15 May 2007

Pater Heijne dan Gereja Waru


Gereja Salib Suci di kawasan Wisma Tropodo, Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo, merupakan peninggalan Pater Johannes Heijne SVD. Bangunannya unik, umatnya dinamis.

Sejak 1980-an banyak bermunculan perumahan-perumahan baru di selatan Kota Surabaya. Di antaranya, Pondok Chandra, Wisma Tropodo, Griya Mapan Santoso, Griya Candra Mas, hingga Bandara Juanda.

Nah, warga Katolik di perumahan-perumahan ini kemudian bersekutu, membentuk Paroki Salib Suci.
Menurut Carel Widhiaono, ketua dewan paroki, Paroki Salib Suci merupakan hasil pemekaran Paroki Gembala yang Baik, Jalan Jemur Andayani X/14 Surabaya.

Dulunya, umat Katolik di kawasan Wisma Tropodo dan sekitarnya bergabung dengan paroki yang dibina imam-imam tarekat sabda Tuhan alias Societas Verbi Divini [SVD] itu. Namun, perkembangan umat yang pesat menuntut lahirnya sebuah gereja baru di Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo.

Mula-mula pemuka umat ingin agar gereja baru berdiri di kawasan Pondok Candra Indah. Namun, dalam proses, panitia beroleh lahan seluas 3.536 meter persegi di Wisma Tropodo. Bupati Sidoarjo akhirnya menyetujui izin pendirian gereja baru melalui surat bernomor 452.1/10280/413.16/1987.

Pada 14 September 1987 diadakan upacara peletakan batu pertama pembangunan Gereja Katolik Salib Suci oleh Pastor Johannes Heijne SVD, waktu itu Pastor Paroki Gembala yang Baik, Surabaya. Peranan Pater Heijne dalam pembangunan Gereja Salib Suci memang bukan main.

“Almarhum Romo Heijne memang pastor yang luar biasa dalam urusan pembangunan gereja,” ujar beberapa jemaat Paroki Salib Suci kepada saya.

Gambar bangunan gereja, pastoran, dan balai paroki dibuat oleh Ir Benediktus Poerbantanoe, arsitek dari Universitas Kristen Petra Surabaya, dan pekerjaan dilakukan kontraktor, Y Deddy Kurniawan. Ir Benediktus Poerbantanoe juga dikenal sebagai arsitek Gereja St Paulus Juanda, anak Paroki Salib Suci.

Menurut Carel Widhiaono, arsitek Gereja Salib Suci sangat unik, berbentuk salib.

“Kalau dilihat dari atas, bentuk salib itu sangat tampak. Hanya, karena ada pengembangan, maka bentuk salib mulai tersamar,” jelas ketua Dewan Paroki Salib Suci.

Pembangunan gereja berlangsung mulus. Setahun kemudian, tepatnya 5 November 1988, Gereja Salib Suci diresmikan Bupati Sidoarjo Soegondho. 6 November 1988, Gereja Salib Suci diberkati oleh Uskup Surabaya Mgr AJ Dibjokarjono Pr (kini almarhum).

Dalam kesempatan itu, Bapa Uskup mengumumkan berdirinya Paroki Salib Suci dengan Romo Heribert Ballhorn SVD sebagai pastor paroki. Pengurus dewan paroki pun dilantik pada saat itu juga.

Awalnya, misa kudus hanya dilakukan dua kali: Minggu pukul 07:00 dan 17:30. Satu tahun kemudian, pada HUT pertama, misa dilaksanakan tiga kali. Misa pertama pukul 05:30, kemudian 07:30, serta 17:30. Pada 8 Desember 1991, Mgr Dibjokarjono memberkati balai paroki di samping gereja.

Kini, selain untuk aktivitas paroki, balai paroki dipakai juga untuk menampung luberan umat yang mengikuti misa mingguan.

Dipimpin Romo Herry, sapaan akrab Pastor Heribert Ballhorn SVD, Paroki Salib Suci berkembang dengan pesat. Liturgi ekaristi di sini paling ketat di Jawa Timur.

Awalnya, Paroki Salib Suci hanya punya tiga wilayah: Agustinus, Matias, Simon. Dua belas tahun kemudian membengkak jadi 10 wilayah, masing-masing punya tiga lingkungan. Data jemaat pada tahun 2000 tercatat 4.908 orang.

Sekali lagi, perkembangan paroki ini tak lepas dari banyaknya warga Katolik di perumahan-perumahan baru Kabupaten Sidoarjo. Secara de facto, warga Wisma Tropodo dan sekitarnya lebih banyak yang bekerja di Surabaya kendati ber-KTP Sidoarjo.

Tak heran, banyak orang luar yang salah persepsi, seakan-akan Paroki Salib Suci berada di Surabaya Selatan, apalagi nomor telepon di kawasan itu sama-sama (031).

Dari 10 wilayah, tutur Carel Widhiaono, Paroki Salib Suci mekar lagi menjadi 12 wilayah. Jumlah umat naik menjadi 5.000-6.000 jiwa atau 1.900 keluarga. Kendati umat bertambah, misa tetap digelar tiga kali, tanpa ada misa hari Sabtu petang atau malam. “Sebab, belum mendesak untuk itu,” kata Carel.

Karena itu, tiap Sabtu sore umat diberi kesempatan menerima Sakramen Rekonsiliasi (Pengakuan Dosa) yang dilayani Romo Herry atau Romo Gabriel Dasi SVD.

Kawasan sekitar Wisma Tropodo, Sedati, Juanda, Gedangan, Aloha, Pepelegi, terus berkembang. Maka, muncul kebutuhan untuk memekarkan Paroki Salib Suci di lahan milik TNI Angkatan Laut yang dihibahkan untuk pura dan gereja Katolik.

Gereja Santo Paulus di Jalan Raya Bandara Juanda, hasil pemekaran Paroki Salib Suci, diberkati pada 20 Agustus 2005 oleh Dubes Vatikan Mgr Malcom J Randrith. Gereja baru itu sudah digunakan umat kendati belum diresmikan menjadi paroki mandiri.

“Kami usahakan agar Gereja Juanda secepatnya diresmikan. Dengan begitu, pelayanan rohani untuk umat di sana lebih baik,” ujar Carel, antusias.

Lahirnya Gereja Juanda otomatis membuat Paroki Salib Suci ‘merelakan’ sebagian wilayah dan umatnya ke calon paroki baru itu. “Dua wilayah kami diserahkan ke Juanda. Jadi, tinggal 10 wilayah,” tutur Carel lalu tertawa kecil.

Tapi, dewan paroki langsung melakukan konsolidasi. Dari 10 wilayah yang tersisa, kawasan Tropodo yang memang luas (dan banyak jemaatnya) dipecah lagi menjadi tiga wilayah. Artinya, wilayah di Paroki Salib Suci tetap 12 wilayah meskipun luasnya tentu saja makin sempit.

Dibandingkan di gereja-gereja lain, suasana misa di Paroki Salib Suci terasa hening, syahdu, tanpa banyak neko-neko. Ini tidak lepas dari sosok Romo Herry SVD yang sangat disiplin alam menjaga ketertiban liturgi.

Pastor asal Jerman ini menginginkan liturgi yang tertata dan disiapkan sungguh-sungguh. Kor berlatih intensif, menggunakan lagu-lagu liturgis. Umat dibiasakan dengan lagu-lagu Gregorian baik dalam bahasa Latin maupun Indonesia. Lagu pop rohani ala karismatik tak dapat tempat.

Lagu-lagu rohani yang ngebeat ala band anak muda? Jangan harap lah.

“Kami di Salib Suci memang cukup ketat untuk urusan liturgi. Tujuannya, ya, agar umat bisa berdoa dengan tenang, konsentrasi,” kata Carel.

Suasana ini membuat umat Paroki Salib Suci pangling bila ikut misa di gereja-gereja lain. Suasana teduh, ngelangut... sulit ditemukan.

“Kami juga tidak mengenal misa di rumah umat. Sebab, suasana pasti tidak mendukung liturgi yang baik,” tegas Carel, Ketua Dewan Paroki Salib Suci.

Bayangkan kalau rumah warga itu sempit, orang sibuk di dapur, mempersiapkan makan malam, dan sebagainya. “Syukurlah, umat bisa menerima kebijakan ini,” kata Carel.

4 comments:

  1. Betul sekali. Kebetulan kantor tempat saya bekerja di daerah Tropodo dekat dengan gereja Salib Suci. Beberapa kali pernah ikut misa di sana. Suasana peribadatan yang sakral dan khusuk masih sangat terjaga berbeda dengan gereja-gereja lain di Surabaya.
    Saya pribadi berharap gereja-gereja lain bisa mencontoh itu.

    Jujur saja saya merasa prihatin melihat perkembangan suasana peribadatan di beberapa gereja lain tidak lagi hening, hikmat dan sakral. Dering hp di sana-sini, belum lagi umat yang ikut berbicara, apalagi cara berpakaian sebagian umat yang seperti orang mau fashion saja. serba terbuka membuat umat lain terutama yang berbeda jenis jadi kurang berkonsentrasi mengikuti peribadatan. saya bisa geleng-geleng..... kenapa bisa begitu ya?

    ReplyDelete
  2. Pada tgl 1 juni 2007 saya melangsungkan pernikahan disana, Gereja Salib Suci yang cukup khidmad dengan pimpinan romo Heri.

    Saat itu kami ingin foto bersama di altar, namun dilarang romo Heri.

    Memang, seharusnya demikian. Altar tidak boleh sembarangan dapat dipakai foto.

    Salam Damai
    Natanael
    natanael.albertus@gmail.com

    ReplyDelete
  3. hanya satu yang sangat disayang kan ada lah permasalahan hati nurani yg kurang peka pada umat paroki tersebut

    saya sudah tinggal 22 tahun di tropodo dan tiap minggu pun ke gereja salib suci ketua lingkungan agustinus pun ,1 pun sangat mengenal baik keluarga saya karena tante saya adalah aktivis gereja.

    memang sedari awal saya salah dengan tidak mengurus surat keluarga katolik sedari awal kami tinggal disana. yang sangat disayangkan sewaktu saya beritikad mengurusnya mendapat penolakan dari ketua lingkungan 1 agustinus dengan alasan papa saya tidak bertempat tinggal di tropodo asal perlu diketahui papa saya ber tempat tinggal berpindah2 sesuai tugas pekerjaan dan sekarang berdomisili di ambon

    menurut saudara2 apa yg harus saya lakukan mengingat taun depan saya ingin melangsungkan pernikahan apakah karena masalah tersebut saya harus merelakan untuk tidak menikah secara katolik

    untuk refrensi saja salah satu pastor paroki salib suci pernah menunda untuk memberikan sakramen perminyakan kepada nenek saya karena alasan yg tidak jelas sehingga nenek saya meninggal tanpa mendapat sakramen perminyakan

    dan lagi ketua linkungan agustinus 1 yg lama pun pernah menolak untuk meneruskan permohonan untuk doa kematian pada saat tutup peti dan penguburan saudara saya sewaktu meninggal sehingga saudara kita dr gereja betany bersedia untuk membantu doa

    sebagai pelayan Tuhan dimana hati nurani saudara jika memang merasa ada panggilan Tuhan dalam tugas pelayanan anda mohon kesampingkan ego sebagai manusia, memang manusia tak ada yg sempurna tetapi setidak2 nya kita masih memiliki kesempatan untuk berubah

    mohon maaf jika ada pihak yg tidak mengena tetapi niat dri tulisan ini hanya agar kita ingin kedepanya jauh lbh bqik lg

    Salam damai Tuhan kita Yesus Kristus

    ReplyDelete
  4. Gereja yang selalu punya makna lebih di hidup saya
    Saya katekumen disana tahun 2005 dan di babtis tgl 16 agt 2006 dimana saya sebelumnya bukan katolik
    Rumah saya di wage dekat waru dan sebtulnya ikut paroki SMK surabaya
    Tapi Tuhan Yesus Kristus yang menuntun saya untuk katekumen di Salib Suci dan di gembleng sama Romo Heri
    Yang sll saya ingat adalah dimana Romo Heri lebih menekankan kedisiplinan ttng liturgi sampai sekarang sungguh membekas dan saya lakukan ketika misa. Dimana dihadapan Tuhan kita harus sopan dan ber konsentrasi penuh
    Romo heri mengajarkan banyak hal tentang menjadi katolik, saya berdoa semoga Romo Heribert Ballhorn, SVD diberi kesehatan dan dijaga Oleh Tuhan Yesus selalu, karena melalui beliau lah karya Tuhan bekerja baik untuk umat katolik di sekitar waru ataupun bg orng2 yg ada panggilan masuk katolik spt saya. Sungguh kedisiplinan beliau mengajari saya banyak hal terutama ketika kita bersikap dlm perayaan ekaristin yg saya bawa sampai sekarang meskipun saya sudah pindah dan bekerja di Jakarta. Saya rasa perlu banyak Imam seperti beliau, saya sungguh merindukan anda Mo

    Salam damai Kristus

    FX. Yopi Witanto

    ReplyDelete