02 May 2007

Paulus Pangka MURI


Paulus Pangka, anak kampung di Manggarai, Flores Barat, itu kini menjadi salah satu 'tokoh' populer di Indonesia. Berkat Museum Rekor Indonesia.

Kalau kumpul dengan anak-anak muda asal Flores, Nusatenggara Timur, saya kadang-kadang melontarkan kuis. Siapa orang Flores paling top di Indonesia? Sering masuk koran atau televisi?

Jawaban kawan-kawan biasanya bervariasi, dan selalu saya mentahkan. Sebab, saya punya versi sendiri. FRANS SEDA sudah pensiun dan tua. IGNAS KLEDEN hanya dikenal kalangan akademisi dan ilmuwan sosial. KIA AFI tak populer lagi. Sampai sekarang memang belum ada artis atau selebriti top asal Flores atau NTT. “Lalu, siapa Kak?” kejar adik-adik mahasiswa.

Saya sebut PAULUS PANGKA. Orang Manggarai, lahir 23 Februari 1968, ini manajer Museum Rekor Indonesia (MURI) di Semarang, Jawa Tengah. Dia kaki tangan, orang kepercayaan Dr JAYA SUPRANA, dalam mengelola MURI sejak 1991. “Waktu saya masuk, MURI masih sangat baru, belum ada penataan,” cerita Paulus Pangka kepada saya.

MURI alias MUSEUM REKOR-DUNIA INDONESIA didirikan atas prakarsa Jaya Suprana di kawasan industri JAMU JAGO, Srondol, Semarang, pada 27 Januari 1990. MURI diresmikan oleh Menteri Koordinator bidang Kesejahteraan Rakyat, SOEPARDJO ROESTAM, dan Menteri Koordinator bidang Politik dan Keamanan, SOEDOMO. Museum Rekor-Dunia Indonesia kemudian popular dengan akronim MURI yang diberikan oleh Soepardjo Roestam pada saat peresmian.

Sejak 1990-an itulah, di Indonesia, hampir tiap hari oang bikin acara pemecahan rekor MURI. Bikin even, produk, atau apa saja yang superlatif (paling besar, paling kecil, paling panjang, paling banyak, dan prestasi-prestasi luar biasa lain) untuk dicatat di MURI. Rupanya, ada kebanggaan tersendiri bila prestasi individu atau kelompok dicatat MURI.

“Setidaknya ada pengakuan resmi dari lembaga yang punya otoritas,” ujar STEFANUS LIKHO GUARTO, ketua Muda-Mudi Katolik Paroki Sidoarjo, kepada saya. Pada 24 Desember 2004, tepat malam Natal, Mudika Sidoarjo meraih penghargaan MURI sebagai pembuat gua natal terbesar di Indonesia. Jaya Suprana, bos MURI, langsung datang kasih piagam.

Eh, tahun depannya, rekor ini dipecahkan kelompok lain. “Nggak masalah. Yang penting, Sidoarjo yang memelopori,” kilah Stefanus.

Penghargaan MURI ini sederhana saja. Cuma piagam yang ditandatangani Dr Jaya Suprana. Pihak MURI meminta biaya transportasi, akomodasi, konsumsi, serta ongkos piagam dan pengukuran di lapangan. Pembuat atau pemecah rekor MURI tidak dapat apa-apa.

"Kita yang keluar uang. Saya keluar sekitar Rp 5 juta untuk urusan MURI ini,” cerita DJOKO LELONO, pelukis asal Sidoarjo.

Pada Desember 2005, Djoko memecahkan rekor MURI untuk lukisan anak-anak terpanjang di Indonesia. Juga anak-anak terbanyak yang pernah dilibatkan dalam kegiatan melukis. Kepada saya, Djoko Lelono mengaku bangga dengan prestasinya meski itu tadi, harus keluar uang untuk bayar MURI. Mana ada makan siang gratis, bukan?

Nah, untuk urusan kasih piagam MURI, biasanya orang paling senang kalau Jaya Suprana yang langsung turun. Namun, karena bos jamu ini sangat sibuk, maka PAULUS PANGKA lah yang dipercaya sebagai wakil manajemen MURI. Pokoknya, kalau ada pemecahan rekor MURI, si Paulus ini pasti ada. RAHMAT KURNIAWAN, teman wartawan di Surabaya, bahkan sudah punya feeling mana acara yang dihadiri Jaya dan mana Paulus.

“Oh, kalau yang itu pasti Jaya Suprana. Yang ini pasti Paulus Pangka. Hehehe,” kata wartawan senior ini lalu tertawa ngakak.

Belakangan, karena warga Indonesia mabuk rekor MURI, di mana-mana ada acara pemecahan rekor, Jaya Suprana dan Paulus Pangka saja tidak cukup. Ada satu dua nama lagi, tapi masih kalah ‘ngetop’ dengan Jaya dan Pangka.

“Bagaimana tidak sibuk? Acara pemecahan rekor MURI makin banyak dan makin tersebar. Dulu lebih terfokus di Pulau Jawa,” kata Paulus Pangka.

Suatu hari saya menelepon Pangka, sarjana hukum lulusan Universitas Katolik Soegijapranata Semarang. Pangka dulu termasuk mahasiswa cerdas. Dia penerima bea siswa dari Konferensi Waligereja Indonesia periode 1990-1993. Dia juga memenangi Pekan Ilmiah Mahasiswa yang digelar Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik.

“Lagi kasih penghargaan MURI di mana nih?”

“Di Jawa Barat, tepatnya di Bandung. Hari ini ada empat acara. Besoknya lima, lusa empat lagi, di tempat lain. Saya sibuk sekali nih,” beber Paulus Pangka.

Saya cukup mengenalnya karena kerap meliput acara pemecahan rekor MURI di Surabaya dan Sidoarjo. Pangka mengaku capek, tapi sangat menikmati tugas khusus dari bosnya, Jaya Suprana.

Sebagai orang Flores, macam saya, Paulus Pangka aslinya warga pelosok nan sederhana. Kampung halamannya di Manggarai sangat subur, dikenal sebagai lumbung padi. Kalau Nusatenggara Timur umumnya kering, tandus, sering kelaparan, kampung halaman Paulus Pangka ini justru surplus. Semilir tanaman padi dan nyanyian anak-anak desa mewarnai kehidupan masa kecil Paulus Pangka.

Tapi itu masa lalu. Jaya Suprana dengan MURI-nya telah berhasil mengubah PAULUS PANGKA menjadi ‘orang Flores paling terkenal di Indonesia’. Tidak percaya?

Simak surat kabar, radio, televisi, internet. Nama Paulus Pangka selalu disebut-sebut manakala ada acara penyerahan piagam MURI. Paulus Pangka tersenyum, pidato singkat, basa-basi seremonial, kasih piagam, lalu foto bersama. Pola kerjanya, ya, selalu begitulah. Tapi lokasinya tersebar di Jawa, Kalimantan, Sumatera, Maluku, Papua, dan sebagainya.

"Saya sudah keliling Indonesia. Timor Timur semua sudah. Ini karena saya harus kasih piagam MURI,” ujar suami dari Dessy, wanita keturunan Jawa, itu.

Saya bisa pastikan bahwa pelancong domestik alias wisatawan nusantara mana pun tak akan bisa mengejar rekor Paulus Pangka dalam melanglang Indonesia. Kalau engkau masih pusing mikir duit perjalanan, hotel, dan sebagainya, Paulus Pangka cukup menjaga kesehatan fisik. Juga menyiapkan alat-alat ukur seperti meteran, alat hitung elektronik, kamera, dan perkakas standar MURI. Soal biaya? Itu ditanggung sepenuhnya oleh masyarakat atau panitia yang ingin prestasinya tercatat di MURI.

Kembali ke Semarang, Paulus Pangka sebagai manajer harus kerja keras menata ribuan koleksi prestasi anak bangsa. Menurut dia, prestasi manusia Indonesia sebetulnya tidak kalah dengan bangsa-bangsa lain, khususnya orang Barat.

“Cuma, karena orang-orang Barat selama ini selalu mencatat prestasinya, maka tidak heran prestasi orang-orang Indonesia kurang didengar,” kata Paulus dalam logat Manggarai alias Flores Barat kental.

“Untuk itulah, MURI dilahirkan. Pak Jaya Suprana mendirikan MURI guna merekam prestasi putra-putri bangsa Indonesia,” tambah Paulus Pangka.

Artinya, makin banyak prestasi, makin sering pula Paulus Pangka jalan-jalan keliling Indonesia untuk kasih piagam MURI. Sumarlin, wartawan di Surabaya, punya usul menarik.
“Paulus Pangka layak mendapat piagam MURI sebagai orang yang paling banyak keliling Indonesia untuk mengikuti acara-acara yang heboh.”
Hehehehe.....

1 comment: