12 May 2007

Richard Awuy Guru Vokal


Richard Samuel Awuy sukses merenda karier sebagai guru vokal dan pembina paduan suara. Dia percaya, semua itu berkat campur tangan Tuhan karena dia merasa tidak sempurna.


Oleh HETI PALESTINA YUNANI
Wartawan Radar Surabaya


Panggung Lets Make Music II di Ballroom Club House Dian Istana, Surabaya, sudah lewat, 5 Mei 2007. Tapi, Richard Samuel Awuy belum reda mengucap syukur kepada Tuhan.

“Saya tak kuasa menahan haru. Pergelaran musik yang menampilkan murid-murid terbaik saya itu sejatinya tak hanya sebuah pertunjukan, tapi ini wujud doa banyak orang yang telah mengiringi karier saya selama ini,” kata Richard Awuy.

Ucapan Richard itu tak hanya bunga bibir. Rasa syukur Richard yang lahir tepat tanggal dan bulan saat Richard Nixon dilantik jadi presiden Amerika Serikat itu diakuinya sungguh-sungguh. Buat Richard kecil, konser musik itu ibarat mimpi yang menjadi kenyataan. The dreams come true.

Makanya, ketika sejumlah muridnya tampil, termasuk Evelyn Merrelita, yang dianggap Richard terbaik, pria berdarah Manado itu bangga bukan kepalang. “Belajar musik itu sangat mahal. Tapi berkat dukungan orang tua, saya mencoba mengatasinya,” kata anak pasangan Cornelis Awuy dan Rachel Bolang ini.

Meski tak punya piano sendiri dan les piano, karena tidak mampu beli, pria yang semula bercita-cita menjadi pianis itu akhirnya bisa menguasainya. Dibantu sang ibu--guru musik di SMP dan SMA di Jakarta--Richard akhirnya menempatkan musik menjadi bagian hidupnya.

Pada 1987, Richard mulai belajar vokal secara serius. Guru-guru dia antara lain Sri Budi Utomo [lulusan Cheko], Grace M Preusen ([ulusan Austria], dan Chatarina W Leimena [lulusan Italia]. Tentang guru-guru vokalnya ini, Richard amat terkesan dengan Chatarina, yang juga banyak membimbing penyanyi pop macam Krisdayanti atau bintang Indonesian Idol.

Karena tak ada biaya, Richard sebenarnya hanya bisa mengambil kursus sebulan. “Namun, ketika bulan kedua saya berhenti, Bu Catharina melarang saya berhenti dan membebaskan saya dari uang kursus. Karena itu, semua guru itu saya anggap sebagai kepanjangan tangan Tuhan yang melempangkan jalan saya mencapai cita-cita,” kata alumnus musik IKIP Jakarta itu.

Berbekal itu, Richard mulai mengajar seni suara. Selain privat, Richard juga membina Paduan Suara Biduan untuk Kristus milik sebuah gereja di Jakarta. Berkat bakat dan dedikasinya, para jemaat membiayai Richard untuk memperdalam ilmu vokal di luar negeri. “Pada 1995-1997 saya dikirim ke Singapura dan belajar kepada Dr Samuel Cheung," kata Richard.

Di negara kecil ini, Richard Awuy tak mau buang kesempatan. Dia ikut master class vokal bersama Lee Alison Sibley (Manhattan School of Music), Prof Dr William Lock (BIOLA Universitas California), William Dickinson (Bazel Schola Cantorum Swiss), Dr Yu Lin Shu (Taiwan), Prof Dr James Mc Kinney (American Academy of Teachers of Singing), Dr Angela Coffer (SBTS USA), Meeryung P Hall (Baylor Universtas USA), dan Teressa La Rocha dari Australia.

Tak hanya vokal. Dia juga belajar conducting alias teknik dirigen pada Widya Pekerti, Jerry Silangit, Aida Swenson, serta Lee Chong Min dari Singapura.

Pada 1991, Richard mengikuti kursus dirigen tingkat nasional yang diadakan Yayasan Musik Gereja [Yamuger] dan Sekolah Tinggi Teologia [STT] Jakarta. Dia belajar pada maestro Jan Pasveer dan lulus dengan predikat istimewa. Dalam bidang conducting, dia juga ikut master class dari Prof William Lock, William Dickinson, serta Prof Andre de Quadros.

Bekal-bekal itu makin membuat mantap Richard untuk menjadi guru seni suara. “Cita-cita menjadi penyanyi saya kubur karena kebetulan juga saya menderita polip dan asma. Tapi, saya yakin itu pilihan Tuhan," katanya.

Tak cuma di Jakarta. Richard sengaja pulang ke tanah leluhurnya, Manado, untuk mengajar vokal mulai 1997. Di sana dia bahkan sempat bikin Manado Youth Chamber Choir. Paduan suara inilah yang kemudian menjadi cikal bakal Benedictio Choral yang pada 5 Mei 2007 menampilkan para solisnya di Surabaya. Ia juga membentuk grup vokal Favore.

Selain proyeknya sendiri, pada 1996 Richard berpartisipasi dalam opera berjudul Arion and the Dolphin yang diproduksi Singapore Symphony Orchestra. “Saya menjadi tenor,” kata Richard yang sejak 2002 tinggal di Surabaya.

Di Surabaya, Richard makin berkibar. Pada Pesta Paduan Suara Gerejawi alias Pesparawi tingkat Nasional 2006 di Medan, dia berhasil membawa tim Jawa Timur [dewasa] sebagai juara kedua.

Saat ini Richard Samuel Awuy mengajar vokal di Universitas Kristen Petra, Surabaya, Program Apresiasi dan Pengembangan Musik Gereja. Namun, Richard sebulan sekali pulang ke Manado untuk mengajar seni suara di sana.

6 comments:

  1. Halo Bro pa kabar? da bae2 to

    Decky S.

    ReplyDelete
  2. He is my brother ^^, proud of you my brother... Richard Samuel Awuy.

    ReplyDelete
  3. Indahnya perkenalan antar bangsa bangsa

    Indahnya kehidupan yang religius

    Sukses selalu buat Richard S Awuy

    ReplyDelete
  4. Pak bisaaa ajarin saya vibra ... Thx

    ReplyDelete
  5. minta contactnya pak

    ReplyDelete
  6. Pak dmn kalo di mdo tks

    ReplyDelete