat.

“Saya juga baru pertama kali melihat acara ruwatan. Tapi acaranya asyik juga karena pakaian mereka bagus-bagus,” komentar Dessy, 13 tahun.

Begitulah. Pemahaman dan penghayatan budaya (Jawa) orang tualah yang akhirnya menentukan apakah anaknya diruwat atau tidak. Suparto--asal Klaten tinggal di Perumahan Magersari--memandang perlu meruwat tiga anaknya sekaligus, akhir pekan lalu.

Sahita, Prana, dan Tyas jelas tergolong pancuran kapit sendhang, anak laki-laki yang diapit seorang kakak perempuan dan adik perempuan.
Sebagai orang Jawa Tengah, meski sudah belasan tahun tinggal di Sidoarjo, Suparto merasa berkewajiban untuk meruwat anak-anaknya. Jadilah tiga anak pasangan Suparto dan Dessy ini sebagai ‘bintang’ di ruwatan sukerto Sidoarjo akhir pekan lalu.

Semua mata tertuju pada tiga anak yang masih bocah dan polos-polos itu. Tyas, anak bungsu, pun berkali-kali menjadi objek kamera.

“Saya merasa lebih tenang kalau sudah meruwat tiga anak saya,” ujar Suparto seraya tersenyum. Rata-rata orang tua yang meruwat anaknya mengatakan hal yang sama.

Mereka rela membayar biaya ruwatan--cukup besar, apalagi untuk tiga atau lebih anak--demi mendapat ketenangan batin. Sebagai orang tua, mereka tak ingin anak-anaknya kurang mulus hidupnya gara-gara ada beban sukerto di dalam dirinya.
Sukerto itu harus dihancurkan lewat tradisi ruwatan. “Semacam ciswak di kalangan Tionghoa itulah,” ujar Nugroho, pemimpin Vihara Dharma Bhakti di Sidoarjo.

Bagi Joko Supriadi dari Dinas Pariwisata, tradisi budaya Jawa semacam ini perlu dilestarikan karena punya nilai sangat tinggi. Boleh saja para orang tua di zaman sekarang merasa tidak perlu lagi meruwatkan anak-anaknya karena berbagai alasan. Tapi, Joko mengingatkan, tradisi budaya merupakan salah satu benteng yang kokoh bagi bangsa Indonesia dalam menghadapi era globalisasi.

Sebagai orang pariwisata, Joko khawatir suatu ketika tradisi ruwatan di bulan Syuro ini hanya menjadi cerita masa lalu karena tidak dipelihara generasi sekarang. Bukan tak mungkin ruwatan hanya sekadar atraksi untuk turis asing.

No comments:

Post a Comment